Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 115


__ADS_3

Entah kemana Vada harus melangkahkan kakinya. Selama ini ia tak memiliki siapa-siapa kecuali panti. Namun, ia rasa bukanlah hal yang tepat jika ia kembali ke sana. Ia hanya pergi ke panti untuk berpamitan. Ia mengatakan jika hubungannya dengan Elvan berakhir dengan damai dan ia mau melanjutkan hidupnya di tempat yang jauh, belajar untuk mandiri.


Bunda sngat menyayangkan perpisahan yang terjadi antara Elvan dan Vada karena beliau tidk tahu yang sebenarnya. Meski berat dan setengah tidak percaya, bunda membiarkan Vada pergi. Karena memang sejak duku Bada adalah sosok peremouan tangguh dan tidak suka menyusahkan orang lain.


Untuk kembali kepada Mirza pun, Vada harus beripikir seribu kali. Walaupun pasti pria itu akan menerimanya kembali, namun Vada cukup tahu diri. Sudah behitu banyaj kuka yabg ia yorehkan untuk pria yang pernah menjadi kekasihnya tersebut. Dan setelah susah payah berusaha move on darinya, haruskah Vada mengusik ketenagan pria itu lagi? Tidak, Vada melihat Mirza yang begitu terlihat bahagia bersama Helena, meski sering berdalih dengan mengatas namakan adik kakak, tapi ia yakin jika keduanya suatu saat bisa berjodoh.


Ya, Vada memilih meninggalkan semuanya. Apalagi, jika benar Elvan adalah kakaknya, bagaimana dengan nasib janin yang ia kandung sekarang ini? Jujur, Vada takut. Benar-benar takut akan masa depan calon anaknya nanti. Vada takut anaknya nanti yang menjadi korban atas perbuatannya dan Elvan yang sama-sama tidak tahu akan kenyataan ini sebelumnya.


Asisten Rio tak mungkin salah mencari informasi kalau dia benar anaknya pria bernama AdiJaya tersebut yang semua orang tahu, tuan Adijaya adalah ayah dari suaminya. Benar-benar rumit dan tidak bisa ia masukkan ke nalarnya.


Namun, dari semua rasa sakit yang ia terima, ada ketakutan yang lebih besar, yaitu tentang anak yang ada dalam kandungannya sekarang ini. Apa yang harus ia lakukan terhadap janinnya tersebut?


Sempat terbesit ingin menggugurkannya, karena takut akan bayangan yang terlalu menyita pikirannya akhir-akhir ini. Namun, saat hendak melakukannya, ia justru menangis tersedu dan sangat merasa bersalah dengan calon anaknya. Ia berlari dari tempat yang hampir membuatnya melakukan kesalahan besar yaitu membunuh anaknya sendiri tersebut.


Janin itu tidak bersalah, ini bukan salahnya. Ini adalah keinginannya untuk memiliki seorang bayi tanpa berpikir akan jadi seperti ini pada akhirnya.


"Maafkan, aku. Maaf," gumamnya seraya memeluk perutnya sendiri dengan penuh penyesalan.


Apapun yang terjadi, ia memilih mempertahankan janinnya. Ia tak ingin dihantui perasaan yang belum tentu akan terjadi dengan anaknya nanti.


Vada memilih menjauh dari orang-orang di masa lalunya dan akan mengurus anaknya kelak apapun yang terjadi. Bagaimanapun kondisi anaknya nanti, ia harus menerimanya dengan lapang dada.


Dan disinilah sekarang wanita itu berada, di Bandara sebuah negara. Ia baru saja turun dari pesawat beberapa menit yang lalu. Ia membawa calon anaknya pergi bersamanya ke tempat baru dimana mereka akan hidup berdua nantinya.


Sejak kedatangannya ke Bandara tadi, Vada merasa kepalanya begitu pusing. Ia berjalan seraya menarik kopernya dengan satu tangannya sesekali memegangi kepalanya. Selain pusing, ia juga merasa mual.


Bruk!


Seorang pria yang berjalan tergesa-gesa menubruknya tanpa sengaja.

__ADS_1


"Maaf, maaf saya tidak sengaja," ucap pria berkaca mata hitam tersebut.


"Tidak apa-apa," ucap Vada sambil memegangi kepalanya yang pusing. Ia sedikir merasa senang karena di negara asing tersebut, ada yang bisa berbahasa Indinesia, pikirnya.


"Kau pucat sekali, apa kamu sakit?" tanya pria tersebut berusaha bersikap ramah.


Vada menggeleng, "Saya baik-baik saja, permisi!", ia memilih melanjutkan langkahnya melewati pria tersebut. Pria ia itu hanya menggedikkan bahunya, ia berusaha ramah tapi wanita itu justru bersikap acuh, pikirnya.


Tiba-tiba, Vada kehilangan keseimbngan tubuhnya, dunia serasa gelap seketika dan tubuhnya hampir terjtuh ke lantai jika pria tersebut tak sigap berlari untuk menopangnya.


"Ya ampun, malah pingsan nih cewek!" gerutu pria tersebut sambil memandangi wajah pucat Vada.


"Halo, iya ini aku udah sampai di Bandara. Lagi mangku cewek pingsan!" ucap pria tersebut setelah mengangkat ponselnya yang sejak tadi berdering.


.


.


.


"Tuan muda, kita pulang sekarang!" ajak asisten Rio sambil berusaha memapah Elvan yang sudah mabuk.


"Eh, Nevadaku? Kau datang, sayang?" Elvan menepuk pipi asisten Rio sambil tersenyum. Ia lalu menubruk tubuh Asisten Rio, "Aku sangat merindukan, mu. Sangat! Kenapa takdir ini begitu kejam untuk kita, kenapa?" gumam Elvan sambil memeluk asisten Rio.


Asisten Rio hanya bisa menghela napas panjangnya. Selalu seperti ini, jika sudah mabuk, tuan mudanyaan merancau yang tidak-tidak. Tidak jarang pula ia dianggap sebagai Vada.


"Ayo, tuan muda!" Rio memapah Elvan masuk ke dalam mobilnya. Kali ini ia membawa Elvan kembaki ke mansion karena kedua orang tua Elvan sudah menunggu di sana.


"Tuan, nyonya!" asisten Rio menyapa tuan Adijaya dan nyonya Tamara yang terlihat shock melihat putra semata wayangnya dalam keadaan kacau seperti ini.

__ADS_1


"Ya ampun, Van. Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya nyonya Tamara dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka putra semata wayangnya akan sekacau ini, lebih buruk dari bayangnnya.


Elvan tak menyahut, ia hanya tersnyum sinis menatap pria yang duduk di kursi roda, yaitu tuan Adijaya, ayahnya.


"Kenapa pria ini bisa ada di sini, yo?" tanya kepada Asisten Rio dalam keadaan setengah sadarnya. Asisten Rio hanya diam tak menjawab.


Asisten Riolah yang memberitahu keadaan Elvan kepada kedua orang tuanya, sehingga mereka kembali Ke Jakarta untuk melihat keadaan putra mereka dan mereka baru saja tiba beberapa jam yang lalu di mansion.


"Ada apa denganmu? Kenapa jadi seperti ini?. Papa dan mama membiarkanmu berbuat sesuka hatimu, menikahi wanita pilihanmu sendiri dan menuruti keinginanmu untuk tidak menanyakan apapun tentang istrimu itu, tidak mengusik hidup kalian sama sekali, tapi kenapa kau malah jadi seperti ini?" tanya tuan Adijaya.


Elvan tersenyum sinis," Kenapa? Kau tanya kenapa, tuan? jawabannya adalah... " Elvan menjeda kalimatnya sembari tersenyum getir, ingatan tentang wanita yang ia cintai kembali terlintas. Hatinya begitu perih.


" KARENA KAU! SEMUA INI TERJADI KARENA, ANDA TUAN ADIJAYA! YA, KARENA KAU!" ucap Elvan dengan nada tinggi.


" Apa maksudmu, sayang. Kenapa kamu menyalahkan papa? Kami tidak tahu apapun tentang masalahmu?" tanya nyonya Tamara.


"Dia penyebab masalahnya!" Elvan menunjuk tuan Adijaya dengan marah.Elvan melempar kalung milik Vada yang lupa tidak di bawa oleh Vada pergi karena buru-buru, "Itu milik istriku, eh bukan, adik tiriku!" ucapnya sengit.


Tuan Adijaya sama sekali tak terpancing, ia tahu putranya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja dan ia memakluminya. Ia mengambil kalung di pangkuannya. Betapa terkejutnya ia saat menyentuh kalung tersebut. kalung yang tak asing untuknya karena ia desain khusus untuk putrinya.


Perlahan, tuan Adijaya membuka liontin tersebut dan tak salah lagi, Itu benar photo dirinya dengan anak dan istri mudanya.


"Laras, anakku!" tuan Adijaya memeluk kalung di mana tercetak nama Laras di belakang liontin tersebut dengan haru.


Elvan tersenyum getir, apa yang baru saja ayahnya katakan sudah membuktikan semuanya. Ia memilih pergi meninggalkan ayah dan ibunya.


"Dimana dia sekarang?" tanya tuan AdiJaya denga nada bergetar. Anak yang selama ini ia anggap sudah meninggal, ternyata masih hidup. Betapa bodohnya dia karena selama ini begitu menuruti keinginn Elvan untuk tidak menanyakan hal apapu soal Vada.


"Carilah sendiri anak selingkuhanmu itu! Aku tidak peduli lagi!" teriak Elvan, tentu saja ucapannya itu dusta demi menutupi rasa sakut hatinya yang semakin kecewa. Ia terus berjalan dengan gontai karena pengaruh alkohol menuju kamarnya..

__ADS_1


__ADS_2