
Mobil Elvan melaju ke sebuah kawasan apartemen elit. Setelah memarkirkan mobilnya, ia melepas seat beltnya lalu mencium bibir Vada sekali lagi sebelum membukakan seat belt sang istri. Vada hanya diam saja sejak tadi, tak merespon saat Elvan menciumnya.
"Turun!" ajak Elvan. Namun Vada bergeming. Elvan yang sudah turun duluan membuka pintu untuk Vada, wanita itu tetap bergeming di posisinya. Sengaja menguji kesabaran Elvan.
Elvan menarik paksa Vada supaya turun dan mengikutinya menuju ke lift khusus menuju lantai paling atas gedung bertingkat tersebut.
"Lepaskan!" Vada menepis tangan Elvan. Pria itu menatapnya tajam. Terlihat sekali ia berusaha menahan segala emosinya yang siap meledak kapan saja.
"Jangan di tarik-tarik! Sakit!" ucap Vada.
"Kalau begini nggak akan sakit!" Elvan membopong tubuh Vada ala brydal style dan membawanya masuk ke dalam lift.
"Turunkan aku, lagian ini mau kemana? Kenapa harus ke sini?" ucap Vada. Namun Elvan tetap bergeming. Berdiri dengan tegap, Tak berniat menurunkan sang istri.
"Turunkan aku, atau aku akan buat belut tuan bangun dan tidak mau menidurkannya kembali!" Vada sengaja meremat sesuatu di bawah perut Elvan.
"Kau...!" Elvan langsung menurunkan Vada dari gendongannya.
"Ck, dasar! Emang situ aja yang bisa menggertak!" batin Vada berdecak sambil melirik sinis kearah suaminya.
Lift terbuka. Elvan langsung menarik tangan Vada keluar dari lift. Kini mereka sudah berada di sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai paling atas gedung tersebut.
__ADS_1
Sejenak, Vada terpaku menatap ke sekeliling. Entah sedang berada di belahan dunia mana lagi ia berada saat ini, pikirnya takjub. Apakah ia kembali berada di luar negeri? Ah tapi masa iya, tadi mereka hanya naik mobil bukan pesawat. Vada segera menepis pertanyaannya, ia masa bodo mau berada di mana. Yang jelas, selama bersama Elvan ia merasa akan aman.
Apalagi untuk bertanya ini itu kepada tuan suami, Vada masih merasa gengsi pastinya. Bukankah diantara keduanya belum ada kata sepakat damai sampai detik ini?
Menyadari tangannya masih di cengkeram erat oleh Elvan, Vada mengayunkan tangannya kuat-kuat hingga Elvan melapasnya.
" Sakit! Apa tuan tidak bisa bicara baik-baik padaku?" ucap wanita itu sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat cengkeraman Elvan.
"Kau yang tak ingin bicara baik-baik denganku!" salak Elvan. Ia sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Semuanya harus jelas di sini, malam itu juga. Tak bisa. Lagi menundanya.
"Kau selalu menghindariku, lalu bagaimana aku bicara denganmu? Bagaimana aku tahu apa maumu! Apa sesakit dan semenyesal itu kau putus dengan kekasihmu itu hingga kau seperti ini, Hah!" siapapun yang mendengarnya pasti bisa menebak, ada aroma kecemburuan dan kekecewaan yang besar dari Kalimat Elvan tersebut.
Vada menatapnya jengkel, bukankah putus dari Mirza adalah keinginan pria di depannya itu. Lantas kenapa ia bicara seperti itu, seolah ini semua salah Vada. Cepat atau lambat hubungannya dengan Mirza memang harua berakhir, sehingga utu bukan lagi masalah utamanya.
"Aku sudah bilang, ini keputusanku! Aku lebih memilih hidup bersama tuan, aku hanya perlu sedikit waktu untuk menyembuhkan lukaku karena kata-kata tuan yang yang sangat melukai perasaanku. Bukan karena aku baru putus sama mas Mirza. Kenapa tuan tidak paham juga?" ucap Vada menyalak.
"Apa kata-kataku terlalu menyakitimu? Lalu aku harus bagaimana?"
"Minta maaf! Aku hanya ingin tuan minta maaf, Seperti aku yang selalu minta maaf jika salah! Ralat! Tidak Salah pun aku sering mengalah untuk meminta maaf kepada tuan. Apa tuan tak bisa melakukannya untukku, sekali saja! Hanya itu yang au tunggu beberapa hari ini!"
"Bagaimana bisa aku minta maaf seperti yang kamu mau jika kamu terus menghindariku?" Elvan benar-benar tak habis pikir.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, aku hanya butuh waktu beberapa hari lagi, setelah itu aku akan kembali lagi menjadi istri yang baik untuk tuan, saat itu kita bisa bicara baik-baik dan tuan bisa minta maaf kalau memang sudah tahu letak kesalahan tuan. Hanya itu! Kenapa tuan tak juga mengerti!"
"Ya, aku memang tidak mengerti! Dan tidak mau mengerti! Jadi kau tidak boleh menghindariku lagi!" pupus Elvan.
"Kok gitu?" protes Vada melotot, namun langsung menunduk saat menatap sorot mata menakutkan suaminya.
"Si al masih saja horor tatapannya," batin Vada. Apalagi dalam keadaan menahan emosi seperti itu.
"Karena... Karena kau istriku. Mana bisa kau terus mengabaikanku. Kau harus mengurusku. Kau jangan lupakan tigasmu sebagai istri! ucap Elvan tegas.
"Ck, alasan. Padahal aku selalu melakukan tugasku, aku tetap masak dan nyiapin keperluan tuan, perkara tuan mau makan atau tidak itu urusan tuan," cibir Vada, tangannya bersidekap di depan dada.
Elvan menggeram, kenapa istrinya itu tak mengerti maksudnya juga, bukan hanya urusan perut dan penampilan saja yang ia mau, tapi juga masalah lain yang jauh lebih penting. Salah satunya urusan ranjang.
"Mulai sekarang kita tinggal di sini! Meski ini sempit, setidaknya kau tidak bisa menghindariku lagi. Mansion terlalu luas untuk kita tempati berdua!" kata Elvan. Setidaknya penthouse itu tak seluas mansion sehingga mereka aka lebih mudah bertahap muka setiap harinya. Sudah cukup istrinya itu main kucing-kucingan dengannya.
Vada melihat ke sekeliling dan juga ke lantai atas, "Hei bambang! Tempat ini juga luas kali, kalau mau sempit yang rumah kontrakan sepetak atau kost-kosanku sana, baru sempit. Ini mah masih buat ngumpet!," batin Vada mencebik.
Meski memang tak seluas mansion, tapi fasilitas di penthouse yang harganya lebih mahal dar penthouse yang di belikan mas aris untuk Lidya di serial layangan pedot tersebut sangat lengkap. Termasuk dengan kolam renang dan tempat gym pribadi.
š¤š¤š¤
__ADS_1