Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 41


__ADS_3

"Ke-kenapa tuan ke sini?" pertanyaan konyol yang bahkan Vada sadari. Bukankah dia yang menyuruh pria itu datang? Malah kini ia bertanya kenapa.


"Sejak kapan aku harus ijin untuk menemui istriku?" terdengar datar, dingin dan sinis.


"Se-sejak kapan Tuan ada di sini?" tanya Vada terbata sambil terus meremat ponselnya. Ia hanya ingin memastikan jika suaminya tidak mendengar apa yang ia dan Mirza obrolkan melalui sambungan Video call.


"Si al! Kenapa aku sampai ketakutan begini lihat wajahnya yang serem," batin Vada. Meski terlihat seram, namun ia tetap menatap mata Elang tersebut.


Pandangan mereka beradu, Elvan menatap Vada dingin, bahkan lebih dingin dari biasanya. Bahkan dengan pandangannya saja, terasa menusuk hingga ke relung hati Vada.


" Kau sengaja tak mengindahkan ucapanku Nevada. Putuskan pacarmu itu!" ucap Elvan menggeram.


Elvan segera merogoh ponselnya, "Jika kau membangkang, makan laki-laki brengsek itu yang akan menanggungnya. Sedikit pelajaran akan membuat laki-laki breng sek itu mengerti, sedang berhadapan dengan siapa dia," Elvan tengan bersiap mendial nomor seseorang.


"Kau yang breng sek!" Batin Vada menjerit tak terima tak terima. Laki-laki di depannya benar-benar tak pernah main-main dengan ancamannya. Sikapnya juga tak bisa di prediksi. Jika ingin bersikap baik, dia akan baik meski tetap dingin. Tapi, jika garangnya keluar, sangat menakutkan di mata Vada.


Vada tahu, ia salah, tapi di sini Elvan juga salah, pria itu adalah penyebab masalah sejak awal. Sedangkan Mirza? Laki-laki baik itu tidak tahu apa-apa. Tidak sepantasnya hidupnya diusik.


Vada segera beranjak mendekati Elvan, ia tahu, suaminya itu pasti akan menyuruh bawahannya melakukan sesuatu terhadap Mirza.


"Tuan, aku yang salah. Tolong jangan salahkan mas Mirza, dia tidak tahu apa-apa. Ini semua salahku. Aku janji akan memutuskannya sesuai permintaan tuan, aku hanya butuh waktu," ucap Vada memohon. Matanya sudah berkaca-kaca membayangkan jika sampai Elvan benar-benar bertindak sekarang. Sudah pasti Mirza akan hancur dalam sekejap.


" S h i t!" Elvan mengumpat dalam hati, gadis itu, ia tak tahan melihat mata indah itu hampir menangis karena kekasihnya. Membuat Elvan semakin di landa cemburu.


"Tuan, aku mohon," ucap Vada lembut, ia memberanikan diri Memeluk Elvan dengan erat. Membuat Elvan hanya bisa mematung di tempatnya. Pelan-pelan, Vada menggerakkan tangannya untuk mengambil ponsel yang sudah menempel di telinga suaminya.


"Jangan lakukan tuan, aku mohon," pinta Vada. Bagai terhipnotis tatapan mata indah sang istri, Elvan melepas ponselnya dan membiarkan diambil alih oleh Vada.


Namun detik kemudian, Elvan kembali tersadar. Amarahnya kembali membuncah ketika mengingat setiap ucapan antara istrinya dengan Mirza. Terngiang jelas di telinganya kata Cinta yang mereka ucapkan. Membuatnya kembali menggeram kesal.


Vada mengurai pelukannya ketika merasa tubuh suaminya semakin kaku. Ia mundur satu langkah.


Elvan merangsek maju, hingga mereka tak lagi berjarak. Tangannya memegang dagu Vada lalu mencium bibir wanita itu dengan kasar. Vada hanya diam mematung, tak membalas ciuman suaminya. Membuat Elvan semakin kesal.

__ADS_1


"Layani aku, aku sedang menginginkanya sekarang!" ucap Elvan dingin.


Vada terkesiap mendengarnya,"Baik, tuan mau makan sama apa? Biar aku ambilkan," ucapnya pura-pura bodoh. Ia hendak beranjak dari hadapan Elvan untuk mengambil makanan untuk suaminya.


Elvan mendengus, "Kau bukan anak kecil yang tidak tahu maksudku, Kau bahkan lebih dari paham!" hardik Elvan.


Vada mencebik. Ia langsung menatap Elvan, "Di sini?" tanyanya kemudian.


Elvan bergeming yang artinya iya.


"Tapi, tuan ini di toko," Vada menatap manik mata suaminya mengiba.


"Kau harus sadar dengan statusmu sekarang. Terima atau tidak, sekarang aku yang berhak atas dirimu. Bukan pria itu! Kecuali kau benar-benar ingin dia..."


Vada langsung berjinjit dan kali ini ia yang mencium bibir Elvan dengan rakus. Tak peduli Elvan tak meresponnya.


" Ayo lakukan tuan!" ajak Vada mantab. Ia kembali mencium bibir Elvan. Elvan memejamkan matanya menahan gejolak dan juga amarah sekaligus. Tangannya yang menggantung di udara mengepal kuat. Vada rela melakukannya hanya karena Elvan sedikit mengancamnya dengan nama Mirza. Secinta itukah wanitanya tersebut dengan kekasihnya?


"Baik, kalau kau yang menginginkannya." Satu tangan Elvan dengan cekatan menutup pintu lalu menguncirnya karena kuncinya kebetulan menggantung di sana.


Elvan semakin merangsek maju, membuat Vada semakin mundur. Di ruang istirahat bu Sukma, Ya, mereka akan melakukannya di sana. Meski tak luas tapi masih bisa kalau untuk memuaskan hasrat suaminya siang itu. Dan yang utama tidak terlihat oleh siapapun.


Elvan terus maju, sementara Vada terus berusaha mundur demi menggiring tubuh suaminya ke ruang Istirahat bosnya yang kadang juga di gunakannnya istirahat.


Pyar!!!


Tanpa sengaja, Vada menyenggil Vas bunga berukuran cukup besar. Vas bunga antik kesayangan bu Sukma, satu-satunya Vas yang bosnya itu beli di luar negeri yang di panjang di toko.


Elvan tentu saja tak mempedulikannya. Ia sudah di kuasai nap su dan juga amarah sekaligus. Sedangak Vada, sudah pasti ia merutuki kesialannya siang itu. Bisa di pastikan bu Sukma akan ngamuk jika Vas kesayangannya pecah.


Sampai di ruang istirahat, tak sekalipun Elvan Mengijinkan Vada untuk sekedar meraup oksigen. Ia terus memagut bibir wanita itu, menyesap setiap sudutnya dan sesekali menggigitnya. Kali ini Vada memyanggah ucapan Mbok Darmi yang mengatakan jika suaminya tidak menggigit. Nyatanya sekarang ia di gigit juga.


Elvan langsung mendorong tubuh Vada hingga terjatuh di kasur berukuran kecil, yang hanya cukup untuk tidur satu orang saja, yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


Di bantu oleh Elvan, Vada melepas satu persatu pakaiannya, ia ingin acara makan siang suaminya ini segera berakhir.


Setelah melakukan pemanasan sesaat, Elvan benar-benar melakukan penyatuan dengan istrinya.


Kurang lebih satu jam, akhirnya Elvan mengakhiri sesi bercinta mereka siang itu setelah berhasil meledakkan benih-benihnya di dalam sana.


Meski sejak pagi laki-laki itu belum makan. Namun Vada akui staminyanya tetap tak berkurang sedikitpun. Bahkan karena dalam keadaan marah karena cemburu, stamina laki-laki semakin kuat dan liar tak terkendali. Vada sampai lemas tak bertenaga di buatnya, padahal laki-laki itu hanya melakukannya satu ronde saja. Masih di bilang hanya makanan pembuka nya saja di bandingkan permainan panas mereka biasanya.


Mungkin karena Vada juga belum makan siang saja membuatnya langsung ambruk lemas tak berdaya. Atau mungkin karena kepikiran guci bu Sukma. Entahlah.


Tanpa bersuara, keduanya kembali mengenakan pakaian masing-masing.


"Itu yang kau duduki, bawa sini!" titah Elvan.


"Apa?" tanya Vada tak mengerti, ia sibuk memakai under wearnya sambil duduk.


Tangan Vada meraba benda yang ia duduki, ia mengambil benda itu, "ini!" ucapnya sambil menyodorkan 'sarung' milik Elvan.


Setelah keduanya selesai berpakaian kembali, mereka keluar dari ruangan yang akan menjadi saksi bisu pernah terjadinya bumi bergetar tapi bukan gempa. Vada meringis menatap ruangan itu yang kini tampak kusut, tak serapi sebelumnya. Bagaimana nanti jika bu Sukma melihatnya, apa yang akan ia katakan. Terlebih soal vas bunga . Ya, bagaimana nasib Vas bunga antik itu. Sebelum akhirnya ia menyusul Elvan keluar ruangan itu.


Masih di kuasai rasa kesal meski sudah meledak, Elvan meraih cek di saku jasnya. Ia menuliskan sejumlah nominal lalu memberikannya kasar kepada Vada. Vada tersentak, ia pikir laki-laki itu akan membayar ya setelah 'memakainya'. Tiba-tiba rasa nyeri kembali terasa di dadanya, apa laki-laki itu menganggapnya wanita murahan.


"Untuk mengganti Vas yang kau pecahkan!" Elvan meletakkan cek tersebut di atas meja, ia menatap Vada datar. Tanpa bicara lagi, Elvan memutar badannya lalu melangkah pergi meninggalkan Vada yang masih terdiam di tempatnya.


"Tapi tuan, kita belum jadi makan siang!" Vada berteriak mengingatkan.


Elvan berhenti sejenak hanya untuk mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia bahkan sudah kehilangan nap su makannya sejak masuk ke dalam toko tadi.


Vada menatap punggung suaminya yang kembali melangkah tanpa menoleh. Vada tersenyum miris, baru saja suaminya itu menggagahinya dengan penuh nap su. Kini ia pergi begitu saja tanpa pamit dan tanpa kehangatan sedikitpun yang memperlihatkan sedikit kepuasan dalam dirinya yang baru saja mencapai puncak. justru wajah dinginnya yang kembali menghiasi wajah tampannya.


Penyatuan yang baru saja terjadi, seolah hanya ajang pembuktian dan peringatan siapa yang lebih berhak atas tubuhnya. Ya, Vada kali ini memang menyadari kesalahannya. Mau di cari pembenaran seperti apapun, statusnya yang jelas, tetap ialah yang salah. Segaris senyum penuh luka mengiringi langkah suaminya yang kini sudah masuk ke dalam mobilnya.


Vada meraih cek yang tergeletak diatas meja tersebut. Bagaimana pun, ia membutuhkan uang itu untuk mengganti Vas bunga kesayangan bu Sukma.

__ADS_1


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


__ADS_2