Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 141


__ADS_3

Sepasang ayah dan anak yang terpisah lama itu saling memeluk dan menumpahkan rasa dalam tangis mereka.


"Maafkan papa, sayang. Maaf karena papa tidak bisa menjaga dan merawatmu selama ini, maaf atas ketidakbecusan papa ini," ucap tuan Adijaya penuh sesal.


Vada tak tahu alasan apa yang membuatnya bisa sampai panti asuhan, nyatanya Vada tak bisa marah kepada pria yang duduk di kursi roda itu. Meskipun sebenarnya ia ingin marah dan melampiaskn kekecewaannya karena merasa di buang. Tapi, semakin ia mempermasalahkan hal itu, hanya akan membuat hatinya terlukan karena kenyataannya ia sudah sangat merindukan sang ayah. Ia tak ingin merusak suasana dengan kemarahannya dan menunda untuk melepas rasa rindunya tersebut.


Melihat ibunya menangis, membuat Kyara ikut menangis, ia takut ibunya di sakiti oleh pria asing yang tak lain adalah kakeknya tersebut.


"Mamaaaa," ucap Kyara yang sudah berderai air mata. Elvan yang fokus dan ikut terharu melihat pemandangan di depannya tersebut baru sadar jika putrinya sudah menangis sampai sesenggukan.


Pun dengan Vada, ia langsung melapas pelukannya terhadap tuan Adijaya saat kyara memanggilnya dengan nada bergetar.


Elvan melangkah maju membawa kyara mendekati Vada dan tuan Adijaya.


Tuan Adijaya memandang Kyara dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Kyara memeluk erat leher Elvan, ia merasa takut.


Elvan menurunkan Kyara beberapa meter di depan tuan Adijaya, sementara Vada berjongkok di samping ayahnya tersebut, "Sini, sayang," panggil Vada.


Kyara diam di tempat dan menggeleng, takut untuk mendekati kakeknya, lalu menoleh kepada Elvan yang berjongkok dan kembali memeluk ayahnya tersebut.


"Nggak apa-apa. Opa baik, sayang sama mama, sama Kyara. Ayo peluk opa," bisik Elvan.


Kyara melepas pelukannya terhadap Elvan. Pria itu mengangguk seraya tersenyum. Kyara menoleh, menatap tuan Adijaya. Pria paruh baya itu tersenyum hangat kepadanya, "Sini, peluk opa," ucapnya.


Kyara berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan tuan Adijaya.


"Sini," panggil tun Adijaya dan Kyara langsung memeluk pria itu,"Opa..."


Tuan Adijaya tersenyum sekaligus, terisak,"Iya, ini opanya Kyara, sayang,"


"Opa jangan menangis, Kya ndak nakal, kok!" ucap Kyara polos.


"Iya, Kyara nggak nakal, Kya cucu opa yang pintar dan cantik," sahut tuan Adijaya.


Nyonya Tamara yang sejak tadi hanya berdiri beberapa meter di belakang tuan Adijaya terus mengusap air matanya yang tak henti mengalir. Ia akhirnya memberanikan diri untuk melangkah maju mendekati cucu dan menantunya.

__ADS_1


Vada berpikir jika wanita itu tidak menyukai kepulangnnya, makanya sejak tadi wanita itu tak menyambutnya. Namun, kini wanita itu sedang terisak dalam pelukannya sambil terus meminta maaf. Yang mana membuatnya bingung kenapa.


.


.


.


Setelah saling melepas rindu dan meminta maaf, kini mereka duduk bersama di ruang keluarga. Pertama, tuan Adijaya menceritakan masa lalu mereka, bagaimana bisa beliau sampai tidak mencari Vada karena berpikir jika anaknya tersebut telah meninggal bersama sang ibu dan meninggalkan kesedihan yang mendalam pada dirinya.


Dan sekarang giliran nyonya Tamara yang menceritakn kejahatannya terhadap Vada. Vada sangat terkejut saat mengetahui nyonya Tamaralah dalang yang membuangnya di panti dan membuat dia harus menderita selama ini.


"Maafkan mama, karena keegoisan mama, kamu harus menderita. Mama benar-benar menyesal, Vada," ucap nyonya Tamara.


Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Vada. Rasanya sakit sekali untuk memaafkan. Ia ingat bagaimana dulu saat-saat awal berada di panti asuhan. Ia terus menangis dan menangis memanggil ayah dan ibunya.


Ia begitu takut di tempat asing tersebut, setiap kali bunda panti bertanya namanya, ia hanya diam, "Namamu Laras?" tanya bunda saat membuka kalung miliknya waktu itu dan ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Hari-hari ia jalani dengan melamun dan melihat ke jalanan, berharap wanita yag menjanjikannya akan datang menjemput dan bertemu ayahnya itu benar datang dan menepati janjinya. Hingga pada akhirnya ia menyerah dan menganggap tak punya siapa-siapa Selain keluarga panti.


"Maafkan mama, Vada. Mama benar-benar menyesal. Mama sempat mengunjungi panti untuk melihat keadaanmu, tapi mama terlambat, panti asuhan itu sudah pindah entah kemana," jelas nyonya Tamara.


Ujian hidup yang bertubi-tubi mendatangi Vada, membuatnya kini memeilih memaafkan semuanya. Ia sudah terlalu lelah bersanding dengan luka dan kecewa, dan kini ingin hanya kedamaian dan kebahagiaan yang menyertainya.


Vada berdiri dan memdekati nyonya Tamara, ia memeluk wanita itu yang langsung sesenggukan, "Semuanya sudah berlalu, apapun itu sudah Vada maafkan, ma," Vada mengusap punggung nyonya Tamara yang semakin bergetar


.


.


.


Vada sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia tampak cantik dan anggun dengan balutan kebaya berwarna putih. Ia benar-benar tak menyangka akan kembali menikah dengan pria yang sama dengan Pria yang kurang dari lima tahun yang lalu juga mengucapkan akad di hadapan penghulu.


Bedanya, jika dulu ia di paksa menikahi pria itu untuk membayar kesalah pahaman pria itu, kini ia melakukannya dengan suka rela. Bahkan sangat bahagia. Raut tegang serta bahagia bercampur di wajahnya yang begitu cantik.

__ADS_1


Meski sudah menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan pelan beberapa kali, tetap saja tak bisa menyembunyikan kegugupannya.


"Woaaaahhh mama cantik sekali!" puji Kyara yang baru saja masuk dengan di tuntun oleh nyonya Tamara.


Vada menoleh dan tersenyum, "Anak mama juga cantik," ucapnya mengusap kepala Kyara lembut.


"Sudah siap, sayang?" tanya nyonya Tamara, "Papa dan suamimu sudah menunggu di bawah," sambungnya.


Vada mengangguk. Ia menghela napas sekali lagi lalu berdiri dari duduknya.


Kyara lebih mendekat, ia mengulurkan tangannya, "Ayo, ma!" ucapnya. Anak itu sngat cantik memakai kebaya mini yang warnanya senada dengan milik ibunya.


Vada tersenyum dan menyambut tangan mungil itu yang akan memberinya kekuatan dan lebih rileks.


"Ih, syusyah jalannya pakai beginian, ya ma? Kya ndak bisa lali-lali," celoteh Kyara sembari berjalan.


Vada tersenyum, "Tapi, Kya cantik pakai baju itu, sayang,"


Mata Kyara langsung berbinar, "O, ya?" tanyanya dan Vada mengangguk.


"Kalau syudh besal nanti, Kya juga mau menikah! Sama daddy! Kayak mama," ucap Kyara.


"Ya enggak boleh dong, daddy kan ayahnya Kya. Saat dewasa nanti, akan ada pria yang datang dalam hidup Kya menjadi pendamping Kya, tapi bukan daddy,"


"Kya maunya daddy, mama! Nggak mau menikah syama yang lain apalagi om lio! Ndak mau!" terlalu ngefans dengan daddinya dan belum paham arti pernikahan membuat Kyara terus merengek hingga mereka sampai di lantai bawah, dimana beberapa orang, Elvan dan juga papanya.


Elvan langsung berdiri dari duduknya saat melihat anak dan istrinya datang. Dua bidadarinya itu terlihat sangat cantikdan satunya sangat menggemaskan. Jantungnya yang sejak tadi berdetak biasa saja, kini tiba-tiba menjadi sangat cepat. Terlebih saat Vada duduk di sampingnya dan bersiap untuk di halalkan lagi. Ini memang bukan pertama kali ia akan melakukannya, tapi gugupnya melebihi saat pertama kali dulu. Mungkin karena dulu ia melakukannya tanpa perasaan, yang ada hanya sebuah kebencian.


Sesuai permintaan Vada, acara tersebut hanya di hadiri keluarga inti saja. Ia tak ingin membuat kehebohan dengan kebenaran bahwa ternyata dirinyalah yang anak kandung dari tuan Adijaya bukan Elvan. Karena hal itu pasti sedikit atau banyak akan berdampak Pada suaminya nanti.


Biarlah semua orang tetap mengira jika Elvan adalah satu-satunya putra dan pewaris dari AJ grup. Yang terpenting buat Vada adalah ia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Awalnya Elvan menolak, ia ingin dunia tahu siapa Vada, namun Vada terua membujuknya dan membuatnya mengerti dan mengalah.


Tanpa terasa baik Vada maupun Elvan menitikkan air mata mereka saat pria itu tengah selesai mengucapkan ijab qabulnya dengan menjabat tangan guan adijaya sebagai wali dari Vada karena Vada lahir dari pernikahan yang sah antara tuan Adijaya dan juga ibu kandung Vada. Dengan sekali tarikan napas, Elvan berhasil melakukannya. Perasaan lega dan haru lanhsung terasa di ruangan yang di hias sedemikian rupa tersebut.


Elvan menatap Vada dengan perasaannya yang sangat lega. Akhirnya, wanita yang ia cintai itu kini sah menajdi istrinya lagi tanpa ada unsur paksaan sama sekali. Ia mencium kening Vada dengan mata terpejam, tak terasa air matanya kembali jatuh. Entahlah kenapa dia menjadi melow begini. 'Tapi, itulah perasaannya saat ini, terlalu terharu dan bahagia hingga tak terkontrol sisi emosionalnya yang satu itu.

__ADS_1


Tak hanya di kening, Elvan hendak mencium bibir Vada tidak peduli dengan orang-orang yang menatapnya, tapi Kyara mengacaukannya. Anak itu tak mau kalah saat ayahnya mencium kening sang ibu, ia nyembul di antara keduanya dan minta jatah sama daddinya, "Kya juga mau, daddy. Kiss!" ia menunjuk keningnya sendiri. Elvan tersenyum dan menurutinya. Vada juga memberikan kecupan di puncak kepala Kyara. Ia senang karena akhirnya anaknya memiliki orang tua lengkap.


"Sudah kan, pa? Udah sah, sekarang titip Kya, mamanya mau aku...ajak diskusi," Elvan tak sabar menarik tangan Vada setelah pak ustadz dan beberapa orang yang masih ada hubungan keluarga berpamitan.


__ADS_2