
"Ngapain kesini?" tanya Dimas sinis kepada Elvan yang datang menemuinya di penjara.
Bugh!
Tanpa menyahut, Elvan langsung melayangkan satu bogeman ke wajah Dimas hingga pria itu terpental jatuh ke lantai.
Dimas yang terjatuh di lantai mengusap sudut bibirnya lalu meludah, ia berdiri dan tersenyum sinis menatap Elvan.
"Breng sek! Bede bah!"
Bugh Bugh bugh! Elvan terus memukul Dimas penuh emosi. Pria itu tak melawan, ia justru terus tersenyum Meledek Elvan yang tentu saja semakin tersulut emosinya. Entah kenapaanatan sahabatnya itu tiba-tiba datang dan memukulnya tanpa ampun.
Dimas merasa hidupnya sudah tak berarti lagi, karena semuanya sudah berakhir, orang tua dn juga wanita yng ia cintai yaitu Zoya sudah tiada, balas dendamnya pun gagal. Ia memilih membiarkan Elvan terus memukuilinya, seolah kini ia sudah mati rasa.
Meskipun di cegah oleh polisi yang berjaga Elvan tetap memukul Dimas hingga pria itu babak belur.
"Kakak stop!" teriak Zora yang baru saja datang dengan Vada dan juga asisten Rio. Wanita itu langsung memasang badan di depan Dimas untuk melindunginya dari Elvan.
"Minggir Zora, jangan melindungi dia. Laki-laki breng sek ini tidak pantas di lindungi!" ucap Elvan yang masih emosi. Ia sudah bersiap memukul Dimas kembali.
"Jangan kak, aku mohon. Jangan pukul kak Dimas lagi," ucap Zora.
"Minggir!" Sentak Elvan namun Zora menggeleng tak mau.
"Abang, udah. Dia udah babak belur, tenangkan diri abang, ini di kantor polisi," Vada menyentuh lengan Elvan. Pria menatapnya, Vada langsung menggelengkan kepalanya, "Sudah cukup," ucap Vada lembut.
Elvan menurunkan kepalan tangannya perlahan.
Zora langsung balik badan dan melihat Dimas yang sudah babak belur, "Kak Dimas, kakak baik-baik saja kan?" Zora menyentuh wajah Dimas dengan derai air mata. Namun pria itu menepis tangan Zora.
"Ngapain kamu ke sini, pergilah!" ucapnya.
"Tapi, kak... Aku..."
"Pak, bawa saya ke dalam!" pinta Dimas kepada polisi jaga. Polisi tersebut langsung mendekat dan memapahnya untuk di bawa ke dalam sel lagi.
"Aku hamil kak!" teriak Zora dan ucapnya itu sukses membuat langkah kaki Dimas berhenti lalu menoleh, menatap perut wanita tersebut. Selama ini ia selalu bermain aman di ranjang, ia juga menyuruh Zora untuk meminum pil KB. Tapi, bagaimana bisa wanita itu hamil.
__ADS_1
"Aku hamil anak kakak. Ada anak kakak di sini," Zora mengusap perutnya.
Ada rasa bersalah dan juga sedih yang tiba-tiba melanda hati Dimas. Ia mengepalkan tangannya kuat. Mendengar kata anak, membuat hatinya mengangkat seketika.
Zora mendekat, "Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama. Aku akan menunggu kak Dimas keluar dari sini," Ucap Zora.
Dimas menatap Elvan yang masih berusaha menahan emosinya, "Aku tidak yakin jika itu anakku. Kau pergilah, jangan buang waktumu untukku!" Ucap Dimas sengaja mengatakannya. Ia tak ingin Zora memiliki harapan palsu karena kemungkinan ia akan berada di dalam penjara dalam waktu yang lama.
Deg!
Zora tak menyangka Dimas akan mengatakan hal tersebut," Kenapa kakak bilang begitu, dia anak kakak. Selama ini aku hanya berhubungan dengan kakak, aku hanya melakukannya dengan kak Dimas, pria yang aku cintai," ucap Zora kembali menangis.
"Maaf Zora. Tapi selam ini akau tidak pernah mencintai kamu, yang aku cintai adalah Zoya," ucap Dimas dengan nada bergetar. Ia langsung melanjutkan jalannya tanpa menoleh lagi.
"Maaf Zora. Maafkan aku. Aku memang mulai mencintai kamu, tapi hati aku terlalu buta karena dendam, lebih baik kamu membenci kakak," batin Dimas.
Zora terus menangis, meratapi kepergian Dimas.
"Sudahlah, Zora. Jangan nangis terus, kasihan anak yang ada di dalam perut kamu. Kta pulang sekarang," ajak Vada.
Zora melihat Elvan. Pria itu memilih untuk keluar dari sana di susul oleh Rio.
ššš
Vada baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandi. Ia menghampiri suaminya yang sedang duduk terdiam di tepi ranjang. Ia menyentuh kedua pelipis Elvan dan memijatnya dengan lembut.
Elvan memejamkan matanya, menikmati pijatan sang istri yang mampu membuat pikirannya sedikit rilexs.
"Enak?" tanya Vada dan di balas anggukan oleh suaminya.
"Bagaimana Zora?" tanya Elvan.
"Dia udah tidur sekarang, dari tadi nggak berhenti menangis. Nggak tega lihatnya. Aku jadi khawatir sama kondisi kehamilannya," ucap Vada.
Elvan kembali diam, menikmati pijatan Nevadanya.
"Abang kenapa nggak mau bebasin Dimas? Aku kasihan lihat Zora, kasihan juga sama anaknya nanti. Siapa tahu kalau Dimas bebas dia mau bertanggung jawab dan berubah jadi lebih baik," ucap Vada hati-hati.
__ADS_1
"Abang tidak bisa memaafkannya, apa yang dia lakukan sudah sangat fatal. Di enjara seumur hidup pun abang nggak peduli," sahut Elvan.
Vada mengembuskan napasnya panjang, "Apa abang masih sakit hati karena dia selingkuh dengan Zoya? Apa abang nggak bisa mencoba untuk memaafkan? Zoya sudah tenang di sana, abang jangan terus menyimpan dendam, tidak baik. Aku tau abang terlalu cinta sama Zoya sampai rasa sakitnya nggak bisa hilang!" entahlah, membicarakan Zoya membuat Vada sedikit emosi, ia memijit pelipis Elvan denga keras karena kesal.
Elvan menyentuh tangan Vada lalu menariknya supaya wanita itu pindah posisi ke pangkuannya," Kenapa kamu jadi kesal hemm? Abang melakukannya bukan karena Zoya, tapi karena kamu, sayang," Elvan mengusap pipi Vada.
"Aku? Kok bisa?"
"Karena dia berani menyentuh kamu, abang nggak bisa memaafkannya,"
Wajah Vada langsung memerah, ternyata ia salah paham, Elvan melakukannya demi dirinya bukan Zoya.
Elvan memeluk Vada erat, "wangi banget sih istri abang, keramas ya? Nanti keramas lagi ya?" Elvan mulai memgwndus leher Vada. Ia menyusupkan tangannya ke dada Vada dan merematnya pelan. Yang mana membuat wanita itu langsung merinding sekujur tubuhnya.
"Abang, ih nakal!" ucap Vada.
"Abang udah nggak bisa nahannya lagi, bukan cuma kepala abang yang pusing, dia juga, butuh di manja," Elvan menyentuhkan tangan Vada ke belut impornya.
Ia langsung melenguh ketika Vada merematnya dengan sengaja.
Elvan langsung menidurkan Vada di ranjang. Ia membelai pipi Vada dengan lembut. Mengecup bibir wanitanya tersebut dengan penuh perasaan hingga perlahan berubah semakin menuntut. Tangannya mencari tali jubah yang di pakai oleh Vada. Dalam. Sekali tarikan, ia berhasil melepasnya.
Vada meremang ketika jari jemari Elvan bermain dengan liar di atas tubuh wanita tersebut, hingga berhenti di suatu titik dimana ia fokus memainkan jarinya di san dan itu benar-benar membuat Vada melayang.
Puas di permainan oleh sng suami, Vada tak mau kalah, ia menarik ke atas kaos yang di kenakan oleh Elvan hingga terlepas.
Elvan tersenyum tipis, "Rupanya kau juga sudah tak sabar, baby!" ucapnya yang hanya di balas senyuman malu-maluboleh sang istri.
"Let,s start to play!" Elvan bersiap melakukannya.
Entah berapa lama mereka melakukan olah raga malam ini, yang jelas setelah Elvan mengulangi kata 'once more baby' sebanyak tiga kali, pada akhirnya mereka kelelahan dan kini tertidur pulas, bahkan saat pintu kamar mereka di ketuk berulang kali oleh pelayan pun mereka tak mendengar.
Bahkan sampai memanggila penjaga untuk membantu membangunkan kedua majikan mereka tersebut karena sesuatu yang urgent sedang terjadi hingga akhirnya Vada sayup-sayup mendengar ketikan pintu dan orang berteriak di luar kamarnya. Ia menoleh ke samping dimana suaminya masih terlelap.
Vada segera turun dari ranjang dan memakai jubah mandinya yang terongggok di lantai. Ia berjalan mendekati pintu dan membukanya, "Kenapa pagi-pagi kalian berteriak-teriak. Tuan muda masih tidu," ucap Vada yang hanya menyembulkan kepalanya di celah pintu karena ada penjaga pri ajuga di sa sementara ia hanya memakai jubah mandi.
"Maaf non mengganggu, tapi itu non Zora...."
__ADS_1
"Zora kenapa?" tanya Vada.
"Non Zora, tak sadarkan diri!" Jawab bibi.