
Suatu hari, saat Elvan pulang sekolah, tak sengaja ia melihat seorang gadis kecil berusia delapan tahun yang duduk sendiri melamun di sebuah taman.
Elvan tertegun menatap gadis cilik tersebut yang hanya melihat anak-anak lain bermain dengan ceria. Saat itu, beberapa kakak kelas Elvan mendekatinya dan mengeroyoknya. Salah satu dari anak-anak itu dendam kepadanya karena gadis yng menjadi primadona SMA dan menjadi incarannya sejak kelas satu malah menyukai Elvan, murid yang baru kelas satu yang begitu mencuri perhatian seluruh gadis penghuni SMAnya bersekolah.
"Gue nggak ada urusannya sama dia kalau dia suka sama gue, berarti lo yang harus introspeksi diri!" ucap Elvan tak gentar.
"Alah, banyak ba cot lo!" Kakak kelasnya mulai memukul Elvan, di ikuti beberapa temannya.
Gadis cilik itu melihat apa yang di lakukan oleh kakak kelas Elvan, lalu ia berteriak meminta tolong.
"Jangan pukul kakak itu!" teriaknya lantang.
Namun teriakannya tidak di gubris. Akhirnya ia mendekati mereka dan hampir kena pukul salah satu dari mereka. Untung saja Elvan yang sebenarnya bisa bela diri menghalau pukulan tersebut dan ia balik menghajar mereka satu persatu. Ya, meskipun keesokan harinya, ia harus berurusan dengan guru BK di sekolah karena kakak kelasnya melaporkannya bahkan harua berurusan dengan polisi.
Setelah kakak kelasnya babak belur dan memilih kabur, Gadis cilik berusia delapan tahun itu mengulurkan tangannya kepada Elvan yang duduk di atas rerumoutan smbil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
"Duduk sana kak, jangan di sini, kasihan rumputnya di duduki," seloroh gadis tersebut.
Elvan menerima uluran tangan gadis itu. Mereka pun duduk di kursi yang tadi di duduki Gadis kecil tersebut.
"Sakit, kak?" tanya gadis itu.
Elvan menggeleng, "Cuma agak perih," gumamnya.
"Nggak apa-apa, laki-laki harus kuat kata bunda. Tadi kakak bis melawan, tapi kenapa diam aja awalnya?" tanya gadis itu.
"Nggak apa-apa. Bela diri hanya untuk saat genting saja," ucap Elvan.
"Kalau kakak nggak salah ya lawan aja, jangan tunggu di hajar dulu," ucap gadis itu polos.
Elvan hanya tersenyum tipis, "Makasih ya, tadi udah bantu aku," ucap Elvan.
"Aku nggak bantuin kok, justru kakak tadi yang bantuin Laras, kan? Kalau enggak pasti aku Udah Kena pukul tadi. Bisa-bisa pingsan deh!" celoteh gadis tersebut. Berbeda dengan yang ia lihat tadi, gadis cilik itu kini terlihay lebih ceria saat bicara dengannya.
Ini kali pertama Elvan berbincang sedikit panjang dengan orang lain setelah kepergian orang tuanya ke luar negeri. Entah kenapa, baru pertama kali bertemu dengan gadis kecil ini yang dinilainya banyak tanya, tapi dia merasa nyaman. Bahkan Elvan yang hampir tak tersenyum, kali ini tersenyum tipis melihat gadis cilik yang duduk di sampingnya terus mengajaknya bicara.
"Laras! Ayo nak, kita harus pergi sekarang! Bunda dan lainnya sudah menunggu!" teriak seorang pria.
Gadis itu menoleh, "Sebentat, yah!" sahutnya.
"Aku harus pergi kak, ayah aku udah manggil," ucapnya.
Elvan hanya mengangguk kecil, "Pergilah!" ucapnya.
"Lukanya jangan lupa diobati, ya?" pesan gadis itu sebelum berjalan meninggalkannya.
"Tunggu!" sergah Elvan, gadis itu berhenti dan menoleh.
"Jangan kebanyakan melamun, banyakin senyum aja. Cantik!" ucap Elvan dan Laras tersenyum lalu mengangguk, "Nama kakak siapa?" tanyanya.
Belum Elvan menjawab, Laras sudah di panggil lagi oleh ayah angkatnya. Gadis itu langsung berlari, tak ingin membuat ayhny menunggu lebih lama karena mereka akan pidah rumah ke rumah orang tua ayahnya yang masih terletak dalam satu kota tapi lumayan jauh dari tempat tinggalnya yang sekarang.
"Elvan, namaku Elvan. Laras,,,," gumam Elvan. Ia kembali tersenyum tipis mengingat keberanian gadis cilik itu saat membelanya tadi.
__ADS_1
...........
Elvan yang baru saja membuka matanya, mengusap wajahnya kasar. Entah kenapa mimpi itu akhir-akhir ini selalu mendatanginya. Ia bahkan berpikir, aakah ada hubungannya gadis cilik yang waktu itu ia dengan istrinya? Pasalnya semakin ia merasa rindu dengan Vada, mimpi itu lebih sering muncul. Padahal sebelumnya ia tak pernah ingat akan kejadian itu lagi.
Elvan menoleh ke nakas, "Pagi, sayang," ucapnya seraya memandang photo Vada yang terbingkai figura berwarna putih sebelum akhirnya ia bernjak ke kamar mandi. Ya, seperti itulah rutinitasnya setiap pagi setelah membuka kedua matanya selama lebih dari tiga tahun ini semenjak kepergian Vada.
Sudah tiga tahun lebih, bahkan hampir empat tahun Vada pergi, namun bak di telan bumi, pencarian Elvan belum menemukn hasil sama sekali. Entah kemana ia harus mencari. Baru kali ini ia begitu sukit menemukan seseorang, mungkn Tuhan memang tak menghendaki mereka untuk bertemu, begitulah yang sering Elvan pikirkan dan sempat berpikir untuk menyerah, namun rasa cintanya yang justru semakin kuat membuatnya bangkit dan kembali mulai menata hidupnya yang kacau sembari terus mencari keberadaan Vada.
Selesai bersiap, Elvan langsung turun.
"Sarapan dulu, Van!" ucap nyonya Tamara. Terlihay tuan Adijaya sedang membaca koran seraya menunggunya di meja makan.
"Hem," sahut Elvan, ia langsung duduk di sisi kiri sang ayah. Ya, sejak kedua orang tuanya kembali waktu itu, mereka memutuskan untuk tinggal di mansion utama suoaya lebih dekat dengan Elvan dan sesekali mereka akan menginap di mansion milik Elvan seperti sekarng ini.
Sejak saat itu juga, hubungan antara tuan Adijaya dan Elvan kian membaik meskipun tak seakrab yang di bayangkan, namun jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Bagaimana proyek yang papa berikan kemarin?" tanya Nyonya Tamara.
"Entahlah, aku belum menerimanya," sahut Elvan.
"Terima saja, bukankah ini kesempatan bagus untuk perusahaan? Kita sebelumnya belum ada proyek apapun di sana, bukankah bisa sekalian untuk liburan. Papa lihat akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk dan lelah," ujar tuan Adijaya.
Elvan memandang ayahnya sejenak, "Aku masih harus mencarinya,,,, tak ada waktu untuk bersenang-senang," sahut Elvan.
"Percayalah, takdir akan menuntunmu kepadanya," ucap tuan Adijaya.
"Maksud papa?"
"Aku tak suka teka teki," balas Elvan.
"Lakukan saja sesui kata hatimu," kata Tuan Adijaya.
Elvan terdiam, ia sedang memikirkan sesuatu. Selama tiga tahun ini, ia hanya fokus bekerja di Jakarta dan terus mencari keberadaan Vada yang ia pikir masih berada di Indonesia tersebut. Asisten rio6 bahkn sering kena omel karena di suruh mencari seorang Vada yang masih satu negara saja tidak becus, pikirnya.
"Mungkin nona sengaja bersembunyi di pedalaman supaya tidak terendus keberadaanya oleh tuan muda," ernah asisten Rio berkata demikian dan tentu saja membuat Elvan semakin kesal.
"Oke, berarti deal, papa akan hubungi teman papa yang di sana. Papa dengar sekrang putranya yang memipin perusahaannya. Bukankah akan sangat bagus jika para anak muda yang kompeten bekerja sama, hasilnya pasti luar biasa," tiba-tiba saja tuan Adijaya memutuskan. Yang mana membuat Elvan mendengkus dan memilih melanjutkan makannya.
.
.
.
Sementara di belahan dunia lainnya...
"Mamaaa.....!" teriak seorang gadis kecil yang di gendong oleh seorang pria.
Seorang wanita yang mendengar terikan sang putri langsung menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum, "Come to Mamaa, Kyara!" ucapnya seraya merentangkan kedua tangannya lebar demi menyambut sang putri yang berpisah sekitar beberapa jam.
Kyara langsung merosot dari gendongan laki-laki yang berdiri di depan pintu tersebut dan berlari kepada ibunya seraya mendekap erat boneka amiguruminya yang berebntuk kelinci.
" Hug!" seru Kyara yang langsung melompat ke pelukan ibunya.
__ADS_1
Wanita itu terus menghujani wajah putrinya dengan ciuman hibgga anak itu terkekeh geli, "Geli, mama!" serunya.
"Mama sangat merindukanmu, sayang," ucap wanita tersebut.
"Ayolah Vada, aku hanya mengajaknya bermain sebentar, cuma.... Dua... Em... Tiga jam-an lah, belum sehari," ucap pria yang tadi menggendong Kyara seray berjalan mendekat.
"Tiga jam adalah waktu terlamaku pisah dengannya, Ndra," protes Vada.
"Oke oke, lain kali aku akan mengajaknya bermain dua jam setengah," seloroh Andra seraya terkekeh.
"Ck, kau ini!" cebik Vada.
"Em tunggu!" Vada mengusap sudut bibir, "Apa ini?" tanyanya.
"Yah, ketauwan deh, ompapa!" ucap Kyara menoleh ke arah Andra yang langsung tersenyum.
"Mama bilang apa? Kyara enggak boleh mam cokelat, nanti bisa sakit gigi," kata Vada.
"Maaf, mama. Tapi cokat enak, manis!" ucap Kyara dengan mata berbinar.
Tentu saja Vada tak jadi marah melihat kepolosan sang putri.
"Ya udh, lain kali nggak lagi ya, nanti giginya bisa rusak di makan kuman kalau Kyara sering mam coklat,"
Kyara mengangguk, "Tapi, cokat macih banak di tas, Kyala! Pemen juga ada! Mubazil kalau tidak di mam!" Kyara meleaps tas ransel kecil di punggungnya llu mengeluarkan isinya yang terdiri dari beberapa permen dan cokelat.
"Ya ampun, Ndra! Ini!"
"Pokoknya Kyara enggak boleh banyak-banyak makan coklat sama permen, dengar mama?" ucap Vada lembut.
Gadis kecil itu mengangguk lalu mendongak, menatap kedua mata ibunya, "Satu lagi, boleh?" rayunya dengan mengerjapkan kedua matanya.
"No! Untuk hari ini cukup, yang ini di simpan, oke?"
"Oke, mama!" seru Kyara patuh.
"Ya udah, sekarang Kyara masuk ke dalam ya, mama mau bicara sama ompapa dulu," Kyara mengangguk dan langsung melambaikan tangannya kepada Andra, "Kyala masyuk dulu, om papa!" ucap Kyara dan langsung pergi ke ruangan mamanya.
"Nggak apa-apa kali, Va... Sekali-kali makan coklat dan permen, jangan terlalu mengekangnya," ucap Andra setelah Kyara masuk.
"Aku bukannya mengekng, aku hanya ingin yang terbaik untuk Kyara, Ndra," sahut Vada.
"Kau sudah melakukannya dengan sangat baik, tapi mengijinkan di makan coklat sekali-kali tidak masalah, bukan? Ayolah, kau tak melihatbtadi betapa ia sngat menyukai coklat-coklat itu, hem?"
"Kau ini, selalu begini. Kau terlalu memanjakannnya," sahut Vada.
"Dia pantas dimanja," balas Andra tersenyum.
"Yaudah, kalau tidak ada yang mau di obrolin lagi, aku pamit dulu," ucap Andra
"Hem," Vada mengangguk.
"Hati-hati!" seru Vada ketika Andra sudah membuka pintu cafe. Ia lalu menoleh ruang kerjanya, dimana anak Kyara berada. Pasti anaknya itu sedang menyesali perbuatannya yang memakan cokelat tanpa seijinnya dan berpikir jika sang ibu marah kepadanya.
__ADS_1