Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 60


__ADS_3

Tapi Vada tentu saja tak ingin mengatakan idenya itu, yang ada nanti bisa-bisa suaminya itu benar-benar memilih rumah kontrakan sepetak untuk mereka tempati, yang ada Elvan lagi Elvan lagi, Hah bosan.


Kruuukkk krukkkk kruuukkk


Entah itu suara perut siapa yang kelaparan, karena memang keduanya belum makan malam. Elvan dan Vada sama-sama menunduk, menatap perut mereka masing-masing lalu mendongak saling menatap dengan tatapan menahan malu.


Sesaat mereka saling diam, tak ada lagi yang berbicara. Detik kemudian, bel berbunyi. Elvan segera membuka pintu, dan ternyata itu kurir yang mengantar makanan yang di pesan oleh Elvan saat di jalan tadi.


Elvan menerima paperbag dari kurir dan memeriksa isi di dalamnya, ia menoleh ke dalam sebentar lalu,"Tunggu!" ia mencegah kurir yang bersiap pergi.


Elvan mengambil satu box dari dalam paperbag dan kembali menyerahkan paperbag itu kepada kurir, "Yang itu buatmu!" ucapnya.


Meski terkejut, karena itu adalah makanan dari restauran mahal, namun kurir tersebut menerimanya dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Kapan lagi bisa makan enak dari restauran mahal, pikirnya.


Elvan menutup pintunya kembali. Ia menarik tangan Vada supaya mengikutinya ke dapur. Dengan cekatan ia mengambil piring dan memindahkan makanannya ke piring. Tak lupa pria itu juga menyiapkan segelas air putih.


Vas hanya duduk sambil memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya dan masih mempertahankan kejutekannya.


"Makanannya hanya satu, mau tidak mau ya makan sepiring berdua," ucap Elvan seraya meletakkan makanan tersebut di atas meja.


"Katanya sultan, masak pesan makanan dua porsi nggak mampu. Sengaja banget!" batin Vada kesal.


"Kan bisa di bagi dua piring," ucap Vada kemudian.


Elvan menatapnya, "Di sini tidak ada pelayan buat cuci piring, bibi hanya akan datang beberapa hari sekali untuk bersih - bersih,"


"Apa tuan lupa, aku bisa cuci piring,"


Elvan terdiam, entah mau menggunakan alasan apalagi sekarang. Padahal ia sengaja memberikan satu makanannya ke kurir supaya bisa makan seporsi berdua.


"Mau makan atau tidak, terserah!" Elvan mulai menyendok makanan.


Vada masih bertahan dengan egonya, ia hanya melihat suaminya makan tanpa bicara. Wajahnya semakin di tekuk. Namun Lagi-lagi perutnya tak bisa di ajak kompromi karena berbunyi. Kruuuk Kruuuk Kruuuk.


"Sial banget sih nih perut, nggak bisa di ajak kerja sama!" gerutu Vada dalam hati.


"Keras kepala!" gumam Elvan, ia menyodorkan sendok ke depan mulut Vada.

__ADS_1


Vada mengatup kan bibirnya rapat," Buka mulutmu!"


"Di penthouse ini tidak ada stok makanan, kalau nanti malam kamu kelaparan jangan salahkan aku," ucap Elvan.


Akhirnya, dengan terpaksa Vada membuka mulutnya. Suap demi suap ia makan dari tangan suaminya. Hingga piring itu bersih.


Vada segera mencuci piring yang baru saja mereka gunakan untuk makan. Elvan memeluk Vada dari belakang.


" Tuan, lepaskan. Aku sedang mencuci piring!" ucap Vada menggeliat karena merasa geli saat bulu-bulu halus dari wajah Elvan mengenai lehernya.


"Bilang saja kalau tuan kangen, gitu aja kok kayak susah banget ngomong," cebik Vada kemudian.


Melihat Elvan yang diam, Vada berniat angkat kaki dari sana, "Ya sudahlah, kalau memang tidak mau minta maaf dan tidak kangen, buat apa tinggal di sini juga, percuma," ucapnya mengibas-ngibaskan tangannya yang basah, meraih lap untuk mengeringkan tangannya, melepas paksa tangan Elvan yang melingkar di perutnya lalu memutar badan dan melangkah pergi.


Elvan segera menarik tangan Vada hingga tubuh wanita itu memutar dan terhuyung jatuh ke dalam pelukannya.


"Jangan menghindariku lagi," ucap Elvan seraya memeluk erat istrinya.


Vada bergeming, tak bisa ia pungkiri jika ia juga merindukan dekapan pria yang sedang memeluknya erat tersebut. Hanya saja, ia masih terlalu gengsi untuk memaafkan, apalagi memang belum ada kata maaf terucap dari bibir Elvan.


Masih menangkup kedua pipi Vada, Elvan memajukan Keningnya hingga bertemu dengan kening sang istri.


"Aku akan minta maaf dengan benar, seperti yang biasa kamu lakukan. Tapi jangan menghindar lagi, aku sudah tidak bisa mentolelirnya lagi, Vada Laras Sabrina," ucapnya tulus.


Mendengar bisikan tersebut, otomatis otak Vada malah langsung traveling. Pahamlah ya, bagaimana kalau Vada yang minta maaf biasanya. Jadi pikiran Vada otomatis langsung ke isi 'Sarung' suaminya.


Plak!


Vada menabok lengan Elvan," Minta maafnya yang benar dong!" ucap Vada. Merusak suasana haru yang baru saja dibangun suaminya.


"Iya, ini juga mau minta maaf yang benar,"


"Ya udah lakukan, cepat! aku nungguin nih!" nada bicara Vada sengaja masih ketus. Ia ingin melihat sejauh mana suaminya berusaha.


Tak di sangka, Elvan sudah membuka kaos yang ia kenakan saja, membuat Vada reflek menutup wajahnya, "Apa yang tuan lakukan?" tanyanya, ia mengintip tubuh atletis Elvan dari celah-celah jari jemarinya yang menutupi wajahnya. Mubazir sekali kalau melewatkan pemandangan indah yang beberapa hari ini tak ia lihat tersebut.


"Minta maaf. Bukankah kamu yang minta?" jawab Elvan. Ia langsung membopong tubuh Vada dan membawanya ke lantai atas.

__ADS_1


"Apa harus seperti ini, minta maaf kan tinggal bilang saja. Kenapa di buat susah begini?" ucap Vada saat berada dalam gendongan Elvan.


"Bukankah biasanya kau juga begini meminta maafnya kalau membuat kesalahan," jawab Elvan terus berjalan menaiki anak tangga.


"Aduh ini orang, bukankah ide gila cara minta maaf ini tercetus dari otaknya. Kenapa pula jadi aku yang kena," batin Vada.


" Apa begini cara minta maaf yang benar, Kalau begini, yang ada tuan yang keenkan nanti," ucap Vada tapi ia tak memberontak meminta di turunkan.


"Bukankah kau juga merasa enak? Aku hanya mencontohmu saja, bukankah kalau berdua sama-sama enak, permintaan maafnya lebih menyenangkan?"


Kalimat Elvan sukses membungkam mulut Vada untuk tidak protes lagi. Mungkin memang kini saatnya ia benar-benar membuang masa lalunya. Menjalani perannya sebagai seorang istri dari Adhitama Elvan Syahreza seperti janjinya pada diri sendiri bahwa setelah ini, ia akan mencoba semaksimal mungkin, sebisa nya dan semampunya, meski tidak akan mudah.


Elvan menidurkan Vada dengan pelan di atas ranjang. Ia membelai wajah Vada dengan lembut dan penuh perasaan.


Vada menahan tangan Elvan di wajahnya,"Kau sudah mengambil keputusan untuk tetap berada di sisiku. Berarti kau harus siap menjadi istriku sepenuhnya dan jangan menghindar lagi, Nevadaku," ucap Elvan.


"Tuan juga harus janji. Bisakah setelah ini kita akan menjalani hidup mulai dari awal. Hanya ada aku dan tuan? Belajar menerima satu sama lain,"


"Hem," Elvan mengangguk,


Vada berdecak, "lagi-lagi jadi fansnya bisa sabyan, Ham Hem ham Hem,"


Elvan sedikit mengangkat sudut bibirnya melihat istrinya yang manyun, ia mengecup tangan Vada, "Maafkan aku," ucapnya tulus.


Vada tersenyum, "Lakukanlah," ucapnya.


Elvan mengernyit menatap wajah cantik istrinya.


"Bukankah sudah berjanji akan memulai dari awal dan berusaha menerima satu sama lain? Ayo minta Maaf lah yang benar, dan kita mulai dari awal,"


Elvan tersenyum smirk, ia langsung menindih tubuh sang istri. Mencium bibir wanitanya tersebut dengan sangat lembut. Tangan mereka saling menaut di samping telinga Vada kanan dan kiri. Vada mencengkeram erat tangan suaminya, ia membalas pagutan demi pagutan sang suami yang memang ia rindukan.


Di saksikan pemandangan kerlap-kerlip kota di malam hari dari lantai paling atas tersebut, pasangan itu melakukan penyatuan lagi dan lagi. Hingga fajar menyinsing, mereka masih berpacu dengan irama bunyi khas orang yang sedang bercinta, yang menggema di seluruh ruangan tersebut hingga peluh bercampur menjadi satu membasahi tubuh mereka hingga tak bisa di bedakan lagi keringat milik siapa yang menempel di tubuh mereka.



šŸ’•šŸ’•šŸ’•

__ADS_1


__ADS_2