Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 55


__ADS_3

Vada tak tahu apa yang membuat suaminya begitu marah hingga menghancurkan kaamr mereka seperti ini. Apa karena saat pria itu pulang ia tak berada di rumah? Tapi, jika itu alasannya, Elvan tak pernah separah ini amukannya. Vada mengembuskan napasnya dengan kasar. Kekacauan yang di buat suaminya ini membuatnya tidak mungkin bisa langsung tidur, meski raga dan juga hatinya begitu lelah. Ia berniat ingin membersihkan kekacauan yang di buat suaminya.


Saat Vada hendak memutar badannya untuk keluar, tiba-tiba sepasang tangan telah memeluknya dari belakang. Vada sedikit terkejut, tapi saat menyadari itu suaminya, ia hanya bisa pasrah.


"Tuan..."


Dengan sekali gerakan, Elvan memutar Vada Vada hingga kini wanita itu menghadapnya. Tangan kirinya menahan pinggang sang istri supaya menempel ke tubuhnya. Di tatapnya wajah Vada, adegan berpelukan tadi kembali terlintas,. Membuat Elvan menggeram kesal.


"Tuan... Bau apa ini?" Vada melengos saat mencium bau yang tidak familiar dari embusan napas suaminya.


"Ini bau alkohol bukan? Tuan mabuk?" Vada menatap Elvan penuh intimidasi. Ia paling tidak suka pria peminum.


Elvan berdecih lalu tersenyum sinis, ia langsung memagut bibir Vada. Melumatttnya dengan kasar. Vada berusaha mendorongnya dada suaminya namun tidak berhasil. Kekuatan pria itu tentu lebih jauh di atasnya.


"Tuan kenapa? Kenapa seperti ini?" tanya Vada yang masih tak mengerti.


"Sepertinya aku harus mengingatkanmu kembali siapa yang lebih berhak menyentuh tubuhmu! Supaya kau sadar akan statusmu," ucap Elvan masih bisa sedikit mengontrol suaranya.


Elvan menarik pinggang Vada lebih intens hingga wanita itu tersentak.


"LAYANI AKU, aku sedang menginginkannya sekarang," Elvan kembali melumaatt bibir Vada tanpa ampun.


Sekuat hati Vada mendorong dada suaminya, Entah se tan apa yng kini sedang merasuki tubuh suaminya. Ia terus memberontak hingga terpaksa Elvan menghentikan aksinya.


"Maaf, tapi tidak bisa untuk malam ini. Aku lelah, tolong mengertilah," ucap Vada sendu. Ia benar-benar tidak memeilik tenaga apalagi mood untuk melayani suaminya di ranjang. Bagaimana bisa melakukannya di saat ia sedang patah hati.


Elvan segera melepas tangannya dari pinggang Vada dengan kasar hingga tubuh Vada sedikit terpental. Ia mundur satu langkah lalu tersenyum getir.


Vada meringis menahan sakit di kakinya karena tanpa sengaja ia menginjak pecahan Vas bunga yang terbuat dari kaca. Ia menatap suaminya, terlihat sekali pria itu memendam amarah. Yang Vada sendiri masih belum tahu kenapa.


"Kenapa? Apa kau lelah setelah melayani pacarmu itu? Setelah di sentuh kekasihmu itu, apa terlalu melelahkan untuk melayaniku? Atau tak ingin jejak tangannya di tubuhmu terhapus olehku?" tanya Elvan dengan sinis.


Vada tersentak mendengar kalimat suaminya barusan, "Apa dia melihatku dengan Mas Mirza tadi," batinnya bertanya.

__ADS_1


"Apa maksud tuan?" tanyanya tak mengerti.


Elvan berdecih, "Kau jangan pura-pura bodoh. Bukankah kau senang karena baru saja menghabiskan waktu bersama kekasihmu itu? Berpelukan mesra sekali, atau mungkin lebih dari berpelukan. Mungkin kau juga melayaninya di ranjang hingga kau kelelahan. Jam segini baru pulang. Apa kau lupa dengan apa yang pernah aku katakan?"


Plak!


Vada menampar Elvan. Ia tak menyangka serendah itu pikiran Elvan tentang dirinya.


Elvan memegangi pipinya, lalu berdecak," Kau berani menamparku? Sepertinya kau perlu di beri pelajaran supaya sadar akan statusmu! Tentang siapa yang lebih berhak atas tubuhmu itu! sekarang layani aku!" Elvan hendak mencium Vada kembali, namun wanita itu melengos. Sungguh, ia terlalu lelah! Jiwa raga semuanya, lelah.


"Kau berani menolakku?" hardik Elvan. Dadanya terasa sakit saat mendapat penolakan dari sang istri padahal wanita itu baru saja bersenang-senang dengan kekasihnya, pikir Elvan.


"Kau pikir kau siapa Hah? Berapa kali harus aku peringatkan! Apa perlu aku menghancurkan pria itu supaya kau patuh? Kau benar-benar ingin melihat pria itu hancur?"


"Baiklah, kalau kau tak mau melayaniku, aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Kita lihat, apa yang akan kau lakukan untuk menyelamatkan kekasihmu itu jika dia hancur," ucap Elvan merogoh ponselnya. Ia benar-benar sudah kehilangan kesabaran.


Vada sudah tak kuasa lagi menahan tangisnya, rasa sesak belum hilang karena insiden di cafe tadi, kini di tambah dengan amukan suaminya. Dan tentu saja ia tak ingin Mirza kenapa-kenapa. Pria itu tidak bersalah sama sekali. Sudah cukup ia menyakiti hati pria itu, tentu tak ingin menambah penderitaannya lagi.


" Lakukan! " Vada menarik kerah Elvan sebelum pria itu menghubungi orang suruhannya.


Elvan mendorong kedua sisi bahu Vada, "Cukup!" sentaknya yang tidak suka dengan sikap Vada.


Vada menatapnya dengan penuh kebencian, "Kenapa? Bukankah ini yang tuan inginkan? Tubuhku, sebagai pemuas nap su tuan? Ayo lakukan!" Vada yang sedang dalam emosi tidak stabil tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Ia meluapkannya dalam amarah.


Vada dengan sengaja membuka kancing kemeja yang ia kenakan satu persatu hingga memperlihatkan dadanya yang masih tertutup Bra.


" Ayo kita lakukan! Cepat, tuan bebas melakukan apapun terhadap tubuhku, dan bahkan hidupku! Lakukan!" teriak wanita itu frustrasi. Padahal ia tak ingin berdebat, tapi mendengar kalimat demi kalimat suaminya yang sama sekali tak memahami perasaannya saat ini, dia ia benar-benar kecewa. Ia sudah merelakan semuanya, tapi Elvan tak juga mengerti.


Seandainya suaminya itu bisa sedikit lebih sabar dan bicara baik-baik. Mungkin Vada juga tidak akan terbawa emosi.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kenapa? Bukankah ini yang tuan mau? Ayo sentuh aku, nikmati tubuhku!" Vada tersenyum getir.

__ADS_1


Elvan mematung, dan ia tak menyangka reaksi sang istri akan seperti ini. Seharusnya dia yang marah, tapi kini istrinya itu terlihat lebih menyedihkan dari dirinya. Lebih marah dan kecewa dari dirinya. Membuatnya tak mengerti.


"Ayo tuan, lakukan! Ini kan yang tuan mau, nikmati tubuhku! Hidupku!" ucapnya Vada meraih paksa tangan Elvan supaya menyentuh dadanya. Namun Elvan langsung menarik tangannya dengan kasar.


Elvan hanya diam dengan kemarahannya, melihat Vada menangis, hatinya sebenarnya sakit.


"Memang aku berhutang banyak sama tuan, bahkan panti asuhan itu juga membuatku semakin tergantung dengan tuan, atau tuan sengaja melakukan semua itu bukan? Biar aku semakin terikat dan tidak bebas dari tuan?"


Elvan melotot tak terima, soal panti, ia benar-benar tulus. Tak ada sangkut pautnya dengan apapun.


" Tuan selalu menganggap aku sebagai penyebab utama kematian tunangan tuan, oke Fine! Saya akan mengabdi kepada tuan seumur hidup saya untuk menggantikannya, sebagai budak nap su tuan. Tapi, hanya ragaku yang akan tuan miliki, tidak dengan cintaku! Di sini sebenarnya tuan lah yang orang ketiga, apa tuan sadar itu?" sungguh Vada tak berniat mengatakannya, dan tapi kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya karena ia sedang di kuasai amarah.


Mendengarnya, hati Elvan begitu sakit, ada apa dengannya, tapi bukankah malah bagus, wanita itu akan semakin tersiksa jika harus menjadi istrinya, melayani di ranjang tanpa cinta. Bukankah itu akan membuat wanita itu semakin menderita, menangis bukankah itu tujuannya menikahi wanita itu dulu? Namun, perasaan Elvan sama sekali tidak senang. Bukan ini yang ia harapkan kini. Tangannya mengepal, menahan amarah.


"Dan soal mata ini, sungguh! Saat ini kalau aku bisa memilih, aku lebih memilih tidak bisa melihat selamanya dari pada harus seperti ini!" ucapnya Vada tersentak dengan kalimatnya sendiri, bukan ia tak bersyukur, tapi ia hanya kecewa dengan sikap suaminya yang selalu tak mau bicara baik-baik. Kesabarannya juga sudah habis.


"Katakan, apalagi yang ingin kau katakan!" ucap Elvan dingin.


"Silahkan jika tuan akan menghancurkan mas Mirza, silahkan lakukan. Aku tidak peduli! Karena aku dengan dia sudah tak ada hubungan apapun lagi! Jadi mau tuan menghancurkan dia seperti apapun sudah tidak ada pengaruhnya lagi untukku!" tegas Vada.


Elvan langsung menatapnya, dan meminta penjelasan lebih atas ucapan Sang istri.


"Bukankah ini yang tuan mau? Benar, tadi memang aku bertemu dengan Mas Mirza. Tapi bukan seperti yang tuan tuduhkan. Aku tidak tahu kalau mas Mirza menyiapkan makan malam itu. Sama Sekali tidak tahu! Dan aku gunakan waktu pertemuan kami tadi untuk memutuskannya. Ya, aku sudah putus dengannya dan lebih memilih hidup bersama suami menyebalkan seperti tuan! Puas?!!!!"


Vada mengusap wajahnya kasar, lalu mendorong tubuh kekar suaminya sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan Elvan yang mematung di tempatnya.


Elvan terkejut melihat darah yang berceceran di lantai, yang mengecap jejak kaki istrinya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


πŸ’ πŸ’ Elvan ngamuk, dan eh di amuk balik dong ma Vada...😌😌


Jangan lupa like dan komennya... Tengkyu πŸ€—

__ADS_1


πŸ’ πŸ’ 


__ADS_2