
Elvan melajukan mobilnya cepat, ia menuju ke sebuah bar milik temannya yang sudah lama tak ia temui.
"Hai bro, tumben nongol ke sini, gila udah lama banget kita nggak ketemu. Sekalinya ketemu muka lo kusut banget, eh tapi, emang muka lo kayak gini dari sana nya ya, dinginnn, what's up bro? Lo kangen gue" tanya Bryan, si pemilik bar.
Elvan acuh, ia tak menyahut pertanyaan temannya tersebut. Ia langsung duduk di tempat khusus yang dulu selalu menjadi singgasananya jika sedang berada di bar tersebut.
"Minum?" tawar Briyan, menyodorkan sebotol minuman beralkohol. Namun Elvan sedang tak ingin minum.
"Orange jus!" kata Elvan yang langsung mengundang gelak tawa Bryan. "Lo datang ke sini cuma buat orange jus? C'mon bro. Suruh aja bibi lo buatin. Ngapain susah-susah ke bar kalau cuma buat minum orange jus!" ledek Bryan.
"Gue lagi nggak mau minum, ada bini gue di rumah," ucap Elvan. Bagaimana pun, Vada pasti tidak akan suka kalau dia mabuk. Dia ke bar hanya untuk menenangkan diri. Terlebih lagi, jika mabuk, dia takut tidak bisa mengendalikan diri. Siang tadi, ia sudah cukup membuat Vada kelelahan.
"Bini? You has married bro?" tanya Bryan tak percaya. Tapi Bryan tak terkejut. Begitulah ELVAN yang ia kenal, selalu melakukan apapun yang ingin ia lakukan semaunya sendiri, tanpa merasa perlu memberi tahu orang lain jika merasa tidak penting atau tidak ingin.
Elvan tak menyahut.
"Istri lo ngelarang lo minum? Hahaha nemu dimana itu bini lo. Kalau Zoya dulu, nggak masalah lo minum. Mabuk pun dia nggak masalah, malah suka karena lo makin liar di ranjang kalau lagi mabuk. Tapi, ini? Woah bini lo kampungan amat, pakai ngelarang ini itu. Hebat, hebat! Kini Elvan benar-benar menemukan pawangnya,"
Mendengar ejekan Bryan kepada Vada, Elvan langsung bangkit dari duduknya," Dengar, istri gue nggak pernah ngelarang gue buat ini, ngerti!" Elvan mencengkeram kerah kemeja Bryan dengan kuat.
" Lo kenapa sih Van, gue cuma bandingin istri lo sama Zoya aja. Emang sih, gue pernah ketemu, tapi kayaknya beda jauh sama Zoya. Jadi penasaran, seperti apa sih istri lo. Apa bisa di gilir juga kayak si Zoya?" ucap Bryan terkekeh.
Bugh!
"Diam lo, istri gue wanita baik-baik. Dan juga, Zoya. Dia juga nggak seperti yang lo bilang! Breng sek!"
Bugh! Elvan kembali memukul Bryan. Pikirannya semakin mumet, ia benar-benar butuh pelampiasan.
"Lo mukul gue?" Bryan menyentuh sudut bibirnya yan bersarah, ia mendesis karena perih.
Bugh bugh! Bryan membalas memukul wajah Elvan.
"Ck, lo aja yang buta Man! Sangking cintanya lo sama Zoya, lo sampai nggak bisa lihat kalau dia udah khianatin lo. Dulu Gue udah sering mengingatkan lo, tapi lo nggak pernah mau dengar. Gue harap istri lo ini benar-benar wanita baik, yang setia sama lo, ngak kayak Zoya. Cinta sama lo tapi nyabang! Sorry, Gue nggak bermaksud ngomongin aib orang yang udah meninggal," ucap Bryan.
Bukan hanya sekali ini Elvan mendengar kalau Zoya selingkuh. Tapi, dia tak percaya. Dia yakin dan percaya kalau Zoya setia dan juga cinta mati dengannya. Ia juga tak pernah berniat untuk menyelidiki soal hal itu. Baginya, Zoya tetap wanita terbaik yang selalu ada untuknya saat ia terpuruk sekalipun.
"Mau kemana lo?" tanya Bryan saat Elvan bangkit dari duduknya. Ke sana niatnya ingin sedikit mengurangi pusing ya, ini malam tambah.
Tak menyahut, Elvan langsung melenggang pergi.
Bryan menatap temannya itu, "Tak berubah juga, masih sama lo Van. Si Mr. Introvert. Kalau benar lo dah nikah, semoga istri lo bisa buat hidup lo lebih berwarna," gumam Bryan.
__ADS_1
Ia melihat orange jus yang ada di meja, sama sekali belum di minum oleh Elvan, " Nggak di minum, nggak di bayar juga. Kesini cuma buat nonjok muka ganteng gue. An jir emang! Binyok dah muka gua, ancur!. Dasar nggak ada akhlak!"
Elvan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Zoya selingkuh? Hah Elvan benar-benar ingin tertawa mendengarnya. Mereka yang sering melihat Zoya bersama Dimas karena Elvan selalu sibuk dengan pekerjaannya, pasti mengira kalau mereka ada hubungan. Tapi, Elvan percaya kepada keduanya. Tidak mungkin mereka berkhianat. Meskipun sesekali ia juga memikirkan hal itu, tapi pernah ia bertanya kepada Zoya untuk memastikan, namun wanita itu justru menangis kecewa di depannya, marah karena Elvan tak mempercayainya yang sangat mencintai laki-laki itu. Akhirnya Elvan tak pernah mengungkitnya.
Yang ada sekarang malah istri sahnya sedang menduakannya dengan pria lain.
"****!" Elvan memukul setor mobilnya kasar. Ia kemudian membelokkan mobilnya ke arah makam Zoya.
Sesampainya di makam, ia meletakkan bunga yang sebelumnya ia beli di jalan, "Zoy, aku datang. Aku merindukanmu, sangat..."
Elvan berjongkok di depan pusara tunangannya tersebut dengan kaca mata hitam menutupi matanya yang kini ada rasa bersalah di sana karena sadar atau tidak ia kini mulai nyaman dengan Vada. Merasa cemburu jika wanita itu bermesraan dengan pria lain. Jangankan bermesraan, sekedar mengobrol saja, Elvan kini mulai tak suka. Entah ia menyadari ya atau tidak perubahan dalam dirinya tersebut. Ya jelas, Elvan selalu bersembunyi di balik kata dendam dan juga cintanya untuk Zoya.
š¤š¤š¤
Vada menjatuhkan tubuhnya di sofa begitu sampai di mansion. Rasa lelah menjalar di seluruh tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, sepi. Mansion sebesar itu benar-benar terasa sepi, apalagi kini tak ada lagi mbok Darmi yang selalu tergopoh-gopoh menyambutnya saat ia pulang.
Vada mendesah, bagaiman selama ini suami beruang jutubnya itu menjalani hidup di mansion tersebut yang sangat sepi. Banyaknya pelayan tak menjamin rumah tersebut terasa hidup. Mereka tentu saja hanya bekerja dan bekerja dalam diam, tanpa berani membuat keributan.
Hal yang berbeda saat Vada dulu tinggal di Panti, sangat ramai. Di kostpun ia masih memiliki tetangga kost yang sesekali akan saling menyapa dan mengobrol meski jarang.
Vada merogoh ponselnya, deadline untuk penghuni panti asuhan meninggalkan tempat tinggal mereka semakin dekat, sementara ia belum menemukan tempat yang cocok untuk mereka tinggal nanti jika tak mampu membayar tanah yang kini menjadi sengketa tersebut.
Vada mengeluarkan black card dan juga cek yang di berikan Elvan kepadanya. Tapi, ia buru-buru memasukkan ya kembali ke dalam tas.
Ia kini ingat, bagaimana bisa sampai menjadi istri laki-laki itu, dendam. Ya, karena dendam dan juga demi dua kornea yang kini melekat di mata indahnya. Membuat Vada berusaha sadar diri. Bagaimana pun saat laki-laki itu lelah dan bosan dengan dendam dan obsesinya, bisa saja Vada di tendang tanpa ampun dari sisinya. Dan saat itu terjadi, ia tak ingin ada rasa hutang budi pada dirinya.
Vada menggir layar ponselnya. Mencari tahu apakah ada lowongan pekerjaan yang cocok untuknya, ia harus lebih berusaha dan bekerja keras lagi.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari kompor tak di kenal.
"Nona, sedang apa?" Vada amembaca pesan tersebut. Dan dari gaya bahasanya, ia tau pengirim pesan itu siapa, Asisten Rio.
"Lagi bernapas!!!!!" balas Vada ngegas dengan tanda seru banyak. Sekarang aja mau kirim. Pesan, kemarin kemana saja, sok(sokan jual mahal dengan memberikan nomor ponsel Elvan. Sekarang mah, Vada nggak butuh lagi nomornya, pikirnya.
Asisten Rio yang baru saja sampai di kantor setelah kembali mengantar mbok Darmi membuang napasnya kasar seraya mengernyit, ia mengirim pesan hanya ingin menanyakan soal tuan mudanya yang kata sekretarisnya tidak kembali ke kantor sejak siang tadi hingga sekarang dan nomor ponselnya tidak aktif. Hal yang sangat jarang terjadi.
Tapi, sepertinya asisten Rio salah mengawali pertanyaannya. Memang tidak salah balasan Dari Vada, benar dia sedang bernapas, kalau tidak ya wassalam. Tapi, saat membacanya Rio merasa gimana gitu.
" Syukur jika masih bernapas sampai detik ini. Apakah tuan muda sudah kembali ke mansion?" asisten Rio kembali mengirim pesan.
"Mana ku tahu, aku aja baru pulang," gumam Vada bermonolog setelah membaca pesan Rio. Ia melihat ke lantai atas, apa iya suaminya sudah pulang? Vada kemudian bertanya kepada pelayan dan mereka menjawab belum.
__ADS_1
Penasaran, Vada menelepon Asisten Rio.
"Tuanmu belum pulang, kenapa?" tanya Vada ketus.
"Kata sekretaris, tuan muda tidak kembali ke kantor sejak siang tadi. Saya kira dia di mansion," sahut Rio dari seberang telepon.
"Nggak kembali ke kantor? Terus dia kemana, dia pergi dari toko kan sejak siang tadi?" batin Vada bertanya-tanya.
Vada menoleh saat mendengar langkah kaki memasuki ruangan, "Dia udah pulang!" ucap Vada kepada Asisten Rio dan langsung menutup panggilan.
Vada segera beranjak untuk menyambut suaminya,"Tuan..." Vada mengambil alih jas yang ada di tangan Elvan.
Saat menatap wajah suaminya, Vada terkejut melihat luka di sudut bibir suaminya, dan juga lebam di wajahnya. Vada langsung menyentuh luka itu, "Tuan kenapa? Apa tuan berantem?" tanya Vada panik.
Elvan sedikit meringis saat tangan Vada menyentuh lukanya. Namun ia tahan.
"Ayo aku obati lukanya, tuan," tanpa banyak bertanya lagi, Vada menarik tangan Elvan. Laki-laki itu hanya diam menurut tanpa bersuara.
Elvan duduk di sofa, sementara Vada mengambil kotak p3k.
"Tuan tahu, dulu aku waktu sekolah sering ikut pramuka, jadi mengobati luka seperti ini udah biasa. Tahan ya, sedikit perih pasti. Kalau perih boleh mencengkeram tanganku," ucap Vada seperti sedang mengobati luka anak kecil yang habis terjatuh.
Elvan memejamkan matanya saat Vada mulai menyentuh sudut bibirnya. Benar, ternyata cukup perih saat obat merah menyentuh sudut bibir Elvan yang sobek akibat bogeman Bryan tersebut.
Elvan menyentuh tangan Vada yang masih berada di sudut bibirnya, "Sudah cukup," ucapnya menatap lekat sang istri.
"Kalau begini sepertinya akan lebih cepat sembuh," Vada mengecup luka itu lalu melengos dan tersenyum. Membuat hati Elvan menghangat seketika. Jantungnya kembali berdetak kencang.
Bagi Vada apa yang sudah terjadi, ya sudah. Tak perlu berlari-larut. Jika tadi mereka ada masalah, ya sudah sekarang biasa saja.
"Maaf untuk hari ini," ucap Vada tulus. Ia lalu segera memberesi kotak p3k dan beranjak untuk mengembalikannya ke tempat semula.
Elvan langsung berdiri, ia Memeluk Vada dari belakang, meski sering kena amukan karena membuatnya kesal dan marah karena sikap polosnya yang tak mengerti jika suaminya itu hanya ingin memilikinya sendiri, karena dia yang berhak. Tapi wanita itu tak pernah membalasnya.
Vada tersenyum, "Tuan pasti belum makan kan?"
Elvan menggeleng. Tak bersuara dan tetap memeluk Vada.
"Aku letakkan ini dulu, habis itu aku siapkan air untuk tuan mandi. Sementara tuan mandi, aku akan buatkan makan malam untuk tuan," ucap Vada.
Elvan mengangguk, tapi ia tak lantas melepas pelukannya yang hangat. Membuat Vada mendengus.
__ADS_1
š¤š¤š¤