
Keberasaan Elvan di apartemen Vada kini tengah dimonopoli oleh Kyara. Anak itu terus mengajaknya bicara dan bermain. Sebegitu senangnya Kyara kedatangan Elvan. Padahal biasanya Andra juga sering kesana, namun Kyara tak seantusias sekarang.
Vada yang melihatnya menjadi dilema, mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin seorang anak yang juat terhadap ayahnya.
Kyara turun dari pangkuan Elvan, "Syebentar uncle, Kya mau ambil mainan di kamal! Ada buank!" ucap anak itu.
"Uncle hancem dilalang pelgi, Kya cuma syebentar!" pesan Kyara sebelum masuk ke kamarnya meninggalkan Elvan dan Vada berdua.
"Maafkan Kya, bang. Jangan di tanggapi, kalau abang mau pulang sekarang, nggak apa-apa, silakan!" ucap Vada setengah mengusir sebenarnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan abang, Vada," Elvan mengabaikan ucapan Vada yang memintanya pergi.
"Bang," sorot mata Vada memohon untuk tidak membahasnya. Biarlah hanya dia yang tahu kebenarannya. Dan semua berjalan seperti seharusnya.
"Aku hanya ingin tahu, Vada," ucap Elvan.
"Bukannya abang sudah tahu, abang pernah ketemu sebelumnya," jawab Vada menunduk.
"Siapa?" Elvan ingin mendengar langsung dari bibir Vada, apakah wanita yang ia cintai itu akan jujur atau berbohong perihal Kyara kepadanya.
"Andra," jawab Vada lirih. Elvan tersenyum getir mendengarnya. Kenapa Vada berbohong.
"Andra? Benarkah dia ayah Kya?" Elvan menautkan kedua alisnya hingga hampir bertemu.
Vada mengangguk namun tak berani menatap Elvan.
"Lihat aku, Vada," Elvan menarik dagu Vada pelan supaya wanita itu menatapnya. Namun Vada langsug melengos. Ia tak sanggup menatap manik mata pria di depannya tersebut. Atau pertahanannya akan runtuh.
" Ah, sialnya aku malah menganggap Kyara lebih cocok menjadi anakku dari pada Andra, dia tidak mirip sama sekali dengan Andra," ucap Elvan.
Vada tercengang mendengarnya . Namun tak mengatakan apapun untuk menyanggahnya.
"Apa ada yang ingin kau jelaskan padaku? Mungkin soal kenapa Kyara begitu mirip denganku?" tanya Elvan.
__ADS_1
"Karena Kyara kita saudara, jadi kenapa Kya tidak mirip. Sebaiknya abang pergi, sebelum sumiku datang!" jawab Vada.
Elvan berdecak, kenapa wanita di depannya ini begitu keras kepala. Ia lupa jika Vada pasti masih salah paham soal hubungan mereka. Sehingga menjadikan status persaudaraan sebagai alibi.
"Kita lihat, sayang. Sejauh mana kamu akan berdusta, akan aku ikuti permainanmu dulu" batin Elvan.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan menunggu suamimu datang. Aku ingin berterima kasih dengannya karena sudah membuat anak yang begitu mirip denganku," ucap Elvan,
"Abang..." Vada ingin memukul dada Elvan, namun langsung di tahan oleh tangan Elvan.
"Jangan bohongi aku, Vada. Andra bukan ayahnya. Siapa ayah Kyara, hem?" desak Elvan.
Vada menarik tangnnya dari genggaman Elvan, "Kenapa abang ingin tahu kehidupanku. Kyara itu anakku! Soal siapa ayahnya, itu urusanku dengannya! Yang jelas Andra akan jadi ayahnya! Aku akan menikah dengannya!"
Elvan langsung membungkam bibir Vada dengan bibirnya. Beruntung Kyara masih sibuk di kamar mencari hartanya yaitu mainan. Jadi anak itu tak perlu melihat adegan yang tidak seharusnya ia lihat di usia blitanya tersebut.
" Bang... "Vada hendak menarik kepalanya sebelum ciuman itu semakin dalam. Namun, tengkuknya ditahan oleh Elvan.
" Aku merindukanmu, Vada," gumam Elvan dengn bibir tetap menempel pada bibir Vada.
Ciuman Elvan baru berakhir ketika suara Kyara bernyanyi terdengar keluar dari kamar, "Temut-temut kecin..."
"Uncle ayo kita main. Kya puna banak mainan, mama banak buat syendili!" ucap Kyara sambil menyeret box yang berisi penuh mainan dan boneka rajut yang memang di buat oleh Vada.
"Sayang, unclenya mau pulang. Udah malam. Kya juga harus bobok," ucap Vada.
"Mama, kaya belum ngantuk. Kya syuka ada teman kelumah, jadi lamai. Kya syuka. Ayo uncle!" Kyara menarik tangan Elvan supaya berpindah ke karpet supaya lebih leluasa bermain.
Elvan pun tersenyum menang kepada Vada, "Rasanya masih sama, ada manis - manisnya!" bisiknya di telinga Vada sambil berdiri menuruti Kyara.
Vada melotot menatapnya, senyuman pria itu begitu menyebalkan, pikirnya.
.
__ADS_1
.
.
"Ah perutku dari tadi bunyi terus. Sepertinya cacing-cacing di perutku meminta jatah makan malam," ucap Elvan sambil melirik Vada. Namun wanita itu terlihat cuek di tempat duduknya.
"Apa kau tak berniat membuatkan suamimu ini makan malam, nyonya?" tanyanya yang menambah kekesalan di wajah Vada yang sejak tadi hanya diam memeorhatika sepasang anak dan ayah itu bermain. Mesk8 terlihat kaku, namun Elvan tak sedikitpun mengeluh ketika Kyara memintanya untuk ini dan itu atau begini dan begitu. Sesekali ia ingin tertawa melihat Elvan yang begitu pasrah di kerjai anaknya.
Vada memilih berdiri dan menuju ke dapur, karena tak mungkin ia mendebat pria resek itu di depan Kyara.
Elvan tersenyum, ia tahu Vada sebenarnya masih peduli dengannya. Hanya saja, salah paham itu masih mengusai wanita itu dan Elvan ingin sedikit bermain-main dengan itu karena Vada juga sengaja bermain dengannya dengan tak jujur siapa ayah Kyara.
"Kya main sendiri sebentar, ya? Uncle mau bantu mama mask biar cepat!" bisik Elvan.
Kyara mengangguk, "Uncle syudah lapal sangat?" tebak anak itu dan Elvan mengangguk tersenyum seraya mengusap rambut Kyara penuh sayang. Hatinya selalu yakin, fix ini anak gue!
Vada terlihat tengah memasak sambil terus mengomel, "Bisa-bisanya dia mengaku sebagai suamiku. Di depan Kya lagi, kalau anak itu memperhatikan bagaimna5, pasti banyak tanya dan aku akan pusing menjawabnya," gumam Vada ngedumel dan hal itu tak luput dari perhatian Elvan yang kini sedng berdiri di belakangnya.
" Memang benar bukan, kalau kita masih suami istri?" Elvan memeluk Vada dari belakang. Membuat Vada terkejut dan tanganna terkena wajan yang panas. Elvan segera meraih tangan Vada dan meniupnya lembut.
"Hati-hati kalau masak. Sekarang ada aku, kalau kemarin-kemarin aku nggak ada kamu bagaimana?" ucap Elvan.
Vada menepis tangannya, "Cukup, bang!" ucap Vada tegas. Ia tak ingin larut dalam. Perasaannya sendiri. Baik dia dan Elvan harusnya sama-sama tahu kalau mereka sudah tidak ada apa-apa, bahkan pernikahan mereka tidak sah dimata hukum.
"Kenapa? Aku hanya ingin membantumu meniup luka itu,"
"Jangan begini, Bang. Ini tidak boleh. Sekalipun abang kakak aku, jangan seperti itu! Aku... Aku tidak bisa!" ucap Vada tertahan, berharap Kyara tidak mendengar keributan tersebut.
"Kalau begitu, katakan siapa ayah Kyara?"
"Ayahnya sudah mati!" Vada terkejut dengaj ucapannya sendiri hingga matanya membulat.
Rahang Elvan langsung mengeras mendengar ucapan Vada, "Baiklah kalau kamu nggak mau kasih tahu. Biar aku cari tahu Sendiri!" ucapnya tertahan. Ia tak menyangka Vada akan berkata demikian.
__ADS_1
Elvan memilih pamit kepada Kyara yang sedang asyik bermain. Ia tak jadi makan di apartemen Vada. Hatinya begitu sakit atas perkataan Vada tadi. Ia takut akan hilang kendali jika tetap bertahan disana dan Vada tetap dengan penolakannya.
Sebelum keluar, Elvan menatap Vada penuh kecewa. Wanita itu hanya diam pada posisinya menatap kepergiannya.