
Elvan mendekati Vada yang sudah berdiri di bawah shower. Wanita itu tak menyadari jika suaminya mendekat. Masih mengenakan kemejanya, Elvan ikut bergabung di bawah derasnya guyuran shower. Tangan kirinya menarik pinggang Vada, mengikis jarak diantara keduanya. Sedangkan tangan kanannya mengangkat dagu Vada supaya mendongak. Pandangan mereka bertemu.
"Tu-tuan...Mau apa?" tanya Vada terbata.
"Bukankah kau yang memintaku ke sini?" tanya Elvan tanpa berkedip memandang mata yang Berkali-kali mengerjap karena tetesan air tersebut. Mata yang selalu meluluhkan lantahkan hatinya ketika memandangnya sejak pertama kali melihatnya.
"Aku hanya minta di temani, bukan untuk di gagahi, tuan. Swear! Lagian aku masih shock atas kejadian tadi," ucap Vada jujur.
Namun, ucapan Vada tersebut justru seperti sebaliknya terdengar di telinga Elvan. Lebih terdengar seperti perintah.
"Hanya menemani? Kau pikir dia sepolos itu akan diam saja melihatmu mandi telan jang di depanku?" Elvan menuntun tangan Vada hingga menyentuh dedek gemes nya yang sudah bangun dari tidurnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud membangunkannya. Suruh tidur lagi saja, tuan," ucap Vada yang tidak bisa menarik tangannya dari sana, karena terhimpit oleh tubuhnya dan juga Elvan.
"Hanya kau yang bisa menidurkannya kembali, Nevada!" Elvan sudah membenamkan bibirnya di leher Vada. Membuat tubuh Vada meremang seketika.
"Tuan...." suara Vada sudah mengalun indah karena diiringi desah an.
Elvan tersenyum smirk mendengarnya.
"Aku akan mengganti shockmu dengan kenikmatan, Nevada," ucap Elvan yang benar-benar sudah on. Gila, ini memang gila aneh dan tidak masuk ke akal Elvan. Laki-laki itu tidak ada kata bisa menjamah sang istri yang ia ikat kebebasannya tersebut. Namun, naluri laki-lakinya selalu saja bertolak belakang dengan akal sehatnya.
Dan malam itu kembali terjadi bumi gonjang ganjing tapi bukan gempa bumi yang terjadi di kamar mandi mewah milik Elvan.
Karena kelelahan akibat pikiran dan tenaganya cukup terkuras hari ini, Vada langsung terlelap begitu mereka selesai menidurkan dedek gemesnya Elvan.
Elvan memandangi wajah lelah istrinya, ia mengukurkan tangannya untuk membelai pipi sang istri, namun ia urung kan. Jujur, Elvan sangat bingun dengan perasaannya saat ini. Rencananya ingin membalas dendam kepada Vada, memaksa wanita itu menikah dengannya demi mengikat kebebasan yang dimiliki oleh Vada, namun setiap kali istrinya tersebut dalam masalah, ia tak terima. Bukankah seharusnya ia senang jika melihat Vada menderita? Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
__ADS_1
π€π€π€
Libur bekerja, hari yang cukup cerah. Vada tengah asyik duduk di tepi kolam dengan kaki menyebur ke dalam kolam. Ia duduk santai sambil mengayun-ayunkan kakinya di kolam.
"Asyik ya kalau bisa berenang, sayangnya aku nggak bisa. Cuma kaki aja yang bisa nyebur jadinya," gumam Vada yang duduk sendiri.
Biasanya weekend seperti ini ia justru sibuk bekerja, tapi berhubung stok bunga di toko bu sukma sudah habis, dan baru akan datang lusa, jadi bosnya itu meminta Vada untuk libur saja, daripada masuk kerja makan gaji buta.
Sementara Roni memberinya cuti beberapa hari sampai ia benar-benar lupa akan kejadian yang menimpanya semalam sebagai tanda permintamaafan Roni selaku pemilik cafe.
"Vada, gimana keadaan kamu hari ini? Apa sudah lebih baik?" tanya Zora tiba-tiba duduk di sampingnya.
Sejak pagi tadi, mereka memang belum bertemu karena Vada sarapan di kamar. Dan pagi tadi Elvan membebaskannya dari tugas memasak. Entah kesambet jin baik darimana pria itu, yang jelas Vada... masa bodoh.
Karena bisa berada di kamar terus, sementara Elvan sibuk dengan asisten Rio di ruang kerjanya, Vada memutuskan untuk bersantai di kolam tersebut.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang dengarnya. Aku pikir kamu masih shock karena kejadian semalam. Soalnya tadi pagi kamu nggak turun, aku jadi sarapan sendiri. Benar-benar sepi dan rindu masakanmu," Zora merubah mimik mukanya menjadi sendu.
Mendengarnya, Vada membuang muka lalu berdecih,"Pintar sekali aktingnya, tapi aku juga bisa," batinnya.
"Oh tadi pagi ya. Elvan tuh terlalu manjain aku, dia nyuruh aku istirahat aja di kamar, padahal aku nggak kenapa-kenapa, dia aja yang over khawatirnya. Hah, meskipun teror itu menakutkan, tapi aku berterima kasih kepada siapapun orangnya, karena berkat orang itu aku sama Elvan jadi semakin dekat, Elvan semakin care sama aku. Teror itu benar-benar membawa berkah buatku, kalau ketemu orangnya pengin aku kasih penghargaan, beneran nggak bohong," ujar Vada bersungut-sungut penuh semangat.
Padahal kenyataannya, teror itu tetaplah menakutkan baginya. Tapi, ia tak mau Zora merasa senang. Vada tak habis pikir, kenapa gadis di sampingnya ini begitu licik, padahal wajahnya sangat cantik. Sayang, kelakuannya enggak banget. Bukan tanpa alasan Vada mencurigai Zora. Sejak ia di fitnah menaburkan bubuk lada hitam ke masakannya, Vada langsung bisa menyimpulkan.
Namun, sayangnya Vada tak memiliki bukti untuk semua kejahatan Zora tersebut.
"Ya ampun, dosa apa aku sampi harus berurusan dengan laki-laki beruang kutub yang tak pernah absen menggagahinya dan juga gadis licik seperti ini. Hidup sudah susah, makin susah saja. Mas Mirza, aku jadi kangen mas Mirza, huaaaaa," batin Vada merasa lelah.
__ADS_1
Zora hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Vada," Benar-benar si al ini perempuan. Bukannya semakin menjauh dari kakak, malah semakin lengket , dasar wanita penggoda, sok-sokan merasa paling cantik, paling di cintai kakak. Kamu pikir, kak Elvan menikahimu karena dia mencintaimu? Dasar bodoh! Aku yakin, sebentar lagi kakak akan mendendangmu dari sini, lihat saja. Jangan panggil aku Zora jika hal itu tidak terjadi dan aku pastikan, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari sini dalam keadaan menyedihkan!" Zora murka sendiri dalam hati.
" Zora, kenapa kamu malah diam?" tegur Vada.
" Ah enggak, aku hanya rindu dengan kakakku, Vada. Sejak dia meninggal, aku benar-benar kehilangan sosok kakak. Kalau saja dia nggak kecelakaan waktu itu, mungkin sekarang dia masih hidup, dan yang jadi istri kak Elvan kakakku, bukan kamu," ucap Zora.
"Aku bisa merasakan kesedihanmu Zora, tapi kamu jangan khawatir, aku akan menggantikan posisi Zoya untuk mengurus Elvan. Sekarng aku istrinya, aku akan merawatnya dengan baik, sebagai rasa terima kasihku kepada Zoya," ucap Vada, kali ini ia tulus mengatakannya.
"Kamu! Kamu yang menyebabkan kakakku meninggal, gadis kampung! Kamu pikir aku nggak tahu?" Zora menatap jengah kepada Vada yang tengah asyik mengayunkn kakinya ke air. Ingin sekali ia menjambak dan mencakar muka Vada yang menurutnya sok polos dan tidak ada cantik-cantiknya sama sekali itu.
Daripada tetap di sana dan meladeni ucapan Zora yang penuh kepalsuan, Vada memilih berdiri untuk pergi dari sana.
"Zora, aku ke dalam dulu ya. Mau masak buat makan siang nanti, mumpung Elvan di rumah. Aku mau masak untuknya, buat kamu juga maksudnya," ucap Vada.
"Tunggu!" sergah Zora yang sudah tak bisa lagi menahan diri. Jika Kemarin-kemarin dia masih bisa menahan, namun tidak hari ini. Hatinya sudah terlalu panas mendengar setiap ucapan Vada. Awalnya ia ingin main cantik dengan meneror Vada, namun kali ini ia sudah tak tahan dan ingin melakukannya secara terang-terangan.
"Ya? Kenapa Zora?" tanya Vada.
"Harusnya kamu tahu diri Vada," ucap Zora.
"Maksudmu apa? Aku nggak ngerti," Vada pura-pura bodoh saja.
"Harusnya kamu sadar diri, kenapa sampai bisa tinggal di mansion ini dan menjadi nyonya di mansion ini, Vada. Jadi jangan pernah kamu mendekati kak Elvan apalagi menggodanya dengan tubuhmu itu! Dasar wanita murahan!"
Vada sedikit terkejut, apa Zora tahu semuanya? Tentang alasan kenapa Elvan menikahinya.
π€π€π€
__ADS_1
π π LIKE dan komennya jangan lupa, biar othor semangat upnya, terima kasih kesayangan π€π₯°π π