Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 50


__ADS_3

Belum mendapat penjelasan dari siapapun, Vada melihat anak-anak panti keluar dengan membawa beberapa koper. Hal itu membuatnya semakin meradang.


Vada menatap suaminya, "Tuan benar-benar membeli tanah ini? Jahat! Lihat, mereka harus pergi kemana jika panti ini di hancurkan? Apa tidak cukup tuan menghancurkan hidupku? Haruskah mereka juga?" ucap Vada setengah berteriak menahan kesal.


"Vada. Jaga sikap kamu. Bunda tidak pernah mengajari kamu bersikap arogan seperti itu. Apalagi terhadap suami kamu sendiri," peringat bunda dengan lembut.


Eh ada apa ini? Apa bunda sudah tahu jika pria di depannya ini adalah suaminya? Tapi, kenapa bunda seperti membelanya, bukankah seharusnya membencinya karena mau membeli tanah yang jelas-jelas sudah di wakafkan oleh pak haji Dulloh itu.


"Bunda, bunda sudah tahu kalau dia..."


"Suami kamu? Iya, nak Elvan sudah menceritakan semuanya kepada bunda. Kamu bandel ya, kenapa nggak bilang sama bunda kalau sudah menikah," jelas bunda. Yang mana membuat Vada spechless menatap curiga kepada suaminya yang hanya mendengus keras tanpa bersuara.


Bagaimana bisa bunda sesantai dan sebaik itu, kepada Elvan jika Elvan sudah mengatakan soal pernikahan mereka. Bahkan bunda sepertinya menyukai pria di depannya tersebut. Jika Elvan jujur apa adanya, pasti bunda akan marah, anak kesayangannya di jebak paksa menikah dengannya. Kecuali pria itu pintar bersila lidah, entahlah apa yang ia katakan kepada bunda sampai membuat bunda menerimanya dengan tangan terbuka seperti itu.


Selain tampan, kaya, kutek, dingin, songong, garang terutama di ranjang, ternyata suaminya itu pintar membuat drama ya, Vada tak habis pikir. Ia menatap sebal kepada suaminya yang hanya menunjukkan wajah datarnya. Praktis membuat Vada semakin jengkel.


Ini lagi, bunda. Sudah tahu panti asuhan mau di hancurkan kok masih membela suaminya. Meskipun suami kan kalau jahat harus di basmi juga. Tidak layak di bela. Vada menjadi kesal sendiri, kemana setelah ini ia akan membawa pergi anak-anak.


"Bunda, terus kita harus kemana kalau tempat ini di hancurkan. Dia memang suami beruang kutub. Tuan kenapa tega sih," Vada mulai drama, matanya sudah berkaca-kaca.


Bunda menggeleng, "Jangan panggil suami kamu seperti itu, itu Tidak baik Vada,"


"Aaaah bunda. Kenapa malah belain dia terus sih?" Vada memeluk bunda sambil melirik sebal ke suaminya.


"Ya karena suami kamu itu memang pantas di bela, dia baik," bunda mengusap rambut Vada.


"Baik gimana, dia kan udah tega beli tanah ini, otomatis bangunannya juga mau di hancurkan, buat di bangun hotel, perumahan atau apapun itu,"


" Hus, jangan suka suudzon sama suami sendiri. Tidak baik,"


Masih aja di bela. Apa sih yang udah Elvan kasih buat bunda, pasti di jampi-jampi, pasti itu! Pikir Vada.


"Kok malah nangis, mana anak bunda yang tegar dan bar-bar," bunda mengusap wajah Vada yang tanpa sadar meneteskan air matanya ke pipi.


Vada merasa sedih, ia menghabiskan masa kecilnya di panti tersebut dan kini harus menyaksikan tempat itu hancur di tangan suaminya. Sedendam itukah suaminya hingga semua miliknya akan di hancurkan. Sengaja mengikat Mirza dengan kerja sama yang diam-diam menjadikannya senjata untuk balas dendam terhadapnya, yang kapan saja bisa menghancurkan pria itu dan sekarang panti asuhan tempatnya tumbuh.


Mendengar bunda bilang Vada menangis, sontak Elvan langsung melihat ke arah sang istri, lalu melengos dan membuang napasnya dengan berat.


"Ck, malah drama. Kapan ini pada mau pergi. Udah keburu panas ini!" teriak anak pak haji Dulloh.


Vada melihat Elvan mengiba, membuat laki-laki itu Lagi-lagi mendengus.


"Yo,..." Elvan memanggil asisten Rio.


"Semuanya sudah siap, tuan muda. Kita bisa pergi sekarang," kata asisten Rio.


"Hem," Elvan mengangguk, ia hanya melihat Vada sekilas beralih ke bunda, "Kita bisa meninggalkan tempat ini sekarang," ucapnya kepada Bunda.


Bunda tersenyum dan mengangguk. Ia menoleh ke anak-anak yang menunggu dan mengajak mereka untuk pergi.


Bunda menatap lekat bangunan panti yang selama ini ia tinggal bersama anak-anak . Meski berat ia ikhlas melepasnya.


Bunda menepuk bahu Vada yang masih tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, "Sudah saatnya kita pergi, tidak apa-apa. Ikhlaskan saja," ucapnya lalu melangkah menyusul anak-anak yang sudah masuk ke mobil duluan.


"Mau tetap di sini, atau ikut?" pertanyaan Elvan membubarkan lamunan Vada. Vada mengikuti langkah suaminya dengan malas.


Saat hendak masuk ke dalam mobil, Elvan menatap kedua celengan yang masih saja di kekepin oleh Vada.

__ADS_1


"Kenapa dengan celenganku tuan?" tanya Vada.


"Tuan mau dikekepin juga?" sambung Vada.


Elvan mendengus, "Yo, bawa peliharaan istriku bersamamu!" Perintah Elvan.


Meski malas, tapi asisten Rio mengambil alih kedua celengan ayam milik Vada.


"Hati-hati bawanya. Jangan sampai pecah!" pesan Vada kepada Rio. Asisten Rio hanya mengangguk kecil dan masuk ke dalam mobil.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Beberapa mobil berjalan beriringan. Vada berada dalam satu mobil dengan suaminya. Sejak tadi, suaminya itu hanya diam tanpa berniat menjelaskan apapun terhadapnya. Membuat mulut Vada terasa gatal karena kepo. Sebenarnya mereka mau kemana. Sok misterius pikirnya, ia menjadi sebal sendiri.


Vada menunjuk-nunjuk Lengan Elvan dengan jari telunjuknya. Laki-laki yang sedang sibuk dengan ponselnya tersebut menoleh, "Apa?" tanyanya singkat dan ketus.


"Tuan mau bawa mereka kemana? Tidak akan tuan jual kan?" tanyanya curiga.


Elvan memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya ia menoyor kepala wanita tersebut, "Apa di otakmu hanya ada keburukanku saja?" tanyanya.


"Jujur iya," jawab Vada polos.


Elvan menatap istrinya tajam.


"Makanya bilang dong. Biar aku nggak suudzon. Apa susahnya sih menjelaskan. Ini ada apa sebenarnya. Tuan beli tanah itu buat apa? Itu tanah sebenarnya sudah di berikan kepada panti, anaknya pak haji Dulloh aja tuh yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri. Udah bukan haknya kok mau di ambil. Tuan juga jangan gitu dong, sebagai istri aku berhak mengingatkan," dengus Vada.


" Aku tidak membelinya. Jelas?!" ucap Elvan tegas.


"Kalau bukan tuan terus siapa dong?"


"Itu bukan urusanku," timpal pria itu cuek.


"Terus urusan tuan apa?" tanya Vada.


Elvan diam tak menjawab.


"Ih, tuan.... Jawab dong. Ini tuan mau bawa mereka kemana?" rengek wanita itu yang entah kenapa membuat Elvan merasa... Sedikit gemas.


Tanpa banyak bicara, Elvan menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri yang tentu saja membuat Vada terkejut.


"Berat, tuan," ucap Vada namun dia membiarkan saja, tak mungkin juga ia menepis kepala suaminya dari bahunya. Bisa panjang urusannya.


"Diamlah, semalam kau membuatku tak bisa tidur!" Elvan mulai memejamkan matanya. Tangannya bersidekap santai.


Vada mencebik, "Malah merem!" gumamnya.


"Kamu bau ayam," ucap Elvan dengan amta terpejam.


"Dih gitu. Itu ayam bohongan kali. Cuma celengan. Makannya duit nggak mungkin pup, dan nggak mungkin juga bau!" protes Vada mendengus.


"Kalau ngantuk mending diam deh, tidur. Lagian salah siapa semalam nggak tidur, aku lagi yang di salahin. Memang ya hidup aku tuh salah terus, kayaknya nggak pernah ada gitu benarnya," cerocos Vada namun Elvan sudah beralih ke alam mimpinya. Suara riuh istrinya terdengar seerti nyanyian nona bobok di telinganya. Namanya bucin lah ya, gitu amat.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Mereka semua sudah sampai di sebuah tempat dengan bangunan yang luas dan bisa di bilang mewah.


Vada yang sudah penasaran, tak bisa langsung turun karena suaminya belum membuka matanya.

__ADS_1


"Nih orang tidur apa pingsan sih. Sampai pegel ini bahu aku," gumamnya meringis.


Asisten Rio menunggu di luar mobil bersama sopir yang tadi mengemudikan mobil milik Elvan. Elvan tak mengemudikan mobilnya sendiri seperti biasa karena ia merasa mengantuk. Ia juga tak menyuruh Rio karena Rio membawa mobil sendiri. (di jelaskan karena siapa tahu ada yang protes, kadang nyetir sendiri, kadang pakai sopir, kadang Rio, mana sih yang benar? Jawabannya adalah suka-suka. Sultan mah bebas :))


Tak mendapati tuan mereka segera keluar dari mobil pikiran mereka auto travelling. Mereka pikir Elvan sedang melakukan sesuatu terhadap istrinya. Bisa di bilang minta bayaran tas apa yang sudah pria itu lakukan untuk sang istri.


"Apa tidak bisa melakukannya nanti di mansion, atau paling tidak kalau tidak tahan di dalam sana. Kenapa harus di mobil," batinnya.


Perlahan, Elvan mengerjapkan matanya. Ia menoleh, Yang pertama di lihatnya adalah wajah senyum terpaksa sang istri, "Sudah sampai mana tuan mimpinya? Hawai ya?" sindir Vada. Namun seperti biasa yang di sindir cuek saja, tidak peduli.


"Ayo turun!" ajak Elvan.


"Nona, ini mau taruh dimana?" tanya Rio.


"Kamu bawa aja ya, nggak ada kandangnya soalnya, tapi hati-hati. Uang itu isinya," kata Vada nyengir.


Vada langsung menghentikan langkahnya saat ia menyadari di mana mereka kini berada.


"Tuan, ini dimana?" tanya Vada menoleh ke suaminya yang berdiri persis di sampingnya.


"Ini rumah untuk mereka tinggali nona. Mulai sekarang mereka akan tinggal di sini," bukan Elvan yang menjawab melainkan asisten Rio.


"Aku tanya suamiku, emang kamu suamiku?"


Asisten Rio langsung mengatupkan bibirnya rapat - rapat. Apalagi Elvan kini sudah menatapnya tajam.


Elvan melangkah untuk masuk ke dalam diikuti oleh Vada yang merasa takjub. Tempat itu jauh lebih baik dari panti. Bangunannya berkali lipat jauh lebih besar, dan juga halamannya luas. Bahkan terdapat kolam renang besar di sana.


"Taun beneran, mereka akan tinggal di sini? Tuan menyewakan tempat ini untuk mereka?" Vada mendadak langsung lemas, bisa ia perkirakan harga sewa rumah itu pasti besar


Bunda yang baru saja melihat-lihat ke dalam, keluar menyambut mereka dengan hangat.


"Terima kasih nak Elvan, atas bantuannya. Bunda tidak bisa membalas kebaikan nak Elvan selain ucapan terima kasih," ucap. Bunda tulus diiringi senyumnya.


"Saya harap, tempat ini bisa membuat mereka semua nyaman. Jika ada keperluan atau apapun itu..."


"Panggil saja bunda, sama seperti istrimu," ujar bunda memotong kalimat Elvan yang terlihat ragu. Sejak kedatangannya itu di panti, bunda paham jika Elvan bingung harus memanggilnya apa. Terlihat sekali jika pria itu jarang bicara dengan orang lain dengan akrab.


"jika ada yang di butuhkan, bunda bisa mengatakannya langsung kepada Rio, atu langsung ke saya," Elvan menatap Rio.


"Iya bund, nanti setiap bulannya saya akan mengirimkan sejumlah uang yang bisa bunda gunakan untuk kebutuhan panti. Nanti akan ada juga orang yang membantu bunda di sini," jelas asisten Rio.


"Terima kasih banyak, bunda tidak tahu harus berkata apa lagi. Semoga kebaikan nak Elvan di balas oleh Allah. Vada, kamu beruntung nak mendapat suami seperti nak Elvan,"


Duh, bunda nggak tahu aja gimana ceritanya Vada bisa sampai menjadi istri pria kaya itu. Vada hanya bisa meringis menanggapinya.


" Tunggu, sebenarnya ini ada apa sih? Rumah ini suami aku sewakan buat bunda apa bagaimana? Bunda, kita kan nggak punya uang sebanyak itu untuk menyewa tempat semewah ini," kembali sadar, Vada masih mempertanyakannya. Ia belum plong jika belum jelas.


"Bukan, suami kamu memberikan tempat ini untuk panti. Bahkan surat-suratnya sudah berada di tangan bunda. Bahkan dia akan menjadi donatur tetap dan satu-satunya untuk menjamin kelangsungan hidup anak-anak panti. Selama kamu tidak datang ke panti, suami kamu ini sudah beberapa kali datang menemui bunda," jelas bunda.


Selama ini, kelangsungan panti hanya tergantung dari kerja keras Vada dan usaha kue bunda. Tak ada donatur tetap untuk panti, hnya sesekali ada orang dermawan yang menyumbang saja.


"Jadi..." Vada melihat suaminya. Ia tak melanjutkan bicaranya. Tak menyangka, ternyata di balik wajah garang dan sifat dinginnya pria yang terpaksa ia nikah itu memiliki jiwa sosial yang lumayan.


"Kenapa?" tanya Elvan.


"Aku terpesona..." sahut Vada spontan.

__ADS_1


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


__ADS_2