Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 90


__ADS_3

Elvan menatap Vada setelah ia menutup teleponnya. Belum juga ia bicara, wanita itu sudah sewot terlebih dahulu, "Kenapa lagi si ulet bulu itu? Belum jadi kepompong juga dia, masih aja gatel gangguin suami orang! Segitu nggak lakinya apa gimana?" ucap Vada ketus. Ia kesal jika ingat gadis yang suka membuat ulah itu.


Elvan mengangkat kedua bahunya, tak tahu harus menjawab apa.


"Dia di Mansion sekarang," ucap Elvan kemudian.


"Lalu?" tanya Vada acuh.


"Kata bibi dia nyariin aku, nangis terus dari tadi, abang harus ke sana sekarang," Elvan menelisik raut wajah sang istri. Ia mencari apakah ada rasa cemburu di sana.


"Abang lagi sakit,"


"Nggak apa-apa, abang udah enakan," timpal Elvan sengaja.


"Oh, ya udah sana temui Zora, nanti dia malah yang nyamperin ke sini lagi, aku malas!" ucap Vada sedikit kesal. Suaminya yang baru sakit di bela-belain mau menemui si ulat bulu.


"Nggak mau ikut?" tanya Elvan.


"Nggak ah, ntar aku ganggu lagi. Malas lihat drama dia, mendingan nonton drakor!"


"Yakin nggak mau ikut? Nggak takut abang diapa-apain sama dia?"


Vada mengangguk, ia benar-benar malas bertemu dengan Zora. Bukannya dendam, tapi pasti wanita itu datang untuk ngedrama, dan Vada sedang malas melihatnya.


Tapi, suaminya masih sakit, lengah sedikit bisa-bisa jatuh ke perangkap Zora. Bagaimana kalau suaminya di jebak, di kasih pil enak-enak, terus tak sadarkan diri, bangun-bangun udah seranjang aja kayak di novel-novel online yang pernah ia baca. Aduh, Pikiran Vada justru jadi kemana-mana.


"Kalau begitu, tolong siapkan baju buat abang, ya?" ucap Elvan.


Vada cemberut, meski sebal ia tetap berjalan ke walk in closet untuk mengambilkan baju ganti.


"Abang lagi sakit. Pakai air hangat mandinya," ucap Vada sebekum. Masuk ke walk in closet.


"Hem," sahut Elvan. Ia turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.


Tak berselang lama, Vada keluar dari walk in closet dengan membawa kemeja dan juga celana chinos beserta sarang burung suaminya. Ia meletakkannya di atas ranjang dan menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


Vada membantu Elvan memakai kemejanya.


"Terima kasih nyonya Adhitama," Ucap Elvan setelah Vada selesai mengancingkan kemeje pria itu. Tak lupa sebuah kecupan Elvan hadiahkan di kening Vada.


"Yakin nggak mau ikut abang?" tanya Elvan sekali lagi sebelum ia pergi. Ia menarik pinggang Vada hingga menempel kepadanya.

__ADS_1


"Hem, udah sana pergi! Aku mau ke toko aja!" ucap Vada.


"Mau ngapain?" tanya Elvan.


"Piknik! Ya kerjalah abang, ngapain lagi,"


"Hem, NO! abang nggak ijinkan kamu kerja lagi,"


"Kok gitu?" Vada menekuk wajahnya.


"Apa yang kamu cari dengan bekerja? Uang? Suami kamu lebih dari mampu menghidupi kamu. Panti juga udah jadi tanggungan abang, apa lagi, Hem? Kamu cukup urus abang, jadi istri yang baik,"


"Bukan gitu, selama ini aku kan udah berusaha jadi istri baik, abang jahat pun aku tetap baik, tapi masalahnya..."


"Rio sudah mengurus kuliah kamu," potong Elvan cepat


"Kuliah?"


"Hem, bukankah selama ini amu ingin sekali kuliah?"


"Abang serius?" Vada seolah tak percaya.


"Buat apa abang bohong, Rio sudah mengatur semuanya. Kau hanya perlu belajar dengan benar, Nevada,"


"NO, sayang. Kau akan kuliah online!"


"Kok gitu? Kan nggak akan ganggu waktu aku buat urus abang juga," Vada langsung lesu.


"Pokoknya online. Titik NO debat!" Elvan terlalu gengsi mengatakan jika ia tak mau ambil resiko membiarkan istri cantiknya yang masih muda menjadinincar para kaum adam di kampus. Karena di San pasti akan ada banyak para pria yang masih muda. Itu sangat beresiko menurutnya.


"Mending nggak usah kuliah aja deh, jadi ibu rumah tangga aja kalau gitu," ucap Vad tak bersemangat.


Elvan hanya menghela napasnya dalam, "Nanti kita bicarakan lagi, abang pergi dulu!" Elvan mencium kening dan bibir Vada bergantian.


"Yaudah sana pergi, temui itu si ulet bulu. Awas nanti kalau gatel, ogah aku garukin!" gumam Vada kesal, pembicaraan merek soal kuliah yang tiba-tiba di bahas belum selesai, Elvan lebih memilih pergi menemui Zora.


Tiba-tiba, Elvan kembali masuk ke dalam kamar.


" Kenapa balik lagi?" tanya Vada.


" Istri abang ketinggalan. Ayo!" Elvan tersenyum lalu menggandeng tangan Vada.


"Aku bilang nggak mau ikut," sahut Vada yang tak mau melangkahkan kakinya. Elvan mendengus lalu menoleh. Ia menarik paksa tangan wanita itu hingga akhirnya Vada terpaksa mengikutinya.

__ADS_1


"Abang maksa banget sih, aku kan nggak mau ikut," ucap Vada setelah masuk ke dalam mobil.


"Daripada kamu mikir yang enggak-enggak. Tubuh di apartemen tapi pikiran di mansion, mending ikut. Sekalian jadi bodyguard abang," ucap Elvan.


Vada mendengus, sebenarnya ia juga penasaran apa yang sebenarnya ingin Zora lakukan. Akhirnya ia diam dan duduk manis meski wajahnya masih agak cemberut.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


Sampai di Mansion...


"Jangan cemberut gitu, abang jadi gemas kalau kamu lagi cemburu begitu. Nggak tahan pengin...."


"Siapa juga yang cemburu, cemburu sama dia, nggak banget!" sergah Vada cepat.


Elvan tersenyum, "Ya ya, nyonya Adhitama tidak mungkin cemburu. Ayo turun!"


Baru sampai depan pintu, Zora sudah berlari dan menubruk Elvan sambil menangis tersedu-sedu.


"Drama queen!" batin Vada memutar bola matanya malas.


Elvan melepas tangan Zora yang memeluknya pelan, ia mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam dan duduk. Bagaimana pun, ia sudah menganggap Zora seperti adiknya sendiri, terlepas dari apa yang pernah Zoya lakukan terhadapnya di masa lalu.


"Katakan, ada masalah apa sampai kamu seperti ini?" tanya Elvan.


"Kak, tolong bebaskan kak Dimas dari penjara, aku mohon kak. Aku mohon!" ucap Zora dengan derai air mata.


Ucapan Zora benar-benar di luar dugaan Elvan dan Vada. Mereka tak berpikir sama sekali kedatangan gadis itu karena Dimas. Elvan sedikit mengernyit, setahu dia Zora tak begitu dekat Dimas. Hanya sebatas mengenal. Tapi, gadis itu sebegitunya memohon untuk pria itu, ada apa sebenarnya.


"Kalau kau datang menemuiku hanya untuk mengatakan hal itu, percuma. Aku tidak akan membiarkannya bebas,"


"Tapi kak, aku mencintai kak Dimas. Kami saling mencintai, aku mohon lepaskan dia. Aku nggak bisa hidup tanpa dia, kak," mohon Zora.


Elvan semakin terkejut mendengarnya. Ternyata selam ini, tanpa sepengetahuannya Dimas dan Zora memiliki hubungan. Elvan benar-benar tak habis pikir, apa maunya Dimas. Kenapa Zora pun ia embat juga.


" Kau tahu, kenaoa Dimas bisa di penjara? Karena dia sudah mengusik istriku!" TEGAS Elvan.


"Aku tahu kak, kak dimas salah. Dia melakukannya karena kakak sudah menghianati kak Zoya dan kak Dimas dengan menikahi Vada, penyebab kecelakaan itu dan menyebabkan nyawa kak Zoya melayang. Aku mohon, maafkan kak Dimas,"


"Vada, tolong bujuk kakak, apapun akan aku lakukan asal ayah dari anak yang aku kandung bebas. Aku nggak mau anakku lahir tanpa seorang ayah," Zora menangkup kan kedua tangannya di depan Vada.


"Ka-kamu hamil?" tanya Vada terbata karena terkejut. Sementara Elvan langsung menatap Zora begitu mendengar ucapan gadis itu. Berharap ia salah mendengar.


Zora mengangguk lemah.

__ADS_1


Vada menutup mulutnya tak percaya. Sementara Elvan langsung megepalkan tangannya kuat-kuat.


__ADS_2