
Pesawat jet milik Elvan mendarat di Bandara Intetnasional yang ada di Yogyakarta. Setelahnya, mereka harus menempuh perjalanan sekitar dua sampai tiga jam untuk sampai di kediaman mbok Darmi.
"Tuan muda, mobil sudah siap!" ucap Asisten Rio beberapa saat setelah mereka menginjakkan kaki di Bandara.
Elvan segera mengajak Vada untuk masuk ke dalam mobil untuk menuju ke rumah mbok Darmi.
Vada bisa melihat kekhawatiran di wajah suaminya tersebut.
"Mbok Darmi akan baik-baik saja, abang harus tenang," ucap Vada. Elvan menoleh lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang istri, "Kata anak mbok Darmi, sakitnya parah, aku takut...," ucap Elvan lirih.
"Kita berdoa saja semoga mbok Darmi bisa sembuh dan panjang umur," Vada mengusap rambut suaminya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam dari Yogyakarta dengan mengggunakan mobil, mereka sampai di kediaman mbok Darmi.
Elvan terpaku sejenak melihat rumah mbok Darmi yang tak banyak berubah. Dulu, ia sering di ajak ke sana oleh mbok Darmi, lebih tepatnya Elvan sering merengek minta ikut jika mbok Darmi pulang kampung karena di rumah ia hanya akan kesepian. Elvan kecil sangat sennag jika ikut mbok Darmi pulang kampung karena dia akan memiliki banyak teman yang tak lain adalah anak para tetannga mbok Darmi. Bermain layangan, kelereng, petak umpet hingga bermain di kali pernah ia lakukan duku dan itu membuat Elvan kecil bahagia.
Tentu saja, kedatangan mereka menyita perhatian tetangga mbok Darmi yang langsung berbisik-bisik satu sama lain yang kebanyakan mengataka betapa mbok darmi beruntung, anak asuhnya yang notabennya seoran tuan muda kaya atau istilah sekarang sering di bilang Sultan, mau mendatangi rumahnya yang bisa di bilang sederhana.
"Ayo bang, masuk!" Vada melingkarkan tangannya di lengan Elvan, hal itu membuyarkan lamunan Elvan akan masa lalunya dimana mbok Darmi tidak oernah membedakan antara Elvand dan anak-anak kandungnya. Bahkan anak kandung mbok Darmi sering bilang jika mbok darmi pilih kasih dan lebih sayang kepada tuan muda bule mereka.
"Mari silakan masuk, Tuan muda. Mbok Darmi pasti sudah menunggu kedatangan tuan,," ucap salah satu tetangga mbok Darmi yang menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
Elvan dan Vada serta Rio langsung masuk ke dalam dimana anak-anak dan beberapa tetangga mbok Darmi berkumpul karena kondisi mnok Darmi yang sudah kritis. Rio memilih menunghu di ruang tamu sementara Elvan dan Vada masuknke dalam kamar di mana mbok Darmi terbaring lemah.
"Tuan muda," sapa kang Parman, anak mbok Darmi yang sebelumnya menelepon Elvan memberitahukan kondisi mbok Darmi. Ia sedang duduk bersimpuh di samping mbok Darmi bersama istri dan anak-anaknya.
Para tetangga yang sejak tadi berdatangan untuk menjenguk mbok Darmi dan membaca yasinpun menyingkir keluar demi memberikan ruang kepada Elvan dan juga Vada.
Elvan segera mendekati mbok Darmi yang sudah tampak lemah, bahkan wanita berusia senja tersebut kini hanya bisa memejamkan kedua matanya tanpa bisa merespon rangsangan apapun di sekitarnya.
Elvan bersimpuh di samping mbok Darmi, melihat kondisi wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri tersebut benar-benar membuat Elvan sedih dan terluka.
"Mbok, ini Elvan. Elvan datang mbok," ucap Elvan dengan nada bergetar. Dan tentu saja tak ada respon dari wanita yang sudah mengasuhnya seperti anak sendiri sejak bayi tersebut.
"Mbok, ini Vada mbok. Vada datang sama Elvan, mbok bangun ya?" ucap Vada yang juga tak ada respon.
"Wau dalu tuan, menawi gerah radi perlu puniko sekitar semingguan ananginh tasih saged mlampah-mlampah. Menawi mboten sadar puniko kawit wau dalu jam kalih welasan," jawab Parman. Yang tentu saja Elvan hanya mengernyit tak mengerti dengan ucapan Parman.
"Pak, le ngomong nganggo boso Indonesia, tuan muda kayane ora mudeng bapak ngomong opo," ucap istri Parman mengingatkan. (Pak, bicaranya pakai bahasa Indonesia, tuan muda sepertinya tidak aham bahasa jawa)
"O yo, lali aku, buk!" sahut Parman. (o ya, lupa aku, bu!"
"Maksud saya, sejak tadi malam tuan. Kalau sakit yang agak parahnya sekitar semingguan tapi masih bisa berjalan. Kalau, tidak sadarkan dirinya sejak tadi malam sekitar pukul dua belas," jelas Parman dengan logat jawanya alias medok.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Parman, Elvan tampak marah," Sejak semalam simbok seperti ini dan kalian diamkan saja di rumah? Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit?" tanyanya dengan nada tinggi. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa mereka hanya menunggui simbok, seakan hanya pasrah menunggu ajal menjemput tanpa berusaha.
"Melihat kondisi simbok seperti ini, saya rasa sudah tidak ada harapan. Dan kami memilih menunggui simbok di sini. Kalau di rumah sakit, kami tidak bisa bebas menunggunya. Pasti di batasi. Kami semua ingin berada di sisi mbok di saat terakhirnya," ucap Parmin, adik Parman.
"Sejak kemarin-kemarin juga simbok tidak mau di bawa ke rumah sakit waktu masih sadar, dia bilang ingin di tunggui anak-anaknya saja di rumah,"
Elvan menggeram, setidaknya berusaha apa susahnya, pikirnya. Kenapa mereka menyerah begitu saja. Ia menggenggam tangan mbok Darmi yang dingin lalu berbisik di telinga wanita yang bisa di bilang koma tersebut," Mbok, ini Elvan. Mbok harus kuat, mbok harus sembuh, Elvan nggak mau di tinggal, mbok. Mbok kuat ya?"
"Simbok selalu bilang merindukan tuan muda, selalu memikirkan apakah tuan muda hidup dengan baik setelah simbok pulang. Apakah tuan muda makan dan tidur dengan baik. Apakah tuan muda bahagia. Sampai tadi malam sebelum tak sadarkan diri pun simbok masih menanyakan soal tuan muda. Mungkin simbok menunggu tuan muda datang baru bisa pergi dengan tenang," ucap Parman
Mendengarnya Elvan tanpa sadar menitikkan air matanya," Mbok, Elvan sudah datang, ini Elvannya simbok. Anak lanange simbok. Mbok dengar Elvan kan? Elvan hiduo dengan baik mbok, simbok jangan khawatir. Mbok beneran mau pergi ninggalin Elvan? Apa mbok sudah tidak bisa menahan sakitnya lagi dan ingin pergi? Kalau begitu Elvan ikhlas mbok," bisiknya dengan nada tercekat di tenggorokam. Ia bahkan tak bisa menyembunyikan air matanya lagi.
"Mbok, niki putra-putra dan wayahe panjenengan sampun kempal sedanten wonten mriki. Tuan muda kesayangan simbok ugi sampun wonten mriki. Kulo lan sedanten ikhlas menawi simbok ajeng wangsul wonten ngarsa Allah," ucap Parman yang juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya. (Mbok, ini anak-anak dan cucu simbok sudah kumpul di sini semua. Tuan muda kesayangan simbok juga sudah di sini. Aku dan semuanya ikhlas kalai simbok mau pulang ke sisi Allah)
Elvan terus duduk bersimpuh di sisi mbok Darmi. Di sampingnya, Vada duduk dan terus mengusap punggung suaminya untuk memberi kekuatan, sesekali ia mengusap air matanya yang terus mengalir. Ia mengingat semua kebaikan simbok meskipun mereka tak lama mengenal. Namun, mbok Darmilah yang selalu ada disaat-saat sulitnya di awal pernikahannya dengan Elvan.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang!" putus Elvan kemudian. Ia benar-benar tak tega melihat kondisi mbok Darmi yang seperti ini. Masih bernapas tapi tak berdaya. Jika memng saatnya untuk pergi ia berusaha ikhlas, tapi jika takdir mengtakan mbok Darmi masih akan hidup lebih lama, bukankah sangat kasihan jika hanya di biarkan seperti itu.
"Tapi, tuan...."
"Kita tidak tahu takdir, jika simbok belum saatnya kembali ke sang pencipta, apakah tidak terlalu kejam hanya membiarkannya tersiksa seperti ini? Setidaknya berusaha untuk mengejar nyawanya, meski nyawnya hanya tinggal sehelai rambut, jika belum saatnya, simbok masih akan panjang umur. Namun jika takdir berkata lain, setidaknya kita sudah berusaha dan tidak akan meninggalkan penyesalan diantara kita karena tidak berusaha sama sekali," ucap Vada yang setuju dengan keputusan suaminya.
__ADS_1
Parman dan Parmin saling pandang seolah bertanya satu sama lain bagaimana. Elvan yang sudah tidak tahan lagi melihat kondisi mbok Darmi langsung berteriak," Siapkan ambulance sekarang, yo!"