Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 138


__ADS_3

Vada masih asyik dengan lamunannya setelah Andra pergi dari hadapannya. Ia bahkan tak tahu jika pria itu sempat berhenti di meja Elvan.


Ingatannya kembali kepada masa lalu dimana ia pernah melakukan hal serupa pada sosok baik seperti Andra, yaitu Mirza.


Bada mendesaah, mengeluarkan napasnya dengan pelan. Dua kali ia menyakiti pria yang begitu berjasa dan baik dalam hidupnya. Tapi, itulah cinta, memang akan selalu bersanding dengan luka, seperti yang dikatakan Andra.


"Sayang," Elvan menyentuh bahu Vada. Menyadarkan lamunan wanitanya tersebut. Vada mendongak, menatap suami dan anaknya yang di gendong Elvan. Ia lalu tersenyum, "Merekalah masa depanku. Sudah saatnya aku bahagia bersama mereka. Semoga kalian juga mendapatkan kebahagian dengan orang yang tepat," batinnya mendoakan kebahagaiaan untuk mereka yang terluka karena mencintainya dengan tulus.


"Sudah?" tanya Elvan dan Vada mengangguk.


"Kalau begitu, tinggal menemui mertuaku," ucap Elvan. Membuat kening Vada mengernyit tak mengerti.


"Ayahmu, bukankah sekarang dia ayah mertuaku?" Elvan tersenyum saat mengatakannya.


Vada pun ikut tersenyum, bagaimana bisa mertuaku ternyata ayahku atau juga ayahku ternyata mertuaku. Entahlah.


"Tapi, sebelum kita kembali ke Indonesia, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Elvan.


"Kemana?" tanya Vada.


"Ikut aja!" Elvan menuntun tangan Vada supaya berdiri dan mengikutinya.


Mereka menuju ke dua mobil yang parkir di depan cafe.


"Yo!" panggil Elvan saat mereka sampai di sana. Rio mendekat.


"Sayang, Kyara ikut uncle Rio dulu, ya? Mau diajak jalan-jalan sama uncle," ucap Elvan pada Kyara yang ada dalam gendongannya.


Kyara menggeleng, "No, daddy! Kya ndak mau!" ucapnya.


"Dengar daddy, uncle Rio mau belikan Kya es krim dan cokelat banyak klau Kya mau main sama dia," Elvan mencoba membujuk Kyara.


"No! Daddy yang mau belikan, daddy puna uang banak-banak! Bukan uncle Lio!" Kyara tetap menolak.


"Memang mau ngapain sih?" tanya Vada. Kenapa Kyara harus ikut Rio, pikirnya.


"Ssstt, tenanglah. Rio hanya ingin mengenal Kyara lebih jauh, iya kan, Yo?" Elvan menatap Rio tajam.


"Iya," sahut Rio lesu.


"Yang pegang uangnya uncle Rio. lihatlah! Uncle Rio sedih karena nggak ada teman bermain. Kyara kan anak baik, mau berteman sama uncle Rio kan?" Elvan sedikit menjejak kaki Rio, bibirnya sedikit bergerak menyuruh Rio memasang wajah sedih. Riopun terpaksa melakukannya dengan pasrah.


"Uncle Lio kan syudah tua! Kya ndak mau belteman!"


Elvan sedikit mendengus, sedangkan Rio langsung kena mental di katakan tua oleh Kyara," Nggak perlu keras-keras juga kali ngomong tuanya," batinnya miris.


Kyara merosot dari gendongan Elvan dan berjalan mendekati Rio. Mendongak dan Mengamati pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Nggak mau! Uncle Lio jutek! Ndak senyum!" ucap Kyara.

__ADS_1


"Yo!" peringat Elvan dan Rio langsung berjongkok dan berusaha tersenyum seramah mungkin semampunya.


Kyara menggeleng, "Tetap tidak mau!" kekehnya.


"Sayang, tolong, dong!" pinta Elvan pada Vada. Senjata ampuh adalah ibunya Kyara.


"Emang anakku mau di bawa kemana, pak Rio?" tanya Vada memastikan terlebih dahulu sebekum membujuk Kyara.


"Saya hnya ingin mengajakny jalan-jalan. Tuan muda ingin mendiskusikan sesuatu dengan Anda, nona," sahut Rio melirik Elvan.


"Benar, Bang? Soal apa kenapa Kya harus menjauh? Dia masih kecil, belum paham apa-apa," tanya Vada. Ia tak ingin Kyara jauh darinya, apalagi pergi sama Rio. Vada benar-benar tidk bis percaya dengan asisten suaminya itu.


"Justru karena dia masih kecil, masih belum paham urusan orang dewasa, otaknya masih terlalu suci, makanya harus di pertahankan kesuciannya supaya tidak tercemar," jelas Elvan ambigu.


"Ngomong apa, sih? Yang jelas kenapa?" ucap Vada.


"Sudahlah, cepat bujuk saja putrimu, sayang,"


"Putrimu juga," sahut Vada tak terima.


"Iya, maksudku, putri kita,"


Vada berdecak, "Emang mau ngapain sih," gumamnya. Ia mendekati Kyara lalu mengajak anak itu bicara. Tak butuh waktu lama, Kyara langsung berubah pikiran.


"Ayo uncle!" Kyara merentangkan kedua tangannya kepada Rio minta di gendong.


Riopun langsung menggendongnya. Satu tangan Kyara memeluk Mothy, sementara tangan lainnya melambai kepada kedua orang tuanya.


"Rahasia dong! Udah, sekarang mau apa? Kya udah sama Rio, cepat katakan!" ucap Vada.


"Tidak di sini, ikut abang!" Elvn menarik tangan Vada dan menyuruhnya masuk ke mobil.


.


.


.


Mobil yang di tumpangi oleh Rio dan Kyara melaju entah kemana. Jujur saja, Rio masih bibgung memikirkan kemana ia akan mengasuh anak dari tuan mudanya tersebut. Tugas terberat selama ia mengabdi kepada Elvan, yaitu harus menjadi baby sitter Kyara selama tuannya melakukam reuni rasa.


"Uncle, kita mau kemana?" tanya Kyara.


"Nona, maunya kemana?" Rio malah balik bertanya.


"Ndak tahu! Tadi bilangna uncle yang mau ajak Kya jalan-jalan. Malah tanya!" Kyara langsung cemberut hingga dagunya terlihat bertumpuk.


Rio benar-benar tidak tahu harus membawa Kyara kemana. Tempat seperti apa yang bisa ia kunjungi bersama anak balita itu. Kebun binatangkah? Atau taman bermain?


"Emm, bagaimana kalau kita ke zoo, nona kecil?" tanya Rio kemudian.

__ADS_1


Kyara tampk berpikir, jari telunjuknya menyentuh pelipisnya, "Boleh, mau liat jelapah, yang tinggiiiii syekali lehelnya!" seru Kyara antusias.


Kini tinggal Rio mencari dimana ada kebun binatang terdekat melalui ponselnya.


"Baiklah, kita meluncur ke sana!" ucap Rio setelah menemukannya. Jaraknya cukup jauh, butuh sekitar empat puluh lim menit untuk sampai di sana.


Rio kembali terdiam, ia tak tahu harus mengajak anak kecil yang sedang asyik bernyanyi tersebut bicara apa. Ia terbiasa berdiskusi soal bisnis, selebihnya hanya seperlunya saja. Jarang bercanda apalagi tersenyum. Ia heran kenapa Elvan yang dulu sebelas dua belas dengannya sekarng bisa berubah menjadi pria yang kebih bnyak bicara, sedikit lucu dan romantisnya juga ada. Apa itu artinya dirinya juga harus menemukan seseorang yang seperti Vada juga baru dunianya akan berubah?


"Uncle! Uncleeee!" teriak Kyara karena Rio karena Rio tak kunjung menjawab pertanyaannya karena melamun.


"Ya, nona? Kenapa?" tanya Rio.


"Suala syemut bagaimana?" Kyara mengulangi pertanyaannya yang tidak di dengar oleh Rio tadi.


"Semut?" Rio mengernyitkan kening. Kyara mengangguk.


"Semut tidak ada suaranya, nona. Uncle belum pernah mendengarnya," jawab Rio.


"Oeee, oeeee!" Kyara mengingat penggalan lagu yang sering ia nyanyikan.


Kening Rio semakin mengerut, "Itu bukannya suara bayi?" tanyanya setengah bergumam.


"Huh, uncle ndak asik! Itu syemut, uncle ndak pelnah nyanyi Temut-temut kecin?"


Kini kedua alis Rio hamoir bertemu, "Temut-temut, apa?" tanyanya bingung.


"Huft, uncle ndak celdas! Kalah syama Kya. Gangin uncle aja yang kasih peltanyaan. Kya jawab! Kya pintal!" ucap gadia cilik itu.


Rio menghela napas, benar-benar nyebelinnya mirip ayah ibunya ini anak, pikirnya.


"Baiklah, suara kucing?" tanya Rio langsung.


"Uncle ndak tahu?"


"Tadi katanya uncle suruh tanya, nona?"


"Hahaha iya. Meow!" sahut Kyara,"Lagi!" imbuhnya cepat.


"Emm, suara ayam jago?"


"Kukuluyuuuuk,"


Kyara menatap rio menunggu pria itu kembali bertanya, "Suara kambing?"


"Embeeeeek!" jawab Kyara,"Ayo suala apa lahi, uncle?"


Hening lagi, Rio sedang berpikir pertanyaan selanjutnya, "Anj ing," ucapnya datar.


"Uncle ndak sopan! Bilang gitu syama Kya. Huaaaa, mama uncle nakal... Huaaaa!" Kyara langsung menangis, merasa harga dirinya di hina karena ia pikir Rio mengtainya hewan tersebut. Padahal niat Rio murni bertanya, hanya saja ia langsung menyebutkan nama hewannya.

__ADS_1


Rio di buat bingung dengan sikap anak itu yang tiba-tiba menangis histeris. Apa salahnya? Padahal anak itu yang minta di tanya. Lalu salahnya dimana. Ia menjadi kalang kabut sendiri sekarang, tidak tahu cara mendiamkan anak itu. Usahanya mendiamkn sia-sia, Kyara semakin menangis.


__ADS_2