Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 108


__ADS_3

"Habis ini kakak mau kemana?" tanya Helena di tengah obrolan mereka.


"Mau makan dulu teris ke cafe tempat aku kerja dulu, kangan udh lama enggak kesana soalnya," jawab Vada.


"Aku ikut ya?" tanya Helena.


"Boleh," sahut Vada cepat.


"Om juga ikut sekalian, kita nongkrong bertiga di cafe, gimana?"


Mirza tampak sedikit ragu, apakah ia harus ikut atau tidak.


"Ayolah, om. Sebelum aku pergi ke Amerika ikut mama om kan janji mau nurutin apa yang aku minta kecuali satu, yaitu menikah sama aku, om udah menolak duluan. Yang satu itu di tunda dulu nggak apa-apa , yang lain kan janji nurutin," rengek Helena.


"Baiklah," sahut Mirza.


"Kamu mau ke Amerika?" tanya Vada terkejut.


Helena mengangguk, "Terpaksa kak, sebenarnya aku berat ninggalin om Mirza di sini, takut kecantol cewek lain. Tapi, ya mau gimana lagi. Mama pindah tugas kerja di sana, jadi aku harus ikut. Kalau aku di sini nanti aku diambil alih sama keluarga papa aku, kak. Aku nggak mau, kasihan mama selama ini banting tulang buat nunjukin sama kakek, kalau aku bisa hidup layak dan bahagia sama mama," cerita Helena.


Vada mendengarkannya dengan saksama, ternyata ada masalah yang cukup rumit antara mama Helena dengan keluarga almarhum ayahnya. Ia lalu menatap Mirza yang air mukanya langsung berubah saat membicarakan Helena yang akan pindah. Pasti Mirza akan merasa kehilangan kembali, pikirnya yang mendadak jadi sedih dan merasa kasihan kepada mantan kekasihnya tersebut.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Mirza.


"Nggak apa-apa. Ayo kita makan siang. Kali ini aku yang traktir, kapan lagi kita ketemu kan nggak tahu kalau kmu udah pergi," Vada menarik tangan Helena yang terlihat sedih. Mirza hanya mengikuti keduanya tanpa bicara.


Siang itu, Vada makan lahap sekali dan memang akhir-akhir ini dia porsi makannya bertambah. Tidak heran jika tubuhnya terlihat makin berisi. Dan yang membuat Mirza heran, dulu Vada tidak suka makan, makanan yang asam. Tapi kali ini berbeda, wanita itu makan seolah apa yang ia makan berasa manis.


" Kakak, lapar apa doyan sih? Ini asem banget loh, kok kakak makn santai aja, kayak orang lagi ngidam aja, apa kakak lahi hamil?," ucap Helena.


"Uhuk! Uhuk!" mendengar ucapan Helena, Vada langsung tersedak. Apa benar ia hamil?


"Ini minumlah!" Mirza menyodorkan jus strawberry kepada Vada, wanita itu langsung meminumnya.

__ADS_1


"Aku ke toilet dulu!" pamit Vada kemudian.


Di dalam toilet, Vada membasuh mukanya lalu melihat wajahnya ke cermin, "Apa benar aku hamil? Tapi, aku nggak mual-mual kayak orang hamil, ku sehat-sehat aja. Kayaknya aku tambah gemuk karena kebanyakan makan aja. Tapi... gimana kalau benar aku hamil?" Vada mengambil ponselnya, ia melihat kelender disana.


"Seharusnya kemarin aku datang bulan," gumamnya. Ia menunduk melihat dan merabat perutnya yang rata, "Ah bisa jadi nanti aku datang bulannya, telat satu dua hari kan biasa," Tak mau terlalu ambil pusing, Vada segera merapikan rambutnya lalu keluar.


Saat hendak kembaki ke meja makan, giliran Mirza yang mau ke toilet, mereka hampir berpapasan. Keinginn Vada yang tadi ingin perutnya di usap Mirza kembali muncul namun tidak mungkin ia mengatakannya. Entah mendapat ide konyol dari mana, Vada berjalan dan dengan sengaja menyenggolkan perutnya di tangan Mirza. Dengan sigap, Mirza memegang lengan Vada yakut wanita itu jatuh.


"Kamu kalau jalan hati-hati," ucap Mirza.


"Maaf mas, nggak sengaja," ucap Vada pura-pura minta maaf.


"Nggakpapa, kamu nggak apa-apa?" tanya Mirza.


"Nggak apa-apa. Aku kesana dulu!"


Mirza mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Vada menoleh dan tersenyum puas karena apa yang ia inginkan terwujud meski dengan cara konyol. Ada ras puas tersendiri dalam hatinya.


🌼 🌼 🌼


Dan ternyata bermain di time Zone sng seru, membuat ketiganya benar-benar tak berhenti tersenyum maupun tertawa. Terutama Vada, ia merasa senang sekali, seolah baru pertama kali saja ia bermain, padahl dulu sering. Bahkan saat Helena dan Mirza sudah merasa lelah, Vada masih enggan berhenti, masih ingin mencoba yang lainnya.


"Kak Vada aneh deh, tadi dia nolak, eh sekarng malah yag nggak mau berhenti," ucap Helena yang kini sudah duduk dengan Mirza.


"Biarkan saja, sepertinya dia sangat senang," sahut Mirza sambil membuka tutup botol air mineral yang baru saja ia beli.


"Om masih suka ya sama kak Vada? Ih nggak boleh! Aku cemburu!" ujar Helena memberengut.


"Ck, dasar!" Mirza mengacak rambut Helena gemas.


🌼 🌼 🌼


Elvan baru saja selesai dengan pekerjaannya. Ia melihat jam tangan di tangan kirinya. Ia segera menyambar jasnya lalu memakainya seraya berjalan keluar.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Elvan telah sampai di cafe. Saat turun dari mobil, Elvan berpapasan dengan Mirza dan Helena yang baru saja keluar dari cafe. Karena sudah malam dan Helena memiliki jam malam yang tak boleh di langgar, Mirza mengajaknya pulang duluan, sementara Bada menolak untuk di antar pulang karena sudah berjanji untuk menunggu Elvan.


Baik Elvan maupun Mirza saling menyapa secara formal yang mana membuat Helena berdecak, "orang dewasa memang kaku!" gumamnya.


Setelah berbasa basi sebentar, Mirza mempersilakan Elvan untuk masuk karena Vada sudah menunggunya. Sementara ia akn mengantarkan gadis remaja itu ke rumahnya atau ibunya akan marah.


Vada yang baru saja selesai menyanyi melambaikan tangannya kepada Elvan yang baru saja masuk. Pria itu langsung mendekat.


"Mau langsung pulang atau makan dulu?" tanya Vada.


"Kita makan di luar saja," sahut Elvan.


"Baiklah, aku amnil tas dan pamit sama bang Roni dulu, abang tunggu di sini!" ucap Vada dan Elvan mengangguk.


.


.


.


"Tadi aku ketemu Mirza dan cabe-cabeannya, mereka ke sini sama kamu?" tanya Elvan. Kini mereka sedang berada di mobil untuk mencari makan.


Vada mengangguk, "Yadi siang ketemu di Mall, terus makn sianh bareng, habis itu main di time zone, eh pas aku mau ke cafe mereka juga ikut. Abang nggak marah, kan?"


"Enggak, kenapa harus marah?" Elvan mengusap rambut Vada.


Entah senang atau sedih yang Vada rasakan, biasanya hanya menyebut nama Mirza saja suaminya akan uring-uringan, tapi kini mengetahui mereka jalan bersama bahkan bis di bilang menghabiskan waktu bersama siang hingga malam hari, tapi Elvan justru biasa saja. Dan entah kenapa Bada tiba-tiba merasa sedih.


"Abang nggak cemburu?" tanya Vada.


"Enggaklah, kenapa harus cemburu juga?" jawab Elvan. Karena memang kini ia sudah yakin jika istrinya sudah mencintainya sepenuhnya. Ia hanya perlu memperjelas semuanya saja antara keduanya.


Namun, berbeda dengan Vada yang merasa akhir-akhir ini merasa Elvan terkesan cuek dan tak peduli dengannya.

__ADS_1


__ADS_2