Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 57


__ADS_3

Di kantor, Bara Elvan tidak bisa berkonsentrasi. Ia terus memikirkan Vada. Apalagi dengan kondisi kaki wanita itu yang masih terluka. Ia melihat ponselnya, tak ada pesan satupun dari sang istri. Bahkan dari semalam terlihat wanita itu belum online sama sekali.


"Kemana dia pagi-pagi sudah pergi? Apa dia masih marah karena kejadian semalam?" batinnya terus bertanya.


"Tuan muda," panggil asisten Rio. Entah ini panggilan yang ke berapa. Bosnya itu sejak tadi hanya menatap kosong terlihat sekali memikirkan sesuatu. Elvan masih tak menyahut juga.


Asisten Rio mendesah pasrah,"Apa aku harus menghubungi pawangnya ya? Tapi semalam apa yang terjadi. Apa nona selamat? Tapi, bukankah pagi ini tidak ada huru hara apapun. Yang ada hanya keheningan saja. Tuan muda sejak tadi banyak diam dan seperti kepikiran sesuatu," ucap Rio dalam hati.


Bagaimana tidak kepikiran, kata-kata Vada semalam begitu mengusik perasaan Elvan sampai detik ini.


Asisten Rio mengeluarkan ponselnya. Antara ingin mengirim pesan untuk Vada dan tidak. Ia tahu pasti wanita itu kalau membalas pesannya pasti sengak. Belum lagi kecemburuan dan keposesifan Elvan jika pria itu tahu Rio berkirim chat dengan istrinya. Asisten Rio benar-benar dilema.


"Yo," panggil Elvan di tengah lamunan asisten Rio.


"Ya, tuan muda," sahut Rio.


"Apa wanita kalau marah pasti lama?" sesi curcol sepertinya akan di mulai.


"Tergantung seberapa parah kesalahan yang di buat oleh pasangannya tuan. Jika terlalu menyakitkan, puncak dari marah itu adalah lebih kepada sebuah kekecewaan. Dan itu akan lebih sulit untuk di obati," jelas asisten Rio.


Elvan tampak berpikir sesaat, "Lalu jika marah, kemana biasanya wanita akan pergi?"


"Biasanya mereka akan lari ke ibunya. Tapi tidak semua wanita seperti itu, sebagian ada yang lebih memendamnya sendiri. Ada juga yang melampiaskan nya dengan shopping. Atau nonton drama yang benar-benar menguras emosi dan air mata sekalian. Melampiaskan kekesalannya dengan mengumpati tokoh dalam drama sambil terus menangis," jelas asisten Rio sok tahu.


Lari kepada ibu?Bunda? Rasanya tidak mungkin, Vada bukan tipe pengadu. Shopping juga tidak mungkin. Bukan Vada banget. Menyimpan sendiri seperti pilihan tepat. Wanita itu selalu berhasil menyembunyikan rasa sedihnya di balik keceriaannya. Bukan tidak mungkin kemarahannya juga akan ia sembunyikan. Nonton dram? Bisa saja sih, wanita kan memang suka ngedrama. Aaargghh Elvan jadi pusing sendiri memikirkannya.


"Tapi kalau sudah sampai puncak kecewa, paling parah mereka akan... "


"Akan apa yo?" sela Elvan. Mendadak perasaannya tidak enak.


"Akan... Em apa nona tadi meninggalkan wasiat kepada Anda, tuan muda?" Rio tak menjelaskan secara jelas, tapi dari kata-katanya mengisyaratkan jika kemungkinan Vada mengambil jalan pintas dalam keputus asaan.


"Nggak ada," jawab Elvan yang kemudian mencerna kalimat Rio.


"Maksudmu Vada...." Elvan tidak sanggup mengatakan dengan mulutnya.

__ADS_1


"Jangan ngaco kamu! Nggak mungkin pikiran Vada sedangkal itu!" sentak Elvan tapi tak bisa menyembunyikan kepanikannya.


"Bisa jadi, bukankah nona sedang patah hati? Wanita kalau patah hati bahaya, beneran, apalagi di tambah di amuk, udah deh putus cinta, kecewa, sedih, putus asa, putus nadi.. Hemm," Rio malah mengompori. Ia melirik bosnya, demi melihat wajah pria itu yang sudah tampak pias.


"Ck, kau ini!" sungut Elvan. Ia langsung bangkit dari duduknya lalu meninggalkan asisten Rio yang hanya geleng-geleng kepala seraya berdecak-decak.


"Satu lagi korban bucin di dunia," gumam Rio terkekeh. Ia tak habis pikir, cinta bisa membuat orang yang pintar menjadi bodoh dalam sekejap. Bagaimana orang sepintar Elvan terpengaruh kalimat profokatifnya barusan.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Elvan menghentikan mobilnya tepat di seberang jalan Sukma Florist. Ia menurunkan kaca mobilnya demi melihat ke dalam toko, apakah sosok yang ia khawatirkan ada di sana.


Menunggu beberapa saat, ia tak melihat gerak-gerik istrinya di dalam sana. Pikirannya pun menjadi tak karuan.


"S hit!" umpatnya memukul stir mobil. Rupanya perkataan asistennya sedikit banyak telah merasuk ke otaknya.


"Apa dia tidak bekerja? Lalu kemana?" gumamnya gusar.


Namun kegusarannya beranhsur menghilang ketika melihat bayangan Sang istri yang kini sedang meletakkan bunga di depan kaca sehingga ia bisa melihat wanita itu dengan jelas. Tanpa sadar Elvan menghela napas lega. Ada rasa plong tersendiri di satu sudut hatinya.


Sesaat Elvan bergeming, melihat gerak-gerik Vada tanpa bernyalinuntuk turun dan menghampiri wanitanya tersebut. Terlihat jelas dari netranya, wanita itu tak terlihat seerti biasanya yang ceria dan enerjik. Namun, kini terlihat murung, tak ada senyum sedikitpun yang menghiasi wajah cantiknya meski Vada tetap melakukan pekerjaan segesit biasanya.


Jika mengingat hal itu, Elvan menjadi kesal sendiri. Pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sana. Setidaknya sang istri kini baik-baik saja secara fisik. Meski entah dengan psikisnya.


Vada menoleh ke seberang jalan, sekelebat ia seperti melihat mobil suaminya di sana, namun ia juga tak yakin karena mobil itu sudah melesak pergi saat ia menyadari sesuatu.


Vada tersenyum getir, baru mendiamkan suaminya semalam di tambah pagi ini saja ia sudah di bayang-bayangi pria menyebalkan itu, "Ck, benar-benar seperti hantu," decaknya.


Vada mendekati ponselnya yang bergetar di meja, ia melihat siapa yang meneleponnya.


"Mas Mirza..." gumamnya ketika membaca nama kontak pemanggil.


"Tahan Vada. Jangan di angkat. Jangan goyah," Vada terpaksa mematikan ponselnya lagi, padahal baru beberapa menit yang lalu ia aktifkan.


"Cieee siang-saing anak perawan melamun aja. Awas loh ntar jauh dari jodoh!" ucap bu Sukma yang baru saja sampai.

__ADS_1


Vada mendengus, "Ibuk ngapain ke sini?" tanyanya datar.


"Lah, ini toko kan punyaku, suka-sukalah aku mau kesini meski nggak ada urusan," omel bu Sukma.


Vada hanya sedikit tersenyum tanpa mendebat seperti biasa, yang mana membuat bu Sukma menatapnya curiga.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya bu Sukma.


Vada menggeleng, "Nggak apa-apa bu Suk. Cuma lagi pengin mode kalem aja," sahut Vada.


"Ck, ada-ada aja kamu. Malah serem tahu auranya kalau begini, kayak lagi patah hati aja. Ya udah sih, aku cuma mau cek aja, nanti jangan lupa di liat bunga yang sudah layu dan yang sudah habis, biar bisa stock lagi,"


"Hem," Vada mengangguk.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Malam harinya, saat Elvan pulang. Ia melihat di meja makan sudah tersedia beberapa menu makan malam. Rupanya Vada sudah pulang, pikirnya lega. Ia pun memutuskan untuk naik ke kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu seraya melihat sang istri.


Saat masuk ke dalam Kamar, Elvan melihat Vada sudah meringkuk di ranjang dengan posisi memunggungi pintu.


Elvan mendekat, ia berniat membangunkan Vada namun, ia melihat secarik kertas di atas nakas. Ia mengambil kertas tersebut lalu membacanya.


"Aku sudah masak untuk makan malam, makanlah jika sudah pulang. Tak perlu membangunkanku. Karena aku sudah makan tadi," Elvan menatap punggung Vada, lalu ia meremat kertas itu dan melemparnya kembali ke atas nakas. Ia tak berniat untuk makan malam. Bahkan kini Vada tak mau bicara langsung dengannya.


Elvan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian santai, Elvan mendekati ranjang.


Ia Menjatuhkan diri di belakang Vada dengan berbantalkan satu tangannya. Sementara tangannya memijit pangkal hidungnya. Ekor matanya sedikit melirik punggung sang istri yang tampak naik turun dengan teratur. Menandakan jika istrinya memang sudah terlelap.


Mencoba memejamkan matanya untuk beberapa saat, namun nyatanya Elvan tak bisa tidur juga. Ia memiringkan tubuhnya ke samping, menatap lekat punggung sang istri.


Detik kemudian, matanya malah beralih ke bagian kaki Vada dimana celana piyama pendek yang wanita itu kenakan tertarik ke atas sehingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus tanpa cacat bak porselen tersebut.


Elvan mengusap wajahnya kasar, ia langsung mengubah posisi membelakangi Vada. Bayangan isi dari celana itu terus mengusik belut impornya di bawah sana.

__ADS_1


Merasa ada pergerakan lain di atas ranjang, Vada akhirnya terbangun. Namun ia tak menoleh, ia tahu pasti itu suaminya. Ia tak peduli. Vada memilih kembali memejamkan matanya.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


__ADS_2