
"Ih kakak, nggak ada yang busuk. Nggak ada bau apa-apa, wangi semua ini. Parfum om-om ini juga harum, mahal pasti kok busuk sih," Protes Helena.
"Astaga, itu juga di masalahin, Bu Sukma maksudnya, aku singkat jadi Bu Suk. Ini gimana nggak bangun-bangun juga, dia pingsan atau koma sih," ucap Vada setengah menggerutu.
"Sini, biar aku gelitikin kakinya, siapa tahu bangun," Helena langsung menarik kaki bu Sukma lalu menggelitikinya namun tidak berhasil.
"Dia pingsan, bukan pura-pura tidur Helen," ucap Vada dan gadis remaja itu hanya meringis.
"Coba deh om, bisikin kata-kata rayuan gombal, siapa tahu oma ini bangun karena merasa di bangunan oleh bidadara surga," Helena menatap Elvan dan Mirza bergantian.
Ya ampun, ini bocil ngomongnya benar-benar ya. Tentu saja kedua pria itu enggan melakukan apa yang Helen minta. Ada-ada saja. Daripada membisikkan rayuan kepada bu Sukma mending mereka lakukan untuk Vada tentunya.
"Helly, mending kamu pergi saja dari sini, dari pada di sini tapi bikin pusing kepala," Ucap Mirza.
Gadis itu langsung diam dan patuh. Melihatnya, malah membuat Mirza jadi merasa lucu sendiri.
"Vada, kamu punya minyak kayu putih atau sejenisnya?" tanya Mirza.
"Ada kayaknya di dalam, sebentar aku ambil," sahut Vada yang langsung beranjak untuk mencari minyak kayu putih. Suasana antara Elvan dan Mirza benar-benar masih tegang di tengah pingsannya bu Sukma. Seertinya Elvan berhasil mengelola emosinya dengan baik kali ini. Terlihat dari dianya dia saat melihat interaksi kedua mantan kekasih tersebut.
"Coba kamu arahkan baunya ke hidung bu Sukma!" titah Mirza saat Vada kembali. Wanita itu melakukan sesuai instruksi Mirza dan tak berselang lama, mata bu Sukma mulai mengerjap.
"Apa aku berada di surga, kenapa ada bidadari tampan di sini?" tanya Bu Sukma dengan saat melihat Elvan di depannya.
"Ck, baru bangun dari pingsan udah modus aja, nih oma-oma," Helena langsung berdecak heran kepada bu Sukma.
"Iya, kayak yang yakin gitu pasti masuk surga, bekalnya buat kesana emang udah cukup, bu Suk?" imbuh Vada spontan. Yang mana membuat bu Sukma mendelik kepada keduanya.
Setelah BU Sukma benar-benar sadar, Mirza akhirnya pamit keada Vada.
"Makasih ya kak, udah di buatin buket yang cantik banget. Kayak yang buat," ucap Helena sebelum pergi menyusul Mirza yang sudah keluar duluan.
"Sama-sama," jawab Vada ramah.
"Aku pergi dulu ya kak, lain kali aku boleh main ke sini kan? Suka aja, kakak orangnya baik dan asyik banget, pantas om Mirza sampai termehek-mehek sama kakak," ucap Helena sambil melirik ke arah Elvan. Gadis itu langsung mencit nyalinya.
__ADS_1
"Heeee, pecae om," ucap Helena nyengir. Ia langsung gas pergi sebelum kehororan Elvan semakin membuat nyalinya menciut.
"Oma, jangan pingsan lagi. Baik-baik jaga kesehatan, udah tua harus banyakin insyaf, biar beneran bisa ketemu bidadari surga nanti bukan yang KW!" sempat-sempatnya Helena meledek bu Sukma yang masih terkulai lemas di sofa.
"Oma oma! Masih muda gini di panggil oma! Ya ampun, itu anak siapa sih? Mirza ketemu dimana piyik macam beo itu," omel bu Sukma smbil memegangi kepalanya yang masih terasa pening. Apalagi saat matanya menangkap seasang suami istri yang sedang menatap kepergian Helena dengan tangan saling bertaut tersebut.
"Oh ya ampun, rasanya ingin pingsan lagi," ucap bu Sukma.
"Heleh lebay bu Suk mah. Makanya jangan suka mendahului yang belum terjadi. Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin, shock sendiri kan sekarang jadinya . Gimana nih, jadi dangdutan tujuh hari tujuh malamnya?" goda Vada.
Bu Sukma hanya diam, ia masih merasa lemas tak bertenaga. Apalagi membayangkan jika ia harus mengadakan konser dangdut tujuh hari tujuh malam. Kepalanya langsung berdenyut hebat.
Elvan hanya menggelengkan kepalanya dengan keabsrudan tiga perempuan tadi dimana salah satunya adalah istrinya sendiri. Memang benar, wanita kalau sudah berkumpul, ambyar sudah dunia. Apalagi perempuannya seperti mereka bertiga.
ššš
" Ngapain kamu?" tanya Mirza jutek saat Helena ikut masuk ke dalam mobil.
"Ya mau pulanglah om, tapi anterin," ucapnya meringis tanpa dosa.
Mirza menghela napas panjang, "Saya masih ada banyak urusan. Kamu pulang sendiri, tadi kan udah saya kasih uang," tolak Mirza.
"Saya nggak minta bantuan kamu," sanggah Mirza. Namun gadis itu kekeh tidak mau turun juga. Ia melipat kedua tangannya di dada dan memanyunkan bibirnya.
Lagi-lagi Mirza menghela napasnya panjang, ia memijit pangkal hidungnya. Mau tidak mau ia mengalah dan mengantar gadis bau kencur tersebut. Helena tersenyum senang saat Mirza tak mendengarnya lagi, alih-alih pria itu malah melajukan mobilnya.
ššš
Setelah memastikan Mirza benar-benar pergi dan tidak kembali lagi, Elvan pun pamit kepada Vada.
"Abang harus kembali ke kantor sekarang," ucapnya.
Vada mengangguk lalu mengurai tautan jari jemari mereka, "Pergilah!" ucapnya.
"Hem," Elvan mengecup kening Vada sebelum ia pergi. Ia hanya sedikit mengangguk kepada bu Sukma yang masih saja terkapar di sofa.
__ADS_1
"Udah nggak usah di pikirkan bu soal dangdutan tujuh hari tujuh malamnya, sampai lemas begitu nggak bertenaga. Makanya kalu ngomong itu jangan asal keluar aja," seloroh Vada. Yang membuat bu Sukma langsung menjeb. Memastikan Mobil Elvan pergi dari sana, bu Sukma langsung bangun dan menghampiri Vada yang sedang membereskan meja kasir.
" Berarti itu mobil punya tuan Adhitama? Kamu tadi bohong dong?" Protes bu Sukma yang hanya di tanggap cengiran Oleh Vada.
"malah nyengir, cepat cerita kok bisa kamu nikah sama tuan Adhitama. Bagaimana mungkin?" jiwa kepo emak-emak bu Sukma muncul langsug.
"Ya buktinya bisa kan, jangan lupakan satu kata yang bisa mengalahkan ketidak mungkinan di dunia ini menurut akal manusia. Yaitu TAKDIR! Jika TUHAN sudah berkehendak, semuanya mungkin aja bu Suk, tinggal kun fayakun!" Jawab Vada.
"Iya sih...ah tapi masih nggak percaya aku, beneran! Tuan Adhitama menikahi seorang gadis biasa seperti kamu, Mimpi aja pasti nggak pernah kan sebelumnya?"
"Nggaklah. Kenal aja enggak sebelumnya, gimana mau mimpiin, ada-ada aja BU suk nih. Udahlah kalau aku ceritain bakal panjang ceritanya, ngalahin rel kereta api panjangnya. Nanti bu Suk pingsan lagi kalau tahu aku nikah ya di Swiss,"
"What???"
"Kan shock, apalagi kalau tahu aku nikah di atas kapal pesiar mewah," ucap Vada lagi tanpa dosa.
"What, serius?" bu Sukma histeris mendengar penuturan Vada.
"Duh What whet whot, What whet whot aja bu Suk nih,"
"Kan kepo, Vada. Terus sama si Mirza bagaimana? Jangan bilang masih lanjut, terus mau poli Andri? Jangan kemaruk deh!"
"Aku sama mas Mirza udahan, bubar jalan! Mengsedih tahu nggak sih bu kalau ingat perjuangan kami dulu, tapi harus kandas gitu aja," Vada mendadak melow ingat perjalanan cintanya dengan Mirza dulu.
"Lah, kenapa mengsedih, orang gantinya aja di atasnya gitu kok, kan kamu juga yang pilih,"
"Iya gantinya emang di atasnya, diatas normal malah. Ah bu Suk nggak tahu aja sih kalau..." Vada hampir saja keceplosan soal awal mula ia bisa menikah dengan Elvan. Ia langsung mengatup kan bibirnya rapat-rapat. Tak perlu bu Sukma tahu, alasannya menikah dengan Elvan. Biarlah dia tahu yang enak-enaknya saja, pikir Vada.
" Kalau apa? "
" Nggak apa-apa, lupakan! Udah sih jangan di bahas terus, takutnya bu Suk makin kepo malah makin migrain, nggak kuat dengar cerita aku yang bersuami Sultan," Ucap Vada terkekeh.
"Dih sombong!" cebik bu Sukma.
"Biarin, punya kok yang di sombongin," ujar Vada jumawa. Ia semakin terkekeh melihat ekspresi wajah bu Sukma.
__ADS_1
"Dahlah mending ibu pulang aja, daripada di sini bisa-bisa stres mikirin kamu yang nikah sama tuan Adhitama," bu Sukma langsung ngacir pergi.
"Hadeh, bu Suk Bu Suk. Pusing-pusing dah tuh kepala. Dangdutannya jangan lupa bu Suk! Yang heboh artisnya biar bisa goyang hobah, encok-encok deh goyang dangdut seminggu full, encok karena goyang di kasur mah lewat!" teriak Vada semakin terkekeh.