
Pagi hari...
Vada sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, ia bangun dengan wajah segar dan terlihat lebih plong. Mungkin karena kejadian kemarin yang membuat hubungannya dan Elvan semakin intens.
Pagi ini Vada sudah mulai aktivitasnya seperti biasa sebagai seorang istri meskipun sebenarnya Elvan melarangnya. Vada merasa jika ia tidak banyak bergerak, ia malah merasa badannya akan terasa sakit semua.
Meski tak sepagi biasanya, namun baru pukul tujuh Vada sudah menyelesaikan tugasnya. Selesai menyiapkan sarapan di meja makan, Vada menoleh ke lantai atas.
"Udah jam tujuh, tumben abang belum turun," gumamnya. Lalu ia naik ke atas.
"Abang, bangun. Ini udah jam tujuh. Abang nggak ke kantor?" ucap Vada sambil membuka gordyn kamarnya.
Vada mendekati ranjang, tumben sekali suaminya jam segini masih tidur, pikirnya.
"Abang, sudah si..." Vada tertegun ketika ia menyentuh kening suaminya yang ternyata panas.
"Abang demam," gumam Vada panik. Ia buru-buru mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh Elvan.
"Mau ngapain sayang?" tanya Elvan yang ternyata tidak tidur saat Vada hendak menjepitkan termometer ke ketiak pria tersebut.
"Aku mau cek suhu abang, abang demam. Udah tidur lagi aja nggak apa-apa, aku nggak ganggu," sahut Vada.
Bagaimana nggak ganggu kalau wanita itu sibuk menyentuh bagian tubuh Elvan sembari menunggu termometer selesai mengecek suhunya. Mulai dari kening, leher sampai kaki, semua Vada sentuh. Membuat Elvan justru merasa geli dan tidak bisa memejamkan matanya.
"Astaga! 38,5 derajat celcius, tinggi banget ini abang demamnya,"
"Aduh gimana ini, kita ke rumah sakit ya? Aku telepon Rio sekarang," Vada langsung mengambil ponselnya. Namun, malah di rebut oleh Elvan.
"Ngapain kamu telepon Rio?" sudah demam tinggi masih aja kepikiran cemburu.
"Mau telepon Rio, aku nggak kuat gendong tubuh abang yang besar ini ke rumah sakit sendirian, butuh bantuan,"
"Nggak perlu, abang nggak apa-apa, bentar lagi juga baikan," Ucap Elvan.
"Nggak apa-apa gimana, abang demam tinggi gini kok, aku telepon dokter aja kalau gitu," Vada hendak mengambil ponselnya namun Elvan tidak memberikannya.
"Biar abang aja," Elvan justru menarik tangan Vada, "Peluk abang, abang kedinginan," ucapnya.
"Halo, Sat. Datang ke apartemen gue, gue demam, gue tunggu!" Elvan langsung menutup teleponnya setelah bicara intinya kepada dokter Satria di seberang sana.
"Gitu amat ya ngundang dokter buat periksa," batin Vada heran.
"Aku ambil kompres dulu sebentar!"
"Jangan kemana-mana!" sergah Elvan. Vada menarik napasnya dalam, ternyata Mr. Introvert ini kalau sedang sakit, manja banget, pikirnya.
"Cuma sebentar, abang," Vada tetap beranjak.
Elvan memilih kembali memejamkan kedua matanya.
Dengan telaten, Vada mengompres kening sang suami sambil menunggu dokter datang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dokter Satria datang.
"Ck, Sakit lo Van? Tumben?" Ucap dokter Satria.
Elvan diam, bodo amat dengan ucapan Satria, ia membiarkan dokter sekaligus sahabatnya itu memeriksanya.
"Bagaimana dok? Tadi demamnya tinggi, tapi barusan aku cek lagi udah turun setengah derajat," tanya Vada yang sejak tadi diam memperhatikan suaminya di periksa.
"Kebanyakan lepas baju kayaknya nih. Makanya masuk angin, makkumlah pengantin baru," sahut dokter Satria terkekeh.
"Nggak sih dok, dia kemarin tetap pakai baju, cuma mainnya di bawah air. Aku bilang juga apa kan, di bawah air memang romantis, tapi nggak bikin hangat malah bikin masuk angin, abang,"
"Wah gila lo, Van. Berapa lama main di bawah air? Pamali begituan di kamar mandi, Van!" ucap dokter Satria terkekeh.
"Si al lo emang. Udah sana pergi kalau udah selesai, gue pengin istirahat!" usir Elvan tanpa berniat meluruskan kesalah pahaman dokter Satria dengan ucapan Vada.
"Lihat kan, suami kamu ini emang nyebelin dari dulu. Sukanya ngusir! Eh gue denger-denger ada suatu insiden ya kemarin-kemarin? Dimas beneran..."
"Udah sana pergi!" potong Elvan cepat, ia malas jika harus membahas masalah dirinya, Zoya dan Dimas.
"Ck, jangan dingin-dingin. Ntar istri lo kabur Van, nggak kuat sama kulkas kayak lo gini,"
"Berisik!"
"Ya ya gue pergi, jangan lupa di minum obatnya, jangan di buang. Awas lo! Gue cabut!"
"Hem," dokter Satria melihat Vada yang hanya diam menyaksikan interaksi dua sahabat yang lebih mirip Tom Jerry tersebut. Sebenarnya teman apa musuh sih mereka, pikir Vada.
"Saya permisi dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya," Lagi-lagi Vad mengangguk.
"Aku antar dokter Satria ke depan dulu," ucap Vada.
"Nggak perlu, dia bisa keluar sendiri. Abang butuh kamu, sayang,"
"Dih, Welocome to the club, Van. Club para buciners, hahaha. Lama-lama di sini gue jadi berasa baygon tahu nggak. Eneg lihat lo bucin Van, merinding gue, sumpah. gue beneran pamit, cepat sembuh!" pamit dokter Satria.
"Dari tadi perasaan pamit mulu, tapi nggak pergi - pergi," sindir Elvan.
"Haha, ingat lo lagi sakit Van. Masih aja dingin, padahal tubuh lo panas, tapi hati lo tetap dingin," ledek dokter Satria yang langsung melenggang pergi.
"Aku buatkan bubur aja kalau begitu, habis itu abang minum obat, bair cepat sembuh," ucap Vada.
"Kamu obat abang paling mujarab, sini aja temenin abang tidur," sahut Elvan.
"Tapi abang harus makan, teru minum obat,"
"Sebentar saja, kalau abang udah merem, kamu boleh keluar,"
"Baiklah,"
"Makasih," Elvan memejamkan matanya, tangannya memegang erat tangan Vada.
__ADS_1
ššš
Vada masuk ke dalam kamar dengan semangkuk bubur di tangannya. Elvan yang baru saja bangun bisa mencium aroma lezat dari bubur yang di bawa oleh sang isteri. Berbeda sekali dengan yang ia buat kemarin.
"Makan dulu buburnya, terus obatnya di minum," ucap Vada.
"Maafin abang. Seharusnya abang masih rawat kamu yang belum sembuh total tapi malah kamu yang merawat abang,"
"Aku udah sembuh, bang. Ayo makan dulu aku suapi,"
Elvan mengubah posisinya duduk bersandar.
"Ternyata orang kayak abang bisa sakit juga ya, aku kira nggak bisa sakit," ucap Vada lalu meniup-niup bubur di sendok.
"Apa kamu lupa, kalau suami kamu ini juga manusia yang bisa sakit juga?"
"Hihi benar juga ya, abang manusia, bukan robot," Vada menyodorkan sendok ke depan mulut Elvan . Pria itu menyambutnya dengan membuka mulutnya.
Tak hanya menyuapi Elvan, namun Vada ikut makan bubur tersebut.
"Itu kan buat abang, kenapa kamu juga makan?"
"Aku juga lapar, belum makan,"
"Curang, kemarin abang nggak boleh makan bubur yang abang buat untuk kamu, tapi kamu ikut makan jatah abang,"
"Itu karena bubur yang abang buat kemarin as..." hampir saja keceplosan.
Elvan mengernyit, "Karena apa?"
"Emm. Ma aku jawab jujur atau bohong nih?"
"Kamu tahu abang nggak suka kamu bohong,"
"Baiklah, Karena bubur abang kemarin itu terlalu asin dan juga... Sangit," jujur Vada.
"Sangit?" Elvan tak mengerti.
"Bau asap, gosong. Hihi,"
"Maaf," ucap Elvan.
"Heleh, kan udah masuk ke perut juga,"
"Tahu nggak enak, kenapa di paksa makan?"
"karena...em, karena...."
"Karena? Apa?"
"Karena..."
__ADS_1
"Ayo katakan! karena kamu cinta abang!"