
Dengan semangat empat lima, Vada langsung melangkah melewati Elvan, membawa kuenya ke meja, diikuti oleh Elvan di belakangnya . Sementara Mbok Darmi, asisten Rio dan pelayan lainnya tersenyum lega. Mereka tetap berdiri menunduk di belakang majikannya.
Vada sudah duduk di depan kuenya, ia tak sabar ingin segera meniup Lilin-lilin itu, mirip seorang anak kecil yang sangat antusias dengan ulang tahun mereka.
"Tiup lilinnya, Tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga, sekrang juga, sekarang juga..." Vada kembali bersenandung dengan penuh semangat.
"Tuan. Sebaiknya make a wish dulu sebelum meniupnya," ucap Vada mengingatkan sang suami yang hanya diam.
"Kau juga!" timpal Elvan.
"Baik," Vada langsung memejamkan matanya dan berdoa dalam hatinya.
Sementara Elvan, bukannya ikut make a wish, ia justru bergeming, terus menatap lekat istrinya yang sedang memanjakan sebuah doa. Entah apa yang istrinya doakan, Elvan mengamininya dalam hati.
" Sudah?" tanya Vada setelah membuka mata. Elvan mengangguk.
"Aku hitung sampai tiga ya, tuan. Kita tiup bersama lilinnya," ucap Vada tak sabar.
Lagi-lagi, Elvan hanya mengangguk.
Vada langsung meniup Lilin-lilin itu. Elvan hanya pura-pura meniupnya sambil melirik sang istri yang terlihat sekali kebahagiaannya.
Vada terkekeh ketika lilin-lilin itu tak padam setelah di tiup-tiup,"Eh masih nyala, tuan. Ayo tiup lagi!" ucapnya heboh.
Setelah berusaha.akhirnya seluruh lilinnya padam.
"Ayo, sekarang potong kuenya, tuan," kata Vada menyerahkan pisau kue untuk suaminya.
"Kau saja," sahut Elvan.
Vada sedikit mencebik, namun ia mengalah. Di potong ya kue tersebut lalu di sodorkan kepada sang suami, "Ini, tuan mau kasih potongan kue pertamanya buat siapa?" tanya Vada.
Elvan mengernyit, apakah harus seperti itu? Seperti remaja saja, pikirnya. Meski setengah hati, Elvan menerima kuenya, ia menyendok kue tersebut. Tentu saja ia akan menyuapi Vada, siapa lagi.
Elvan menoleh menatap mbok Darmi dan lainnya, mereka semua langsung melengos, seolah mereka tak melihat apa yang akan majikannya lakukan.
Elvan segera menyodorkan kuenya ke depan mulut Vada.
"Buat aku?" tanya Vada dan Elvan hanya mengangguk.
Vada menerima dengan senang hati kue itu.
__ADS_1
"Sekarang gantian, aku suapi tuan ya?" ucap Vada mengambil alih sendok dan sisa kue di tangan Elvan.
Lagi-lagi Elvan menoleh, saat Vada menyodorkan sendok ke mulutnya, asisten Rio dan lainnya kembali membuang pandangan mereka ke sembarang arah sambil menahan senyum di bibir mereka yang ikut merasakan hawa kebahagiaan di ruangan tersebut, terlebih sikap sepasang suami istri itu yang menurut mereka lucu tapi manis sekali.
π€π€π€
Acara tiup lilin dan suap suaan kue selesai. Sekarang mereka beralih ke ruang makan, dimana sudah tersaji banyak makanan spesial yang di masak oleh Vada khusus di hari ulang tahun suaminya tersebut.
Elvan menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat di meja makan.
Vada tersenyum tipis, "Spesial di hari yang spesial," ucapnya.
Tanpa di suruh, Elvan memundurkan kursi untuk ia duduki. Vada melayani suaminya. Setelahnya, ia mengambil untuk dirinya sendiri.
Merasa semua makanan itu terlalu banyak untuk mereka berdua, Vada memanggil mbok Darmi dan asisten Rio untuk bergabung. Ia tahu, pasti asisten suaminya itu juga belum makan malam. Pun dengan mbok Darmi, wanita berusia Senja tersebut sejak tadi sibuk membantunya di dapur meski ia sudah memintanya untuk beristirahat.
Mbok Darmi tidak kalah antusiasnya saat ikut menyiapkan kejutan sederhana untuk tuan muda yang sejak bayi ia asuh tersebut meski tadi sempat deg-degan takut jika Elvan akan mengamuk. Namun, reaksi ya sungguh di luar dugaan.
Mbok Darmi dan asisten Rio tetap berdiri di tempatnya saat Vada memanggil mereka. Tentu saja mereka tidak akan berani lancangg dengan langsung duduk semeja dengan majikannya.
Vada mengerti, dengan raut sedikit kecewa akhirnya ia duduk di samping Elvan.
"Mbok, kenapa masih berdiri di sana? Kita makn bareng, mbok. Duduk lah bersama kamu di sini," kata Elvan sopan. Ia memang tak pernah berkata maupun bersikap kasar kepada mbok Darmi.
"Kau juga, yo!" Ucap Elvan, nada bicaranya kembali dingin, seperti biasa.
Asisten Rio ikut bergabung di meja makan.
Vada sangat senang, ia berdiri hendak menganbilkan nasi untuk asisten Rio karen letaknya lumayan jauh dari jangkauan asisten Rio.
"Biarkan dia mengambil sendiri nasi, kau duduklah!" titah Elvan yang sebenarnya tak suka jika Vada melayani pria lain. Apalagi kalau ia ingat soal chat tadi, membuatnya benar-benar harus ekstra menahan sabar karena tak ingin merusak momen hangat ini. Dimana mereka bertempat duduk semeja, layaknya sebuah keluarga. Momen yang sangat Elvan rindukan.
Mereka makan malam sambil sesekali tersenyum karena celotehan Vada yang terus mengajak ketiganya bicara bergantian. Hanya mbok Darmi yang selalu menjawab dengan senyum dang hangat, sementara dua laki-laki itu hanya menjawab seertinya dan sekenanya saja. Tak jarang mereka hanya bergumam layaknya penyanyi sabyan, hemm... Membuat Vada selalu berdecak saat mendengarnya.
"Kali ini nggak boleh di jawab 'hem', aku mau tanya serius ini," ucap Vada.
Elvan dan yang lainnya langsung menatap ke arah Vada.
"Ck, nggak seserius itu juga kali mukanya," ucap Vada yang merasa aneh di tatap serius oleh mereka.
Mereka bertiga langsung menghela napas dan mencoba bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Katakan!" ujar Elvan kemudian.
"Ini ulang tahun tuan yang ke berapa ya?" tanya Vada.
Membuat yang ada di sana mendengus, mereka pikir pertanyaan soal apa.
"Kalau tuan tidak keberatan membagi umurnya sih, kan ada tuh yang malu sama umur sendiri kalau ketahuan sudah tua," sambung Vada tanpa dosa. Membuat mbok Darmi dan juga asisten Rio saling melempar pandang lalu kembali menghela napas. Benar-benar cari perkara ini istri majikan mereka.
Sementara Elvan tetap dengan wajah datarnya.
"Heeee, nggak boleh tahu ya? Memang sememalukan itu umurnya?" ucap Vada meringis.
"Padahal aku...."
"Dua puluh... " Elvan memotong celotehan Vada datar.
"Delapan!" sambung asisten Rio menambahkan.
"Ohhhhh dua puluh delapan, beneran udah tua ya. Hihihi," Vada menutup mulutnya sendiri demi menyembunyikan kekehannya.
"Nggak tua-tua amat sih, dewasalah ya lebih tepatnya, hihi," lanjut Vada demi menghindari masalah.
Kekehan Vada langsung berhenti ketika ia menyadari tatapan tajam suaminya. Pun dengan mbok Darmi dan asisten Rio yang menahan tawa mereka langsung berusaha bersikap wajar dan biasa saja. Kembali duduk tegap dan makan, pura-pura tidak mendengar celotehan Vada yang selalu bikin gemas.
"Kalau umur aku baru dua puluh mau jalan dua satu...Iya segitu kira-kira," kata Vada tersenyum.
"Apa? Pasti dalam hati bilang nggak nanya kan?" Vada menatap tajam asisten Rio.
"Tidak, biasa saja," sahut asisten Rio datar.
"Ck, biasa saja katanya. Tapi dari cara kamu menatap ku mengisyaratkan begitu Pak Rio! Lagian aku nggak jawab pertanyaan ya. Aku cuma sekedar memberi tahu!" ucap Vada jutek.
What? Pak Rio? Kapan menikah dengan ibumu! ingin sekali adisten Rio menyemprot istri bosnya tersebut. Ia Memandang Elvan dan Vada bergantian, "Suami dan istri sama saja! Menyebalkan!" batinnya geleng-geleng.
π€π€π€
π π
Maaf, up yang harusnya sore jadi mundur samapi malam ππΌππΌ
Satu chapter lagi, tapi jangan lupa tetap komen dan like setiap chapternyabya, jangan di lewati saja.
__ADS_1
π π