
Setelah Elvan berangkat, Vada bersiap menuju ke panti. Karena rencana menghabiskan waktu libur bersama Elvan gagal, ia memutuskan untuk pergi ke panti.
Hingga sore hari Vada kembali lagi ke apartemen dan suaminya ternyata belum kembali. Ia mengambil tiket yang do berikan oleh Roni.
"Sayang banget kalau nggak di gunakan sama sekali," gumamnya. Ia lalu mencoba menghubungi Cindy, adiknya Roni yang juga temannya. Mungkin temannya itu ada waktu senggang untuk menonton dengannya.
Namun, ternyata Cindy sedang pergi dengan kekasihnya, "Ah iya. Aku lupa kalau cindy punya pacar," gumamnya lagi. Bagi mereka yang memiliki pasangan, asti lah akan menghabiskan weekend bersama pasangannya.
Pada akhirnya, Vada memutuskan untuk pergi sendiri menonton film tersebut. Setelah mandi dan berganti baju, Vada segera menuju ke bioskop yang ada di salah satu mall besar di kota tersebut.
Namanya juga film bergenre romance, kebanyakan yang menonton mereka yang berpasangan. Vada jadi meras jomblo sendiri berada diantara para pengklaim dunia seakan milik berdua.
Kalaupun yang menonton tidak dengan pasangannya, seenggaknya mereka tidak sendiri melainkan dengan temannya. Sementara Vada? Menoleh ke kanan dan kiri hanya ada bangku kosong saja.
"Yaudahlah ya, nikmati aja. Toh tuan suami emang nggak bisa diajak, sendiri juga berani kayak pendekar hihi," batinnya terkekeh. Vada duduk dengan khidmat saat film mulai di putar di temani popcorn dan juga minuman bersoda.
ššš
Sementara itu, Elvan yang baru saja tiba di apartemen tak mendapati sang istri. Mungkin kalau dia pulng sedikit lebih cepat tadi, Vada belum berangkat ke bioskop. Entahlah. Seharian ini ia merasa sangat rindu dengan isteinya tersebut. Sehingga. Saat pekerjaannya selesai, Elvan langsung kembali.
"Apa dia masih di panti?" gumamnya. Ia memilih langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berselang lam, Elvan kembali keluar, sambil mengacak rambutnya menggunakan handuk, ia duduk di tepi ranjang. Elvan mengambil tiket yang sengaja Vada tinggal di atas nakas.
"Tiket nonton?" gumam Elvan.
Membaca jam tayangnya, Elvan langsung melihat jam tangannya, "Apa Vada..." tak menyelesaikan dugaannya, Elvan segera menuju walk in closet. Tak lama kemudian, ia keluar dan mengambil tiket tersebut.
__ADS_1
ššš
Awal film di putar sih perasaan Vada masih biasa saja. Tapi, semakin ke tengah, adegan yang di sajikan di layar berukuran besar itu membuatnya sukses gigit jari. Adegan demi adegan romantis mulai membuat baper para pengunjung.
"Ya ampun, nyesel deh tadi sok berani nonton sendiri kalau baru sampai pertengahan aja udah nggak kuat baper nya gini," batin Vada sambil terus ngemil popcorn.
Di lihatnya kanan kiri, Vada langsung lesu, "Gini amat ya, serasa jomblo yang ngontrak di dunia," gumamnya yang tak kuat melihat adegan romantis di layar, di tambah dengan tontonan live di sekitarnya.
"Yaaaahh. Pakai ada acara kiss-kiss hot segala lagi. Aku kan jadi baper maksimal ini. Jadi pengin juga di kiss-kiss manja, romantisan sama abang. Tapi orangnya nggak tahu dimana rimbanya. Huh, gini amat nasibmu Vada, hanya bisa melihat tanpa bisa praktiknya. Ampun deh, beneran nyesel tadi sok iyes kayak pendekar, nonton sendirian yang ada akhirnya gigit hati. Abang... Vada rindu...." gumamnya meratapi nasibnya kini.
" Abang juga mau di kiss begitu....," sebuah bisikan tiba-tiba terdengar di telinga Vada. Dan ia paham suara siapa itu.
" Abaaaangg," seru Vada terkejut sekaligus senang.
Elvan tersenyum tipis," Nakal ya. Nonton begituan sendiri, kalau ada cowok yang deketin gimana?" ucap Elvan.
" Kenapa abang bisa di sini? Sejak kapan abang di sini?"
Sumpah demi apapun. Rasanya Vada ingin menghilang ke dasar sumur paling dalam rasanya. Betapa tidak, suaminya menangkap jelas setiap kalimat yang ia ucapkan dari otak mesumnya.
" Abang ih, kan malu jadinya," Vada menabok lengan Elvan.
Elvan gemas sendiri melihat wajah malu-malu tapi mupeng sang istri, "Kenapa? Tidak suka abang di sini? Emnag kuat nonton begituan sendiri, yang lain aja bawa pasangan, masa kamu enggak?"
Vada langsung melingkarkan kedua tangannya di lengan Elvan memeluk erat lengan suaminya tersebut lalu menyadarkan kepalanya di bahu sang suami, seolah ingin menunjukkan kepada pasangan lain kalau aku juga punya pasangan.
"Aku senang, banget! Aku pikir bakal jadi baygon sampai selesai di sini, eh tahunya suami aku datang. Abang kok tahu aku di sini?"
__ADS_1
"Karna istri abang sengaja ngasih kode dengan ninggalin tiketnya,"
Vada langsung tersenyum, senang dengan kepekaan sang suami.
"Sssst, berisik!" omel sepasang kekasih yang duduk di belakang mereka.
Vada menoleh, "Sirik aja! Dari tadi juga situ yang berisik! Ah uh ah uh! Kalau mau enak-enak di hotel sana!" Vada mengomel balik. Pasalnya pasangan di belakangnya sejak tadi benar-benar meracuni otaknya yang menurutnya sebening embun pagi tersebut.
"Eh situ kok nyolot! Pengin? Dasar ya jomblo! Nggak laku!"
"Wah, benar-benar ngajak gelud! Siapa yang jomblo? Nih lihat suami sah gue!"
"Yakin suaminya? Palingan juga cabe-cabeannya,"
"Wah nyolot. Emangnya situ! ah uh ah uh! belum tentu juga sudah halal!" Vada sudah menaikkan satu kakinya di kursi, bersiap untuk melawan jika perempuan yang duduk di belakangnya tersebut masih ingin berdebat.
Perempuan tersebut langsung diam, membuat Vada tersenyum sinis, sepertinya benar mereka bukan pasangan halal. Tampak sang pria mencoba menentangkan perempuan tersebut supaya tidak cari masalah.
"Udah, duduk, jangan di ladenin!" Elvan hanya bisa menghela napasnya dalam melihat kebar-baran sang istri. Ia memegangi kedua lengan Vada dan memintanya untuk menurunkan kakinya lalu duduk.
Meski perdebatan mereka masih dalam tahap bisik-bisik karena di dalam bioskop, tapi tetap saja mampu menyita perhatian sebagian penonton lainnya. Seolah pemandangan tersebut lebih menarik daripada yang di layar depan.
"Kesal aku tuh, dari tadi mereka yang berisik mende sah, giliran abang datang aja pada sirik! Mana di bilang cabe-cabeannya abang lagi! Apa perlu kita tunjukin buku nikah kita!" Vada masih mencak-mencak dalam gumaman.
Elvan menggelengkan kepalanya, untung dia datang, kalau tidak dan terjadi perdebatan sengit seperti barusan, sudah bisa di pastikan istrinya itu tak akan segan mencakar perempuan di belakangnya tersebut.
"Ssst, abang ke sini buat nemenin kamu nonton, bukan buat lihat kamu mencakar orang. Duduk, tenang, diam dan lihat ke depan!" ucap Elvan sambil mengusap-usap lengan Vada untuk menenangkan.
__ADS_1
Wanita itu patuh. Ia kembali fokus menonton film yang audah setengah jalan tersebut.
ššš