
Vada terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya teras kaku, ia menatap lekat pria di depannya.
"Kok malah berhenti di situ, nggak kangen?" Mirza merentangkan kedua tangannya, mengundang Vada ke dalam pelukannya.
Dengan langkah gamang, Vada mendekat. Meski tahu ini salah, tapi Vada masuk ke dalam pelukan Mirza.
Tanpa Vada sadari, seseorang tengah melihat mereka berpelukan dari dalam mobil yang berhenti di depan cafe. Pria itu mengepalkan tangannya sangat kuat, giginya bergemelutuk menahan amarah. Hancur sudah niatnya ingin memberi kejutan untuk sang istri dengan kehadirannya di cafe.
Elvan yang lupa tidak memberitahu Vada jika ia pulang hari itu, berniat mendatangi sang istri ke cafe karena sudah pasti istrinya itu masih berada di sana. Namun, sayang ia justru harus melihat adegan berpelukan itu di depannya. Tertangkap jelas oleh kedua netra Elvan suasana cafe begitu romantis. Ia bukan orang bodoh yang tak tahu apa artinya itu semua.
"Tuan, apa sebaiknya kita turun dan mengajak nona pulang?" tanya asisten Rio yang lagi-lagi menyayangkan sikap Vada yang seperti tidak ada kapoknya membuat masalah dengan tuan mudanya.
Rio tahu, saat ini Elvan pasti sedang murka karena merasa tak di hargai. Diam-diam istrinya melakukan makan malam romantis bersama kekasihnya di saat suaminya tak di rumah. Bosnya itu masih belum menyadari jika ada yang ia rasakan itu lebih kepada rasa yang namanya cemburu.
"Jalan, yo!" titah Elvan.
Asisten Rio melihat wajah Elvan dari center spion yang ada di dalam mobil tersebut lalu mengembuskan napasnya kasar. Pasti tuan mudanya sangat kecewa dan merasa tak di hargai sebagai suami. Tanpa berniat menambah amarah Elvan dengan banyak bicara, asisten Rio menuruti kemauan Elvan. Ia segera melajukan mobilnya. Padahal kalau dia yang jadi Elvan, sudah ia samperin itu Vada dan pacarnya, ia akan membuat perhitungan saat itu juga.
Namun beda Rio, beda pula Elvan. Jika sudah sangat marah, laki-laki itu justru akan diam dan melampiaskan dengan caranya sendiri.
"Kok Mas Mirza nggak ngomong kalau udah pulang?" ucap Vada setelah pelukan mereka terurai.
"Kan sureprise, sayang. Ini..." Mirza menyerahkan buket bunga mawar merah di tangannya kepada Vada.
Vada menatap Mirza seraya mengernyitkan Keningnya, "Ini semua..."
"Buat kamu, wanita paling sepesial di hati aku," kata Mirza seraya tersenyum.
Mendengar hal itu, dada Vada langsung merasa sesak dan ingin menangis saat itu juga. Ternyata Mirza sengaja menyewa cafe untuk makan malam romantis bersama dengannya. Rasa bersalah itu kembali muncul. Lidah Vada terasa sanagat kelu, ia tak mampu berkata-kata.
__ADS_1
"Ayo, kita makan!" Mirza menuntun tangan Vada dan mengajaknya untuk duduk di tempat yang sudah di siapkan. Vada menaruh bunga pemberian Mirza di atas meja.
Cahaya lampu sedikit di tambah, namun tak mengurangi suasana romantis di sana. Jika tadi lampu di padamkan semua, hanya karena untuk menyambut kedatangan Vada. Lagu romantis mulai dinyanyikan oleh band pengiring.
Sejak pertama melihat Mirza di depannya tadi, hati Vada benar-benar sudah hancur.
"Mas, ini semua apa?" tanya Vada dengan nada bergetar.
Mirza tersenyum, "Seperti yang pernah mas katakan, ada hal yang ingin mas bicarakan sama kamu saat aku kembali,"
Vada meremat jari jemarinya di bawah meja mendengar kalimat Mirza. Ia tahu apa yang akan pria di depannya itu katakan. Dadanya semakin terasa sesak, hingga rasanya ia tak bisa bernapas.
"Kamu juga ada yang mau di bicarakan kan sama mas? Kita makan dulu, baru bicara ya?" ucap Mirza lagi dengan lembut. Jangan lupakan senyumnya yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Vada hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka mulai makan malam. Meski makanan di depannya adalah makanan kesukaannya, namun Vada tak merasa enak sama sekali. Bahkan semua makanan itu terasa pahit di lidahnya. Ia benar-benar kehilangan selera makannya malam itu. Vada menunduk, demi menyembunyikan air matanya yang menetes, mungkin ini akan menjadi makan malam romantis mereka yang terakhir.
Vada segera mengusap air matanya sebelum di sadari oleh Mirza.
Vada mencoba tersenyum, "Iya capek," jawab Vada sekenanya.
"Nanti, kamu tidak perlu lagi capek-capek kerja. Biar aku yang cari duit buat kamu," omongan Mirza sudah mengarah ke tujuannya. Membuat Vada tersedak.
"Hati-hati dong sayang, ini minum dulu," Mirza menyodorkan minum untuk Vada. Vada menerimanya dan langsung minum.
"Aku ke toilet dulu, mas," Vada bangkit dari duduknya.
"Mas tunggu di sini, cepat ya. Mas udah nggak sabar mau ngomong sesuatu sama kamu," timpal Mirza.
Vada mengangguk dan langsung berjalan cepat menuju toilet.
__ADS_1
Sebelum sampai ke toilet, Roni menghentikan langkah Vada, "Are you okey?" Tanya Roni khawatir.
"Bang, kenapa membiarkan mas Mirza melakukan ini semua?" tanya Vada.
"Aku juga bingung Vada, mau nolak, tapi gimana. Dia belum tahu kebenarannya. Nggak mungkin aku yang bilang soal kamu dan tuan muda itu sama Mirza. Harus kamu sendiri. Makanya tadi aku chat suruh kamu cepat ke sini. Kamu nggak berniat menyembunyikan hal ini selamanya dari Mirza kan?"
Vada menggeleng, ia tahu cepat atau lambat Mirza pasti juga akan tahu. Ia hanya belum memiliki kesempatan untuk mengatakannya kepada Mirza.
"Aku tahu, pasti ini berat, sangat berat buat kamu. Tapi kamu harus memilih. Suami kamu bukan orang sembarangan," Roni benar, bahkan Elvan sudah sering mengancam Vada soal hubungannya dengan Mirza.
" Percayalah, semua akan baik-baik saja," Roni menepuk bahu Vada, memberi kekuatan untuk wanita yang sudah ia anggap seperti adiknya tersebut. Roni meninggalkan Vada yang akhirnya melanjutkan langkahnya ke toilet.
Sampai di toilet, Vada membasuh mukanya demi menyamakan air matanya yang sudah tak terbendung lagi. Ia menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Hal itu ia lakukan Berkali-kali sampai perasaannya sedikit tenang.
Vada melihat ke cermin, memastikan jika matanya masih baik-baik saja, tidak kentara jika ia baru saja menangis. Merapikan rambutnya sambil kembali menghela napasnya dalam, mengumpulkan segala keberanian dan kekuatan untuk bicara kepapa Mirza lalu kembali ke meja dimana Mirza menunggunya.
"Maaf mas lama," ucap Vada.
Meski Mirza merasa ada yang aneh dengan kekasihnya malam itu, tapi ia tak menaruh curiga.
Mirza tampak menarik napas dalam lalu mengembuskannya pelan sebelum ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kotak cincin berbentuk cristal. Sangat indah. Tubuh Vada serasa lemas tak bertulang seketika.
Mirza menyentuh tangan Vada, "Vada laras sabrina. Malam ini...akan menjadi saksi bersejarah dalam hidup kita. Dimana malam ini, aku Mirza Aditya Nugraha, ingin mewujudkan mimpi kita berdua, membangun rumah tangga bersama sampai menua. Vada laras sabrina, sayangku. Maukah kamu menikah denganku?" ucap Mirza.
Dunia Vada serasa berhenti berputar. Momen yang paling ia nantikan selama ini, justru terasa begitu menyakitkan, menyayat hatinya tanpa ampun. Matanya sudah berkaca-kaca. Mirza pikir, Vada diam karena sangking terharunya karena komen ini adalah yang paling wanita itu inginkan selama ini.
Mirza mengambil cincin dari tempatnya. Vada menarik tangannya dari genggaman Mirza saat laki-laki itu hendak memasangakan cincin di jarinya. Yang mana membuat Mirza menatapnya penuh tanya.
"Maaf mas, aku nggak bisa," ucap Vada dengan susah payah karena menahan sesak yang begitu menghujam di dadanya. Sebelum mengatakannya hatinya sudah hancur tak berbentuk.
__ADS_1
š¤š¤š¤