Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 23


__ADS_3

"Maksud kamu apa ya, aku beneran enggak ngerti Zora. Erasaan mau aku menggoda Elvan dengan tubuhku pun sah-sah saja, karena dia suami sahku. Maaf ya enggak ada waktu bicara hal yang tidak penting!" Vada acuh dan melangkahkan kakinya, namun dengan cepat Zora menarik tangannya.


Byuuuurr!!!!!


Sedikit menarik tangan Vada, Zora sengaja menceburkan diri ke kolam. Sehingga bagi siapa saja yang melihat, akan berpikir Vada telah mendorongnya.


" Arghh Vada tolong aku, aku ngga bisa berenang. Tolong!" Zora berteriak meminta tolong sambil gelegapan. Sungguh akting yang sempurna.


Lupa jika dirinya juga tidak bisa berenang, Vada yang memang tidak bisa melihat orang lain kesusahan, tidak peduli itu musuh atau teman, ia langsung menceburkan diri ke kolam renang tersebut.


Alhasil, bukannya Zora yang gelagapan lagi melainkan Vada. Zora tersenyum sinis lalu berenang ke tepi, tak mempedulikan Vada yang meminta tolong dan hampir tenggelam. Ia justru menikmati pemandangan yang ada di depannya.


"Hah, Mam pus aja sekalian kamu, Vada," batinnya senang sambil duduk di tepi kolam.


Elvan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya bersama asisten Rio menuju ke ruang billiard, tak sengaja menoleh ke arah kolam renang dimana Vada sedang berusaha bertahan untuk tidak tenggelam.


" Vada?" gumamnya heran dan langsung berlari menuju ke kolam. Ia tahu jika istrinya itu tiada bisa berenang.


Elvan langsung melompat ke kolam. Untuk menolong Vada, ia membawa Vada ke tepi lalu membantunya naik ke atas. Wanita itu langsung terbatuk-batuk.


Zora yang terkejut karena kedatangan Elvan yang tiba-tiba langsung berjalan pelan mendekati Vada.


"Apa yang kau Lakukan? Kau mau mati, Hah?" tanya Elvan setengah membentak, ia khawatir sebenarnya tapi tidak bisa mengungkapkan ya dengan baik-baik.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya asisten Rio.


"Aku...." Vada masih berusaha mengatur napasnya.


"Vada, kamu nggak apa-apa? Kalau nggak bisa berenang kenapa malah mau nolongin aku sih, harusnya tadi biarin aja aku tenggelam. Jangan bikin drama begini, kamu yang dorong aku tapi kamu yang jadi korban pada akhirnya," tutur Zora.


Elvan menoleh. Bahkan ia tidak memperhatikan jika tadi ada Zora di sana.


Mendorong? Hah, Vada tidak percaya ini, kenapa Zora pintar sekali memutar fakta dan memfitnahnya.


" Siapa yang mendorongmu? Justru aku mau menolongmu karena kamu bilang tidak bisa berenang tadi, Zora,," sahut Vada.


Mbok Darmi buru-buru datang membawa handuk untuk Vada dan Zora.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini, cah ayu. Kamu nggak apa-apa?" tanya mbok Darmi sambil. Menyelimutkan handuk di tubuh Vada.


" Nggak apa-apa, mbok," jawab Vada.


"Kakak, lihat kan. Sepertinya memang Vada tidak meyukaiku, waktu itu dia buat aku alergi, semalam nuduh aku yang meneror dia, sekarang dia dorong aku ke kolam dan dia sengaja nyebur ke dalam padahal dia nggak bisa berenang, keliatan banget pengin fitnah aku, kak," rengek Zora.


Vada benar-benar salut dengan mulut manis si Zora ini, benar-benar sepertinya gadis itu kebanyakan melihat drama ikan lele. Meski tinggal dan kuliah di luar negeri tapi jiwa drama ikan lelenya juara banget, pikir Vada.


"bukannya kamu jago berenang, Zora?" tanya Elvan yang langsung membuat Zora gelagapan sendiri.


"Itu, tadi aku langsung kram kak. Kan Vada main dorong aja, jadi aku nggak pemanasan dulu. Salahku apa sih Vada sama kamu, padahal tadi aku cum nanyain kabar kamu hari ini, tapi malah gini. Kan, kakak jadi nggak percaya sama aku, di kiranya aku yang jahayin kamu,"


Apa? Kram? Jelas-jelas tadi gadis itu berteriak tidak bisa berenang, sekarang bilang kram. Benar-benar, licin lidahnya.


"Aku tidak selicik dan sebodoh itu, rela mencelakai diri sendiri hanya untuk menjatuhkan orang lain, aku terlalu sayang dengan nyawaku sendiri," ucap Vada.


"Semoga saja lidah kamu nggak keseleo ya, Zora. Takutnya karena terlalu licin kebanyakan fitnah orang, jadi keseleo lidahnya jadi merot," imbuhnya setenang mungkin.


Tentu saja, mendengar ucapan Vada, Zora menjadi murka.


"Cukup Zora!" bentak Elvan.


Zora terkejut, pun dengan yang ada di sana. Mereka tahu, selama ini Elvan tidak pernah bicara kerasa apalagi sampai membentak Zora. Ia justru selalu memanjakan gadis tersebut.


"Kakak...."mata Zor sudah berkaca-kaca.


" Kalau kamu kram, kenapa bisa menepi?" tembak Elvan langsung.


" Itu... Itu karena tadi aku merasa lebih baik jadi aku menepi kak, tapi untuk menolong Vada tidak bisa, kakiku masih kram meski tidak separah awal nyebur. Ini semua sengaja Vada lakukan kak, percayalah kak, dia mendorongku. Kalau tidak percaya tanya pelayan kakak, "


Semua orang melihat ke arah pelayan yang tadi memberi tahu mbok Darmi sekaligus mengambil handuk.


"Yang saya lihat memang begitu, tuan muda," ucap pelayan itu takut-takut.


"Tuh kan kak, aku nggak bohong, dia memang sengaja. Untung aku nggak tenggelam tadi karena kram," rengek Zora manja.


Rahang Elvan seketika mengeras. Pelayan itu menatap Vada memohon ampun atas apa yang sudah ia katakan. Vada tak bisa menyalahkan pelayan tersebut, ia hanya mengatakan apa yang ia lihat dari kejauhan.

__ADS_1


Vada mengangguk kepada pelayan tersebut sebagai tanda ia baik-baik saja akan pernyataannya.


"Zora, kamu bersihkan diri setelah itu temui aku di ruang kerja!" ucap Elvan sambil menggendong tubuh Vada.


"Tapi kak,..."


"Biar dia jadi urusanku!" Elvan menunjuk Vada dengan dagunya, wajahnya tetap dingin cenderung datar.


"Baiklah," jawab Zora. Ia yakin, kali ini Vada tidak akan selamat.


"Non, Zora. Mari simbok ntar ke kamar!" tawar mbok Darmi. Sementara asisten Rio memutuskan menunggu tuan mudanya di ruang kerja.


Sepanjang jalan menuju ke kamar, Elvan tak bersuara sedikitpun. Laki-laki itu terus berjalan tanpa sekalipun menatap sang istri dalam gendongannya.


Vada terpaksa melingkarkan kedua tangannya di leher Elvan karena ia takut jatuh. Wanita itu hanya bisa menatap rahang kokoh suaminya sambil terus menerka-nerka apa yang kini ada dalam pikiran laki-laki tersebut.


Apakah marah? Sudah pasti, apalagi setelah mendengar pernyataan pelayan tadi. Lalu bagaimana nasibnya setelah ini? Sangat bersyukur jika Elvan marah lalu mengusirnya dari hidup Elvan selamanya. Ia bisa bebas dari jerat sang Mr. Introvert tersebut.


Tapi, jika sebaliknya? Bagaimana jika laki-laki itu semakin terobsesi untuk memenjarakannya dalam pernikahan ini dan semakin tertarik untuk menyiksa jiwa dan raganya.


Tes!


Tetesan air dari rambut Elvan yang masih basah, menyadarkan Vada dari lamunannya bersamaan dengan tubuhnya yang mendarat pelan di atas tempat tidur. Aneh, laki-laki itu membaringkannya dengan sangat hati-hati.


Vada langsung berinisiatif duduk. Ia takut kasur empuk berharga ratusan juta itu akan basah dan dia di suruh mengeringkannya, repot sudah pasti.


Ia terus memerhatikan Elvan yang sigap mencarikan baju ganti untuk Vada, "Cepat ganti bajumu!" titahnya melempar baju yang baru saja ia ambil tersebut ke wajah Vada.


Vada segera turun dari ranjang hendak ke kamar mandi, "Bersikap baik kok setengah-setengah," gumamnya dalam hati. Heran dengan sikap lembut namun kasar suaminya tersebut.


"Ganti saja di sini!" suara bariton Elvan menghentikan langkah Vada.


"Di kamar mandi saja tuan, kalau aku ganti di sini, nanti ada yang bangun. Aku sedang tidak bertenaga untuk menidurkannya," ucap Vada jujur. Ia benar-benar lelah jiwa raga saat ini.


Elvan langsung mengatup lalu menundukkan pandangannya ke arah dedek gemesnya. Detik kemudian ia mendengus, membenarkan ucapan istrinya barusan.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤

__ADS_1


__ADS_2