
Acara makan malam selesai, Elvan langsung naik ke atas.
"Setelah ini, cepat ke kamar! Ada yang perlu kau jelaskan!" ucap Elvan kepada Vada sebelum Elvan meninggalkan meja makan. Vada tak menyahut, ia hanya melongo menatap punggung suaminya yang sudah melangkah pergi.
"Dia kenapa sih mbok? Tadi perasaan baik-baik saja,"
"Apa kamu buat masalah, cah ayu?" tanya mbok Darmi.
Vada menggeleng, "Masalahku ya cuma kejutan ini tadi. Tapi kayknya kan berhasil ya, lihat sendiri kan mbok tadi baik-baik saja,"
Mbok Darmi tersenyum, "Ya sudah tidak apa-apa kalau begitu, mungkin ada sesuatu yang ingin tuan bicarakan sama kamu, berdua," ucap mbok Darmi penuh arti.
"Simbok ke dalam dulu ya, kamu cepat naik. Jangan buat tuan muda menunggu lama,"
Vada mengangguk. Sepeninggalnya mbok Darmi, Vada melihat punggung asisten Rio yang kini sudah melangkah sampai teras. Ia ingat, belum membuat perhitungan dengan laki-laki sombong yang tak mau membalas pesannya tersebut.
" Asisten Rio tunggu!" sergahnya.
Asisten Rio langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh, "Ya, nona?"
Vada mendekat, jari telunjuknya siap menunjuk asisten Rio, "Heh! Kenapa pesan-pesanmu jarang sekali di balas? Bahkan teleponku tidak pernah diangkat! Sombong sekali kau ini! Giliran di ajk selingkuh baru mau balas, itupun cuma singkat, jangan coba-coba doang!" ucap Vada smbil menunjuk-nunjuk pria di depannya.
Asisten Rio menautkan kedua alisnya, ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan Vada.
"Kan diem, duh sok polos banget sih. Gaya banget. Jangan sombong ya, aku tadi ngechat ajak selingkuh cuma tes doang, jangan GR! Dikiranya nanti beneran lagi! No baper apalagi ngarep dot kom!" kata Vada berapi-api.
Asisten Rio menghela napasnya, saat ingin bicara, Vada kembali bersuara.
"Dih diam aja, emang ya sebelas dua belas sama yang lagi di lantai atas. Ngomong dong ah! Nggak asyik kalau aku nggak di debat! Malah diem-diem bae! Balas kek, apa kek. Di sini yang punya mulut buka cuma aku aja, tapi kamu juga. Gunain buat bicara! Huh!"
"Oesan yang mana yang Anda maksud? Maaf nona, tapi saya tidak pernah menerima pesan apapun, apalagi yang mengajak saya selingkuh, Permisi!" kata asisten Rio, ia langsung balik badan dan melanjutkan langkahnya.
"Dih, gayanya nggak pernah nerima pesan. Sombong di pelihara! Padahal dia sendiri yang ngasih nomornya waktu itu biar aku bisa tahu jadwal suami beruang kutubku pulang,"
Mendengar ucapa Vada, kini asisten Rio mengerti penyebab berubahnya mood Elvan secara tiba-tiba siang menjelang sore tadi. Ia kembali berhenti dan menoleh.
" Waktu itu saya sudah katakan, hati-hati jika berkirim pesan. Sekarang sebaiknya Anda masuk dan jelaskan kepada tuan muda!" kata Asisten Rio, sebelum akhirnya ia benar-benar melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
Vada mematung di tempatnya berdiri, ia mencerna setiap kalimat yang tadi keluar dari mulut asisten Rio.
" Dia nggak pernah nerima pesan dariku? Dan... Dia nyuruh aku hati-hati dan jelasin kepada Elvan? Apa maksudnya?" gumam Vada tampak berpikir sambil berjalan masuk. Kepalanya terus loading mencari jawaban.
"Astaga!" pelik Vada saat menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Ia berhenti lalu menoleh, "RIOOOOOOOOOO!!!!!" teriaknya kesal.
Vada sadar, rupanya selama ini ia di kerjai oleh laki-laki itu. Benar-benar asisten durhakim, pikirnya.
"Ah benar-benar! Dasar asisten nggak ada akhlak! Nyebelin! Ngeselin banget sih! Iseng banget sih jadi orang! Nambah PR aja!" grutunya sambil menghentakkan kakinya di lantai.
Vada menatap lantai atas, ia berjalan malas menaiki anak tangga sambil berpikir apa yang akan ia katakan kepada suaminya. Menjelaskan, sudah pasti. Di hukum? Memikirkannya, Vada malah tersenyum, pasti hukumannya juga tak jauh-jauh dari ranjang, pikirnya.
Ceklek!
Pintu terbuka, pelan-pelan Vada melangkah masuk. Jika tadi di tangga ia masih bisa senyum-senyum membayangkan hukuman enaknya, tapi begitu masuk ke kamar, auranya langsung berubah menjadi mencekam. Ia hanya bisa menundukkan kepala tak berkutik.
"Tuan, aku bisa jelaskan," ucapnya langsung, memberanikan diri mengangkat kepalanya. Menatap Elvan yang sedang menatapnya tajam. Dengan tangan bersedekap dada.
"Apa?" tanya Elvan dingin.
"Soal chat siang tadi, aku cuma bercanda. Sumpah nggak bohong. Aku pikir kan itu nomornya asisten Rio, jadi aku isengin dia biar balas chatku. Eh nggak tahunya itu nomor tuan, asem banget emang si Rio itu. Malah ngerjain aku, coba! Belum ngerasain di pites sama aku kayak kutu, makanya kurang ajar!" Eh kok malah menggerutu, Vada merutuki mulutnya yang selalu tak berfilter.
Mendengarnya, Elvan tersenyum samar, bahkan Vada tidak melihatnya.
" Lalu?" tanyanya menatap sang istri smbil bersedekap di dada.
"Lalu...." Vada bingung, kenapa harus ada lalunya sih, makin panjang aja, pikirnya.
"Lalu.... ya kalau tetap mau di hukum, tidak apa-apa. Hukum saja! Tapi bukan sepenuhnya salahku ya, salah si Rio tuh, yang ngasih nomor tuan! Padahal kan aku mintanya nomor dia!"
"Kenapa tidak minta nomorku langsung?"
Skak Matt! Vada mati kutu, dia mau jawab apa coba. Tetap saja pada akhirnya dia salah.
"Itu, karena..... Aku nggak mau ganggu tuan. Iya, itu alasannya!" tiba-tiba Vada menemukan jawaban pembelaan.
"Begitu? Lalu?"
__ADS_1
Vada mendengus pasrah, "Lalu lagi," keluhnya dalam hati.
"Bagaimana dengan suami beruang kutub? Bisa di jelaskan, Nevada!" ucap Elvan menggertak.
Vada meringis, kesalahan fatalnya yaitu tanpa di saring selalu menyebut suami beruang kutub setiap kali mengirim pesan. Berpikir, berpikir dan berpikir....
"Ah itu, karena... Tuan kan banyak uang, jadi ya beruang artinya memiliki uang. Kalau kutub... Karena banyak uang jadi rasanya nyes gitu, adem hidupnya. Menyejukkan. Apalagi aku memang suka sekali sama beruang kutub, lucu! Bikin gemes! Cita-citaku pengin banget bisa photo di kutub sana langsung sama beruang kutubnya. Begitu, tuan. Pokoknya karena aku suka bangetlah sama beruang kutub, aku kan sering lihat ice bear di televisi, lucu banget, pengin peluk terus! Gumushhh!" celoteh Vada sekenanya, apa-apa yang terlintas di kepalanya, ia katakan saja. Mau Elvan percaya dengan celotehan absurdnya tau tidak yang penting usaha. Haha, Vada tertawa sendiri dalam hatinya karena omong kosongnya.
Elvan menatap lekat Vada saat bicara panjang lebar tanpa jeda. Seulas senyum terbentuk di bibirnya. Entah karena merasa lucu dan gemas melihat istrinya yang sedang bicara, atau karena Vada bilang ia sangat menyukai beruang kutub alasan menyebutnya sebagai suami beruang kutub. Entahlah. Yang jelas, Vada melihat senyum itu! Iya dia melihatnya!
"Tuan, tersenyum ya?" tanya Vada langsung.
Air muka Elvan langsung berubah datar, " Tidak! Siapa yang tersenyum," sanggahnya, namun aura hangat masih terpancar dari wajahnya.
"Enggak salah lihat kok, beneran! Aku barusn lihat tuan tersenyum!" ucap Vada girang. Melihat suaminya tersenyum seperti mendapat jarum di tumpukan jerami rasanya. Atau seperti dia baru saja memenangkan tiket nonton konsen BTS kelas VVIP.
Elvan langsung melengos demi menyembunyikan senyumnya yang kini semakin kentara.
"Cieee, benar kan, itu tersenyum! Ya ampun! Kan ganteng kalau tersenyum begini," ucap Vada jujur. Ia kini sudah berada tepat di depan Elvan. Ia menunduk dan sedikit memiringkan kepalanya, mendongak ke atas demi melihat lesung pipi suaminya. Hatinya meleleh seketika, benar-benar sebuah keajaiban, seperti habis menemukan seperti emas harta karun, menyilaukan hati, pikirnya.
"Nevada!" bentak Elvan karena kelakuan istrinya membuatnya menjadi salah tingkah. Namun, tetap dengan bahasa tubuh yang kaku dan tersembunyi.
"Nggak apa-apa tersenyum juga. Nggak salah, malah senyum itu ibadah! Dan juga membuat awet muda, meski sudah tua, hihi!" ucap Vada tersenyum. Ia tak mengindahkan bentakan Elvan barusan. Karena ia tahu, laki-laki itu tak serius marah.
Elvan mendengus, ia lalu memilih pergi meninggalkan wanita itu. Jika lama-lama di sana, bisa-bisa jantungnya semakin bermasalah.
"Banyak-banyakin senyum ya tuan! Ingat senyum itu ibadah. Dan senyuman tuan itu, harus di lestarikan karena langka!" teriak Vada tersenyum. Ia lalu mengembuskan napasnya llu duduk di tepi ranjang. Seperti memikirkan sesuatu. Raut wajahnya yang sejak tadi ceria, kini berubah sendu, begitulah Vada dia akan selalu ceria di depan orang lain.
Elvan yang masih berada di balik pintu, hanya bisa menghela napasnya sambil menggelengkan kepalanya. Tangannya memegangi dada kirinya," Benar-benar membuat jantung tidak sehat!" gumamnya dalam hati.
š¤š¤š¤
š š
Like dan komennya jangan lupa... Votenya juga boleh buat Vada kalau masih ada šš
Terima kasih..
__ADS_1
Salam hangat author š¤ā¤ļøā¤ļø
š š