
Sementara itu di sebuah rumah...
Tok tok tok, "Mirza buka pintunya nak, mama bawa sarapan buat kamu!" ucap mama Sofia.
Dengan langkah malas, Mirza berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Melihat penampilan putranya yang acak-acakan membuat hati Mama Sofia terasa sakit. Sudah terhitung beberapa hari setelah putus dari Vada, putranya itu menjadi seperti kehilangan semangat hidupnya.
"Sarapan dulu, sayang. Semalam kamu nggak makan malam kan?" ucap mama Sofia sambil melangkah masuk.
"Aku masih kenyang," sahut Mirza datar.
Mendengarnya, mama Sofa menarik napas dalam lalu mengembuskannya pelan. Ia meletakkan nampan di atas nakas.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, sayang? Sudah berapahari kamu seperti ini, mungkin memang Vada bukan jodoh kamu dan kamu harus bisa menerimanya dengan lapang" ucap mama Sofia lembut.
Mirza mendekati mama Sofia yang duduk di tepi ranjang," Apa salah Mirza, ma? Kenapa Vada tega melakukan ini sama aku? Apa salahku?" ucapnya sendu. Ia benar-benar masih belum bisa menerima begitu saja keputusan sepihak Vada yabg mengakhiri hubungan mereka. Mirza menjatuhkan kepalanya di bahu mama Sofia. Ia memang belum bicara dengan siapa-siapa beberapa hari terakhir, masih menikmati kekecewaan dan rasa sakit hatinya seorang diri. Ia menghabiskan waktu dengan bekerja selebihnya untuk menyendiri.
"Maafin mama, seandainya dulu mama dan papa tidak keras kepala. Seandainya mama dan papa merestui hubungan kalian lebih cepat, mungkin tidak akan begini jadinya. Maafkan mama, ini semua salah mama," mama Sofia mulai terisak. Seandainya ia lebih awal memberikan restu mungkin kini putranya sudah bahagia menikah dengan Vada, pikirnya. Melihat putranya seperti itu, ia benar-benar merasa bersalah dan menyesal.
"Ini bukan Salah mama, mungkin memang takdir yang kejam kepadaku, ma," sahut Mirza.
"Jangan ngomong begitu, sayang. Tuhan pasti selalu memberikan yang terbaik buat kita, mungkin memang bahagiamu yang sebenarnya tidak bersama dengan Vada. Kamu pasti bisa, pasti akan mendapat ganti yang terbaik,"
"Yang terbaik dan yang bisa buat aku bahagia selama ini cuma Vada ma, dia semangatku, bertahan-tahun aku sama dia dan hubungan kamu baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba jadi begini? Nggak mudah buat aku lupa begitu saja. Aku yakin, Vada pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Aku yakin dia juga sebenarnya masih cinta sama aku, ma," ucap Mirza, ia ingat kata-kata Roni yang mengatakan kalau ini juga pasti tidak mudah untuk Vada.
Mirza berusaha mencerna kata-kata itu, dan ia yakin jika Vada terpaksa menjalani pernikahannya.
Mama Sofia tampak berpikir bagaimana supaya Mirza tidak terus-terusan meratapi kesedihannya.
"Hari ini kamu antar mama mama, ya? Mama mau belanja, ada yang harus mama beli," ucap mama Sofia kemudian.
"Aku lagi malas ma, minta pak Yanto aja buat antar," sahut Mirza.
"Jangan gitu dong sayang, udah lama kamu nggak nemenin mama shopping. Biasanya kamu sibuk terus ke luar kota. Ini mumpung kamu di Jakarta, temenin mama ya? Nanti kan kalau udah sibuk lagi juga nggak ada waktu buat mama lagi, mama jadi selalu kesepian," rengek mama masih berusaha.
"Ya udah nanti aku temenin, sekarang mama keluar dulu. Aku mau mandi!" kata Mirza akhirnya.
"Beneran ya, kita kencan berdua hari ini? Jangan lupa di makan, kan nggak lucu anak mama yang ganteng ini nanti pingsan di Mall gegera kurang makan," ujar Mama Sofia tersenyum.
"Iya," sahut Mirza pendek sambil berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
ššš
Elvan tengah memakrikrkan mobilnya di sebuah mall besar. Ia menoleh ke samping ternyata istrinya ketiduran.
"Pantas, dari tadi diam aja nggak ngoceh," batin Elvan.
Beberapa saat, Elvan menunggu Vada bangun. Ia tak tega membangunkannya karena terlihat sekali jika sang istri kelelahan akibat ulahnya semalam dan pagi tadi. Ia hanya tersenyum tipis jika mengingat kegilaan mereka semalam. Dimana ia benar-benar tidak bisa move on dari kenikmatan dunia yang di suguhkan oleh sang istri.
Elvan menjatuhkan kepalanya miring menghadap Vada di atas setir mobil, ia terus memandangi wajah istrinya sedang tidur itu. Meski sedikit mangap tapi masih tetap cantik. Hingga akhirnya wanita itu mengerjap.
"Ehhh, tuan. Aku ketiduran ya? Ya ampun maaf, kenapa nggak bangunin sih kalau udah sampai," ucap Vada yang di balas senyuman oleh Elvan.
"Eh malah cuma senyum aja ini tuan suami, lama nggak aku tidurnya?" tanya Vada.
"Tiga puluh menitan," sahut Elvan yang tetap dengan posisinya.
"Ya ampun, kenapa nggak di bangunin akunya. Pasti marah kan karena nungguin lama,"
Elvan tak menyahut, ia memilih melepas seat beltnya, "Ayo turun!" ajaknya.
"Sebentar!" Vada merapikan rambutnya menggunakan jari jemarinya. Ia menurunkan kaca spion tengah untuk melihat penampilannya apakah berantakan atau sudah rapi.
"Yah, kok kelihatan agak pucat ya nggak seger gitu, pasti gegera kecapekan, apa perlu dandan dulu ya?" ucapnya karena tadi ia hanya memakai skincare dan juga lip balm saja.
Yang mana membuat Vada langsung menoleh dan menatap suaminya heran, "Ini pucat mukaku, kurang tidur. Mungkin butuh sedikit polesan, bibirnya juga perlu lipstik biar merah bibirnya nggak pucat kayaknya ini,"
"Udah nggak usah aneh-aneh. Ayo, dandan juga buat siapa, aku suka yang begini!" Elvan turun duluan dari mobil.
Vada sedikit mencebik, namun ia menurut. Menyusul suaminya turun.
Saat berjalan, Vada melihat lengan suaminya, "Apa?" tanya Elvan.
"Boleh gandeng nggak? Biar kayak pasangan lainnya. Anggap aja ini kencan kita yang pertama," kata Vada malu-malu.
"Sini!" Elvan menarik tangan Vada supaya menggandeng lengannya. Wanita itu langsung tersenyum.
"Ayo jalan, keburu mallnya tutup!" seloroh Vada. Ia menarik lengan suaminya.
Setelah membeli beberapa pakaian sesuai Janji Elvan, kini mereka belanja kebutuhan dapur.
Elvan bertugas mendorong troli di belakang Vada. Wanita itu asyik mengambil apapun yang ia butuhkan.
__ADS_1
Setiap mengambil barang, Vada selalu menoleh dan tersenyum kepada suaminya, ia akan dengan senang hati meletakkannya di troli jika Elvan mengangguk setuju.
"Sekarang ke lorong sana buat cari tissu," kata Vada dan Elvan hanya mengikuti setiap langkahnya.
"Ambil satu dua tiga... Ah kita butuh banyak tuan tissunya. Suka heran kenapa bisa boros banget kalau tissu tuh, padahal enggak aku cemilin loh," selorohnya seraya terkekeh. Elvan langsung mengacak rambutnya gemas meski dengan wajah datarnya.
Vada mengerjapkan matanya saat melihat troli yang sudah penuh.
" O ow... Heee maaf aku khilaf," ucapnya tersenyum menatap Elvan.
"Apakah masih boleh membeli yang lainnya?" sambung Vada cepat. Bibirnya langsung tersenyum ketika Elvan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis, "Belilah apapun yang kita butuhkan," ucapnya.
Setelah mengambil satu troli lagi, mereka kembali berkeliling mencari apa saja yang mereka butuhkan seminggu ke depan.
Karena lelah, Vada duduk di atas troli dan di dorong oleh Elvan. Bahkan mereka bermain-main dengan troli tersebut layaknya mainan anak kecil.
"Ayo ke sana, aku mau beli buah!" seru Vada dan Elvan langsung mendorongnya tempat yang di tunjuk Vada. Vada merentangkan kedua tangannya dan menggoyang-goyangkan kakinya saat troli yang ia duduk di dorong suaminya. Tak jarang membuat mata tertuju kepada dua sejoli tersebut. Namun, Vada dan Elvan cuek saja tak peduli.
"Kita perlu banyak buah juga ini biar sehat," gumam Vada.
Tiba-tiba troli tersebut tak sengaja menubruk seseorang yang sedang berdiri di depan mereka karena mungkin Elvan sedikit kencang mendorongnya.
"Maaf, kami tidak sengaja," kata Vada tanpa berniat turun dari troli.
Pria yang di tabrak itu menoleh dan betapa terkejutnya Vada karena pria itu adalah Mirza.
"Mas Mirza?"
"Vada?" Mirza juga tak kalah terkejutnya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu di sana saat ia mengantar mama Sofia belanja.
Suasana menjadi sedikit tegang ketika Mirza Menatap Elvan yang hanya diam saja dengan wajah datarnya namun tangannya mencengkeram kuat dorongan troli.
Vada benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang, kenapa bisa kebetulan sekali mereka bertemu di sana, di saat ia dan Elvan sedang berusaha memulai kehidupan rumah tangga mereka.
"Tuan Adhitama, apa kabar?" Mirza mengukuhkan tangannya kepada Elvan dengan nada dingin.
Elvan menyambut ukuran tangan Mirza, "Seperti yang anda lihat, tuan Mirza. Sangat baik," sahut Elvan tak kalah dinginnya.
Beberapa saat lamanya mereka terpaku dalam posisi mereka berjabat tangan. Baik Elvan maupun Mirza sama-sama kuat mencengkeram tangan mereka satu sama lain dengan sorot mata yang tidak bisa dibohongi jika keduanya saling memendam benci dengan alasan masing-masing.
Mirza membenci Elvan karena telah merebut Vada darinya, sementara Elvan membenci ya karena yang ia tahu sampai sekarang Mirza masih menempati ruang di hati Vada. Namun keduanya tetap berpura-pura profesional karena ada urusan bisnis di antara keduanya.
__ADS_1
ššš