Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 68


__ADS_3

Di seberang jalan, Mirza yang baru saja turun dari mobilnya rupanya menyaksikan kemesraan Vada dan Elvan. Ia sengaja datang untuk menemui Vada siang itu. Ia mengepalkan tangannya karena kesal melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit tersebut.


"Roni bilang kamu juga sama sulitnya menerima semua ini, tapi kenapa yang aku lihat berbeda? Semudah itulah kamu melupakan semuanya tentang kita?" gumamnya dalam hati.


"Ehm, bau-bau kecemburuan nih!" tiba-tiba gadis remaja ikut nimbrung di samping Mirza yang melihat ke arah florist dengan tatapan nanar.


Mirza mengembuskan napasnya kasar saat menoleh dan melihat gadis yang ia temui di taman malam itu.


"Hai om. Ketemu lagi kita," ucap gadis itu tersenyum ceria, menunjukkan rentetan gigi putihnya. Jangan lupakan gigi gingsulnya yang membuatnya semakin manis. Ia memakai jaket untuk menutupi seragam sekolahnya.


Mirza tak menyahut, ia masih menatap ke florist, menunggu perginya Elvan dari sana supaya ia bisa mengajak bicara Vada berdua.


"Jadi kakak itu yang bikin om patah hati waktu itu ya? Emm cantik ya. Pantas om sampai nangis waktu itu. Eh tapi, itu siapa yang nyuapin dia? Wahhh om di tolak karena kakak itu lebih milih om yang itu ya? Hem i see i see! Kalau jadi kakak cantik itu sih aku juga bakal milih om itu kayaknya. Eh tapi, aku pilih om aja! Om lebih kalem kayaknya orangnya. Aku suka yang adem-adem gini, jadi berasa di lindungi gitu. Om move on sama aku aja, aku mau punya suami kayak om gini, dewasa. Oh ya, cincin om waktu itu masih di aku loh, mau aku pakai masih agak kebesaran di jari manis aku, nanti lah tunggu sampai pas," celoteh gadis remaja yang entah datang dari mana tersebut tanpa jeda


Mirza memperhatikan gadis cerewet itu yang memakai seragam rok berwarna biru tua yang artinya gadis itu masih duduk di bangku SMP.


"Kamu bukannya sekolah yang benar malah keluyuran," ucap Mirza. Ia memilih masuk ke dalam mobilnya daripada harus mendengar ocehan absurd dari gadis itu. Namun tak di sangka, gadis itu malah ikut masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu ngapain?" tanya Mirza.


"Numpang neduhlah om. Panas banget, emang nggak kasihan sama gadis cantik kayak aku yang kepanasan, ntar jadi nggak berkilau lagi dong akunya," ucap Helena percaya diri.


"Keluar!" usir Mirza tegas.


"Nggak mau!" tolak Helena tak kalah ngegas.


"Keluar saya bilang!" usir Mirza lagi.


"Aku menolak keluar!" Helena justru semakin meringkuk di dalam mobil karena ia melihat bodyguardnya yang sedang celingak-celinguk mencarinya karena lolos dari pengawasan mereka.

__ADS_1


Mirza hendak membuka pintu mobilnya untuk memberi tahu bodyguard Helena kalau gadis itu ada di mobilnya, tapi Helena langsung menarik tangannya dan memohon untuk tidak memberitahunya.


"Jangan om, Please! Kali ini aja bantu aku, aku nggak mau balik ke sekolah lagi buat hari ini. Gara-gara bodyguard suruhan mama ngintilin aku ke sekolah, aku jadi bahan ledakan teman-temanku tadi om, aku nggak mau mau dia nangkap aku, Please,," mohon gadis itu dengan mimik wajah menyedihkan namun sangat imut. Hampir saja Mirza terhipnotis oleh keimutan gadis itu, namun ia segera sadar, gadis itu masih bau kencur.


Entah memiliki masalah apa gadis itu hingga kemana-mana harus diikuti oleh bodyguard dan terlihat jelas sekali jika gadis itu tak nyaman.


"Hah, menyusahkan saja!" gumam Mirza kesal.


Helena tersenyum karena Mirza tak jadi memberi tahu bodyguardanya, "Makasih om, emang calon suami masa depan. Baik banget deh!"


Mirza menggeram frustrasi. Seketika ia memijit pelipisnya, baru saja putus dari Vada eh malah bertemu dengan gadis abg yang udah ngebet pengin nikah.


Dari dalam mobilnya, Mirza melihat bu Sukma datang.


Bu Sukma mengamati mobil mewah milik Elvan yang terpakir di depan toko.


Bu Sukma tak menyadari apa yang sedang terjadi di dalam toko, ia sibuk membenahi pakaiannya karena akan bertemu pemilik mobil mewah yang ia pikir pembeli sultan tersebut. Ia harus berpenampilan seelegan dan sewowo mungkin. Tepat di depan pintu, bu Sukma membungkuk karena tali high heelsnya lepas satu.


"Kayak kenal," gumam Vada yang melihat seseorang sedang membungkuk membenarkan heelsnya di depan pintu.


"Astaga! Bu Suk!" tanpa ba bi bu, Vada langsung menarik Tangan Elvan supaya ikut dengannya sebelum ketahuan bu Sukma.


"Kenapa?" tanya Elvan.


Vada terus menarik tangan Elvan hingga sampai depan toilet. Pria itu hanya menurut saja namun terus bertanya kenapa dan ada apa.


"Ssssttt,," Ucap menempelkan jari telunjuknya di bibir Elvan. Langsung saja di gigit pelan oleh Elvan jarinya.


"Ih abang!" Vada mengusap-usapkan jari telunjuknya di dada Elvan.

__ADS_1


Elvan hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Lagian kamu main tarik-tarik aja, ada apa sih?"


"Ada bos aku di luar," ucap Vada harap-harap cemas.


"Oh, ya udah nggak apa-apa biar abang ketemu sekalian," ucap Elvan santai. Ia hendak melangkah keluar, namun Vada langsung mencegahnya.


"Ih, jangan dulu. Bukan waktu yang tepat, nanti bos aku bisa-bisa pingsan kalau tahu abang suami aku. Abang sembunyi dulu deh, biar aku usir dia,"


Elvan mengeratkan Keningnya, baru kali ini ia melihat karyawan yang kurang ajar sama bosnya. Bagaimana tidak, masa iya Vada mau mengusir bosnya dari tokonya sendiri.


Vada sudah membungkam bibir Elvan enggan bibirnya sebelum pria itu mengeluarkan ceramahnya.


"Kamu nakal ya?" ucap Elvan.


"Bukan gitu, abang asuk dulu, sembunyi di dalam Please!" Vada kembali membungkam bibir Elvan, kali ini ia tak melepas ciumannya sambil terus mendorong tubuh Elvan yang hanya nurut saja berjalan mundur hingga akhirnya masuk ke dalam toilet. Setelah memastikan suaminya sudah berada di dalam toilet, Vada langsung melepas ciumannya. Dengan cepat ia keluar dan menutup pintu toilet tersebut.


Vada kembali membuka sedikit pintu toilet, memastikan jika suaminya baik-baik saja di dalam. Ia meringis melihat wajah suaminya yang menatapnya tajam.


"Cuma sebentar doang, jangan di tekuk begitu mukanya. Nanti aku kasih kiss yang banyak. Muach Muach muah!" Vada langsung menutup kembali pintu toilet dan menguncinya dari luar.


Elvan langsung mengusap wajahnya kasar, baru kali ini ada yang berani kurang ajar seperti itu, mengurungnya di toilet sekecil itu. Mana pengap dan bau lagi. Benar-benar Nevadanya, sungguh luar baisa, nyalinya.


Elvan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia lalu duduk di atas closet duduk yang ada di sana dengan wajah pasrah menahan kesal.


"Gini amat punya istri Nevada,"


"Untung istri sendiri, cantik pula," gumamnya lagi diiringi dengusan panjang.

__ADS_1


__ADS_2