Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 89


__ADS_3

Ingin sekali rasanya Elvan mengatakan hal itu kepada Vada. Ia ingin mendapat pengakuan cinta dari sang istri. Tapi, mulutnya tak cukup berani untuk mengatakannya. Ia hanya bisa mengatakannya dalam hati saja.


Bagaimana mungkin ia tega terlalu serakah. Sudah menjerat wanita yang ia cintai itu seumur hidupnya, masih ingin mendapatkan cintanya yang tulus.


Mengingat wanita itu juga sama dengannya, baru merasakan sakit hati yang luar biasa. Hanya saja bedanya Elvan sudah menemukan obatnya sebelum ia mengetahui pengkhianatan mana tunangannya. Bukankah itu terlalu kejam untuk Vada jika wanita itu masih di paksa juga untuk mengaku cinta.


Cinta bukanlah suatu hal yang bisa di paksa, biarlah cinta itu hadir dengan sendirinya. Tapi, Elvan tak menganut kata cinta tak harus memiliki. Ia cinta dengan Vada dan harus memilikinya.


"Ya. Karena kan mubazir kalau enggak dimakan. Abang udah susah payah buat untukku, pakai resep kasih sayang, masak iya aku mau matahin senyum abang dengan bilang nggak enak. Aku kan makannya sambil lihatin abang, jadi rasanya mantap, lupa sama rasa asinnya. Yang ada uenak,"


"Bisa aja kamu," Elvan tersenyum mendengar jawaban Vada. Bisa saja wanita itu menggombali suaminya yang sedang sakit. Meski bukan pengakuan cinta, tapi ia bis merasakan ketulusan isteinya tersebut.


"Kalau abang lagi fit, udah abang uyel-uyel sampai lecek kamu sayang. Sini, cium abang!" Elvan menarik tanga Vada hingga terhuyung jatuh menindih tubuhnya.


"Jangankan cuma di lihat, di rasakan juga mantab kan?" Elvan tersenyum puas saat melihat wajah merona sang istri.


Vada langsung menabok dada Elvan sambil bangun dari tubuh suaminya itu, "Oh, abang. Otaknya mah yang mantab-mantab terus. Baru sakit juga,"


"Sama istri sendiri ini, nggak masalah. Kalau sama istri orang baru masalah,"


"Kalau sama istri orang mah namanya minta di kepret!"


Elvan terkekeh mendengarnya,"Ayuik sini, siapa tahu kalau abang dapat jatah langsung sembuh kan,"


"Mau sembuh ya minum obatlah tuan Adhitama yang terhormat, mana ada begituan bikin sembuh, yang ada bikin tambah bengek! Jangan ngadi-adi deh ah!"


Elvan hanya tersenyum tipis mendengar omelan sng istri yang kini sedang menyiapkan obat untuknya.


"Ibu negara ternyata beneran udah sembuh ya, udah bar-bar lagi," Elvan melingkarkan tangannya di pinggang Vada.


"Minum dulu obatnya, nih!"


Elvan menggeleng, "Abang udah enakan, nggak perlu minum obat, sayang," ucap Elvan jujur, bangun tidur yang kedua kali tadi SAAT Vad membuat bubur, demamnya sudah menurun.


"Biar udah enakan juga tetap minum obat. Harus, kudu, wajib! Biar cepat sehat!"


"Mau tahu sebuah rahasia nggak?" bisik ya di telinga sang istri. Ia masih tetp memeluk pinggang wanitanya tersebut.

__ADS_1


Vada menoleh, "Apa?" tanyanya.


Cup!


Jarak yang begitu dekat membuat Elvan tak bis jika mengabaikan bibir ranum sang istri untuk tidak ia cium.


"Abang nggak bis nelen obat. Bisa tolong di gerus?" bisik ya kemudian.


What????


Sontak, Vada langsung menatap tak percaya suaminya yang kini meletakkan dagunya di bahunya tersebut. Nada segede itu tidak bis menelan obat? Oh my god! Rasanya Vada ingin tertawa terbahak-bahak mendapati kenyataan tersebut.


Ia seperti habis meang lotre saat tahu kelemahan suaminya yang ternyata hanya hal sepele. Siapapun tak akan percaya kalau seorang Elvan tidak bisa menelan obat jika melihat casing pria tersebut Bahkan dalam pandangan mereka, menelan manusia hidup-hidup saja pria ini sepertinya mampu terutama jika sedang marah.


"Jangan tertawa! Atau abang hukum kamu," ucap Elvan yang tahu jika kini istrinya diam-diam sedang meledeknya.


"Maaf. Habisnya abang aneh, badan segede gini cuma perkara minum obat aja nggak bisa. Kalah sama adik-adik aku di panti,"


"Hah, ya ampun makin hari makin tahu ika abang cuma manusia biasa yang nggak sempurna-sempurna amat. Senang deh rasanya tahu kelemahan abang, kalau di suntik takut nggak, bang?" ledek Vada.


Jangankan di suntik, melihat jarum ya saja pria itu serasa aku pingsan.


Vada hanya bisa terkekeh, wanita itu terlihat senang sekali mendengar rahasia sang suami.


" Ledekin aja terus. Tapi awas nanti ya," Elvan memcubit hidung Vada gemas.


"Anggap aja ini obat aku, bang. Bayangin abang marah sama aku terus rasanya pengin nelen aku hidup-hidup, asti langsung ketelen deh!" Vada menatap wajah suaminya serius.


"Abang nggak bisa, sayang," Mana Bisa Elvan sekarang membayangkan benci dan marah kepada Vada, yang ada bayangannya tentang wanitanya tersebut sudah pasti pengin memakannya dalam artian lain. Menikmati setiap prosesnya, bukan langsung di telan begitu saja.


"Ya udah, di gerus ya. Tapi kan malah lebih pahit di mulut kalau di gerus,"


"Nggak apa-apa, ada penawarnya yang manis di sini," Elvan mengusap bibir Vada yang langsung menelan salivanya.


"Ih, abang modus mulu deh,"


Vada kemudian mengambil satu sendok lagi untuk menggerus obat tersebut. Gini amat punya suami, tampang garang, minum obat aja kayak bayi gemoy, pikir Vada.

__ADS_1


Ia menoleh, melihat suaminya sekilas, nggak ada pantas-pantasnya di bilang bayi gemoy, yang ada wajah tampan dengan garis rahang yang sangat tajam sehingga terlihat garang.


"Ini, minum dulu ya bayi gemoynya Vada Laras Sabrina," Vada menyodorkan obat yang sudah ia gerus ke mulut Elvan.


"Jangan ledek abang terus. Manusia itu tidak ada yang sempurna," Elvan sudah menunjukkan wajah juteknya.


"Iya iya! Gitu aja marah, cepat buka mulutnya!"


"Kamu deketan sini, abis minum obatnya langsung kasih abang penawarnya!" Elvan menarik Vada supaya duduk di dekatnya.


Baru juga mereka saling me kumat demi menetralkan rasa pahit obat yang baru saja Elvan telan. Ponsel pria itu berdering.


Vada mendorong dada Elvan pelan," ponsel Abang bunyi," ucap Vada.


" Biarkan! Masih pahit ini,"


"Alasan!"


Elvan kembali menarik tengkuk Vada dan me lu mat bibir wanita itu denga penuh perasaan. Tapi, ia harus rela menyudahinya ketika ponselnya kembali berdering.


Vada tersenyum, "Di lanjut nanti, angkat dulu mungkin penting," ucap Vada. Ia mengambilkan ponsel Elvan. Elvan menatap ponselnya, ternyata telepon dari mansion.


"Halo,"


"Tuan muda, maaf..." ucap bibi dari seberang telepon.


"Ada apa?" tanya Elvan datar.


"Itu, tuan muda... Di mansion ada non Zora," jawab bibi.


"Zora?" gumam Elvan.


Mendengar nama Zora, Vada langsung menatap suaminya, "Mau apa lagi si ular keket itu," batinnya.


"Iya tuan, dari tadi dia nangis terus. Bibi bingung tuan, udah bibi suruh pergi karena tuan tidak ada tapi dia tetap kekeh mau bertemu tuan muda,"


"Baiklah, aku akan ke sana!" Elvan langsung menutup teleponnya. Ia menatap sang istri.

__ADS_1


šŸ’• Hadeh abang, malu sama julukan kulkas ya, minum obat aja di gerus macam bayi... Di ketawain berjamaah nanti sama readesra


__ADS_2