
"Bang, gerimis. Kayaknya mau hujan deras!" seru Vada di tengah perjalanan mereka kembali ke hotel.
"Iya, mau neduh duku atau mau lari, udah dekat kok," tanya Elvan.
"Mau hujan-hujanan aja. Asyik, romantis pasti malam-malam hujan-hujanan sama ayank kayak di drama-drama," jawab Vada. Ia membayangkan kehujanan lalu di payungi jas oleh pasangannya, oh so sweet, pikirnya.
"Kamu ini..." Baru mau bicara hujan beneran sudah turun. Elvan buru-buru menarik tangan Vada untuk berteduh, namun Vada justru kembali ke bawah hujan dan mulai mulai menari-nari dengan riang.
Elvan tersenyum tipis melihat tingkah sang istri yang menurutnya seperti bocah tapi sangat menggemaskan tersebut.
"Abanh sini!" Vada melambaikan tangannya kepada Elvan. Pria itu menggeleng dang hanya tersenyum. Membuat Vada berdecak kecewa, padahal ia ingin romantis-romantisan di bawah guyuran air hujan, bahkan kalau perlu main kejar-kejaran dan berakhir pelukan seperti drama yang pernah ia tonton.
Elvan melepas jasnya lalu berjalan cepat ke arah Vada. Ia memayung Vada dengan jasnya. Vada langsung mendongak lalu tersenyum,"Abang so sweet, kayak di drama, beneran. Hihi..." ucapnya.
"So sweet so sweet tapi kalau kelamaan di bawah hujan juga bakal masuk angin, udah ayo ngedramanya di kamar aja, lebih so sweet dan romantis," balas Elvan sembari mereka berjalan menuju ke hotel.
ššš
Sudah beberapa hari Elvan dan Vada berada di desa mbok Darmi. Jika siang hari mereka akan memanfaatkn waktu untuk jalan-jalan di sekitar tempat tinggal almarhumah mbok Darmi.
Dan jika malam tiba, pasangan suami istri itu selalu menghabiskan malam mereka dengan kegiatan panas di ranjang tanpa mengenal lelah.
Pagi-pagi sekali Elvan sudah bangun, ia yang sudah mengenakan kaos berwarna putih dengan celana training berwarna senada melihat sang istri yang meringkuk dalam pelukannya langsung mengecup keningnya, membuat wanita itu mengerjap perlahan.
"Abang udah bangun?" tanya Vada dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hem, abang mau lari di sekitar taman mau ikut?" tanya Elvan dan Vada mengangguk.
"Kalau begitu, bangun dan cuci muka!" titah Elvan sembari memarik pelan tangan sang istri dan memeluknya, kebiasaan setiap pagi ketika mereka bangun tidur yaitu cium dan peluk.
Dengan langkah malas dan masih merasa lelah Vada masuk ke dalam kamar mandi. Rasa lelah yang ia rasakan tentunya karena semalam mereka habiskan untuk bercinta mengingat tadi mala adalah malam terkahir mereka berada di sana, karena sore nanti mereka akan kembali ke Jakarta. Asisten Rio sudah beberapak kali menghububhi Elvan dan memintanya kembali karena ada beberapa meeting yang mengharuskan ekvan hadir.
ššš
Pagi itu, suasana taman cukup ramai. Tempat yang memang menjadi salah satu icon penting desa mbok Darmi dan sedang hits. Banyak anak muda-mudi desa maupun para pendatang yang juga menghabiskan pagi mereka di sana, terutama weekend seperti ini.
Vada sudah merasa akan kehabisan oksigennya karena terus mengikuti Elvan yang masih saja terlihat segar meski ia sudah berlari beberapa putaran. Seolah tenaganya tak pernah habis, padahal semalam tenaganya sudah ia gunakan unruk berolah raga di ranjang juga.
"Abang, aku udah capek, nggak kuat lagi!" seru Vada.
__ADS_1
Karena meras tak sanggup lagi untuk berlari mengejar sang suami, Vada akhirnya menyerah dan langsung duduk ndlosor di jalan.
"Capeeeek," kekuh Vada sambil mengusap peluh di keningnya.
Elvan yang mendengarnya teriakan sang istei berhenti lalu menoleh. Ia melihat istrinya sudah duduk selonjoran di jalan tanpa tenaga.
Elvan berjalan santai mendekati sang istri. Lalu berjongkok membelakangi wanitanya tersebut,"Naiklah!" ucapnya kemudian.
"Katanya capek, ayo naik!" ucap Elvan sekali lagi karena Vada hanya diam saja.
"Nati abang capek, aku jalan aja, tapi mau istirahat sebentar," ucap Vada.
Elvan menoleh lalu membelai pipi Vada, "Kalau cuma buat gendong kamu, abang masih lebih dari kuat. Ayolah, naik ke punggung abng, biar abang tahu berat badanmu, apakah tambah gendut atau kurus," ucap Elvan.
Meski berdecak karena kalimat terkahir yang diucapkan Elvan, tapi Vada tetap naik ke punggungnya.
" Hem, rupanya tambah berat... "gumam Elvan bercanda yang mana langsung mendapat cubitan mesra di pinggangnya.
" Makanya, turunin kalau berat, berasa angkat karung beras, kan?" sungut Vada. Ia layaknya wanita umum lainnya, akan kesal jika di singgung soal berat badannya.
Elvan menoleh demi melihat wajah sang isteri yang sudah cemberut level delapan tersebut.
"Ih abaaaang!" Vada semakin memberengut dan Elvan langsung terkekeh.
"Bercanda, sayang.... Kamu tuh seringan kapas buat abang. Bahkan sekarang kalau abang harus laripun, bisa," ujar Elvan seraya berlari kecil.
"istirahat dulu bang, mau turun!" Vada melorot dari punggung Elvan. Ia lalu duduk di sebuah kursi yang ada di taman tersebut.
Elvan ikut duduk di samping Vada.
"Di sini enak ya, bang... Pengin deh bisa tinggal di sini," gumam Vada, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Iya, tapi untuk tinggal di sini selamanya nggak bisa sayang," sahut Elvan.
"Iya, aku ngerti. Bukankah tidak semuanya yang kita inginkan harus menjadi kenyataan. Tuhan kan memberi apa yang kita lebih butuhkan bukan yang kita inginkan. Dan aku butuh uang abang," ucap Vada bercanda seraya tersenyum jahil. Elvan mencium puncak hidung Vada karena gemas.
Vada langsung melotot," Abang ih, banyak orang malu kalau ada yang lihat," ucapnya.
" Nggak peduli!" Elvan malah memeluk dan menghujani wajah Vada dengan ciuman. Membuat wanita itu terkekeh, antara geli, ingin menolak tapi tak bisa menolak oesona sang suami. Apalagi ia lihat, sejak tadi suaminy itu sudah menjadi pusat perhatian para wanita yang entah berniat olah raga beneran atu sekedar tebar pesona di taman tersebut.
__ADS_1
"Bule, banyak... Tapi perasaan dari tadi cuma suami gue yang di lihatin. Padahal cuma bisa lihatin yang bukan ounya jita itu sakit, woi!" gerutu Vada saat ada tiga gadis yang lewat depan mereka, bukannya jalan lihat ke depan malah matanya belok melihat Elvan dengan segala pesonanya.
Elvan hanya tersenyum tipis mendengar omelan sang istri," Bukan salah abang, loh! Mereka aja punya mata masih waras dan tahu mana yang bagus untuk kesehatan matanya," ucapnya yang mana semakin membuat Vada mendelik lalu mencubit pinggangnya.
"Huh, kamu tuh sukanya kalau nggak nabok, nyubit. Sini, abang juga bisa kasih pelajaran buat kamu!" Elvan menarik tengkuk Vada dan langsung membenamkan bibirnya di bibir sang istri.
Vada seolah lupa tempat atau sengaja biar para gadis tadi melihat bukti kepemilikannya terhadap oria yng mereka kagumi, ia pun membalas ciumn Elvan. Namun, betapa terkejutnya mereka saat kegiatan singkat tersebut berakhir, di depan mereka berdiri seorang gadis kecil yang menatap mereka dengan wajah polosnya.
"Astaga!" gumam Elvan, bahkan ia sedikit berjengit dari duduknya karena kaget.
Pun dengan Vada yang langsung melongo dan menutup bibirnya yang baru saja di lumaat oleh sang suami,"Abang sih, ngak lihat tempat, ah kan jadi tercemar pandangan dia," ucap Vada setengah berbisik.
Gadis kecil tersebut menunjuk kokong kursi di bawah Elvan, "Itu bola Cia, om. Mau ambil itu!" ucapnya. Seolah tak peduki dengan pemandangan yang baru saja ia lihat.
Evan menunduk, mencari apa yang di maksud oleh gadis kecil tersebut. Ia mengambil bola berwarna pink itu lalu memberikannya kepada gadis kecil tersebut.
" Ini," ucap elvan seraya mengulurkan bola tersebut.
" Telima kacih, om. Om cayang ya ama antenya? Cia juga cayang daddy, makanya Cia juga cium daddy," ucap gadis cilik yang manis itu dengan polosnya.
Elvan hanya tersenyum salting mendengarnya. Gadis cilik itu langsung memutar badannya dan pergi dari san karena di panggil ayahnya.
Elvan menatap kepergian gadis cilik itu dengan tatapan hangat. Sangat kucu dan menggemask, pikirnya.
Vada diam-diam memperhatikan air muka sang suami, ada perasaan senag di hatinya, sepertinya jika ia hamil, bukan hal yang buruk, pikirnya.
"Itu baru anak orang, bag. Lucu dan menggemaskan, bukan? Kalau anak sendiri, pasti lebih lucu dan menggemaskan," ucap Vada dan membuat Elvan menoleh menatapnya mengernyit. Apa istrinya itu kini sedang membicarakan ingin punya anak dengannya?
Vada berdiri," Yuk, bang!" ia mengulurkan tangannya kepada Elvan.
" Kemana?" tanya Elvan sembari memberikan tangannya.
" Buat anak!" ucap Vada tersenyum penuh arti, ia menarik tangan suaminya.
"Bukankah punya sendiri yang jayak tadi akan lebih menyenngkan?" ucapnya Vada yang tak mendengar komentar sang suami saat diajak membuat anak.
"Vada, aku...." entahlah, seolah rasa trauma masih saj menghantuinya.
"Buat aja dulu, belum tentu juga langsung jadi kan? Buatnya kan enak, abang. Nanti yang mengandung dan melahirkan kan aku. Nggak bakal aku sia-ain anak kita, tenang aja. Jangan takut bayangan, ayo!" ucap Vada.
__ADS_1
"Tapi, nanti yang ngidam abang, hihi!" lanjutnya dengan cepat.