
Sesampainya di kamar, Elvan tak sabar langsung mendorong tubuh Vada pelan ke ranjang. Ia hendak mencium bibir Vada namun urung saat menyadari wanita itu diam sejak tadi,"Sayang, kenapa?" tanyanya khawatir.
"Kamu,.. Kamu nggak bahagia menjadi istriku lagi?" imbuh Elvan, ia sudah mulai gusar karena kini Vada justru menitikkan air mata.
"Jangan nangis, maaf kalau aku terlalu buru-buru. Aku tahu aku sudah keterlaluan selama ini, aku udah jahat banget sama kamu dan Kyara, tapi aku..." kalimatnya terpotong saat jari telunjuk Vada menempel di bibirnya.
"Aku nangis karena terlalu bahagia, bang. Aku nggak pernah membayangkan kalau kita bisa bersama lagi seperti ini. Aku pikir kita hanya akan menjadi ketidakmungkinan karena kita saudara, tapi ternyata takdir kita seindah ini, bang," ucapnya sembari mengusap lembut wajah pria yang memiliki rahang yang tegas tersebut.
Elvan mengangguk, menyetujui apa yang Vada ucapkan, meski harus melalui jalan yang terjal dan berliku, tapi takdir mereka begitu indah pada akhirnya. Ia mengecup tangan Vada berkali-kali.
Perlahan Elvan menarik tengkuk Vada dan mulai mencium bibir wanita tersebut dengan lembut. Ciuman lembut itu semakin lama semakin dalam dan menuntut, pelan-pelan ia mendorong tubuh Vada ke ranjang, tangannya berusaha membuka kebaya yang masih melekat di tubuh Vada namun susah.
"Biar aku sendiri yang melepasnya, bang," ucap Vada di tengah gerutun Elvan karena ia sudah tak tahan namun harus di sibukkan dengan kebaya sang istri.
Vada bangun dan mulai melepas kebayanya, membiarkan Elvan melihatnya sambil manyun menahan gejolak. Pria itu sadar, jika dirinya juga masih memakai baju pengantin, ia bergegas melepasnya, lebih mudah dari pada milik Vada ternyata.
Saat Vada berhasil melepas kebayanya dan hanya menyisakan bra di bagian atas dan cd ada bagian bawah, Elvan menahannya saat ia ingin membukanya, "Yang itu jatah abang," ucapnya dengan nada yang sudah parau.
Dan sialnya, baru juga akan memulai aksinya, pintu kamar di ketuk. Ketukan pertama mereka abaikan dan membuat Elvan berhasil melepas bra milik Vada. Ketukan kedua kembali ia abaikan karena tengah asyik bermain selancar di tubuh sang isteri yang hanya sisa memakai kain segitiga berwarna putih tulang di bagian bawah.
Ketukan, bukan... Bukan ketukan lagi, melainkn gedoran ke tiga dan teriakan tangisan Kyara membuat keduanya kehilangan selera untuk melanjutkn ke jenjang lebih jauh lagi.
"Siapa sih, ganggu saja!" gerutu Elvan.
"Anak kita itu, bang," ucap Vada.
"Astaga, papa mama di titipin cucu sebentar aja nggak bisa jaga! Kemarin papa, sekarang Kya, gini amat sih," keluhnya.
"Mamaaaa,. Dadddddyyyy! Buka pintu, Kya mau masyuk! Mamaaaa kelual, kelual! Suala Kya hampil habiys ini teliak-teliak... Kelual, buka!"
"Buka aja dulu, bang pintunya. Itu Kya udah teriak-teriak nggak jelas," ucap Vada yang kini berada di bawah kungkungan Elvan.
Elvan menghela napas, "Pakai baju di sana! Aku yang buka pintunya," ucapnya kemudian turun dari atas Vada.
Vada menurut, ia masuk ke walk in closet. Mencari bajunya yang ternyata masih berada di tempatnya, padahal sudah lama ia meninggalkan tempat itu.
Elvan membuka pintu kamarnya dengan wajah lesu.
Kyara langsung menutup wajahnya," Ish, daddy, kok ndak pakai baju sih. Kya kan malu!" ucapnya.
"Maaf,. Daddy kegerahan di dalam,".sahut Elvan beralasan. Ia menatap sinis pada Rio yang berdiri di samping Kyara, "Kerjaan kamu pasti kan bawa dia ke sini? Pengin banget di pecat?" ucapnya penuh ancaman meski tak sungguh-sungguh.
"Maaf tuan muda, tapi tuan beaar yang menyuruh Kyara ke sini, silakan marah kepada beliau kalau berani,"
Elvan mendengus, "Dasar pak tua, seneng banget ngerusak kesenangan anaknya," gumamnya kesal.
"Beliau takut tuan muda lepas kendali dan membuat nona Vada tidak bisa berjalan dengan nyaman. Anda tidak lupa kan kalau masih ada satu acara lagi setelah ini? Sebentar lagi waktunya, sebaiknya tuan muda bersiap,"
"Iya iya aku ingat, udah pergi sana! Biar Kya sama aku," usir Elvan. Ia mengajak Kyara masuk. Anak itu masih konsisten dengan tangannya yang menutup wajahnya.
__ADS_1
"Sayang, buka matanya, nggak apa-apa, kan ini daddy," ucap Elvan bersamaan dengan kekuarnya Vada yang sudah memakai kimono, ia akan mandi setelah ini.
"Nggak mau! Daddy pakai baju dulu!" keukeh anak itu. Dan Elvan memilih mengalah dan mengambil kaos di walk in closet.
"Sayang, maaf ya harus di tunda dulu," ucapnya saat berpapasan dengan Vada yang baru keluar dari walk in closet, ia mencium pelipis sang istri.
.
.
.
Vada tidak tahu akan di bawa kemana dirinya sekarang. Ia kini sedng berada di dalam mobil, tanpa suami dan anaknya. Hanya ada seorang pelayan menemaninya.
"Kita mau kemana sih ini, bi? Kok aku di suruh pakai gaun seperti ini, katanya cuma acara makan malam keluarga," tanya Vada. Meski ia terlihat semakin cantik memakai gaun tersebut, namun ia tak nyaman. Menurutnya, gaun itu terlalu mewah dan mahal. Kemana ia akan pergi dengan pakaian seperti itu. Apalagi kini pelayannya memberikan satu set perhiasan untuk di pakai.
"Nggak usah bi, ini berlebihan. Aku kayak gini saja, ini aja nanti akan mengundang perhatian," tolaknya tanpa curiga.
"Tapi ini tuan muda yang menyuruh, nyonya. Jadi tolong di pakai saja, ya. Atau saya yang akan kena masalah nanti," ucap bibi.
"Huft dasar, tukang maksa. Lagian kenapa dia tega ninggalin aku coba, bi. Aku kan cuma ketiduran sebentar tadi, mana Kya juga di ajak duluan. Kenapa nggak bangunin aku. Anakku itu udah ganti baju belum, ya bi. Takutnya masih pakai yang tadi, kasihan. Aku sih tadi malah ketiduran segala, "Vada sedikit menyesal karena tadi habis mandi bukannya segar, matanya malah minta merem.
"Nyonya jangan khawatir, nona Kya sudah mandi dan ganti baju," jawab bibi sambil membantu memakaikan kalung Vada.
"Ini beneran harus di pakai? Kya, pakai baju apa, bi?" Vada takut jika anaknya hanya di pakaiakn piyama tidur sementara dirinya malah dandan bak ratu negeri dongeng.
"Ayo nona!" bibi membantu Vada turun dari mobil karena gaun yang ia kenakan agak mempersulitnya.
"Suami dan anakku mana, pak Rio?" tanya Vada yang haya melihat Rio menyambutnya.
"Tuan muda dan Kyara menunggu di dalam, nona," sahut Rio.
Perasaan Vada benar-benar deg-degan, suasana di hotel tersebut sangat berbeda dengan hiasan di sana sini. Mewah dan elegan. Ia hanya mencoba berpikir mungkin ada yang sedang mengadakan acara pesta.
" Ada yang menikah ya, bi. Ini takutnya aku salah kostum, dikira mau jadi pengantinnya," ucapnya dan bibi hanya tersenyum.
Bibi terus menuntunnya menuju ke sebuh ballroom hotel yang di dalamnya sudah di hias bak istana di negeri dongeng.
"Bi...Pak Rio ini nggak benar," langkah Vada terhenti, ia merasa salah alamat. Elvan mengatakan jika. Mereka hanya akan makan malam di hotel, bukan ke acara pesta pernikahan orang. Apalagi ia melihat di sana banyak orang yang tak ia kenal.
Vada balik badan hendak meninggalakan tempat itu, tapi suara Kyara yang memanggilnya menghentikan langkahnya.
Vada menoleh, di depan sana berdiri sosok yang sejak tadi ia cari, suaminya yang tengah menggandenga tangan anka kecil yang tak lain adalah Kyara, putrinya. Pasangan ayah dan anak itu berjalan mendekati Vada.
Vada hanya bisa diam untuk menahan air matanya. Sekali saja ia bersuara, pasti akan pecah tangis harunya dan itu ia takutkan akan merusak riasan wajahnya. Prianya tersebut berjakn dengan gagah memakai baju bak seorang raja yang sangat Rupawan.
Namun, semakin dekat Elvan dan Kyara mendekat, Vada semakin tak bisa membendung air matanya, terlebih saat Kyara mengulurkan tangan sang daddy yang menuntunnya kepada Vada. Anak itu juga menarik tangan Vada yang sejak tadi menggantung begitu saja supaya bergandengan dengan Elvan.
"Terima kasih, sayang," ucap Elvan pada putri kecilnya, ia langsung menggendong gadis kecil itu dengan tangannya yang lain. Benar kata bibi, Kyara sangat cantik dan manis memakai gaun layaknya seorang princess dengan mahkota kecil di atas kepalanya, sama seperti yang ia kenakan.
__ADS_1
Elvan tersenyum dan mengajak Vada berjalan masuk, mereka berjalan bertiga melewati orang-orang yang sejak kedatangannya tadi menatapnya.
"Abang, ini apa?" tanya Vada berbisik. Pria yang telihat semakin tampan bak seorang raja dari negeri dongeng itu hanya tersenyum kepadanya, "Nanti kau akan tahu," ucapnya.
"Kenapa harus seperti ini, aku kan udah bilang nggak usah,"
Elvan tak menyahut, ia hanya tersenyum, ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk ratu dan princess kecilnya.
Sampai di depan, para tamu memusatkan perhatian mereka kepada keluarga kecil Elvan tersebut.
Dari sana, Vada melihat orang-orang terdekatnya juga turut hadir di sana. Tuan Adijaya dan nyonya Tamara berada di barisan paling depan, di sisi lainnya ada pemilik cafe tempatnya dulu bekerja, bu Sukma dengan dandanan menor absurdnya juga turut hadir di sana.
Yang paling menarik perhatian vada adalah kehadiran bunda dan juga adik-adik pantinya. Dan seorang pria yang sangat berjasa dalam hidupnya selama tinggal di negeri asing, turut hadir di sana. Andra, pria itu tetap berusaha tersenyum meski hatinya begitu terluka. Tapi, dia berusaha mengikhlaskan kebahagiaan Vada dan Kyara.
Di antara banyak tamu undangan, Vada tak melihat kehadiran Mirza dan Helena. Ya, dia ingat mungkin gadis itu kini masih berada di Amerika. Sedangkan Mirza? Entahlah, mungkin pria itu tak diundang atau memang tak ingin hadir di sana.
"kita belum telat kan?" suara cempreng yang sangat ia kenal itu menggema di seluruh penjuru ruanga dan membuyarkan lamunan Vada. Helen yang baru saja tiba dengan menggandeng mesra pria yang pernah menjadi cinta pertamanya, Mirza.
Mirza tersenyum ke arah VADA, sementara Helena mengusap perutnya yang terlihat sedikit buncit, seperti perut kembung dengan bangga dan senyum lebarnya kepada Vada. Yang mana membuat Vada menutup mulut tak percaya. Namun, ia juga senang jika pada akhirnya Mirza menemukan jodohnya, meski ia tak tahu kabar pria itu empat tahun terakhir ini.
Dan inilah saatnya Elvan, mengumumkan kepada dunia jika Vada adalah istrinya.
"Selamat malam semuanya. Sebelumnya Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran hadirin semuanya di pesta ini. Namun, sebelumnya perkenankanlah saya untuk memperkenalkan sosok wanita luar biasa yang menjadi ratu saya malam ini. Dialah Vada Laras sabrina, istri saya tercinta. Wanita luar biasa yang saya nikahi sekitar empat setengah tahun yang lalu...."
Banyak yang terkejut dengan pernyataan Elvan, terutama para kolega bisnis dan keluarga besar kedua orang tuanya yang tidak hadir dalam acara akad sore tadi. Pasalnya selam ini mereka tak pernah tahu jika Elvan sudah menikah. Mereka pikir elvan menikahi seorang janda anak satu.
Vada juga tak menyangka jika Elvan akan melakukan hal ini, dimana ia akn di akui di depan semua orang, bahkan dunia karena di sana juga banyak para wartawan yang meliput.
"Saya merahasiakan pernikahan kami karena sesuatu dan lain hal yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Dan dari pernikahan kami, kami di karuniai seorang putri yang sangat cantik bernama Elaina Kyara Adhitama. Karena sesuatu hal, kami sempat terpisah cukup lama dan sekarang kami bisa berkumpul kembali menjadi sebuah keluarga. Selain itu... Di sini ada yang ingin saya sampaikan sebuah kebenaran... "
Vada tahu apa yang ingin suaminya katakan, ia langsung mencengkeram tangan Elvan kuat dan menggelengkan kepalanya saat pria itu menjeda kalimatnya hanya untuk memandangnya.
Bagi Vada, tidak penting dunia tahu siapa dia, apalagi hanya untuk sebuah pengakuan kakau dirinyalah putri kandung tuan Adijaya bukan Elvan. Biarlah semua berjalan seperti semula, dimana dunia tahunya Elvan adalah putra tunggal pasangan Adijaya dan Tamara, sementara dirinya sebagai menantu di keluarga tersebut. Ia tetap ingin menjaga nama baik keluarganya, terutama suaminya. Ia tak ingin kerumitan silsilah keluarganya saat ini menjadi konsumsi publik. Biarlah itu menjadi rahasia keluarganya.
Elvan menarik napasnya dalam lalu mengembuskannya pelan sebelum melanjutkan kalimatnya, "Saya ingin mengatakan sebuah kebenaran kepada dunia kalau saya...."
"Abang...." lirih Vada, tangannya mencengkeram lengan Elvan, ia memohon dengan sangat lewat sorot matanya dengan kepala sedikit menggeleng.
"Kalau saya sangat mencintai istri dan anak saya. Acara ini saya buat khusus untuk ratuku dan juga putriku tercinta. Sekian yang ingin saya sampai, terima kasih. Silakan nikmati kembali acara malam ini," Elvan menutup sambutannya.
Selesai membuat pengakuan di depan semua tamu undangan, bahkan di liput oleh para wartawan televisi, Elvan langsung menurunkan Kyara lalu mengangkat bunga yang ada di tangan vada untuk menurupi bibirnya yang kini sudah melumaaat bibir Vada.
"I love you, Nevadaku..."
"Love you more, abang," balas Vada.
---- End----
__ADS_1