Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 109


__ADS_3

Saat makan malam, Vada mencoba terus menguji Elvan. Dari dia yang lirik-lirik pelayan restauran yang sepertinya mahasiswa yanh bekerja part time sampai mengatakn jika pelayan restauran masih muda dan ganteng banget, cocok dengan dirinya yang masih muda. Tapi, seoertinya itu tak mempengaruhi mood Elvn sama sekali. Pria itu tampak datar dan santai menanggapinya, membuat Vada merasa kesal sendiri.


Sepanjang jalan pulang pun, Vada masih di selimuti rasa kesal. Ia membuang pandangannya keluar jendela. Sesekali ia melirik sang suami yang tetap santai mengemudikan mobilnya. Pria itu terus berpikir bagaimana cara ia mengungkapkan perasaannya kepada sang istri nanti. Kata-kata apa yang pas untuk ia katakan untuk mewakili perasaannya.


"Besok aku harua keluar kota dua hari," ucap Elvan tiba-tiba.


Tuh kan, belum apa-apa udah mu di tinggal aja, pikir Vada.


"Hem," sahut Vada. Bukankah sudah biasa di tinggal pergi, pikirnya mencoba tetap tenang.


"Saat aku pulang, malamnya kita makan malam. Ada yang ingin aku katakan saat itu," ucap Elvan.


"Emangnya mau ngomong apa? Kenapa harus nunggu besok? Nggk sekarang aja?"


"Besok saja," Elvan mengusap rambut Vada. Untuk menyatakan cinta, haruslah dengan cara yang spesial, pikirnya.


Jujur, Vada penasaran, tapi ia mencoba menahan kekepoannya. Suasana kembali hening hingga tanpa sadar Vada tertidur pulas.


Saat sampai parkiran apartemen, Elvan hanya mengulas senyum karena melihat sang istri yang tetap tak bngun meski mobil sudah berhenti beberaa menit yang lalu.


"Kau tahu, jangankan melihatmu bersama pria lain, hanya menyebut namanya dengan bibirmu saja, aku cemburu sayang. Apalagi dia mantanmu. Hanya saja, sekarang aku aku tahu, di sini sudah ada aku sepenuhnya, aku hanya berusaha mengendalikan diriku agar hubungan kita lebih baik lagi," gumam Elvan seraya menunjuk dada Vada.


Elvan mengusap lembut pipi Vada yabg ia rasa semakin chubby tersebut. Tentu saja ia tak puas jika tak mengecup bibir sang istri yang sama sekali tak terusik dengan tingkahnya tersebut.


" Ya ampun di cium bukannya bangun malah keenakan tidurnya. Nggak ada antisipasinya, coba kalau gatong yang nyium," gumam Elvan semakin gemas menoel pipi Vada. Wanita itu justru tersenyum dalam tidurnya, entah sedang mimpi apa.


"Astaga, bisa-bisa aku per kosa istriku sendiri kalau begini," Elvan memilih keluar dari mobilnya sebelum pikiran meshumnya semakin liat. Ia lalu mengitari mobil dan membuka pintu mobik yng di duduki Vada lalu ia melepas seat belt Vada dengan hati-hati.


Dengan hati-hati, Elvan membopong tubuh sang istri," Tidur apa pingsan sih ni bini," gumam Elvan sambil mengangkat tubuh sang istri dari mobil.


Elvan menggendong Vada masuk ke dalam lift hingga sampai ke apartemen mereka .


"Kau semakin berat. Sepertinya jamu harus sedikit diet, sayang," gumam Elvan seraya menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Elvan membaringkan Vada dengan pelan. Ia melepas sepatu Vada lalu pelan-pelan melepas tas selempang dari bahu Wanita tersebut. Ia meletakkannya di nakas.


Saat Elvan hendak berdiri, tak sengaja tangannya menarik tali tas tersebut hibgga jatuh dan isinya berserakan di lantai. Elvan mendengus lalu berjongkok dan memunguti satu persatu benda yang berserakan tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

__ADS_1


Saat melihat kalung berliontin hati yang ikut keluar dari dalam tas, Elvan memungutnya. Ia penasaran dengan kalung tersebut, pasalanya ia belum pernah melihat sang istri memakai kalung tersebut.


Elvan menoleh ke arah Vada yang masih terlelap sebelum akhirnya ia membuka liontin di tangannya.


Air muka Elvan langsung berubah saat melihat photo yang ada di liontin tersebut.


"Abang..." suara Vada membuyarkan lamunan Elvan untuk sesaat. Ia segera menutup kembali liontin tersebut dan memasukkannya ke dalam tas.


"Abang ngapain?" tanya Vada.


"Ah enggaj, ini tadi tad kamu jatuh. Udah, kamu tidur lagi, aku mau mandi dulu," Elvn meletakkan tas Vada ke atas nakas lalu mengacak rambut Vada. Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum lalu kembali terpejam.


Elvan menatap lekat sang istri, ia ingin sekli menanyakan perihal kalung tersebut, tapi malm ini bukanlah waktu yang tepat. Vada tetlihat begitu mengantuk dan lelah setelah seharian pergi bersama Helena dan Mirza.


.


.


.


Setelah membersihkan diri, Elvan tak lantas langsung tidur. Ia terus kepikiran soal photo pria yang ada di dalam liontin tadi.


.


.


.


Keesokan harinya...


Sesuai dengan jadwal, Elvan akan pergi untuk perjalann bisnisnya. Pagi ini Vada menyiapkan semua keperluan Elvan seperti biasa.


Sejak bangun hingga sekarng saat Vada membantu mengancing kemejanya, Elvan banyak diam namun sebenarnya ia terus kepikiran soal liontin semalam.


"Abang parfumnya ganti ya? Kok baunya gini?" tanya Vada setelah ia selesai mengancibgkan kemeja Elvan. Ia lalu mengambil dasi yang sudah ia siapkan di atas ranjang.


"Enggak, parfum yang biasanya. Kenapa emang?" tanya Elvan sambil mengancingkan lengan kemejanya.

__ADS_1


"Aku agak mual sama baunya, masuk angin kali ya?" ujar Vada, ia mengisyaratkan Elvan untuk mendekatinya untuk di pakaikan dasi.


"Kamu sakit? Apa perlu kita ke dokter?"


"Enggak perlu, nanti juga enakan. Cuma kecapean kebanyakan main kemarin paling," sahut Vada, karena ia merasa tubuhnya baik-baik saja, hanya saja perutnya yang sedikit tidak nyaman.


"Yakin?" tanya Elvan.


"Hem," Vada mengangguk.


"Semalam abang nemuin kalung di tas kamu yang jatuh, itu kalung siapa?" Elvan tak bisa membiarkan dirinya terus dihantui rasa penasaran.


"Oh, itu punyaku. Kemarin baru aku ambil di kos. Untung nggak hilang, kalau hilang udah deh hilang sudah kenangan dari orang tuaku," Vada mengusap-usap dada bidang Elvan setelah selesai memasngkan dasinya.


"O-orang tua kamu?" tanya Elvan terkejut.


Vada mengangguk seraya tersenyum, "Kata bunda kalung itu ada bersamaku saat aku di temukan di depan pintu panti. Kata bunda saat di tanya soal photo itu aku selalu jawab papa mama. Dalam ingatanku yang tertanam sejak kecil ya mereka itu papa mama aku yang aku yakini sampai sekarang," jelas Vada.


Deg!


Elvan langsung mundur satu langkah dengan wajah semakin terkejut.


Pandngannya langsung kosong, perasaannya menolak percaya dengan apa yang baru saja Vada katakan. Ia ingat dengan jelas wajah sang ayh ketika masih muda dulu, persis pria yang ada dalam photo itu. Lalu, bagaimana bisa Vada mengatakan kalau pria itu papanya? Apa itu artinya....


" Abang kenapa? "tanya Vada yang melihat suaminya tiba-tiba melamun.


"Abang..." Vada menyentuh lengan Elvan. PRia itu langsung tersadar dari lamunannya.


"Abang kenapa? Kok tiba-tiba melamun?" tanya Vada.


"Nggak apa-apa!" sahut Elvan dingin, ia juga menarik lengannya yang di sentuh Vada dengan sedikit kasar. Membuat Vada terkejut.


"Abang kenapa? Kenapa tiba-tiba jadi aneh? Apa ada masalah?" tanya Vada.


Elvan menarik ludahnya kasar, "Tidak ada, aku berangkat dulu, Rio sudah menunggu," pamit Elvan datar.


Tanpa menunggu jawaban dari Vada, Elvan langsung memutar badannya dan melangkah pergi. Meninggalkan Vada yang terbengong karena suaminya pergi begitu saja tidak seperti biasanya. Tak ada pelukan, apalagi ciuman.

__ADS_1


Dan hal itu sukses membuat Vada menitikkan air matanya. Namun, ia segera mengusapnya, "Abang kan buru-buru. Jadi pasti dia lupa nggak peluk dan cium aku sebelum pergi. Iya pasti karena buru-buru. Aku nggak boleh baper. Masa gini aja nangis," gumamnya mencoba menghibur hatinya yang sebenarnya penuh tanda tanya akan sikap sang suami. Karena lupa, karena buru-buru? Itu sebenarnya tidak mungkin, ia tahu betul seperti apa suaminya.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


__ADS_2