
Sesuai janjinya kepada Dimas, lebih tepatnya janji kepada istrinya, Elvan menjamin Dimas supaya bisa keluar penjara demi menemui Zora di rumah sakit. Ya, Elvan hanya menyanggupi untuk membantu Dimas keluar sebentar bukan selamanya dari penjara.
Saat Elvan, Vada dan Dimas sampai di rumah sakit, ternyata Zora dan kedua orang tuanya tengah bersiap karena siang ini Zora di perbolehkan pulang oleh dokter.
"Kak Dimas?" gumma Zora tak percaya begitu melihat siapa yang kini sedang berdiri di depannya tersebut.
Dimas langsung bersimpuh di depan Zora yang mana membuat wanita itu langsung mundur satu langkah.
"Maafin kakak Zora, maaf!" ucap Dimas.
"Kak Dimas jangan begini, bangun!" Zora menyentuh bahu Dimas supaya pria itu bangun.
"Maaf atas apa yang selama ini sudah aku lakukan sama kamu,"
Zora yang memang masih sangat mencintai Dimas tak bisa menahan tangisnya, ia ingin sekali memeluk pria di depannya. Namun, Sayang, tuan Fabian mencegahnya. Ia menarik baju Dimas dan tanpa aba-aba langsung memberikan hadiah bogeman ada wajah pria yang sudah memepermainkan kedua putrinya tersebut.
"Dasar pria breng sek! Ba jingan kamu! Jangan berani kamu menyentuh putri saya lagi!" hardiknya.
Bugh bugh bugh!
Dimas sama sekli tidak memberikan perlawanan saat tuan Fabian memukulnya terus menerus. Ia tahu, rasa sakitnya tak sebanding dengan rasa sakit yang tuan Fabian rasakan sebagai orang tua.
"Pa, udah pa. Jangan pukul dia lagi, kasihan kak Dimas!" mohon Zora seraya memeluk lengan ayahnya.
"Minggir kamu, Zora. Biar papa kasih pelajaran pria breng sek ini!" Tuan Fabian menghempaskan tangannya yang di peluk Zora hingga ia terpental. Beruntung, Vada dengan sigap menahan tubuh Zora sehingga Zora tidak jatuh ke lantai.
Sementara nyonya Berta hanya bisa menangis melihatnya. Ia merasa kasihan melihat Dimas namun juga merasa sakit hati dengan pria yang menghancurkan masa depan kedua putrinya tersebut.
"Sudah pa cukup!" ucap nyonya Berta yang tidak tahan melihat Zora terus meraung di pelukan Vada melihat Dimas di pukuli ayahnya.
"Biarkan di mati sekalian, aku tidak peduli!" murka tuan Fabian, sebagai seorang ayah ia tentu sangat terluka mendapati kenyataan yang begitu sangat pahit tersebut. Di usia senjanya, seharusnya ia bisa menikamti hari-harinya tanpa beban, melihat kedua putrinya bahagia, namun justru sebaliknya.
Setelah puas melihat adegan di depannya Elvan barulah maju dan mencegah tuan Fabian yang akan kembali memukul Dimas.
"Cukup, om. Saya tahu, pukulan itu tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang om dan tante rasakan. Tapi dia benar-benar bisa mati kalau om mmeukulnya terus tanpa erlawanan seperti ini. Saya rasa dia sudah cukup merasa bersalah dan menyesal," ucap Elvan yang sebenarnya di hatinya paling dalam ia tak tega melihat Dimas di hajar tanpa berusaha melawan. Hal itu membuatnya yakin jika sahabatnya tersebut benar-benar sudah menyesali perbuatannya.
" Sekarang apa maumu, hah?" tanya tuan Fabian kemudian.
Elvan membantu Dimas berdiri.
"Saya tahu saya salah, saya hanya ingin minta maaf kepada Zora dan anak yang ada di dalam perutnya," ucap Dimas.
__ADS_1
"Untuk apa minta maaf? Bukankah kau tidak mengakui ana itu adalah hasil dari kebejatanmu?" hardik tuan Fabian.
"Saya ingin bertanggung jawab," tembak Dimas langsung pada intinya.
"Tidak perlu!" tolak tuan Fabian tegas dan jelas.
"Pa..." Zora menggeleng tak percaya, saat Dimas mau bertanghung jawab, justru ayahnya menolak.
"Apa kau lupa dengan kesepakatan kita, Zora? Kau boleh melahirkan anak itu, tapi tanpa dia! Atau kau mau kehilangan bayi itu. Lagian apa yng kamu harapkan dari seorang narapidana seperti dia?"
Mungkin jika hanya menghmili Zora di luar nikah masih bisa sedikit di tolerir oleh tuan Fabian asal Dimas mau bertanggung jawab, tapi ini masalahanya tak hnya itu, terlalu banyak kesalhan yang sudah dimas lakukan. Bukan hanya Zora, tapi almarhum Zoya juga. Yang membuat tuan Fabian benar-benar murka.
"Tapi pa..."
"Zora... Turuti saja mau papa kamu," ucap Dimas.
"Tapi kak.... Aku ingin kita membesarkan anak kita bersama-sama," Zora mendekati Dimas.
"Zora!" teriak tuan Fabian hendak menyeret Zora supaya menjauh dari Dimas, namun langsung di cegah oleh Elvan dan tuan Fabian manut.
"Aku tidak mau anak kita kenapa-kenapa, kau ikutlah dengan ayahmu. Karena aku sendiri tidak bisa menjagamu di sini. Aku masih harus menebus kesalahanku di dalam penjara," ucap Dimas.
"Jangan bodoh kamu, Zora. Pikirkan bayi kamu kalau kamu tetap di sini dan hanya menunggunya! Sampai kapan?" ucap tuan Fabian menyela.
"Pa, aku mohon. Bantu kak Dimas, bebasin dia, pa!"
"Jangan harap, dia harus membayar kesalahannya! Biarkan di membusuk di penjara, apa kau lupa, kakakmu meninggal juga saat di perdaya oleh pria ini!"
"Tapi pa..." Zora beralih menatap Elvan dengan sorot memohon. Vada yang tak tega melihatnya langsung mendekati suaminya.
"Jangan bujuk abang, tidak akan mempan, sayang. Biar Dimas sedikit mendaat pelajaran dalam hidupnya. Lagian ini urusan meteka, kita hanya bisa membantu sewajarnya, jangan terlalu ikut campur terlalu dalam," bisik Elvan. Ia langsung merengkuh pinggang wanita yang langsung cemberut tersebut.
"Jangan manyun begitu, abang juga bisa cemburu kalau kamu terlalu memikirkan Dimas," bisiknya lagi. Vada hanya mencebik, bagaimana bisa suaminya itu tak tersentuh melihat sepasang kekasih yang sling mencintai namun tak bisa bersama tersebut, memang dasar tuan suami kulkas, pikirnya. Dan mereka kembali melihat adegan di depannya, dimana Dimas kini sedang memegang tangan Zora.
"Dengarkan aku, aku akan mencari kamu dan anak kita setelah aku keluar dari penjara nanti, sekarang ikutlah dengan orang tuamu dulu," ucap Dimas menggenggam erat kedua tangan Zora demi meyakinkah perempuan tersebut.
"Tidak perlu kau mencarinya lagi nanti. Karena saya akan mencarikan Zora suami yang jauh kebih baik dari pada dirimu!" ucap tuan Fabian.
"Aku tidak mau! Lebih baik baik papa bunuh saja aku!" pekik Zora.
"Kau...!" tuan Fabian benar-benar marah dan hendak menampar Zora, namun Dimas menghalanginya.
__ADS_1
"Saya mohon, om. Tolong jangan sakiti Zora, saya yang salah di sini. Sudah cukup saya menyakiti perasaan putri om, jangan tambah rasa sakitnya lagi, om bisa memukul saya lagi kalau mau," mohon Dimas.
Tuan Fabian langsung mengepalkan tangannya yang sudah melayang diudara lalu menurunkannya dengan terpaksa.
" Si al!" umpatnya.
"Sweet sekali, ya ampun.... Dimas aku padamu deh!" celetuk Vada tanpa sadar menatap kagum pada Dimas.
"Ehem! Tolong jaga sikapmu nyonya Adhitama! Suami kamu masih segar bugar di sini!" peringat Elvan.
"Hehe, sorry sorry! Biasa, perempuan nggak bisa lihat yang uwu-uwu begini, bikin baper!" Vada hanya bisa meringis.
"Abang juga bisa kalau cuma buat kamu baper!"
"Ssst diam! Dengarkan itu, bagaimana kelanjutannya, berasa nonton drakor deh ah,"
"Ck, dasar!" Elvan mencium pelipis Vada yang membuat wanita itu langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Elvan seraya tersenyum.
"Maaf, Tuan. Waktu Anda sudah habis. Sebaiknya kita segera kembali ke kantor polisi," tiba-tiba petugas yang mengawal Dimas masuk ke dalam.
"Baik pak, sebentar!" ucap Dimas.
"Bawa saja dia sekarang, pak! Saya sudah muak melihat wajahnya!" ucap tuan Fabian. Meskipun Zora sudah memaafkan Dimas, namun sebagai seorang ayah, tuan Fabian tentu tak semudah itu memaafkanya. Bahkan akan sngat sulit melupakan rasa sakit yang putrinya dapatkan.
Dimas mengabaikan ucapan tuan Fabian," Aku pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik. Jaga anak kita, aku titip dia," pamit Dimas, berusaha menahn air matanya saat ia menyentuh perut Zora.
"Janji, cari aku setelah kak Dimas keluar nanti," ucap Zora.
Dimas tak bisa menjawabnya, ia tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti, ia hanya mengangguk dengan ragu," I love you!" hanya itu yang bisa ia katakan, berbisik tepat di telinga Zora sebelum ia memutar badan dan pergi meninggalkan Zora dan juga calon anaknya tersebut.
Zora semakin terisak, di saat pria itu mengatakan cintanya, mereka justru harus berpisah.
"Titip Zora dan anak saya, tante, om!" ucap Dimas kepada tuan Fabian dan nyonya Berta.
Tuan Fabian tak menjawab, ia justru melengos. Sedangkan nyonya Berta hanya bisa mengangguk seraya menangis.
"Terima kasih!" ucap Dimas saat ia melewati kepada Elvan dan Vada.
Elvan mengernyit ketika ia memyadari telinganya mendengar sesuatu lalu menelisik wajah sang istei yang ternyata menangis sesenggukan karena tidak tahan melihat drama live di depannya, "Kau menangisi dia? Hei nyonya, benar-benar ya, suamimu di sini dan kau menangisi pria lain?"
"Apa sih, aku tuh nggak kuat lihat perpisahan begitu, nggak kebayanga aja kalau aku yang di posisi Zora gitu, harus berpisah sama pria yang aku cintai, saat memgandung anaknya pula. Pasti bakal sedih banget, serasa dunia mau berhenti hiks hiks hiks!" Vada menenggelamkan wajahnya di dada bidan Elvan.
__ADS_1