
Saat malam tiba, Vada merasa sangat mengantuk namun matanya tak juga bisa terpejam. Ia begitu merindukan sang suami. Rasanya belum bisa terlelap dengan tenang jika belum mendengar suara Elvan.
Aneh memang Vada rasakan, ini bukn kali pertama suaminy melakukan perjalanan bisnis, tapi ia merasa tak ingin jauh sedetikpun dari pria itu. Jika saja di tawari untuk ikut, pasti ia akan dengan senang hati ikut.
"Ayolah Vada, cuma dua hari, besok dia juga pulang," ucap Vada pada dirinya sendiri sembari menggelinding kesana kemari di ranjang berukuran kebih besar dari king size tersebut.
Tiba-tiba senyum terbit dari bibirnya ketika ponselnya bergetar dan ia melihat nama sang suami di layar ponselnya. Dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, abang! Kenapa baru telepon, aku nubgguin dari tadi, udah ngantuk banget ini tapi nggak bisa merem kalau belum dengar suara abang," ucap Vada tanpa jeda. Namun Elvan hanya terdiam di seberang sana.
"Kok diam sih, Bang?" Vada melihat layar ponselnya dan masih tersambung.
"Sekarang tidurlah, sudah malam. Aku masih ada pekerjaan setelah ini," dengan sangat alot Elvan berbicara.
"Udah malam begini abang masih kerja? Jangan terlalu ngoyo, bang. Toh aku nggk minta di buatkan istana dari emas," seloroh Vada.
Elvan tersenyum tipis, ia benar-benar ingin melupakan semuanya, namun begitulah kenyataan yang ia tahu.
"Ya sudah, tidur ya, aku tutup teleponnya,"
"Tapi aku kangen..." baru saja Vada ingin bicara, Elvan sudah mematikan panggilannya. Betapa ia juga rindu dengan istrinya tersebut, tapi apakah masih boleh ia merindukan wanita yang kini ia tahu sebagai adiknya tersebut selayaknya rindu keoada sng pujaan hati? Tentu saja tidak bikeh, dan Elvan sadar akan hal itu.
__ADS_1
Vada hampir menitikkan air matanya karena Elvan menutup teleponnya sepihak, namun ada pesan masuk dari elvan y g mengatakan jika baterai ponselnya tinggal satu persen. Dan tentu saja itu hanyalah alasan Elvanlah saja. Karena semakin lama ia mendengar suara Vada, semakin teriris hatinya menerima kenyataan. Kenyataan yang memang menyatakan kalau Vada adalah anak dari ayahnya.
"Ya udah, di charge dulu ponselnya. Aku tidur dulu, good night," Vada membalas pesan dari suaminya yang kini hanya centang satu dan Vada pikir karena baterainya benar-benar habis, nyatanya ponselnya sengaja Elvan matikan.
.
.
.
Pagi-agi sekali, saat baru saja bangun dari tidurnya, Vada bergegas ke kamar mandi untuk buang air kecil sekalian mengecek apakah dia beneran hamil atau tidak.
Vada membaca dengan cermat cara menggunakan alat di tangannya tersebut, maklum ini kali pertama ia akan menggunkn benda tersebut.
Dengan harap-harap cemas, Vada menunggu benda itu bekerja dan bagaimana hasilnya.
"Kalau hamil beneran gimana ya? Apa abng akan senang? Atau sebaliknya," gumamnya harap-harap cemas.
Setelah menunggu beberapa saat, Vada mengambil tespeck tersebut. Ia melihat dua garis yang masih samar.
Karena belum terlalu yakin, Vada melakukan tes sampai tiga kali hingga ia merasa yakin kalau memang hasilnya positif.
__ADS_1
Tentu saja Vada merasa senng karen ini memang yang ia inginkan. Ia tak sabar ingin membetitahu elvan tentunya. Namun, di sisi lain dia juga kepikiran bagaimana dengan reaksi Elvan kalu tahu dirinya hamil. Apakah pria itu akan menerimanya dengan bahagia? Atau justru sebaliknya.
"Apapun reaksi abang, bagaimanapun keputusannya, harus aku terima karena ini memang kemauanku," gumam Vada meyakinkan diri kalau apa yang ia lakukan tidak salah. Ia akan mengambil segala resiko atas keputusan sepihaknya tersebut. Apapun itu, termasuk rumah tangganya karena memang sejak awal Elvan belum sepakat untuk memiliki anak dengannya.
Dan tentu saja jika ia di suruh memilih antara suami atau anaknya, Vada akan memilih anaknya, karena dia sendiri yang menginginkan kehadiran anak yang sama sekali tidak berdosa tersebut. Dia tak akan mengorbankan anaknya jika Elvan tak mau mengerti keadaannya meski ia juga sangat mencintai sang suami.
Vada mengusap perutnya yang tentu saja masih datar, "Aku nggak nyangka kamu udah ada di sini," gumamnya tersenyum.
Untuk meyakinkan diri lagi, Vada pergi ke dokter dan setelah memetiksa dokter menyatakan jika memang Vada hamil dan usia kandungannya sekarang lima mingggu di hitung dari hari pertama haid terkahir.
"Selamat ya, bu atas kehamilannya. Suaminya pasti seneng mendengar kabar gembira ini," kata sang dokter.
Vada tersenyum, "Semoga saja ya, dok," ucapnya ambigu. Dokter sedikit terkejut mendengar sahutan Vada, bukankah setiap pasangan yang menikah akan akan bahagia jika buah cinta mereka sudah hadir dalam perut sang istri? Ah, tentu saja dokter paham setiap rumah tangga memiliki kerumitannya masing-masing. Lagipula, wanita di depannya itu datang sendiri tanpa didampingi oleh pria yng berstatus sebagai ayah dari janinnya. Banyak hak bisa saja terjadi, anak di luar nikah mungkin? Dan lain sebagainya. Dokter tersebut hanya tersenyum maklum pada akhirnya.
.
.
.
Keluar dari rungan obgyn tersebut, Vada terus mengulas senyum melihat photo usg di tangannya.
__ADS_1
"Nggak sabar ingin cepat memberitahu abang. Semoga abang juga sama bahagianya kayak aku," gumamnya tersenyum lalu mencium photo usg tersebut penuh cinta. Ia tak menyangka di perutnya kini ada buah cintanya bersama pria yang kini sngat ia cintai itu. Pria introvert, dingin bak berung kutub namun berhasil memenuhi seluruh ruang di hatinya.