Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 117


__ADS_3

Tuan Adijaya sangat berat mengatakan kenyataan kalau Elvan bukanlah anak kandungnya. Tapi apa yang terjadi memaksanya untuk mengungkap semuanya.


Elvan sangat tercengang mendengar apa yang di katakan oleh sang ayah. Entah harus merasa bagaimana perasaannya. Senangkah? Karena ternyata ia dan Vada bukan saudara. Atau sedih? Karena pria yang selama ini ia tahu sebagai ayah kandungnya ternyata bukanlah ayah kandungnya.


"Lelucon macam apa ini? Papa yang selingkuh kenapa menjadikanku kambing hitam sebagai anak pria lain?" ucapnya madih enggan percaya ucapan sang ayah.


"Maafkan papa, tapi itulah kenyataannya. Papa menikah dengan mamamu saat mamamu mengandung dua bulan," ujar tuan Adijaya. Terpaksa ia harus membuka memory lama yang membuatnya kecewa.


Kali ini Elvan memandang nyonya Tamara, wanita itu kini sudah berderai air mata.


"Apa maksudnya ini, ma?" tanya Elvan.


"Apa yang di katakan papa kamu benar. Kami mengatakan kebenaran menyakitkan ini semata demi kebahagiaan kamu, nak. Mama tidak bisa melihat kamu terus hancur seperti ini karena salah paham," ucap nyonya Tamara.


"Waktu itu...." nyonya Tamara mulai menceritakan masa lalu.


Flash back on.


Sekitar kurng lebih dua puluh sembilan tahun yang lalu, tuan Adijaya dan nyonya Tamara di jodohkan oleh kedua orang tua mereka. Tuan Adijaya yang melihat kecantikan nyinya Tamara ertama kaki langsung terpikat dan setuju untuk menikahinya. Selain karena kecantikannya, juga karena demi perusahaan keluarganya yang sudah di ambang bangkrut. Hanya menikah dengan nyonya Tamara jakn satu-satunya yang bisa ia lakukan demi kedua orang tuanya.


Saat itu, nyonya Tamara memiliki kekasih. Awalnya ia menolak untuk di jodohkan dengan tuan Adijaya, namun karena kedua orang tuanya terus memaksa pada akhirnya nyonya Tamara mau mencoba mengenal tuan Adijaya dan menikah dengannya.


Naasnya, beberapa saat sebelum pernikahan, orang tua nyonya Tamara di buat malu dan marah karena mendapati jika putri tunggal mereka tersebut tengah hamil dua bulan.


Tentu saja kedua orang tua nyonya Tamara marah dan merasa malu atas apa yang terjadi dengan putri mereka. Terlebih lagi saat mengetahui jika ayah kandung bayi tersebut tidak mau bertanggung jawab dan malah kabur entah kemana.


Namun, di tengah-tengah rasa marah, kecewa dan malu kedua orang tua Nyonya Tamara, tuan Adijaya menyelematkan nama baik dan harga diri mereka dengan mengatakan jika ia tetap akan menjmahi nyonya Tamara.


"Saya tetap akan menikahi Tamara, om! Dan anak itu akan menjadi anak saya!" ucap Tuan Adijaya kala itu dengan lantang. Membuat kedua orang tua nyonya Tamara senang dan bisa bernapas lega.


Pun dengan nyonya Tamara. Ia tak bisa membayangkan Bagiamana malunya kedua orang tuanya jika pernikahannya batal dan semua orang tahu jika dirinya hamil di luar nikah dengan pria lain. Sementara para tamu undangan yang akan menyaksikan akad nikahnya sudah mulai berdatangan.


Kecewa, marah? Sudah pasti tuan Adijaya rasakan, namun demi menyelamatkan perusahaan keluarganya ia mengesampingkan kekecewaannya tersebut dan tetap menikahi nyonya Tamara.


Nyonya Tamara sangat berterima kasih dan berhutan budi karena tuan Adijaya telah menyelamatkan nama baik keluarganya.


Pernikahan pun tetap terjadi sesuai rencana. Tujuh bulan kemudian nyonya Tamara melahirkan seorang putra yang tuan Adijaya beri nama Adhitama Elvan Syahreza. Meski bukan putra kandungnya, tuan Adijaya berusaha menerima bayi itu sebagai putranya.

__ADS_1


Nyonya Tamara merasa terharu dan senang karena tuan Adijaya mau menerima anak itu. Pada saat Elvan berusia tiga tahun, ia kembali berhutang budi, lebih tetpatnya berhutang nyawa kepada tuan Adijaya karena telah menyelamatkan Elvan kecil yang hampir mati karena tenggelam saat mereka berlibur.


Sejak saat itu, nyonya Tamara berjanji akan mengabdikan hidupnya untuk tuan Adijaya sebagai rasa terima kasihnya dan rasa cintanya untuk suaminya itu kian tumbuh semakin besar, namun ia tak berani berharap tuan Adijaya akan membalas perasaannya tersebut.


Nyonya Tamara tak pernah menuntut lebih kepada tuan Adijaya karena memang ia menyadari kesalahannya di masa lalu. Termasuk saat Tuan Adijaya bertemu kembali dan menjalin hubungan dengan cinta pertamanya pada usia pernikahan mereka ke enam tahun.


PErlahan tapi pasti, rasa cinta tuan Adijaya dengan cinta pertamanya bernama Diana tersebut semakin besar, bahkan lebih beaar dari sebelumnya, karena memang ia dulu sangat mencintai wanita tersebut dan tak pernah bisa melupakannya meski sudah menikah. Karena pada dasarnya pernikahannya dengan nyonya Tamara tidaklah baik-baik saja sejak awal pernikahan. Hanya ada kepura-puraan saja demi nama baik keluarga dan juga kejayaan perusahaan yang pada akhirnya bergabung menjadi satu yaitu Adhitama group.


Pada akhirnya mereka menikah siri secara diam-diam dan di karuniai seorang putri. Tuan Adijaya sangat senang atas kelahiran putri kandungnya tersebut.


Nyonya Tamara yang mengetahui pernikahan suaminya, tak bisa berbuat apa-apa selain pura-pura tidak tahu dan baik-baik saja demi menyelamatkan rumah tangganya. Meski dalam diam ia juga sering menangis dan Nyonya Tamara selalu menyibukkn diri dengan pekerjaannya demi menutupi rasa sakit di hatinya. Demi menyamarkan luka yang ia rasakan.


Saat nyonya Tamara menangis, tak jarang di ketahui oleh Elvan. Membuat Elvan marah kepada ayahnya bahkan benci.


Tuan Adijaya berusaha tetap menjadi ayah yang baik di tengah kesibukannya di keluarga baru dan pekerjaannya, namun Elvan yang terlanjur marah tak pernah menyambut niat baiknya tersbut. Ia berpikir jika ayahnya yang super sibuk tersebut telah membuat ibunya sering menangis.


Suatu hari, Elvan mendengar pertengkaran kedua orang tuanya dimana nama seorang wanita di sebut dalam pertengkaran tersebut. Saat itu, ia sudah mulai paham jika ada wanita lain di kehidupan ayahnya yang membuatnya semakin benci dan marah.


Hingga puncaknya saat ulang tahun Elvan ke dua belas. Tuan Adijaya yang jarang sekali pulang ke rumah sudah berjanji akan datang ke acara ulang tahunnya. Namun, saat itu juga putrinya yang berusia lima tahun demam tinggi. Ia memutuskan untuk membawa putrinya yang bernama Laras ke dokter terlebih dahulu sebelum ke ulang tahun Elvan.


Saat petugas mengevakuasi tuan Adijaya yang sudah tak sadarkan diri, nyonya Tamara mendekati Diana, istri kedua tuan Adijaya yanh kala itu masih tersadar. Sorot matanya begitu mengiba kepada nyonya Tamara.


"Maafkan aku karena telah menjadi orang ketiga dalam rumah tanggamu dan mas Adi," ucap Diana tersengal.


Nyonya Tamara hanya bisa diam dengan segala perasaannya. Ia memang tak suka dengan Diana namun melihat kondisi wanita itu yang mengenaskan, hatinya merasa iba.


Di samping Diana, seorang gadis kecil terus menangis kesakitan.


"Tolong, rawat dan jaga putriku, dia tidak bersalah. Aku yang salah, jangan benci putriku. Selamatkan dia, aku mo hon..." kata Diana.


Nyonya Tamara memandang gadis cilik yang terus menangis di samping Diana. Dalam hati terdalamnya ia merasa kasihan dan terenyuh melihat gadis itu.


Melihat kondisi Diana yang semakin tersengal, nyonya Tamara berteriak meminta tolong," Tolong! Siapapun tolong! Di sini ada yang sekarat!" teriaknya fruatrasi karen bekum ada juga yang mengevakuasi diana dan putrinya mengingat itu adalah kecelakaan beruntun dan banyak korban lainnya.


"Tolong Berjanjilah untuk merawat putriku..." ucap Diana.


"Tidak, kau harus tetap hidup dan mengurus putrimu sendiri. Dia masih sangat membutuhkanmu," ucap nyonya Tamara dengan nada bergetar. Sungguh, mwskinia membenci Diana tapi ia tak ingin wanita itu meninggal. Ia terus memanggil petuga untuk minta tolong. Sementara Vada terus menangis, namun nyonya Tamara tidak bisa menolongnya yang terhimpit di dalam mobil.

__ADS_1


" Aku titip putriku...," ucap Diana sebelum akhirnya ia tak lagi bernapas.


Melihat hal itu, nyonya Tamara menyadari kalau Diana sudah meninggal. Ia mundur satu langkah, tubuhnya terasa limbung.


.


.


.


Karena kecelakaan itu, tuan Adijaya koma sekitar dua bulan lebih. Di saat ia koma, nyonya Tamara tetap setia merawatnya. Ia juga memberikan perawatan terbaik untuk Laras kecil hingga anak itu pulih dan sehat kembali.


Namun, untuk merawatnya, ia merasa tidak sanggup hingga hatinya yang terus berperang antara merawat atau tidak, pada akhirnya ia memilih untuk meninggalkan Vada di depan sebuh rumah yang baru saja beroperasi sebagai panti asuhan dan belum ada anak satupun yang menempati panti asuhan tersebut selain sepasang suami istri yang tidak memiliki anak dan berencana menjadikan rumah mereka panti asuhan untuk menampung anak-anak kurang beruntung.


"Maafkan saya, saya terpaksa melakukannya, demi anak saya," gumam nyinya Tamara di dalam mobil seaaat setelah ia meninggalkan Laras atau Vada kecil tersebut. Bahkn ia juga meneteskan air matanya. Hati kecilnya begitu merutuki tindakannya, namun itulah pilihan nyonya Tamara.


.


.


.


Saat tuan Adijaya sadar dan menanyakan anak dan istrinya, nyonya Tamara terpaksa mengatakan kalau mereka meninggal dalam kecalakaan itu. Tuan Adijaya percaya dan sangat terpukul. Ia bahkan memutuskan untuk tinggal di luar negeri setelah itu. Dan nyonya Tamara yang merasa memiliki hutang nyawa dengannya setia menemaninya.


Elvan yang mengetahui ayahnya kecelakaan bersama wanita dan anak lain, berpikir jika ayahnya lebih memilih menghabiskan waktu bersama mereka dari pada menghadiri ulang tahunnya. Sejak saat itu, ia semakin membenci ayahnya. Sebenarnya bukan benci yang sesungguhnya, lebih pada rasa kecewa.


Sebenarnya ia sangat menyayangi ayahnya tersebut. Di sekolah dan dimanapun, ia tak pernah berkata jelek tentang sang ayah, ia justru selau memujinya di depan teman-temannya karena tak ingin nama ayahnya jelek. Meskipun di belekang, ia juga tak jarang terdiam sendiri bahkan menangis.


Ia menolak untuk di ajak menetap di luar negeri oleh kedua orang tuanya.


"Bukankah sama saja, di sana atau di sini? Aku tetap akan kesepian, seperti sebelum-sebelumnya, biar aku tetap di sini bersama mbok Darmi ," ucap Elvan waktu itu.


Bahkan saat kelulusan Sekolah, ia menolak kehadiran tuan Adijaya yang jauh-jauh datang dari luar negeri. Akan tetapi, setelah ia menolak tersebut, ia menangis sendiri di dalam kamarnya.


"Aku senang, papa datang. Maafkan aku.." ucapnya dalam hati yang mengatakan isi hatinya yang sesungguhnya.


Flash back off.

__ADS_1


__ADS_2