Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 48


__ADS_3

Soraya menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal. Pesta ulang tahunnya benar-benar kacau.


"Ayah, gimana ini, ayah kan sudah janji mau menjodohkan Elvan sama aku, tapi lihatlah wanita itu telah menggodanya duluan," rengek Soraya.


"Diam lah, ini semua juga karena ulahmu. Sudah sering ayah katakan, jaga sikap! Kenapa justru kau yang seperti wanita tak berpendidikan. Sudahlah, Laki-laki tidak hanya tuan Adhitama saja," kata tuan Hendra kesal.


"Tuan Rio. Tolong sampaikan maaf saya kepada tuan Adhitama. Semoga kejadian malam ini tidak berimbas kepada kerja sama perusahaan," ucap tuan Hendra penuh harap.


Asisten Rio hanya tersenyum tipis, ia tidak bisa menjaminnya. Siapa suruh mengsuik istri beruang kutub yang sedang di mabuk cinta, pikirnya.


"Saya permisi, tuan!" asisten Rio membungkukkan badannya lalu pergi menyusul tuan mudanya. Meninggalkan pesta yang sudah kacau akibat ulah si empunya pesta sendiri.


Elvan membukakan pintu mobil untuk Vada tanpa suara.


"Maaf," hanya satu kata itu yang bisa Vada katakan sesaat setelah mereka memasuki mobil.


Elvan bergeming, pria itu diam seribu bahasa dengan segala kemarahannya.


Sesampainya di mansion, tanpa banyak bicara Elvan membopong tubuh Vada ala brydal style langsung menuju kamar mereka.


Tangan Vada melingkar sempurna di leher sang suami. Pria itu masih tetap dengan kebisuannya. Melangkah dengan langkah panjang dan pasti, tanpa menatap istrinya. Vada terus menatap wajah dingin suaminya tersebut tanpa berkedip.


Sampai di kamar, Elvan mendudukkan Vada di tepi ranjang. Wanitanya tersebut hanya bisa diam menunduk, terlihat sekali wajahnya yang masih shock. Bagaimana tidak, di permalukan di depan umum sedemikian buruknya, seolah orang yang tak memiliki uang sepertinya bisa di hina dan di rendahkan oleh mereka.


"Kenapa?" satu pertanyaan yang sejak tadi gatal ingin Evan tanyakan lolos juga dari mulutnya.


Vada mendongak, kedua manik mata mereka bersirobok.


"Enggak kenapa-napa," jawab Vada dengan polosnya.


Elvan membuang napasnya kasar, "Kenapa kamu lakuin hal konyol seperti ini?" Elvan mengguncang bahu Vada. Pertanyaannya lebih mengarah kepada ungkapan amarah sebenarnya.


"Aku..."

__ADS_1


"Apa yang kau cari di sana, Vada? Apa!" Elvan mengusap wajahnya kasar. Sementara tangannya yang lain berkacak pinggang.


"Ah sial!!!! Kenapa kau keras kepala. Kenapa menyusahkan dirimu sendiri? Apa yang kau cari dengan menjadi pelayan dan berpakaian seperti ini?" Tidak tahu kah Vada jika suaminya sejak tadi menahan cemburu karena mata liar dari para pria yang menatap napsu terhadap tubuhnya yang semakin montok saat mengenakan seragam pelayan tersebut.


Vada sedang malas bicara, rasa lelah dan juga malu yang menderanya membuatnya tak bertenaga untuk bicara apalagi menjelaskan panjang lebar.


Elvan memijit pelipisnya yang terasa pening. Ingin sekali mengamuk istrinya tersebut saat ini juga. Tapi, melihat bagaimana kondisi istrinya saat ini yang lebih mirip tikus habis kecebur got. Menggigil kedinginan meski ada jasnya yang menyelimuti, dan juga wajah pucatnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa shock wanita meski Vada berusaha tetap terlihat baik-baik saja, membuat Elvan menjadi tidak tega untuk melakukannya.


Elvan mendengus, ia berjalan menuju kamar mandi. Vada menghela napasnya lega melihat suaminya masuk ke sana. Ia pikir suaminya itu akan meredam emosi dengan mandi. Namun, ia salah, tak berselang lama Elvan keluar masih dengan pakaian lengkap.


Elvan mendekati Vada, menyentuh kedua lengan istrinya itu, "Mandilah!" ia meminta Vada berdiri tanpa bersuara dan membimbingnya ke kamar mandi. Melihat kondisi memprihatinkan sang istri benar-benar membuatnya dilema. Ingin marah tapi kasihan. Kasihan tapi ingin juga tertawa sebenarnya.


Ternyata, Elvan sudah menyiapkan air hangat dan juga aromatherapy untuk istrinya berendam, supaya wanita itu lebih rilexs.


Elvan membantu Vada melepas satu persatu pakaiannya. Vada yang hanya bisa menurut baru sadar jika kini ia sudah tak memakai apapun saat Elvan menuntunnya ke bathub.


"Tuan, ngapain di sini? Aku bisa mandi sendiri," ucap Vada yang merasa malu karena sudah tak memakai apapun di depan suaminya.


Tanpa bicara, Elvan keluar. Di balik pintu kamar mandi, ia kembali mengusap wajahnya kasar. Susah payah ia menahan sesuatu yang tegang tapi bukan perasaannya.


Elvan langsung menuju ruang kerjanya untuk menenangkan diri. Ia segera menghubungi Rio yang ia tinggal di pesta tadi.


Setelah bersusah payah mendinginkan hatinya yang sejak tadi panas. Dan juga susah payah meredam hasratnya, Elvan kembali ke kamarnya. Di lihatnya Vada sedang membaca buku. Wanita itu memang senang sekali membaca. Terutama semenjak bisa melihat lagi, ia semakin gemar membaca buku di sela-sela waktu luangnya dan juga untuk membuang stres saat raganya lelah.


Elvan hanya melirik istrinya itu sekilas, sepertinya perasaannya sudah lebih baik dari sebelumnya.


Terlalu asyik membaca, Vada sampai tak menyadari kehadiran suaminya yang langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Wanita itu baru sadar saat pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok pria bertelanjang dada. Vada langsung menutup bukunya, meski sudah sering melihat tubuh polos sang suami, namun tetap saja ia masih belum bisa mengontrol diri setiap kali melihat definisi mahakarya dengan pahatan sempurna tersebut.


"Tuan, mau menagih hukumannya sekarang?"


Elvan langsung mengernyit mendengarnya. Benar-benar ajaib istrinya itu. Perasaannya akibat insiden di pesta tadi kemana? apakah sudah menghilang, luruh bersama air dakinya di kamar mandi. Wanita itu kini terlihat biasa saja. Tapi, begitulah Vada yang akan menyembunyikan rasa sakit maupun kecewa yang ia rasakan di balik keceriaan dan kepolosannya.

__ADS_1


"Apa kau sadar dengan kalimatmu?" tanya Elvan.


"Ya, perasaanku jauh lebih baik sekarang. Dan aku akan melunasi depe yang tadi, biar nggak ada hutang hukuman lagi," kata wanita itu dengan lugasnya.


Astaga! Untuk ke sekian kali Elvan kehabisan kata-kata, apalagi memang selama ini ia terlalu minim kosa kata saat berbicara. Paling sering hanya Hem dan Hem.


Mendengar Vada bicara seperti itu saja sudah langsung membuat sesuatu di balik handuk yang melilit pinggang Elvan kembali menggeliat.


"Tidurlah!" ucap Elvan datar. Entah itu perintah untuk istrinya atau untuk sesuatu di balik handuknya. Ia berjalan menuju walk in closet sambil terus menghela napas hingga dadanya naik turun demi menahan hasrat yang kembali muncul.


"Benarkah tuan tak mau menghukumku?" tanya Vada berteriak. Membuat Elvan menggeram. Apa wanita itu tak tahu bagaimana susahnya ia mengendalikan diri. Elvan malah mengggidik rasanya dengan kelakuan sang istri.


"Tidur!" sentak Elvan.


"Oh, baik. Selamat malam tuan suami. Dan terima kasih banyak untuk hari ini," ucap Vada tulus.


Elvan yang mendengarnya hanya tersenyum samar. Ia masih memiliki PR untuk menidurkan belut impornya kembali setelah ini.


Saat Elvan selesai memakai piyama tidurnya. Ia segera ke kamar. Ternyata Vada sudah tidur terduduk dengan sebuah buku masih berada di pangkuannya.


"Sudah tepar begini, sok-sokan ngajak berkeringat," batin Elvan. Sudah ia perkirakan, jika ia nekat melakukan penyatuan dengan Vada, pasti ia tak akan terpuaskan karena istrinya akan KO duluan sebelum ia mencapai puncak. Yang ada malah membuatnya semakin emosi.


Elvan mengambil buku yang di genggam sang istri dan meletakkannya di atas nakas. Dengan pelan ia membenarkan posisi tidur sang istri lalu menyelimutinya.


"Tidak ada hukuman malam ini, tapi kau harus membayarnya Berkali-kali lipat esok hari, kepala batu," gumam pria itu sedikit mengulum senyum.


🖤🖤🖤


💠💠Si beruang kutub udah mulai sering senyum meski tipis-tipis....


LIKE dan komennya jangan lupa seyengku...


💠💠

__ADS_1


__ADS_2