Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 49


__ADS_3

Vada Berkali-kali menggerutu sambil terus berusaha menutupi beberapa tanda kepemilikan yang Elvan buat di lehernya pagi itu.


"Sudah ku duga, dia nggak mungkin berbaik hati melepaskan aku dari hukuman semalam. Aneh malahan kalau dia tidak melakukannya," dengus Vada di depan cermin.


"Ku kira kesambet jin baik dari mana itu suami beruang kutub semalam, eh taunya," keluhnya lagi.


Ya, kenyataannya sebelum subuh tadi, suaminya itu berhasil melakukan penyatuan dengannya sebanyak dua kali. Gila memang. Semalam Elvan membiarkannya tidur beristirahat ternyata hanya untuk supaya Vada memiliki energi di pagi buta saat mendapat serangan fajar darinya. Karena nyatanya pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya.


Pria itu sudah berusaha sekuat tenaga untuk meredam hasrat miliknya, namun gagal. Ia justru merasa pening dan tidak bisa tidur. Hingga akhirnya Vada yang terbangun karena merasa haus harus rela melunasi hukumannya saat itu juga.


Elvan masih mendengkur halus saat Vada berusaha menutupi hasil kebuasan suaminya tersebut.


"Ya ampun. Ini orang sengaja banget bikin mahakarya cap bibir di sini. Hampir semua leher merah, udah kayak kerokan aja ini," omel Vada sambil terus mengoleskan foundation ke lehernya.


"Kirain mau di hapuskan dari hukuman semalam, eh tahunya dapat serangan fajar juga," keluhnya. Ia menoleh, melihat suaminya yang masih belum juga bangun.


Pelan tapi pasti, mata pria itu mengerjap. Vada langsung melengos, kembali menatap cermin di depannya sambil terus mengomel. Elvan yang mendengar istrinya mengomel tidak jelas hanya meliriknya datar tanpa merasa bersalah apalagi berdosa. Tentu saja tidak berdosa, orang yang ia serang tadi itu istri sahnya.


Elvan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Tanpa peduli dengan tubuhnya yang tak memakai underwear, Elvan melangkah malas menuju meja untuk mengecek ponselnya yang terletak di sana.


"Ya ampun, sengaja banget. Cuma pakai 'sarung' doang jalan-jalan. Nggak tahu malu!" cebik Vada lirih namun terdengar jelas di telinga suaminya. Untung istrinya itu tadi sudah cukup memuaskannya, kalau tidak habis lah sudah karena sudah berani mengomelinya.


"Kenapa? Mau lagi?" Tanya Elvan santai.


"Ck. iya boleh nambah lagi. Nih sekalian sebelah sini nih, biar penuh kayak kerokan!" ucap Vada setengah mengomel sambil menunjuk bagian lehernya masih ada space tak merah.


Elvan tak menghiraukannya, ia berjalan santai menuju ke kamar mandi. Meninggalkan Vada yang terus mengomel.


"Pokoknya nanti harus ganti foundation yang habis ini. Udah tinggal sedikit ini, tuan suami malah banyak tingkah. Emang nggak bisa mengecap di tempat lain saja yang tersembunyi," Vada menunduk, melihat dadanya dari celah kemeja yang ia kenakan. Ia lalu mendesah karena di sana juga sama saja, ada banyak tanda kepemilikan dari suaminya. Hampir memenuhi kedua dadanya.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Vada sedang sibuk mengoles selai ke roti saat Elvan turun ke meja makan. Wajah pria itu lebih segar terlihat. Vada merasa ada yang agak berbeda dari suaminya, tapi entahlah ia tak tahu apa itu. Tak peduli juga sebenarnya.


"Sarapannya ini aja ya, tuan suami. Aku tadi kesiangan mau masak. Sebenarnya bukan kesiangan bangun sih, tapi sengaja di buat enak jadi betah di kamar," sindir Vada. Namun, yang di sindir biasa saja dengn muka datarnya.


"Nih untuk tuan suami, spesial aku kasih empat lapis. Tahulah tenaganya kayak bapak macan, jadi makan juga pasti banyak kan?" lagi, Vada menyindir. Tapi yang di sindir hanya memicingkan ekor matanya sekilas. Membuat Vada kesal sendiri karena umpan tidak terpancing.


"Minum susunya juga, ini susu sapi murni yang mereknya beruang tapi iklannya ular naga," celoteh Vada.


Ia kemudian sibuk mengoles selai untuk dirinya sendiri, "Sekali-kali sarapan roti. Biar kayak orang bule, siapa tahu bahasa inggrisnya makin lancar. Nanti kalau jalan-jalan ke luar negeri kan nggak malu-maluin,"


"Kamu demam? Sakit?" tanya Elvan tiba-tiba yang mana menghentikan celotehan istrinya.


"Enggak, kenapa tanya begitu?" tanya Vada.


Elvan tak menjawab, ia hampir lupa siapa yang sedang ada di sampingnya itu. Bukan Vada kalau tidak absurd.


Elvan mengunyah rotinya sambil terus mendengar ocehan absurd sang istri pagi itu. Ia memang harus membiasakan diri mendengar ocehan sang istri yang kadang kelewat polos dan apa adanya tersebut. Namun, hal itu justru yang selalu membuat hatinya menghangat.


Kehadiran wanita itu memang membuat dunianya lebih berwarna dari sebelumnya yang terasa hitam pekat. Lama-lama warna itu menjadi abu-abu dan perlahan akan berubah menjadi pelangi yang indah. Semoga saja.


"Makan dulu, nanti tersedak!" peringkat Elvan. Nada bicaranya sih datar dan biasa saja, namun berhasil membungkam mulut istrinya.


Elvan tak menghabiskan roti yang ia makan, meskipun tenaganya di ranjang tak di ragukan lagi, tapi bukan berarti selera makannya juga rakus. Elvan meminum susu yang di jelaskan secara detail oleh istrinya tadi lalu bangkit dari duduknya, "Aku berangkat," pamitnya tak peduli dengan sang istri yang belum selesai dengan sarapannya.

__ADS_1


"Hem," sahut Vada. Ia terpaksa meninggalkan rotinya di atas piring demi mengantar sang suami ke depan.


Elvan yang berjalan di depan sang istri, maju mundur, ragu antara ingin melakukan sesuatu atau tidak. Pada akhirnya ia menghentikan langkah lalu memutar badannya, menghampiri Vada yang berdiri di depan pintu lalu mencium kening wanitanya tersebut.


"Eh tumben, aku di cium loh Keningnya!" terkejut, spontan Vada berucap girang yang mana membuat Elvan memejamkan matanya sekilas menahan malu.


Asisten Rio yang sudah menuggu tersenyum mendengar ucapan Vada.


"Senang ya tuan, ada kegiatan baru yang menyenangkan di pagi hari," ucap Rio setelah Elvan masuk ke dalam mobil.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Siang hari...


Elvan sedang memimpin rapat, saat tiba-tiba asisten Rio membisikkan sesuatu kepadanya.


Tanpa bersuara, Elvan menatap kaget keada Rio. Asisten Rio hanya mengangguk mengisyaratkan apa yabg i katakan barusan benar adanya.


"Baiklah, rapat cukup sampai di sini!" ucap Elvan kemudian.


"Tapi, pak. Rapatnya belum selesai. Proyek yang dari Surabaya belum kita bahas," ucap salah seorang bawahan Elvan.


Elvan menatapnya tajam, "Siapa namamu?" tanyanya dingin.


"Alvin, pak," jawab pria itu.


"Baiklah, segera kemasi barangmu. Mulai sekarang kamu saya pecat!"ucap Elvan tegas lalu melangkah pergi meninggalkan ruang rapat.


" Pak Rio, Pak Presdir bercanda kan? Saya tidak beneran di pecat kan? " tanya Alvin dengan wajah cemasnya.


" Semoga saja, berdoa banyak-banyak jika masih mau kerja di sini dan juga... Jangan bawel!" ucap Rio, ia mengembuskan napasnya lalu menepuk pundak Alvin sebelum akhirnya menyusul Elvan.


Praktis wajah Alvin seketika menjadi pucat.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Vada mengaduk-aduk minumannya yang ia beli di seberang tadi sambil melamun. Tinggal beberapa hari lagi batas waktu yang di berikan untuk meninggalkan panti dan dia belum menemukan tempat yang cocok untuk mereka tempati sampai saat ini.


"Ah ya ampun, gimana ini. Tuhan, aku pengin hujan duit yang banyak buat beli rumah buat adik-adik panti," ucapnya penuh harap. Meski ia tahu itu tidak mungkin. Mana ada hujan duit.


Ting!


Satu pesan masuk ke ponselnya. Seulas senyum terbit dari bibirnya. Rupanya itu notif bukti transfer dari Nita. Meski acara pesta semalam kacau, tapi temannya itu tetap memberikan bayaran sesuai yang ia janjikan sebelumnya. Bahkan di lebihkan sebagai tanda permintamaafan Nita atas insiden tidak mengenakkan semalam.


"Terima kasih orang baik," gumam Vada tersenyum.


Saat Vada hendak menyimpan ponselnya kembali, ia melihat ada panggilan masuk. Dari bunda. Buru-buru ia mengangkatnya.


"Assalamualaikum, bund," ucapnya setelah menggeser ikon berwarna hijau di layar ponsel.


Entah apa yang di bicarakan oleh bunda, yang jelas saat ini wajah Vada sudah berubah pias. Ia segera menutup panggilan dan meraih tasnya.


"Astaga!" Bu Sukma yang baru saja datang terkejut karena Vada hampir menubruknya karena buru-buru.


"Udah macam di kejar setan aja kamu ini," omel bu Sukma.

__ADS_1


"Kebetulan bu Suk datang. Aku ada urusan penting bu. Pamit ya, titip toko, assalamualikum!" ucap Vada dengan buru-buru.


"Lah yang punya toko siapa, kenapa dia yang nitip ke aku? Ngadu-adi nih bocah," gumam bu Sukma.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Vada berhenti tepat di depan pagar panti asuhan. Ia segera membayar taksi lalu turun memeluk dua buah celengan berbentuk ayam jago yang buru-buru ia ambil di kost tadi sebelum ke panti.


Vada melihat alat berat sudah terparkir di halaman panti. Terlihat anak pak haji Dulloh sudah nangkring di dalam alat berat tersebut, tepatnya di samping orang suruhannya yang siap menghancurkan bangunan panti.


"Heh, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Vada berteriak sambil ngekepin celengan ayamnya.


"Berisik! Mending kamu bantu mereka beres-beres di dalam biar bisa cepat pergi dari sini!" ucap anak pak haji Dulloh tanpa turun dari tempatnya.


"Eh kok gitu? Situ kan janjinya sebulan. Ini masih ada beberapa hari. Jangan ingkar janji dong, Pak. Udah tua juga suka ingkar! Nggak tahu malu, tua-tua ingkar!" omel Vada.


"Bikin repot aja! Emang waktu beberapa hari itu bisa buat ngumpulin uangnya? Enggak kan? Itu hartamu sudah kamu bawa semua? Hah percuma!"


Vada menunduk, melihat celengannya, kanan dan kiri, "Eh enggak ya, ini cuma sisa hasil jajan aja yang di sini. Aku punya tabungan kok di bank!" protes Vada.


"Berapa duit? Bisa buat bayar ini tanah?"


"Vada terdiam, buat sewa rumah yang agak besar dan nyaman saja tidak tahu cukup atau tidak uang yang ia punya,"


"Hah udahlah. Orang bunda juga udah setuju pindah. Kok kamu yang sewot. Minggir! Ngehalangin pemandangan aja, untung cantik!"


"Dih tua-tua genit!"


"Masuk sana, bantuin beres-beres. Kelamaan nunggunya ini. Pembelinya udah deal. Atau mau aku hancurin sekalian sama isi-isinya?"


"Coba saja kalau berani maju, sini!" tantang Vada.


"Eh dia nantangin orang tua. Drun, maju. Udah hancurin aja, nggak peduli dia cantik juga udah nolak saya kok. Maju!"


Vada terkejut karena alat berat tersebut benar-benar di nyalakan,"Duh, gimana ini. Ini orang-orang pada kemana sih, kenapa pada asrah aja mau di gusur," Batin Vada celingak-celinguk.


Sementara bunda dan tamunya yang sedang membicarakan sesuatu di dalam merasa terganggu dengan suara gaduh di luar. Mereka semua menoleh ka arah suara.


"Yo, coba periksa!" perintah Elvan.


"Baik tuan," asisten Rio segera mengintip ke luar. Matanya membulat lalu segera kembali mendekati tuan mudanya.


"Nyonya, tuan di luar ada nona yang sedang mengomeli mereka, bahkan dia menantang mereka untuk menabraknya," Rio melaporkan.


Elvan mendengus, istrinya itu memang bar - bar dan tidak ada takutnya.


Elvan segera bangkit dri duduknya dan melangkah keluar diikuti bunda dan asisten Rio.


" Apa yang kalian lakukan?" tanya Elvan sambil menarik tubuh Vada yang nyaris terkena ujung alat berat tersebut.


"Wanita ini nantangin kita, kita cuma ikutin maunya dia," jawab anak pak haji Dulloh, ia lalu menyuruh anak buahnya menghentikan kegiatan mereka. Karena sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan pihak panti untuk menunggu mereka membereskan barang-barang untuk keluar dari sana.


"Kau gila, bagaimana kalau kamu terluka?" tanya Elvan setengah berteriak. Sekilas ia memandang dua celengan ayam yang setia di kekepin oleh istrinya itu.


"Tuan, kenapa tuan ada di sini?" benar-benar, dimanapun dia berada, di situ pasti ada suaminya.

__ADS_1


"Tuan yang mau beli tanah ini? Iya?" tanya Vada yang langsung menyimpulkan. Ada nada kecewa dari pertanyaannya.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


__ADS_2