Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 54


__ADS_3

"Kau pulanglah, yo!" perintah Elvan saat mereka sampai di mansion.


"Tapi, tuan muda..." asisten Rio merasa khawatir dengan Elvan. Pria itu jika sudah diam, artinya kemarahannya sudah berada di puncak. Yang lebih ia khawatirkan lagi adalah Vada dan juga Mirza.


"Pergi!" bentak Elvan. Mau tidak mau Rio meninggalkannya. Ia masuk ke dalam mobil, melihat tuan mudanya yang sudah masuk ke mansion, barulah Rio melajukan mobilnya. Ia berharap semoga Elvan masih bisa mengendalikan diri setelah ini. Takutnya tiba-tiba ia mendengar perusahaan Mirza sudah hancur saja.


Brak pyar!!!


Elvan yang baru aja masuk ke dalam kamarnya memecahkan apa saja yang ia jangkau di dalam kamar tersebut. Hingga dalam sekejap, kamar itu kini terlihat mirip seperti kapal pecah, berantakan dengan pecahan Vas dan kaca di mana-mana.


Elvan terus menggeram. Entah kenapa hatinya merasa sangat sakit melihat istrinya di peluk pria lain. Meski ia tahu, pria itu adalah kekasih sang istri, namun justru itu yang membuatnya semakin kesal dan marah. Apa yang ia lihat tadi seolah menunjukkan jika di sini dialah orang ketiga diantara sepasang kekasih itu.


"Aaarrghhh, s h i t!" umpatnya. Ia tahu pernikahannya dengan Vada memang terpaksa, tapi bukan berarti wanita itu bisa seenaknya bertingkah di belakangnya. Ada rasa sakit di dadanya yang tidak ia sadari jika itu adalah lebih ke rasa cemburu. Elvan meyakini jika itu perasaan kesal karena tak di hargai sebagai suami.


Tangannya mengepal kuat lalu sasaran terakhirnya adalah cermin meja rias di kamar tersebut, sebelum akhirnya ia melangkah pergi.


Tin! Tin! Tin!


Dengan tidak sabar, Elvan memmbunyikan klackson berkali-kali saat para penjaga membukakan gerbang untuknya. Setelah gerbang terbuka lebar, Elvan langsung tancap gas, ia mengemudikan mobil sportnya dengan sangat cepat.


Para penjaga yang sudah diamanati oleh asisten Rio jika Elvan pergi mereka harus menghubunginya langsung menelepon.


"Ada apa?" tanya asisten Rio yang sudah hampir sampai apartemennya.


"Tuan muda baru saja keluar, tuan. Langsung ngebut," ucap penjaga gerbang.


Asisten Rio mendengus, ia terpaksa putar balik laju mobilnya, padahal ia baru saja sampai parkiran apartemen.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Sementara itu, Mirza yang berada di sebuah taman, namun taman yang berbeda dengan Vada duduk termenung sendirian. Taman itu adalah tempat dimana ia dan Vada dulu sering menghabiskan waktu bersama.


"Kenapa kau tega, Vada. Kenapa kau melakukan ini padaku. Apa salahku?" pertanyaan yang sama selalu Mirza gumam kan. Semakin memikirkan apa salahnya, semakin ia tiidak menemukan jawaban dan hatinya terasa semakin sakit.


Tak pernah terbayangkan oleh Mirza sebelumnya jika hubungannya dengan Vada akan berakhir seperti ini. Bahkan tidak adanya restu kedua orang tuanya saja tak menggoyahkan hubungan mereka sama sekali. Tapi, kini saat restu mereka dapat semuanya terasa sia-sia.


Bukan karena lemah, namun Mirza tak bisa menahan air matanya yang lolos begitu saja. Mewakili betapa rapuhnya hatinya saat ini.


"Aku tidak tahu harus bagaimana setelah kita berpisah, aku tidak tahu bagaimana hariku akan ku lalui tanpa separuh hatiku," rintih Mirza dalam hati.


"Aku tidak bisa tanpamu, Vada. Tidak bisa!" ucapnya sendu seraya memandangi kotak cincin di tangannya. Seharusnya cincin indah itu kini sudah melingkar indah di jari manis kekasihnya. Ralat, mantan kekasih maksudnya.


Semakin memikirkan hubungan mereka yang sudah usai, semakin sesak ia rasakan.


"Arrrghhh!" Mirza berteriak frustrasi, ia melempar kotak cincin yang ada di tangannya. Ia merasa cincin itu sudah tak ada artinya lagi.


Pletak!


"Aw! Woi siapa sih yang lempar sampah sembarangan? Sakit tahu!" teriak seorang gadis yang sedang bersembunyi di di balik pohon. Ia langsung menutup mulutnya sendiri takut ada yang mendengar teriakan nya.


Gadis itu mengambil benda yang baru saja mengenai Keningnya, "Wah cincin mahal ini," gumamnya seraya mengamati cincin itu di bawah cahaya rembulan.


Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan aman, ia keluar dari persembunyiannya. Ia kemudian menghampiri Mirza yang tampak acuh saat mendengar gadis itu memekik kesakitan.


"Eh om, ini cincin om bukan? Kena kepala aku nih, sakit tahu!" gadis itu menyodorkan kotak cincin itu ke hadapan Mirza.


"Sory," sahut Mirza pendek.


"Berdarah nih kening aku, om harus tanggung jawab!"

__ADS_1


"Berapa?" tanya Mirza pendek.


Gadis itu mendengus, lalu duduk di samping Mirza tanpa permisi, "Om pikir aku mau uang, aku uda punya banyak!"


"Lalu?"


"Ya tanggung jawab, nikahi aku!" seru gadis itu tanpa dosa.


Ya ampun, cobaan apalagi ini, baru saja di tolak lamarannya oleh wanita yang ia cintai, eh ini malah ada seorang gadis abg minta di nikahi. Apa dia pasien rumah sakit jiwa yang kabur, pikir Mirza.


" Saya hanya sedikit melukai kening kamu, bukan menghamili kamu, kenapa tanggung jawabnya kejauhan?" tanya Mirza heran.


"Itu... Karena... Karena aku butuh seorang ayah, tapi kan om nggak mungkin mau jadi ayah aku, kalau jadi suami bisalah. Nggak tua-tua amat kayaknya," ucap gadis itu dengan entengnya.


Mirza memijit pangkal hidungnya, "Kamu kabur dari RSJ, ya?"


"Enak aja, cantik-cantik gini di bilang gila. Aku masih waras, seratus persen sehat wal afiat,"


"Terus kenapa kamu berada di sini? Nggak baik gadis kecil keluyuran sendiri malam-malam,"


"Duh, kan. Jadi baper ada yang menasihati gini, benar-benar negmong deh kalau pria dewasa tuh,"


Mirza hanya menggelengkan kepalanya melihat gadis di sampingnya pandangannya ke depan. Gadis itu meliriknya, "Om nangis ya?" tanya gadis itu.


"Tidak, siapa bilang," sahut Mirza.


"Itu, di pipi om basah. Pasti habis nangis iya kan? Hem, pasti habis di putusin pacar ya, atau di tolak lamarannya, tadi kan om lempar cincin. Hem, nggak apa-apa nangis juga, manusiawi kok. Butuh sandaran? Sini..." gadis itu menepuk-nepuk bahunya.


Mirza kembali mendengus, lalu berdiri.


" Om mau kemana?"


"Udah malam, kamu pulanglah, nanti orang tuamu khawatir," ucap Mirza tanpa menoleh. Ia melangkahkan kakinya.


Mirza menggeleng tak peduli, ia tetap melangkahkan kakinya semakin menjauhi gadis itu.


"Mama nggak mungkin nyariin aku, om. Mama nggak peduli sama aku. Yang mama tahu hanya kerja dan kerja," gumam gadis itu sendu.


"Eh om, ini cincinnya kok nggak di bawa?" gadis itu mendesah pelan, pria dewasa itu sudah menghilang dari pandangannya.


"Nona Helena, sebaiknya kita pulang sekarang. Nyonya pasti marah kalau tahu nona kabur," ucap seorang pria berbadan tegap.


"Yah ketahuan," batin gadis itu.


"Aku nggak kabur, cuma jalan-jalan aja. Cari udara, lagian mana mungkin mama khawatir sama aku. Di sibuk sendiri juga," ucapnya kepada bodyguardnya.


"Tapi non, ini nyonya sejak tadi sudah menelepon,"


"Iya iya kita pulang! Bawel!"


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Di sebuah bar....


"Tuan, sebaiknya kita pulang sekarang, ini sudah malam. Mungkin nona sudah pulang," ucap asisten Rio.


"Ck, kalau kau mau pulang. Pulang sana!" sahut Elvan sinis.


"Iya bro, lo mending pulang deh. Ntar istri lo marah kalau tahu lo mabok. Gimana sih, kemarin bilang nggak mau minum karena ada bini lo di rumah nungguin, lah ini malah minum," ucap Bryan.

__ADS_1


"Gue nggak mabok, be go!" umpat Elvan. Yang mana membuat Bryan dan Rio berdecak bersamaan. Memang sih, sejak tadi Elvan hanya minum dua gelas, dan itu nggak ada apa-apanya buat Elvan.


"Yo, hancurkan perusahaan si brengsekk itu,"


"Tapi tuan,"


"Kau menentangku?"


"Tidak, bukan begitu tuan. Tapi, jika tuan melakukannya, nona aja semakin membenci tuan,"


"Ck, apa peduliku. Bukankah selama ini dia memang membenciku? Begitupun aku, sangat membencinya!" Sarkas Elvan.


"Ck, pasti anda peduli tuan muda. Karena tanpa sadar, anda sudah jatuh hati dengannya, sok bilang benci. Benar-benar cinta. Iya!" batin asisten Rio gemas.


Elvan diam, ia tak meneruskan perintahnya, sepertinya ia sedikit memikirkan ucapan Rio. Ia bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar bar.


Asisten Rio langsung menyusul Elvan," Tuan, biar saya saja yang mengemudi," ucap Rio.


"Minggir, yo!"


"Tapi tuan,"


"Kau berani melawan perintahku?!"


"Tidak tuan, tapi..."


"Aku tidak mabok! Minggir!" bentak Elvan, membuat asisten Rio menggeser badannya.


Brak!


Asisten Rio mengekus dadanya, saat mendengar bantingan pintu mobil dengan keras, "Nona, semoga anda selamat kali ini," batinnya.


"Hah, memangnya kau siapa, Nevada! Berani menentangku! Kita lihat apa yang bisa kau lakukan untuk kekasihmu itu!" umpat Elvan. Ia menambah kecepatan mobilnya.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Sudah pukul sebelas malam, Vada baru saja pulang ke mansion.


Dengan langkah malas ia menaiki anak tangga hingga sampai lah di kamarnya.


Vada terkejut melihat kamar yang sudah sangat berantakan tersebut. Apa kamarnya baru saja di rampok, pikirnya. Karena ia tak tahu jika suaminya sudah kembali dari luar kota.


Vada segera keluar untuk mencari pelayan, "Bi, kenapa kamarku hancur begitu? Apa kita kerampokan bi? Sudah lapor polisi?" tanya Vada bingung dan panik


"Tidak nona, tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi, itu tuan muda yang melakukannya. Tadi beliau pulang dalam keadaan marah, bibi nggak berani mendekat," cerita bibi.


"Elvan? Dia udah pulang? Terus sekarang dia dimana?" Tanya Vada yang semakin bingung.


"Bibi tidak tahu non, tuan muda langsung pergi setelah mengamuk di kamar, maaf bibi belum membersihkan kamar, tidak berani jika belum ada yang memerintah,"


"Ya sudah, bibi bisa istirahat, sudah malam. Biar saya yang menunggu tuan muda,"


"Baik non, permisi."


Vada kembali ke kamar, ia mendesah, melihat kamar yang begitu berantakan.

__ADS_1


"Dia kenapa lagi? Kenapa sampai ngamuk begini?" gumam Vada, menatap nanar kamarnya yang hancur tersebut. Hancur, sama seperti hatinya saat ini.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


__ADS_2