Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 31


__ADS_3

Sampai jam makan siang tiba, pemilik perusahaan tersebut tak kunjung kelihatan. Mukanya seperti apa saja Vada belum tahu sebenarnya.


"Apa jangan-jangan orangnya udah keluar, tapi aku nggak tahu lagi yang mana orangnya," gumam Vada. Ia kembali mendekat ke resepsionis.


"Mbak Mutia!" panggil Vada sok akrab.


"CEOnya udah keluar belum?" tanyanya.


"Belum mbak, lagian di bilangin suruh taruh aja di situ kok ngeyel," ucap Mutia jengah.


"Di bilangin harus dipastikan diterima langsung orangnya juga, mbak Mutia ngeyel! Amanah mbak, ini amanah! Ngerti nggak sih!" Vada kembali lagi ke sofa.


Vada melihat ponselnya, bu Sukma sudah mencak-mencak karena Vada belum juga kembali ke toko.


"Halo, bu Suk. Ini lagi usaha buat ketemu CEOnya bu, jangan ngomel dulu," Vada mengarahkan kamer ponselnya ke sekumpulan hadiah-hadiahbyang terbengkalai tersebut.


"Tuh, lihat kan, bukan dari toko kita aja, tapi banyak! Dan orangnya susah buat di temui, mending ibu, pulang makan siang dan tidur saja dari ada ngomel! Jangan lupa doakan aku supaya berhasil!" Vada langsung menutup teleponnya.


"Ya ampun, ribet banget cuma mau ketemu aja, udah kayak mau ketemu presiden aja. Seperti apa sih orangnya. Adhitama... Kayaknya emang nggak asing namanya, mirip suami beruang kutubku apa ya? Elvan siapa sih namanya, aku lupa!" gumamnya yang memang lupa atau lebih tepatnya tidak mau mengingat karena tidak penting menurutnya. Orang suaminya saja selalu memanggilnya Nevada, padahal itu bukan namanya.


Bosan menunggu, akhirnya Vada malah ketiduran.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


"Tuan muda, sudah lewat jam makan siang. Kita ada janji dengan di restoran Enak di lidah dengan klien," kata asisten Rio.


Tanpa bicara, Elvan berjalan meninggalkan ruangannya disusul asisten Rio di belakangnya.


Setelah keluar dari lift khusus dan berjalan di lobi, Elvan menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sofa dimana ada seorang wanita tertidur sambil memeluk buket bunga. Ia lantas mengernyit, seperti mengenal wanita itu, pikirnya.


"Tuan muda," panggil asisten Rio yang ingin mengingatkan jika mereka sedang buru-buru.


Elvan mengangkat tangannya sebagai isyarat kepada Asisten Rio untuk diam. Ia berjalan mendekati sofa lalu memijit pangkal hidungnya. Ia tak salah melihat, itu istrinya yang sedang tidur di sana. Lagi-lagi istrinya itu berulah, tidur siang di kantornya bukannya di rumah, pikirnya.

__ADS_1


Elvan membungkuk, tangan kirinya berkacak pinggang, sementara tangan kanannya menyentil kening wanita itu cukup keras. Sekali tak membangunkan wanita itu, dua kali juga tidak mempan. Yang ketiga kalinya sedikit lebih keras lagi, barulah mampu membuat Vada melenguh.


"Ah, siapa sih ganggu aja! orang lagi enak tidur juga, ganggu!" omel Vada sambil menyentuh Keningnya yang terasa sakit karena di sentil.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Elvan.


Suara itu, Vada langsung mengerjapkan matanya lalu mendongak, "Tu-tuan...," ucapnya gugup saat matanya bersirobok dengan mata suaminya.


"Tuan ngapain di sini?" tanya Vada polos. Ia masih belum ngeh jika suaminya adalah pemilik perusahaan tersebut.


Elvan menautkan kedua alisnya, "Dasar bodoh!" gumamnya dalam hati.


"Ngapain di sini?" tanya Elvan sekali lagi.


"Aku... Aku..." Vada seperti kehabisan kata-kata, ia langsung menunduk.


Elvan ikut menunduk ke pangkuan Vada, melihat buket bunga di pelukan sang istri lalu ia menarik tangan Vada, "Ikut denganku!" ucapnya.


"Kau pergilah sendiri, Yo. Dan pesanan makan siang untukku!" ucap Elvan kepada asisten Rio. Ia menoleh, menatap sang istri sebagai isyarat untuknya juga.


"Baik tuan," asisten Rio mengangguk mengerti.


Sementara Elvan melanjutkan langkahnya menuju lift khusus sambil terus menggandeng tangan Vada yang berjalan di belakangnya.


Meninggalkan semua orang yang melongo melihat aksi Elvan barusan. Jiwa kepo mereka langsung meronta-ronta ketika melihat big bos mereka menggandeng tangan seorang wanita dan mengajaknya masuk ke lift khusus yang artinya akan di ajak ke ruangnnya.


Hampir semua orang masih tak berkedip menatap lift yang sudah tertutup tersebut,


"Siapa wanita itu?" tanya salah satu dari mereka mulai bergosip.


"Tidak tahu, yang pasti wanita itu spesial. Lihat saja tuan muda menggandeng tangannya, ya ampun kalau saja aku yang di gandeng, bakal aku museumin nih tangan, nggak mau aku cuci tangan, biar wanginya tuan Elvan tetap nempel di tangan," ucap temannya yang seorang wanita.


"Dih halu. Tapi, masa sih itu wanita spesial, kok penampilannya sederhana begitu, norak, kamoungan. Apa begitu selera ya tuan Elvan. Setahuku dulu nona Zoya modis banget orangnya," timpal temannya.

__ADS_1


"Begitu di bilang norak, kamu lebih norak malahan. Wanita tadi juga cantik kok. Banget malah, cantiknya alami. Bening banget kayak bidadari, kalau dia mau sama aku, aku nggak nolak juga," timpal yang lain yang. Dan kasak kususk terus saja berlanjut, saling menyahut satu sama lainnkarena mereka memiliki bahan untuk di ghibahkan. Yang mana membuat asisten Rio yang akan melangkah pergi merasa jengah.


"Sebaiknya kalian bubar, jika masih sayang dengan nyawa kalian. Bubar!" bentak asisten Rio, membuat mereka langsung membubarkan diri dan sok sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Sementara Mutia, melongo menatap lift dan langsung harap-harap cemas, mengingat sikapnya tadi.


"Bunganya," ucap Vada saat ia dan Elvan sudah berada di dalam lift. Ia sampai melupakan bunga yang seharusnya ia berikan untuk pemimpin perusahaan yang tak lain adalah suaminya sendiri. Tadi dia menjatuhkannya di sofa saat tangannya di tarik oleh Elvan.


"Biarkan orang membawanya ke atas!" ucap Elvan datar bersamaan dengan tertutupnya pintu lift.


Vada mengangguk patuh.


Elvan langsung mengukung Vada di dinding lift menggunakan satu tangannya, "Katakan, apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah untuk ini?" Elvan langsung mencium bibir Vada sekilas.


"Bukan, tuan. Aku mengantar bunga untuk pemilik perusahaan," ucap Vada setelah Elvan melepas pagutannya.


Elvan mengernyit, "Untukku?" tanyanya.


Ah ya ampun, kini Vada baru ngeh, kalau pasti Elvan adalah CEO yang di maksud.


Vada mengangguk, ia selalu ngeblank jika berhadapan sedekat ini dengan suaminya.


"Hanya itu?" tanya Elvan dan Vada kembali mengangguk, ia serasa kehilangan oksigen di kungkung seperti itu, di dalam lift hanya berdua lagi.


"Bukan untuk ini juga?" Elvan kembali memagut bibir Vada penuh nap su. Terhanyut akan ciuman memasukkan sang suami, Vada tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher Elvan, ia membalas cuman panas suaminya.


Vada menggeleng, saat ciuman mereka berhenti demi menghirup oksigen yang hampir saja habis karena kegiatan barusan.


Elvan mengernyit lagi, wanitanya itu menggeleng, namun baru saja dengan jelas ia membalas ciumannya.


"Bodoh!" Elvan mengacak rambut Vada dan menarik tangannya keluar dari lift.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤

__ADS_1


__ADS_2