
"Mama kenapa Syedih? Uncle hancem malah? Ndak jadi maem di syini? Kya ndak nakal, mama," ucap Kyara yang datang menghampiri Vada setelah Elvan pergi.
"Tidak, sayang. Unclenya buru-buru karena ada urusan. Kya bobok aja, ya? Udah malam," sahut Vada. Ia melihat kekecewaan di wajah putrinya tersebut. Berbeda dengan tadi yang begitu ceria dan berbinar saat Elvan masih di sana.
Vada membopong Kyara menuju ke kamar mandi untuk cuci tangan dan kaki sebelum ke kamar.
" Mainannya, mama. Belum Kya belesin!" seru Kya.
"Nggak apa-apa, nanti mama yang beresin,"
"Maksyih, mama," seperti biasa, Kya selalu mencium pipi Vada setiap mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama, sayang. Sekarang bobok ya? Mau dongeng apa? Pangeran dan putri mau?"
Kyara mengangguk, "Mau Mothy juga, mama, mau dengar celita baleng Mothy!"
"Baiklah, sebentar!" Vada turun dari tempat tidur dan mengambil mothy.
Tak perlu waktu lama untuk menidurkan Kyara. Kini anak itu sudah terlelap memeluk bonekanya. Menyisakan Vada yang masih terjaga. Ia ingat kembali dengan ucapannya tadi. Sedikit menyesal kenapa ia sampai terbawa emosi dan bicara seperti itu.
Vada benar-benar dilema, di satu sisi ia tak tega berbohong terus dengan Kyara padahal ayahnya di depan mata, tapi anak itu tak bisa leluasa memeluknya. Tapi, di sisi lain ia juga takut. Takut kalau Elvan nanti berniat mengambil Kyara darinya. Ia tak akan bisa hidup tanpa Kyara.
"Mama harus gimana, sayang? Maafin mama," Vada mencium kening Kyara.
Vada membuka laci nakas, dimana di sana terletak dua cincin bersanding. Satu cincin pemberian Elvan atau bisa di bilang cincin pernikahan mereka. Yang satunya adalah cincin pemberian Andra untuk mengikatnya. Ia tak memakai satu diantaranya dan memilih menyimpan keduanya.
"Apakah melangkah dengan Andra adalah pilihan yang tepat?" gumamnya. Ia mengambil cincin pemberian dari Andra.
"Karena dengan abang, adalah sebuah ketidakmungkinan," Vada mengambil cincin satunya lagi lalu menggenggamnya erat, "Kenapa abang harus datang, kenapa? Aku ingin hidup tenang, jika abang disini mana bisa aku tenang, sudah sejauh ini aku pergi, tapi abang tetap menemukanku,"
Sementara Elvan, kini masih di jalanan tak tahu akan kemana. Berkali-kali ia mengembuskan napasnya, namun rasa sakit di dadanya masih saja terasa,"Apa kamu semarah itu sama aku sampai memilih menganggap ayah Kyara tak ada?" batinnya.
.
.
.
"Ini susunya Kya, ini juga ada biskuit. Kya duduk anteng di sini, mama keluar dulu ya? Jangan keluar, oke?" pesan Vada setelah membuatkan Kyara susu dan menyediakan camilan untuk Kyara.
"Ya, mama!" Kyara mengangguk patuh. Jika anak lain seusianya akan anteng jika di berikan gadget, lain dengan Kyara. Vada tak pernah memberikn gadget kepada putrinya tersebut. Sehingga Kyara tak begitu mengenal gadget, termasuk ponsel.
Vada keluar dari ruangannya. Ya, hari ini ia kembali bekerja seperti biasa dengan membawa Kyara yang belum juga ada pengasuh penggantinya. Kesibukan di kafe setidaknya bisa mengalihkan pikirannya soal Elvan.
Saat keluar, Vada mendengar ada keributan. Ternyata sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Nona, bagaimana ini? Mereka ribut mengganggu pengunjung yang lain," tanya Cindy yang takut melihat si pria itu sudah ngamuk sementara perempuannya tak mau kalah.
Vada mendengus, ada-ada aja masalahnya, pikirnya.
"Biar saya yang kesana, tolong pastikan Kya tidak keluar selama masih ada keributan," ucap Vada dan Cindy mengangguk.
Vada menghampiri dua anak manusia yang sedang ribut karena si perempuan ketahuan selingkuh tersebut.
"Maaf, tuan, nona... Sebaiknya anda selesaikan masalah anda berdua di luar. Di sini banyak pengunjung yang terganggu dengan keributan yang kalian ciptakan," ucap Vada dengan hati-hati.
Namun, rupanya keduanya tak menghiraukan ucapan Vada, mereka terus berteriak dan memaki satu sama lainnya. Membuat Vada hilang kesabarannya.
" Tolong kalian! Jalau mau ribut di kuar jangan di sini! Kalian mengganggu kenyamanan pelanggan saya yang lain!" ucap Vada dengan nada tinggi.
"Jangan ikut campur!" umpat si pria sambil menggerakkan tangannya mendorong Vada, hingga tubuh Vada terpental dan punggungnya terpentok ujung meja. Vada langsung merasakan nyeri di punggungnya tersebut.
"Apa yang kau lakukan, breng sek!" teriak Elvan yang baru saja tiba dan melihat adegn dimana Vada di diring tersebut dari luar. Ia langsung berlari masuk ke dalam.
"Berani sekali kau menyentuhnya!" Elvan hendak memukul pria yang mendorong istrinya tersebut namun suara Vada mengalihkan perhatiannya, "Abang, udah!" teriak Vada sambio meringis sakit menyentuh punggungnya.
Pria dan wanita pembuat onar tersebut langsung kabur dari sana.
__ADS_1
Elvan menolong Vada berdiri, "Apa yang terjadi, kenapa pria itu mendorongmu seperti ini?" tanya Elvan smbik memapah Vada dan menyuruhnya duduk.
Suasana yang tadi sempat ramai pun kembali tenang.
"Nggak tahu, mereka tadi ribut ganggu yang lainnya. Jadi aku suruh ribut di luar aja, eh malah di dorong," jawab Vada.
"Sakit? Coba lihat!"
"Eh jangan!" sergah Vada, ia beringsut mundur duduknya.
"Pasti memar, harus di obat. coba abang liat!"
"Abang..." lagi, sorot mata Vada memohon, "Nanti aku obatin sendiri," ucapnya
"Apa yang terjadi, nona kenapa?" Rio yang datang terlambat karena tadi harus menjawab telepon dari salah satu klien terlebih dahulu bertanya.
"Kamu nggak cegah pria breng sek itu kabur, yo?" tanya Elvan.
Rio menggeleng seraya nyengir membuat Elvan berdecak sebal.
"Ambilkan minum, yo!" perintah Elvan.
"Nona Cindy, tolong ambilkan minum!" ucap Rio pada Cindy yang kembali sibuk dengan pelanggan.
"Malah nyuruh orang. Matamu nggak lihat dia lagi sibuk, gunakan kaki dan tanganmu membantu!" hardik Elvan.
Rio melenguh haruskah ia beralih profesi menjadi pelayan kafe hari ini.
"Ini!" Rio menyodorkan segelas air putih kepada Vada.
"Yang ikhlas kalau bantu orang pak Rio!" ucap Vada.
"Iya, nona. Saya ikhlas lahir batin," sahut Rio.
"Tapi kayak nggak ikhlas gitu mukanya,"
"Ada salep buat lukanya?" tanya Elvan.
"Ada, aku ambil dulu!" Vada masuk ke ruangannya untuk mengambil salep untuk lukanya. Ia tak mungkin mengobati lukanya di sana karena ada Kyara. Anak itu akan takut jika ibunya sakit.
Vada memilih pergi ke toilet untuk mengobati lukanya. Elvan yang melihat Vada keluar dari ruanganya langsung beranjak dan mengikuti Vada. Ia khawatir istrinya kenapa-kenapa. Rio pun ikut menyusul di belakang Elvan.
"Kalian ngapain, ini toilet perempuan," Vada menunjuk tanda gender di depan pintu. Elvan dan Rio pun saling pandang.
"Ya sudah, kamu masuk. Kalau butuh bantuan aku di sini," ucap Elvan.
"Kalian keluar saja, nanti dikira mau ngintip!" Vada langsung masuk ke dalam. Untung toilet sedang sepi tak ada orang. Sehingga ia bisa mengobati lukanya di depan cermin besar yang ada di luar tempat buang hajat tersebut.
Vada membuka kancing bagian atas kemejanya. Ia menurunkan kerah kemejanya sedikit melewati bahunya. Namun ternyata ia kesusahan melihat dari kaca di depannya, "Aduh nggak kelihatan lagi yang luka," gumamnya.
Vada mencoba meraba bangian bahunya sedikit ke bawah.
"Arrggh!" teriak Vada ketika tidak sengaja tangannya menyentuh lukanya yang ternyata tak hanya memar namun juga sedikit robek.
Di luar, Elvan yang masih setia berjaga langsung mendobrak pintu pintu begitu mendengar teriakan Vada.
"Kenapa?" tanya Elvan. Melihat bahu hingga punggung Vada yang terbuka, ia langsung mengangkat tangannya, mencegah Rio untuk ikut masuk. Riopun mengangguk dan urung masuk.
Elvan berjalan mendekati Vada. Wanita itu hanya diam melihat pantulan suaminya mendekat dari cermin.
"Jangan, bang!" Vada berusaha menghindar ketika Elvan menyentuh bahunya. Namun, Elvan menahannya. Tanpa bicara, ia meraih botol salep di tangan Vada.
"Abang..." gumam Vada, memohon untuk Elvan tidak menyentuhnya. Namun lagi, pria itu tak peduli. Ia mengusapkan salep di luka yang lebam lalu mengambil plester yang juga di bawa oleh Vada tadi untuk membalut luka robeknya.
.
.
__ADS_1
.
"Abang ngapain ke sini?" tanya Vada saat keadaan sudah kondusif. Kini mereka sudah duduk berhadapan.
"Kenapa? Apa ada larangan untuk datang ke kafe ini? Rasanya siapa saja boleh makan atau minum di sini, asal bayar," ucap Elvan santai.
"Mana Kya? Aku mau ketemu dia," lanjut Elvan yabg sejak tadi Tak melihat anak itu.
"Kalau mau makan, makan aja. Nggak usah cari anakku," sahut Vada.
"Kau yakin dia hanya anakmu?" tanya Elvan ketus.
"Tentu saja, aku yang hamil dan melahirkannya seorang diri!"
Elvan merasa tertampar dengan kalimat Vada. Pantas jika wanita itu marah dan mengklaim Kya hanya anaknya. Tapi, sifat keras kepala Elvan tak mau menyerah.
"Jangan kau pungkiri, Kya ada karena ada yang menanam benih pada ibunya," ucap Elvan.
Vada mendelik sebal. Ingin sekli mengumpat tapi, tiba-tiba Kyara datang. Entahlah, anak itu seperti di panggil kelar. Setiap ada Elvan selalu saja peka. Padahal sejak tadi anteng dengan dot dan juga mainannya di dalam. Tapi, seperti mendapat panggilan, ia langsung keluar.
"Uncle hancem!" Kyara berlari sambil memeluk Mothy. Elvan langsung tersenyum ke arahnya.
"Uncle kesyini?" tanya Kyara sembari berusaha duduk di kurai dekat Elvan.
"Hem, Uncle lapar," sahut Elvan. Ia melirik Vada.
"Aku akan menyuruh Cindy untuk mengantar makanan, Kya jangan lama-lama di luar. Mama masuk dulu," pamit Vada. Ia tak snggup jika harua duduk disana bertiga layaknya keluarga kecil bahagia. Hatinya tak sekuat itu.
"Aku ingin kamu yang melayaniku, Vada," ucap Elvan lembut.
"Ada Cindy, bang. Dan itu pekerjaannya,"
"Tapi aku ingin kamu yang melakukannya, seperti dulu," kekeh Elvan.
Vada tak menggubris, ia memilih melangkah.
"Lihatlah Kya, mamamu tidak memenuhi permintaan pembeli. Bukankah pembeli adalah raja? Dan uncle ingin mama Kya yang melakukannya, mama..."
"Abang...." Vada berhenti dan menoleh. Elvan tersenyum, ia senang sekali mendengar panggilan itu untuknya. Terasa begitu... Manis.
"Jangan ajari Kya yang tidak-tidak!" peringatnya.
"Kalu begitu, lakukan! Layani abang," ucap Elvan. Vada mencebik, namun ia juga tak mau berdebat di depan Kyara hingga akahirnya mengalah.
"Mama malah?" tanya Kya pada Elvan.
"Tidak, mama senang," sahut Elvan.
"Tapi mata mama melotot," kata Kyara polos.
"Em itu karena matanya pegal," alasan macam apa itu, Elvan bahkan merutuk kalimatnya barusan.
Sementara Vada membuatkannya makanan, Elvan mencoba mengajak Kyara mengobrol. Sedikit banyak ia mengorek tentang Kyara dan ibunya. Hingga ia ingat tujuannya datang ke sana adalah untuk...
"Aduh! Kok uncle jambak Kya, syakit tau!" Teriak Kyara memegangi kepalanya karena tiba-tiba Elvan lenarik rambutnya.
Elvan meringis, "Ada semut tadi, maaf," ucapnya beralasan.
Kyara mendengus kesal.
"Aduh, kok Kya tarik rambut uncle?" Elvan meringis ketika Kyara membalas apa yang dilakukannya tadi.
"Ada temut di kepala Uncle!" balas Kyara tersenyum jahil.
"Astaga! Anak ini pendendam," batin Elvan.
Rio yang duduk di belakangnya terkekeh melihat bagaimana Kyara membalas aoa yang di lakukan Elvan, "Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya," gumamnya.
__ADS_1
...----------------...