
Elvan tersenyum ketika kini di tangannya mendapat apa yang ia inginkan. Ya, secarik kertas yang baru saja Rio berikan itu menyatakan jika Kyara memang benar anaknya. Apapun alasannya, kali ini Vada tak akan bisa mengelak lagi.
Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak ke dalam hatinya. Jika Kyara benar anaknya, berarti selama ini Vada harus berjuang sendiri merawat Kyara. Tapi tunggu, bukankah ada Andra? Apakah selama ini pria itu yang menggantikan posisinya sebahai ayah dan juga... Pasangan untuk Vada? Mengingat kemarin Vada semat mengatakan jika ia dan Andra akan menikah dan Andra akan menjadi ayahanya.
"Tidak! Tidak akan aku biarkan apa yng menadi milikku, dimiliki orang lain. Sudah cukup kesalahan pahaman ini. Aku tidak mau kehilangan anak dan istriku," batin Elvan yang langsung berdiri dari duduknya. Yang man membuat asisten Rio berjengit karena terkejut.
"Ada apa, tuan muda?" tanya Rio.
"Bukti ini sudah jelas kalau Jya memang anakku, yo! Aku harus menemui VADA SEKARANG!" ucap Elvan menggebu.
"Sebaiknya tuan bisa sedikit menahan diri, bagaimanapun, selama ini nona berjuang sendiri untuk hidupnya terlebih untuk Kyara. Tuan harus bisa mengendalikan diri saat bertemu dengan nona nanti. Mungkin nona akan menolak kedatangan tuan sebagai ayah dari Kyara sebagai bentuk kemarahan dan keekcewaannya terhadap tuan muda. Tuan muda harus sedikt bersabar untuk meluluhkannya. Jangan...." Rio mencoba menasihati tuan mudanya tersebut. Bamun, belum selesai ia bicara, Elvan sudah menyambar.
"Ck, emang biasanya aku tidak sabar?!" cebik Elvan sembari mengambil kunci mobil.
Dengan tak sabar Elvan terus menekan klacson mobilnya saat jalanan yang entah kenapa hari ini macet. Bahkan ia sampai turun dari mobil untuk menyuruh mobil di depannya untuk segera melaju. Namun tetap saja tidak bisa karena di depan sana habis terjadi kecelakaan sehingga menyebabkan jalan macet seperti itu.
"Si al!" umpat Elvan. Ia benar-benar tak sabar ingin bertemu istei dan anaknya. Ingin segera mengklaim kepemilikannya atas mereka.
Akhirnya, setelah berjuang dalam kemacetan akhirnya Elvan sampai di kafe milik Vada. Namun, ternyata hari ini Vada tak datang ke sana. Tanpa bertanya kenapa Vada tidak datang, Elvan langsung pergi dari sana.
Elvan kembali melajukan mobilnya dan kali ini tujuannya adalah apartemen Vada. Ya, hanya dua tempat itu yanga ada dalam pikirannya kira-kira dimana keberadaan Vada.
Setengah berlari, dengan tak saabrnya Elvan menaiki lift menuju lantai tujuh. Sampai di depn pintu apartemen Vada, ia diam sebentar untuk mengatur napasnya lalu memencet bel.
.
.
.
Kyara tengah berbaring memeluk Vada yang yang sedang tidak enak badan. Sejka pagi tadi, Vada mengeluh tidak enak badan, namun yang bisa Kyara lakukan hanya memeluknya seperti ini meski dengan tingkah usilnya.
"Kya bermain sendiri dulu ya, mama mau tidur sebentar saja. Nanti kalau mama udah enakan, Kya main sama mama," ucap Vada. Biasanya jika sedang tidak enak badan, ia cukup minum minum obat, istirahat sebentar, dan tubuhnya akan sedikit membaik. Sesakit apapun, ia tetap memaksa diri untuk bngkit demi Kyara. Tapi, kali ini ia benar-benar merasa tak berdaya.
Mendengar ada bunyi bel, Kyara memandang ibunya yang ternyata memejamkan mata. Entah tidur atau apa, Kya tak tahu. Ia sudah paham jika sakit itu tidak enak rasanya, sehingga ia tak tega untuk membangunkan sang ibu.
Kyara merangkak turun dari ranjang dan keluar menuju ruang tamu. Ia menatap ke arah pintu. Tidak boleh sembarang membuka pintu, itu pesan Vada kepadanya jika terkadang ada keperluan mendesak yang terpaksa harus meninggalkan Kyara di apartemen. Namun dengan catatan tidak lama.
__ADS_1
Bel kembali berbunyi. Di luar sana Elvan yangs udah tidk sabaran rasanya ingin mendobrak saja pintu di depanya. Ia tak tahu jika di dal kini putri kecilnya sedang berusaha keras menarik kursi berbahan plastik menuju ke depan pintu demi untuk mengintip siapa yang datang.
Kyara merangkak naik ke atas kursi dan tinggi badannya yang memang bongsor, sudah cukup dengan hanya memakai satu kursi saja untuk bisa melihat. Seketika bibirnya merekah melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
Kyara langsung terjun dari atas kursi yang kunayan tinggi itu karena tidak sabar dan berlari menuju kamarnya untuk mengambil kartu akses untuk membuka pintu. Sampaindi depan pintu, Kyara menggeser kursi plastik tadi lalu mencoba membuka pintu.
"Vada, sekarang kamu tidak bisa lagi menge...." Elvan tak melanjutkan kelimatanya, karena di depannya tak melihat siapa-siapa.
"Uncle hancem!" ah suara itu, membuat Elvan langsung menurunkan pandangan sedikit ke bawah dan ia temukan putrinya. Elvan langsung berjongkok dan Kyara langsung menubruknya. Elvan tersenyum, kali ini ia membalas memeluk Kyara oenuh sayang.
"Kya kok buka pintu sendiri? Mama mana?" tanya Elvan seraya merapikan rambut Kyara yang sebagian menutupi wajahnya.
"Mama syakit, uncle. Kya takut.." ujar Kyara. Mendengarnya Ekvan langsung menatap ke dalam dimana kiranya sang istri berada.
Elvan membopong tubuh Kyara untuk masuk menuju ke kamar. Dan benar, wanita yang ia cinta itu kini sedang terbaring lemah di ranjang.
Seketika hati Elvan mencelos, jadi seperti apa jika selama ini salah satu dari anak dan istrinya sakit. Jika Kyara yang sakit pasti Vada sepenuh hati merawat, namun jika vada yang sakit? Siapa yang merawatnya dan Bagaimana dengan Kyara?
Dengan tetap menggendong Kyara, Elvan mendekat, ia menyentuh kening Vada, "Panas sekali," gumamnya. Merasa ada yang menyentuh keningnya, Vada sedikit membuka matanya.
"Abang..." gumam Vada lirih. Antara sadar dan tidak karena demam tinggi, ia seperti melihat bayangan Elvan.
Benar, ia tak salah lihat, Elvan memang ada di sana, pikir Vada.
"Kita ke dokter sekarang!" putus Elvan kemudian. Namun, Vada menggelengkan kepalanya, ia memaksa diri untuk membuka mata lagi, "Tidak perlu, istirahat sebentar nanti juga baikan," ucapnya lirih. Ia hanya berpikir, jika ke rumah skit da harus menginap, bagaimana dengan Kyara, siapa yang akan mengurusnya.
"Sudah sakit masih keras kepala," ucap Elvan.
Vada tak punya tenaga untuk mendebat suminya. Ia menatao Kyara, "Bisa tolong jagain Kya sebentar? Sebentar saja kalau abang tidak keberatan,"
"Kenapa musti minta tolong, Kya kan juga an..." Elvan tak melanjutkan bicaranya. Melihat kondisi Vada saat ini, rasanya tak mungkin ia membahas soal Kyara sekarang. Ia harus bersabar sedikt lagi.
Elvan menurunkan Kyara, "Kya tunggu sini, ya? Dad... Em maksudnya uncle mau ambil air buat kompres mama," ucapnya pada Kyara. Anak itu hanya mengangguk pasrah.
Meski mengangguk, namun Kyara tetap mengikuti Elvan kemana pria itu pergi untuk mencari apa yang ia butuhkan untuk mengompres Vada.
Saat kembaki ke kamarpun, Kyara mengikutinya di belakang lalu berhenti di depan pintu. Menyaksikan Elvan yang tengah bersiap merawat ibunya.
__ADS_1
Elvan melepas kancing lengan kemejanya lalu menggulungnya sampi ke siku. Ia mulai mengompres Vada dengan telaten.
Saat tengah sibuk mengurus sang istri yang tengah sakit, Elvan ingat anaknya. Tadi ia sibuk ke sana kemari, hingga tak sadar jika Kyara terus mengikutinya dan kini berdiri di depan pintu.
Elvan menghela napas lega ketika matanya menemukn gadis kecilnya tersebut.
Elvan tersenyum dan melambaikan tangannya, "Sini, kok berdiri disana?"
Kyara tak menyahut juga tak mendekat.
Melihat Kyara yang biasanya ceria hanya diam saja sejak kedatangannya tadi dan matanya fokus menatap ke arah Vada, Elvan menyadari sesuatu.
Ya, setiap kali Vada tidak enak badan, Kyara selalu merasa takut. Dalam pikiran polosnya, ia takut jika ibunya pergi meninggalkannya karena sakit.
Pun dengan Vada, jika Kyara skit, ia akan panik dan khawatir setengah mati. Di negara tersebut, mereka hanya berdua. Saling memiliki dan tergantung satu sama lain.
Elvan dan menghampiri Kyara, "Mama..."
Elvan berjongkok di depan Kyara, "Mama baik-baik saja. Dia sedang tidur, nanti bangun udah sehat bisa jaga Kya lagi," ucapnya sembari mengusap pipi Kyara yang.
"Kya mau syusysu, uncle!" sejak pagi tadi, Kyara memang sama sekli belum minum susu, padahal biasanya sudah beberapa kali ia minum.
"Susu?" tanya Elvan memastikan dan Kyara mengangguk.
Elvan tampak berpikir sejenak, "Baiklah, tunggu di sini, ya? Uncle akan buatkn," ucap Elvan. Ia segera menuju ke dapur. Dan lagi, Kyara bukannya menunggu di kamar, tapi mengikuti Elvan.
Menyadari jika Kyara mengikutinya, Elvan berhenti lalu menoleh, otomatis langkah Kyara juga terhenti," Mau ikut cari susu Kya?" tanya Elvan.
Kyara megangguk, "Kya, ndak mau di tinggal syendili," ucapnya. Ia merasa aman jika berada di dekat Elvan.
Elvan tak kuasa lagi menahan, ia langsung memeluk putrinya yang selama ini kehilangan figur seorang ayah yang seharusnya bisa melindunginya dn menjamin kenyamanan dan keamanannya. Memang ada Vada yang pasri berperan mati-matian sebagi ibu sekligus ayah untuk Kyara. Tapi, tentu saja akan terasa berbeda jika yang kandungnya yang berperan secara langsung.
Elvan begitu menyesal dan merasa bersalah. Ia telah melewatkan ribuan hari tanpa melihat perkembangan anak itu tumbuh menjadi balita sebaik dan sepintar ini. Bahkan saat ibunya sakit, ia tahu diri dengan tidak merepotkan sng ibu dengan merengek ini dan itu. Hanya diam dan mungkin menunggui Vada sampai enakan jika tak ada Elvan ataupun Andra di sana.
Elvan tak kuasa menahan air matanya, ia dekap tubuh mungil itu erat tanpa bis berkata-kata.
"Uncle kenapa?" tanya Kyara polos. Ia malah menepuk-nepuk punggung Elvan lalu berkata, "Sssst, janan syedih. Kya juga syedih. Tapi, Mama nanti syembuh. Mama bilang, mama akan selalu sehat buat ulus Kyala," kini malah giliran anak itu yang mencoba menenangkannya. Ia pikir Elvan memeluknya karena sama sedihnya dengan dirinya karena ibunya sakit.
__ADS_1
Mendengar ucapan Kyara, hati Elvan semakin mencelos, ananya sepintar itu. Rasa bersalahnya semakin besar," Maafkan DADDY, Kya, anakku..." batinnya.