Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 116


__ADS_3

Nyonya Tamara masih shock mengetahui kenyataan jika putri dari suaminya dengan wanita lain tersebut adalah perempuan yang menjadi istri anaknya. Ia tertegun, tak bisa berkata-kata hingga suara tuan Adijaya mengembalikan kesadarannya kepada kenyataan.


"Waktu itu kamu bilang dia meninggal bersama ibunya..." ucap Tuan Adijaya setengah menyelidiki.


Nyonya Tamara langsung menangis, "Maafkan aku, mas. Aku... Aku telah berbuat salah... Waktu itu aku...," tenggorokan nyonya Tamara serasa tercekat, ia takut jika pengakuannya akan membuat sang suami murka kepadanya.


"Waktu itu apa, Tamara? Apa kau mengethaui seusatu yang tidak aku ketahui?" tanya Tuan Adijaya.


Nyonya Tamara bujannya menjawab, justru malah semakin terisak mengingat apa yabg telah ia lakukan enm belas tahun yang lalu.


"Katakan yang sebenarnya, Tamara!" Tuan Adijaya sepertinya kehabisan kesabarannya. Siapa saja pasti akan sangat emosional jika menyangkut anaknya.


"Maafkan aku, mas. Sebenarnya anak mas dengan Diana tidak meninggal. Aku... Aku meninggalkannya di panti asuhan waktu itu," ucap nyonya Tamara sembari terisak.


"Kau....!" tuan Adijaya menunjuk nyinya Tamara penuh amarah. Namun juga rasa bersalah, karena dulu percaya begitu saja apa yang di katakan istrinya tersebut.


Nyonya Tamara langsung bersimpuh di depan tuan Adijaya, "Maafkan aku, mas. Aku benar-benar menyesal," ucapnya penuh penyesalan.


"Kenapa kau begitu jahat, Tamara. Aku yang salah, anak itu tidak tahu apa-apa! Kenapa kamu begitu tega?" ujar tuan Adijaya tercekat, "Aku bahkan sangat mempercayaimu meskipun tidak pernah melihat makam mereka secara langsung," sambungnya menyesal.


"Maafkan aku, mas. Aku salah...maafkan aku!" nyonya Tamara meraih tangan tuan Adijaya memohon ampun.


Tuan Adijaya yang sangat kecewa menarik tangannya dari genggaman tangan nyonya Tamara, "Kau lihat, Tamara! Karena ulahmu, putramu kini menderita!" hardik tuan Adijaya.


"Bahkan anakku juga ikut menjadi korban! Mereka sekarang pasti sama-sama menderita. Astaga Tamara! Apa yang kau lakukan waktu itu? Kalau kau tidak menipuku dengan mengatakan kalau Laras meninggal, semua tidak akan seperti ini. Elvan dan Laras tidak akan terlibat cinta seperti ini! Mungkin mereka akan yumbuh menjadi adikk kakak," lanjut tuan Adijaya. Daripada rasa marahnya kepada nyonya Tamara, ia lebih merasa sakit membayangkan nasib kedua anaknya.

__ADS_1


Tuan Adijaya memang sangat marah, namun semuanya sudah terjadi, menghakimi nyonya Tamara habis-habisan juga tidak ada guna. Tak akan mengembalikan waktu yang terbuang dengan menganggap anaknya telah meninggal selama bertahun-tahun. Yang terpenting baginya adalah mendapati kenyataan bahwa anaknya masih hidup.


"Ya ampun, Laras, dimana kamu sekarang, nak?" gumam tuan Adijaya.


Nyonya Tamara tak mampu berkata-kata, ia hanya bisa menangis meratapi nasib sang putra yang kini hidupnya sangat kacau tersebut. "Kalau begitu, kita katakan saja yang sebenarnya kepada Elvan, mas," ucapnya kemudian.


"Kau ingin membuka masalah yang selama ini kita simpan rapat-rapat? Kau yakin?" tanya tuan Adijaya.


Nyonya Tamara mengangguk, "Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya kepada Elvan, mas," ucap nyonya Tamara mantap.


.


.


.


Elvan tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. Saat turun dari tangga ia melihat kedua orang tuanya tengah duduk di meja makan menunggunya untuk sarapan.


Elvan sedikit terkejut saat melihat orang tuanya, ia hampir lupa jika Tuan Adijaya dan nyonya Tamara berada di mansion. Namun, ia segera berhasil menetralkan perasaan terkejutnya tersebut.


"Sarapan dulu, Van!" ajak nyonys Tamara begitu melihat putra semata wayangnya turun. Meskipun terlihat tak bersemangat dan terlihat lebih kurus, namun Putranya tersebut terlihat lebih baik daripada semalam ya g oukang dalam keadaan sangat kacau dan bau alkohol.


"Aku buru-buru. Kalian nikmati saja sarapannya!" ucap Elvan. Bagaimanapun rasa marah dan kecewanya terhadap sang ayah, ia tetap memiliki rasa hormat terhadapnya, terbukti dengan ia yang tetap mengulurkan tangan untuk menyalami tuan Adijaya.


"Duduklah dulu, ada yang ingin papa katakan sama kamu," ucap tuan Adijaya sebelum ia memberikan tangannya untuk di salami Elvan.

__ADS_1


"Kalau ini soal Vada, aku tidak ada waktu. Kalau papa ingin mencari anak papa dari perempuan itu, silahkan!" ucap Elvan dingin.


"Van..." nyonya Tamara memperingati Elvan untuk tidak berbicara arogant dengan ayahnya.


Tuan Adijaya mengedipkan matanya kepada nyonya Tamara supaya wanita itu lebih tenang.


"Ini memang menyangkut Laras...,"


Belum juga tuan Adijaya selesai bicara, Elvan sudah melangkahkan kakinya menjauh. Ia tak ingin mendengar apapun soal Vada, karena itu terlalu menyakitkan untuknya.


"Anak itu, selalu begitu! Van tunggu! papamu belum selesai bicara!" teriak nyonya Tamara, ia benar-benar sudah tidak sabar untuk membetitahu sebuah kebenaran kepada Elvan , berharap dengan kebenaran tersebut bisa memperbaiki keadaan.


Elvan menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh," Dua menit,"ucapnya tanpa menoleh.


" Papa cuma mau mengatakan kalau kamu dan Laras, tidaklah melakukan kesalahan karena menikah," ucap tuan Adijaya.


" Aku tidak ada waktu untuk main teka teki dengan papa!" kali ini Elvan menoleh, menatap pria paruh baya yang duduk di kursi roda tersebut sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.


"Maksud papa, kalian tidak salah menikah, pernikahan kalian tidak harus di batalakan karena kalian ini bukan saudara seayah!" ujar tuan Adijaya setengah bertetiak supaya Elvan mendengar Dengan Jelas.


Kata-kata tuan Adijaya sukses menghentikan langkah Elvan. Ia kembali mendekat kepada tuan Adijaya untuk mengkonfirmasi pendengarannya.


"Maksud papa? Vada bukan anak kandung papa dengan wanita itu?" selidik Elvan.


"Bukan Laras, em maksud papa Vada. Bukan dia yang bukan anak papa,. Tapi.... Kamu...,"

__ADS_1


__ADS_2