Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 80


__ADS_3

Mirza yang sedang sibuk menghantam anak buah Dimas langsung menoleh ketika mendengar suara tembakan. Ia terkejut begitu melihat Vada yang terkena tembakan demi menyelamatkan Elvan.


Vada terlihat meringis menahan sakit, "Abang tidak apa-apa kan?" tanyanya lirih. Elvan yang menyentuh punggung Vada melihat darah di tangannya.


"Kurang Ajar!" murka Elvan menatap berang kepada Dimas. Ia maju satu langkah dan birsiap untuk membalas Dimas, namun saat itu juga Vada kehilangan kesadarannya.


"Vada, sayang!" panggil Elvan panik. Ia tak mempedulikan Dimas lagi dan langsung menggendong tubuh Vada untuk membawanya ke rumah sakit. Meninggalkan Mirza yang ia yakini bisa menghandle Dimas.


"Breng sek! Ba jingan!" Mirza yang tak kalah murka langsung membabi buta Menyerang Dimas.


Sementara Elvan terus menggendong Vada dan berlari keluar. Di depan pi tu, Elvan melihat asisten Rio yang tergeletak kelelahan bersender daun pintu sehabis berkelahi dengan anak buah Dimas.


Elvan menyepak kaki Asisten Rio yang setengah tidak sadar tersebut. Rio langsung gelagapan dan mendongak. Ia terkejut melihat Elvan menggendong Tubuh Vada yang tak sadarkan diri.


"NO-nona... Nona kenapa tuan?" Tanya Rio panik.


"Siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang, Vada tertembak," Elvan bicara sambil berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di halaman kediaman Dimas.


Elvan segera membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalam di susul Asisten Rio yang langsung masuk dan melajukan mobil tersebut.


Saat Mirza terus menghajar Dimas, polisi datang dan menghentikannya. Jika tidak, bisa saja Mirza membunuh pria itu karena amarahnya yang tak terkendalikan. Pasalnya sebelum sampai Rumah dimas, Elvan sudah menghubungi polisi, meskipun bisa di bilang mereka datang terlambat setelah semua kekacauan terjadi.


"Yo, lebih cepat sedikit!" perintah Elvan tak sabar. Ia terus berusaha membangunkan Vada. Asisten Rio menambah kecepatan laju mobil. Ia melakukan yang bisa ia lakukan. Klackson mobil terus ia bunyikan seraya membelah jalanan kota pagi yang merangkak menuju siang tersebut. Entahlah, di jam-jam tersebut seharusnya jalanan sedikit lenggang. Tapi tidak kali ini, jalanan cukup ramai dan sedikit macet.


"Sayang, bertahanlah aku mohon!" ucap Elvan khawatir.

__ADS_1


Setelah melalui drama lalu lintas yang membuat Elvan semakin was-was akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat.


Vada segera di bawa ke UGD, "Sebaiknya Tuan tunggu di luar!" kata Perawat yang menghalangi Elvan untuk ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Si al!" Elvan berkacak pinggang dan tangan kanannya mengusap wajahnya kasar. Beberapa saat ia terus mondar mandi di depan pintu UGD. Sesekali ia duduk dengan tidak tenang.


"Tuan muda, sebaiknya Anda obati dulu luka Anda," ucap asisten Rio karena bibir Elvan juga berdarah akibat pukulan Dimas.


Elvan bergeming, ia sama sekali tak mengindahkan ucapan Rio, bahkan ia tak peduli dengan lukanya sendiri. Yang ia khawatirkan sekarang adalah istrinya.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


Elvan terus memegangi tangan Vada yang masih belum sadarkan diri meski wanita itu sudah di pindahkan ke ruang rawat beberapa saat yang lalu.


"Bangun sayang," Elvan terus menciumi tangan Vada.


Mengingat perselingkuhan Zoya dengan Dimas ya g sudah terjalin lama dan juga alasan utamanya menikahi Vada, seharusnya Elvan tak lagi peduli dengan istrinya tersebut. Toh, hal yang ia pertaruhkan. Hal yang ia banggakan dan mati-matian pertahankan menjadi miliknya yang masih menempel pada diri Vada ternyata milik seorang perempuan yang sudah menghianatinya.


Namun, saat melihat Vada yang hampir saja ternoda oleh Dimas tadi, ia benar-benar marah dan tak terima. Terlebih lagi saat Vada tertembak di depan matanya, rasanya Elvan seperti kehilangan kekuatannya. Benar-benar takut kehilangan istrinya tersebut. Rasanya ia akan kehilangan separuh hidupnya.


Dan disitulah ia menyadari jika ia sudah jatuh sejatuh-jatuhnya dalam perangkap pernikahannya sendiri. Ia telah jatuh cinta dengan wanita yang masih belum sadarkan diri tersebut.


"Maafkan aku, sayang. Bangunlah!" Elvan begitu menyesali perbuatannya selama ini. Memory saat dulu ia sering menyakiti fisik maupun batin sang istri berputar jelas di otaknya.


"Bangunlah. Aku mohon. Dan kau boleh menghukumku semaumu, cepat bangun!" gumamnya yang terus menciumi tangan sang istri. Betapa ia takut kehilangan wanita yang sudah merubah hidupnya tersebut. Apalagi jika mengingat wanitanya tersebut seperti ini karena demi melindungi dirinya. Betapa menyesalnya Elvan saat ini.

__ADS_1


Di luar ruangan, Mirza yang baru saja keluar dari ruangannya karena ia harus sedikit mendapat perawatan atas lukanya, hendak menjenguk Vada, namun langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu. Ia melihat dari celah kaca betapa sebenarnya Elvan mencintai istrinya. Pun dengan Vada yang rela mengorbankan nyawanya demi Elvan. Saat itu juga ia menyadari jika namanya sudah tak lagi ada di hati wanita tersebut. Cinta Vada sudah tak lagi miliknya.


Sakit, sedih dan kecewa sudah pasti Mirza rasakan, tapi melihat Vada selamat dari mau saja sudah lebih dari cukup untuknya. Tak terbayangkan betapa ia juga khawatir tadi saat melihat Vada tertembak.


Mirza mengulum senyumnya, senyum bahagia karena Vada baik-baik saja dan juga senyum kesedihan karena kini ia bukanlah orang yang spesial dan Vada butuhkan sekarang.


Tak jadi masuk, Mirza memilih meninggalkan ruangan tersebut, ia menggantungkan sebuah paper bag berisi Makanan untuk Elvan di handle pintu. Mirza tahu, pasti pria itu belum sempat makan sampai malam ini.


Elvan menoleh ke pintu karena merasa ada yang mengintip, ia berdiri dan membuka pintu namun tak menemui siapa-siapa di sana. Hanya sebuah paper bag yng tergantung di handle pintu yang ia temukan. Ia mengambil papar bag tersebut, celingak celinguk mencari pengirimnya namun tak terlihat.


Elvan kembali masuk ke dalam dan meletakkan paper bag tersebut di atas meja. Melihat sang istri yang belum sadar, membuatnya tak naf su makan sama sekali.


Elvan kembali duduk di kursi samping ranjang Vada berbaring. Di raih ya tangan Vada kembali.


"Kata dokter kau baik-baik saja, tapi kenapa belum bangun sampai sekarang? Apa kau marah padaku? Apa kau ingin menghukumku, sayang? Bangunlah, aku mohon!" ucapnya Dalam hati. Di kecupnya lama tangan sang istri matanya terpejam merenungi kesalahannya selama ini.


"Abang nangis?" tiba-tiba suara Vada membuat Elvan membuka matanya. Wanita itu tersenyum lemah menatapnya.


"Abang kenapa nangis?" tanya Vada lemah.


Sontak, Elvan langsung memalingkan wajahnya demi menyembunyikan rasa malunya yang tak sengaja menitipkan air mata,"Enggak, siapa yang nangis," kilahnya.


"Iya abang nangis, tangan aku basah," goda Vada tersenyum meski masih terlihat lemah.


"Bodoh! Jangan lakukan itu lagi! Jangan melakukan hal konyol seperti itu lagi, atau kau akan membuatku benar-benar kehilangan akal, kau hampir membuatku gila, Nevada!" Elvan langsung memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2