Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 32


__ADS_3

Elvan menarik Vada ke dalam ruangannya lalu ia mengempaskan ya pelan di sofa. Sementara ia kembali ke kursinya dan kembali fokus kepada pekerjaannya.


Beberapa menit berlalu, suasana masih hening. Tak ada obrolan antara keduanya. Sesekali Vada melirik suaminya yang tengah serius dengan sejumlah berkas di depannya.


Laki-laki itu terlihat semakin tampan saat sedang serius bekerja seperti itu, mampu membuat mata Vada tak berkedip untuk sesaat. diam-diam Vada memujinya.


"Kenapa sih, dia kalau lagi serius begitu ketampanannya meroket naik. Benar-benar racun ini. Astaga Vada, jangan terlalu banyak memujinya. Kenapa akhir-akhir ini kau sering sekali memujinya. Ingat, Dia itu manusia beruang kutub, bojo galak dan Arrogant. Kondisikan jantungmu, woi Nevada! Ingat, mas Mirzamu juga ganteng, baik lagi!" Vada bermonolog dalam hatinya sendiri.


"Tuh kan, aku jadi ikutan nyebut namaku Nevada, ish dasar suami beruang kutub. Racun banget sih!" gumamnya menggerutu.


Waktu terus berjalan, tetapi bunga yang Vada bawa tadi tak kunjung di antar ke ruangan suaminya. Membuat Vada kesal sendiri, namun untuk protes, ia tak berani. Suaminya terlihat masih serius dengan pekerjaannya. Lagipula, Ia tidak bisa kembali ke toko sebelum memastikan bunga itu berada di ruangan Elvan.


" Ini gimana sih, kok malah aku di tahan di sini, aku ini sedang bekerja, tuan. Woi! Astaga, dari tadi dicuekin lagi! Mana lagi ini bunganya nggak sampai di sini," Vada mulai gelisah. Duduknya sudah tak bisa lagi tenang dan anteng.


Elvan yang merasa terganggu dengan tingkah Vada yang kini mulai tak bisa diam karena merasa bosan, hanya meliriknya sekilas.


" Kenapa?" tanya Elvan.


" Bosan!" sahut Vada jujur.


Elvan tak peduli dengan jawaban Vada, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Tadi tanya, giliran di jawab di anggurin lagi," batin Vada bete. Ia menghentak-hentakkkan kakinya di lantai karena bosan.


Elvan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.


"Tuan, sampai kapan aku harus menunggu, aku harus segera kembali ke toko," ucap Vada. Namun, tak di sahut oleh Elvan. Vada langsung berdecak sebal karena di abaikan.


"Sini!" titah Elvan.


Vada bergeming, mau ngapain suruh mendekat, bantuin kerja? Nggak bisalah!


"Ini perintah!" kata Elvan tegas.


Vada langsung menjeb, ia terpaksa mendekat kepada suaminya.


"Apa?" tanya Vada sewot.


"Berani membentakku?" Elvan langsung menatapnya tajam.


"Bukan begitu, tuan. Tapi saya kesini masih dalam misi pekerjaan,. Kalau tuan menahanku di sini, aku terancam kehilangan pekerjaan beneran ini," keluh Vada.


"Apa kau meragukan kemampuan Suamimu dalam menghidupimu? Bahkan sampai anak cucumu tujuh turunan aku lebih dari mampu!"


"Dih, ngomongin keturunan, sendirinya aja nggak mau punya anak," cebik Vada dalam hati.


"Mendekat!" perintah Elvan.


"Ini sudah dekat, tuan," jawab Vada. Namun, baru selesai menjawab, tangannya sudah di tarik oleh Elvan hingga ini tubuhnya terhuyung dan jatuh terduduk tepat di pangkuan sang suami.


"Eh..." pekik Vada kaget. Ia menduduki sesuatu yang keras di bawahnya. Otaknya langsung saja travelling.


Elvan langsung melingkarkan tangan kirinya di perut Vada, ia menjatuhkan dagunya di bahu wanitanya tersebut. Sementara tangan kanannya kembali sibuk dengan dokumen-dokumen di depannya.


"Tu-an. Jangan begini, nanti ada yang lihat, ini di kantor," kata Vada gugup. Ia bahkan bisa merasakan napas berat suaminya.

__ADS_1


"Diamlah!" hanya itu kata yang Elvan ucapkan.


"Dia kenapa sih, kok jadi aneh begini?" batin Vada bertanya-tanya. Jujur, ia benar-benar tak nyaman dalam posisi seperti ini, takut ada yang melihat dan juga, benda yang ia duduk itu, sungguh membuatnya gelisah seketika.


Elvan sama sekali bergeming, ia terus memeriksa beberapa file dalam posisi itu. Ia hanya butuh seseorang untuk bersandar saat ini. Karena hari ini adalah hari yang berat untuknya, namun tidak bisa ia hindari. Hari dimana setiap tahunnya pasti harus ia lalui.


"Aku tidak suka ulang tahun," gumam Elvan dengan nada berat.


Vada yang mendengarnya hanya bisa diam, ia tak ingin menanyakan alasannya kenapa suaminya itu justru tak menyukai ulang tahunnya, sementara orang lain pasti akan bahagia menyambut hari itu.


Mungkin karena hal ini, bu sukma bilang bunga yang di kirim selalu berakhir di tempat sampah. Mungkin juga nasib yang sama akan terjadi dengan hadiah-hadiah yang menumpuk di lobi tadi, pikirnya.


"Kau tidak tanya kenapa?" tanya Elvan.


Vada menggeleng, "Tanpa aku bertanya, kalau tuan mau bercerita pasti tuan akan cerita, tapi kalau menurut tuan itu terlalu menyakitkan untuk di ingat kembali, lebih baik jangan," ucap Vada tulus. Meskipun sebenarnya ia sangat kepo. Namun, ia tahan.


"Kau benar, menyakitkan," ucapnya lirih.


"Kan, kalau tuan bilang begitu, aku jadi makin kepo nih, kenapa sih?" batin Vada, jiwa keponya meronta-ronta.


Tok tok tok!


Terdengar suara pintu ruangan Elvan di Ketuk.


"Tuan, ada yang mau masuk," kata Vada.


"Tidak, dia masih di dalam sarung," kata Elvan datar, ia ingat Vada yang menyebut underwearnya sebagai sarung, sarang burung.


Plak!


"Kau..."


"Maaf reflek!" sahut Vada. Elvan justru malah memiringkan kepalanya, menyusup ke leher sang istri lalu dengan keras menghisapnya. Meninggalkan tanda kepemilikan ya di sana yang berwarna merah, kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Membuat Vada terkejut dan meremang sekaligus.


"Hukumanmu, karena berani menabokku!" ucap Elvan datar.


Vada menyentuh lehernya sendiri, "Merah pasti nih. Tuan, kenapa di sini sih, nanti terlihat," protes Vada.


"Maunya dimana? Sini?" Elvan meremat gunung milik Vada.


"Tuan..." ucap Vada parau.


Ini bagiamana, ada yang Berkali-kali mengetuk pintu, mereka malah asyik sendiri di dalam.


Elvan melepas tangannya dari dada Vada, wanita itu langsung mencebik.


"Masuk!" ucap Elvan sedikit keras.


"Eh gila ya, aku masih di pangku, dia main nyuruh orang masuk aja!" batin Vada. Ia langsung berdiri, namun tangan Elvan yang melingkar di perutnya menahan tubuhnya untuk tetap diam.


Seorang wanita cantik dan seksi masuk ke dalam ruangan tersebut, dia adalah sekretaris Elvan di kantor. Ia sedikit terkejut melihat bosnya memangku seorang wanita.


Sementara Vada sudah sangat merah wajahnya karena malu. Ia langsung berdiri, menepis kasar tangan Elvan dari perutnya. Ia benar-benar merasa tidak nyaman saat ini.


Berbeda dengan Elvan yang wajahnya seperti biasa, datar tanpa ekspresi apalagi malu. Ia tak peduli dengan tatapan sekretarisya tersebut.

__ADS_1


"Tuan muda. Ini ada kiriman makan siang untuk Anda," ucap sekretaris Elvan seraya melirik sinis kepada Vada yang kini beridir di samping suaminya.


"Hem," Elvan mengangguk.


"Kau boleh keluar sekarang, Eva!" ucap Elvan setelah sekretarisnya meletakkan makan siangnya.


"Baik, saya permisi, tuan!" sahut Evan mengangguk, sebelum memutar badannya, ia melirik ke arah Vada.


Vada yang menyadarinya, langsung membuang pandangannya ke sembarang arah, pura-pura cuek.


"Karyawan di sini cantik-cantik dan seksi, apa dia tidak tertarik dengan salah satu dar imereka? Kenapa malah menikahi perempuan biasa sepertiku?" Vada menatap Eva yang berjalan bak model.


Elvan kembali dengan pekerjaannya.


"Tuan, itu di makan dulu. Waktu makan siang sudah lewat," ucap Vada amenhingatkan, padahal dirinya juga belum makan. Bekal yang ia bawa ada di toko.


"Kau makanlah dulu, sebentar lagi aku nyusul," ucap Elvan.


"Eh dia pesan buatku juga? Tumben perhatian,"


Vada mengambil paper bag di meja Elvan lalu berjalan ke sofa. Ia langsung mengernyit saat membambil makan siangnya, "Katanya aku di suruh makan, kok cuma satu?" gumamnya. Ia menoleh ke Elvan yang masih saja sibuk.


Vada lalu membawa makan siang itu mendekati Elvan.


"Kenapa?" tanya Elvan.


"Cuma ada satu, buat tuan saja!"


"Satu?" Keningnya mengernyit. Apa asisten Rio tak paham dengan kode ya tadi, dia menyuruhnya memesan dua, pikirnya.


Elvan mengambil ponselnya yang bergetar,


"Makan sepiring berdua akan lebih nikmat, tuan muda. Selamat makan siang," Elvan menautkan kedua alisnya membaca pesan dari asistennya tersebut yang ternyata sengaja hanya memesan satu makanan saja.


Elvan melihat Vada,"Kau juga makan, sekalian suapi aku!" ucap Elvan ragu-ragu.


"Ya?"


"Aku masih harus menyelesaikan ini," Elvan menunjuk layar di depannya.


Kalimat Elvan cukup menjelaskan maksudnya.


"Oh, iya," sahut Vada mengerti.


Vada menyendok makan siang di tangannya lalu menyodorkannya ke mulut Elvan. Elvan menatapnya, "Tuan dulu, setelahnya aku," ucap Vada.


Elvan mendorong Elang tubuh Vada supaya duduk di pinggir meja di sampingnya lalu ia membuka mulutnya untuk menyambut suapan sang istri.


Dan makan siang mereka pun berlanjut, Vada sesekali menyuapi Elvan yang sedang bekerja, di selingi dengan menyuapi dirinya sendiri.


Elvan mengangkat sudut bibirnya samar, ada perasaan hangat dalam dirinya ketika Vada menyuapinya yang sedang sibuk bekerja. Vada pun tak ada protes, ia dengan telaten menyuapi suaminya, bahkan ia lupa tujuan utamanya datang ke kantor tersebut.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


πŸ’˜Jangan lupa like dan komennya, udah hari senin lagi nih, votenya juga bolehlah ya buat Vada 😊

__ADS_1


Salam hangat author πŸ€—β€οΈβ€οΈ


__ADS_2