Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 73


__ADS_3

Sementara itu di negara lain...


"Kapan kak dimas akan melamarku?" tanya Zora setelah ia dan Dimas selesai dengan sesi percintaan mereka.


Dimas diam tak menjawab. Ia bahkan sama sekali tak mencintai adik dari mendiang kekasih gelapnya tersebut. Namun, karena Zora yang terus mengejarnya, bahkan rela menyerahkan tubuhnya untuknya. Dimas terpaksa memeliharanya sebagai pemuas naf sunya saja.


Sejak kecelakaan maut yang merenggut nyawa Zoya waktu itu Dimas yang waktu itu selamat memilih untuk pergi ke Canada setelah kesehatannya pulih. Di sana, ia bertemu Dengan Zora yang ternyata adalah adik dari Zoya.


Zora tak menyangka ia akan bertemu kembali dengan pria yang ia ketahui sebagai sahabat sang kakak itu. Dulu, waktu pertama kali mereka bertemu, gadis itu langsung jatuh hati dengannya. Dan setelah pria itu menetap di Canada, Zora semakin jatuh cinta dengannya.


Dimas sengaja menghasut Zora untuk membenci Vada saat pria itu mendengar kabar pernikahan Elvan dan Vada. Selama ini ia selalu memantau Elvan secara diam-diam. Sehingga tak heran jika waktu itu Zora sengaja datang ke Jakarta hanya untuk Menghancurkan Vada. Namun, sayang usahanya waktu itu sia-sia.


"Kita bicarakan ini nanti. Sekarang aku harus pergi ke Jakarta, ada urusan yang harus aku urus di sana," ucap Dimas dan berlalu ke kamar mandi.


Zora menatap lekat punggung pria yang ia cintai tersebut. Apapun sudah ia lakukan untuk pria itu, namun pria itu masih bersikap dingin dan sesuka hatinya saja. Tak jarang Dimas pergi begitu saja setelah mereka bermain di atas ranjang. Namun, karena Zora begitu tergila-gila dengan pria yang tanpa ia tahu sebenarnya adalah selingkuhan kakaknya tersebut, hanya bisa pasrah menerima setiap perlakuan Dimas kepadanya.


Pria itu tak pernah mengatakan cinta seperti ia mengatakannya, namun Dimas tak pernah menolak keberadaannya dan itu sudah cukup bagi Zora yang memang cinta mati.


"Apa aku tidak boleh ikut dengan kakak ke Jakarta?" tanya Zora yang masih polos saat Dimas keluar dari kamar mandi.


"Aku akan kembali setelah urusanku di sana selesai," ucap Dimas. Ia segera memakai baju dan bersiap pergi meninggalkan Zora yang masih begelung selimut di atas ranjangnya.


"Aku pergi dulu,!" Dimas mencium puncak kepala Zora sebelum pergi.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


Beberapa hari kemudian.....


Vada masih harus membawakan sebuah lagu lagi ketika Elvan datang menjemputnya. Pria itu langsung mengambil tempat duduk yang bisa langsung melihat penampilan sang istri di atas panggung.


Vada melambaikan tangannya begitu melihat suaminya yang baru saja datang. Elvan membalasnya dengan sebuah anggukan kecil seraya tersenyum tipis.


Vada mengisyaratkan jika ia akan menyanyi satu lagu lagi kepada suaminya dan di balas anggukan oleh Elvan.


Elvan mengamati suasana cafe. Ini memang bukan kali pertama ia menjemput Vada, bahkan setiap hari kini ia wajib menjemput istrinya itu. Tapi, ini pertama kali ia melihat langsung sang istri bernyanyi. Biasanya, saat ia datang, wanita itu sudah selesai dengan pekerjaannya.


Sekarang ku tau dirimu telah bersamanya

__ADS_1


Walau sakit hati yang ku Rasa


Akan ku jalani dengan sendirinya


Ku terus berjuang, walau tanpamu sayang


Mimpi-mimpi yang telah ku ciptakan


Kini hanya tinggallah kenangan


Duri Duri yang kau tancapkan di hati ini


Membuat diriku sakit hati


Aku yang berjuang tuk dirimu


Tapi dia Yang dapatkan Cintamu.


Vada menyanyikan lagu yang berjudul duri-duri sesuai request para pengunjung cafe. Tanpa sadar, air matanya menetes begitu saja saat lirik demi lirik lagu ia nyanyikan. Seolah ia tenggelam dalam lagu tersebut. Ingatannya langsung tertuju kepada Mirza. Seharusnya lagu itu lebih cocok untuk Mirza tujukan untuknya. Selama ini Mirza yang berjuang untuknya, menyiapkan segalanya termasuk lamaran indah yang Vada impian namun semuanya sia-sia. Rasa bersalah kembali mencuat di hati Vada meski sudah berlalu.


Vada segera mengusap air matanya sebelum suaminya menyadarinya atau nanti urusan akan jadi panjang.


Saat melihat dan mendengar para pengunjung cafe terutama kaum lelaki berteriak menggoda atau sekedar memuji Vada membuatnya merasa geram. Ia tak menyangka ternyata istri polos dan bar-barnya memiliki banyak pengagum. Memang Elvan akui, istrinya yang cantik pasti akan membuat pria normal manapun terpesona. Di tambah lagi dengan suara yang begitu indah, akan membuat para lelaki semakin jatuh hati dengannya. Dan entah kenapa Elvan menjadi was-was jika Vada masih akan terus bernyanyi.


"Kok nggak pesan minum atau makan?" tanya Vada yang langsung menghampiri suaminya setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Apa setiap hari seperti itu?" tanya Elvan langsung.


"Maksud abang?" Vada tak mengerti.


Elvan tak menjawab, namun ia menunjuk para pria yang duduk tak jauh dari tempat mereka saat ini dengan dagunya. Netranya sempat menangkap sosok yang duduk di tempat yang sedikit gelap. Elvan merasa tak asing dengan pria itu. namun pria itu mengenakan topi dan menunduk, di tambah pencahayaan yang kurang di tempat itu, membuat Elvan menepis pikirannya yang mengira jika itu adalah sahabatnya, Dimas.


"Oh itu, abang cemburu ya?" seloroh Vada.


"Ayo pulang!" tak menjawab, Elvan langsung menarik Tangan Vada posesif.


"Eh tunggu sebentar, aku kebelet!" Vada langsung lari ke toilet untuk buang air kecil.

__ADS_1


"kebiasaan Vada harus ke toilet dulu sebelum pulang," ucap Roni Kepada Elvan yang melongo dengan kelakuan istrinya.


"Mau minum dulu? istri Anda suka lama kalau buang air kecil, segalon kali yang dia buang," tawar Roni


"Tidak, terima kasih," Tolak Elvan. Ia duduk di depan Roni sambil menunggu sang Istri.


"Jangan kaget kalau diam-diam Vada banyak fansnya. Dia memang primadona andalan cafe ini. Apalagi sekarang dia bisa melihat, makin cantik pula. Dulu waktu masih belum bisa melihat saja fansnya sudah banyak. Kebanyakan para kaum lelaki yang seumuran dengannya," ucap Roni yang langsung emnup yang mulutnya sendiri, ia lupa siapa yang sedang ia ajak bicara tersebut.


Elvan hanya mendengarkan celotehan Roni yang sebenarnya membuat hatinya panas. Namun ia berusaha bersikap wajar saja. Biar nanti menjadi tanggung Jawab Vada untuk menyegarkan hatinya kembali di apartemen.


Lega karena sudah buang air kecil, Vada keluar dengan buru-buru karena ingat suaminya yang menunggu di luar.


Bruk!


Karena buru-buru, Vada tak sengaja menabrak seorang pria.


"Maaf-maaf nggak sengaja," ucap Vada.


"Tidak apa-apa, kamu yang nyanyi tadi kan? Suara kamu bagus sekali, apalagi mata kamu, indah sekali," sahut pria yang itu tersenyum.


Vada tersenyum, "Terima kasih, sekali lagi maaf ya yang barusan. Permisi!" Vada mengangguk sopan keada pria bertopi tersebut lalu pergi.


"Ayo!" Vada menggandeng lengan Elvan, "Mau makan di luar atau aku masak?" Tanya Vada sambil berjalan menuju ke mobil.


"Kau sendiri bagaimana? Mau masak atau makan di luar?" tanya Elvan balik.


"Aaah abang, kok malah balik nanya sih," Vada langsung protes


"Ck, masak saja. Lidah abang lagi pengin di manja sama masakan kamu," Elvan membukakan pintu mobil untuk Vada.


"Yakin cuma lidahnya aja yang pengin yang di manja, yang lainnya enggak?" tanya Vada mengerling.


"Ck, dasar!" Elvan menutup pintu mobil untuk Vada lalu ia mengitari mobilnya dan masuk.


Pria bertopi itu menatap kemesraan sepasang suami istri itu dengan tersenyum sinis. Tangannya mengepal kuat, "Aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku," gumamnya dengan gigi bergemelutuk namun bibirnya tetap tersenyum sinis.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•

__ADS_1


HEMMMM Dimas UDAH MULAI MUNCUL NIH.... Ternyata dia belum meninggoy ya...


Iike dan komennya jangan lupa....


__ADS_2