
Hingga matahari bertengger tinggi di langit, baik Vada mauoun Elvan tak ada yang keluar dari tempat mereka semalam. Vada masih setia berdiam diri di kamar, sedangkan Elvan tengah membicarakan sesuatu dengan Asisten Rio yang datang beberapa saat lalu di ruang kerja.
Jika biasanya di jam-jam sewrti itu mereka sudah selesai sarapan dan bersiap melakukan aktivitas masing-masing setelahnya, kini meja makan kosong, bersih tak ada tersaji satupun makanan.Yang ada hanya suasana sunyi dan hampa di setiap sudut apartemen. Tak ada tawa dan canda dari sepasang suami istri tersebut. Mereka masih menikmati luka yang menganga di hati.
Semalam suntuk Vada mencoba untuk meyakinkan dirinya untuk berusaha sekali lagi. Berusaha untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya dengan Elvan, tidak ada salahnya bukan?
Dengan membuang ego dan harga dirinya, Vada yang kini sudah tampak lebih fresh setelah membersihkan diri dan bergnti pakaian, berniat untuk menemui Elvan. Tidak ada salahnya ia mencoba memberitahu tentang kehamilannya. Siapa tahu itu bisa mengubah semuanya seperti sebelumnya, bahkan lebih baik lagi.
Setelah selesai menyisir rambutnya, Vada langsung beranjak untuk menemui Elvan. Tak lupa ia membawa bukti kehamilannya bersamanya. Dia butuh kepastian yang jelas, bukankah semalam baru Elvan yang berbicara, sementara dirinya tak di kasih kesempatan untuk bicara sama sekali.
Ada sebuah keyakinan yang kuat dalam dirinya setelah semalaman berpikir yaitu jika Elvan pasti memiliki perasaan yabg sama dengannya. Ya, nalurinya berkata jika selama ini Elvan mencintainya, sama sewrti dia mencintai pria itu, bahkan mungkin lebih.
Vada berjakan cepat untuk mencari keberadaan Elvan. Ia yakin pria itu masih di dalam ruang kerjanya. Semalam ia diam-diam melihat suaminya itu pulang namun langsung masuk ke rung kerjanya.
"Aku yakin ada yang salah. Aku yakin kalau abang juga cinta sama aku. Aku harus menanyakannya," gumamnya dalam hati sembari terus berjalan menuruni anak tangga.
Ketika sampai di depan rung kerja Elvan, Vada tanpa sengaja mendengar percakapan Elvan dengan Asisten Rio dari celah ointu yang sedikit terbuka. Hal itu membuatnya mengurungkn niat untuk membukanya, ia memilih menyimak apa yang sedang di bicarakn oleh dua pria itu dari balik pintu.
"Tuan muda, apa Anda yakin ini keputusan yang tepat? Apa perpisahan adalah jalan satu-satunya?" tanya Asisten Rio. Ia sangat menyayangkan jika Elvan dan Vada harus berakhir seperti ini.
"Lantas? Apa menurutmu dua orang yang terikat darah satu sama lain bisa hidup bersama sebagia pasangan?" Elvan balik bertanya dan asisten Rio hanya bisa diam.
"Apa maksudnya?" Vada masih menyimak, namun sekelebat pertanyaan langsung muncul," siapa yang sedarah", tanyanya dalam hati.
"Kau sendiri sudah menyelidikinya bukan? Kalau Vada memang anak papa dari wanita itu? Wanita selingkuhan papa! Atau... Kau ingin kami hidup rukun sebagai saudara begitu?" cap Elvan.
__ADS_1
Deg!
Vada langsung menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Tidak, ini tidak mungkin!" Vada menggelengkan kepalanya tak percaya. Air matanya kembali lolos.
Elvan terkejut karena ia melihat Vada berdiri di balik pintu. Pasti Vada
Mendengar ucapnnya barusan, pasti wanita itu akan merasa bersalah karena ternyata dia adalah anak seorang pelakor, pikirnya. Betapa ia merutuki kalimatnya barusan.
Sebenarnya Elvan lebih memilih Vada membencinya karena sikap arogannya, daripada melihat wanita itu di rundung rasa bersalah. Rasa bersalah karena ibunya di tambah soal pernikahan mereka, pasti Vada akan sangat hancur.
Elvan menatap nanar pintu di deoannya yang masih tertutup meski tidak rapat. Ia tahu istrinya berdiri di sana dan mungkin sedang menangis. Sakit dan kecewa dengan keadaan, sama ia rasakan.
Vada terus menutup mulutnya supaya tak terdengar suara tangisnya. Ia tak kuat lagi mendengar lebih jauh tentag kenyataan yang ada. Ia memilih memutar badan untuk pergi dari sana.
Brak!
Tanpa sengaja Vada menyenggol Vas bunga yang terletak di bufet yabg terletak di depan ruang kerja Elvan.
Mendengar suara Vas jatuh tersebut, asisten Rio menoleh, lalu, "Tuan muda...,"
"Biarkan saja!" sahut Elvan, "Ini lebih baik jika di tahu," sambungnya.
.
__ADS_1
.
.
Vada benar-benar shock, niatnya mengatakan soal kehamilannya urung sudah, tak mungkin ia mengatakan jika ia sedang mengandung hasil dari pernikahan mereka.
Ia segera berlari ke lantai atas di mana kopernya sudh siap. Ya, sebelumnya ia sudh mengemasi pakaiannya. Jika Elvan benar-benar tak menerima kehamilannya dan tetap ingin berpisah, ia siap untuk pergi.
Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan, semuanya sudah jelas. Ia tak mungkin menanyakan soal cinta lagi kepada... Entahlah, kini ia harus menyebut Elvan sebagai apa, suami? Mantan suami? Atau kakak tiri?
Vada menarik kopernya, ia berhenti sejenak menatap pintu dimana di dalamnya ada sosok pria yang paking ia cintai tersebut. Bahkan rasa cintanya lebih besar dari rasa cintanya keada mantan kekasihnya.
"Aku pergi... Mbok maafin Vada, Vada nggk bisa menepati janji buat selalu ada di sisi Elvan. Ini yang terbaik buat kami berdua," Bada mengusap wajahnya kasar lalu melanjutkan langkahnya.
"Nona, Anda mau kemana. Biar saya antar!" tanya Asisten Rio yang ternyata sefang menunggu lift terbuka.
Vada tak menyahut, ia hanya diam dengan rasa sedihnya. Setelah lift terbuka, keduanya masuk. Asisten Rio merasa prihatin, tak ada lagi nona Vada yang selalu ceria dan kesal dengannya. Yang ada hanya kesunyian di dalam lift tersebut. Bahkan ia sama sekli tak melihat air mata di wajah cantiknya. Namun, Rio yakin wanita itu kini sedang meraung dalam diamnya.
Lift terbuka, Vada menoleh ke arah asisten Rio, "Tolong katakan padanya titip panti, jangan sangkut pautkan masalah kami dengan panti. Mereka, terutama bunda tak bersalah. Biar aku yang pergi, tapi tetap urus dan jaga panti.Jangan berhenti berbuat baik hanya karenaku," ucapnya lalu melangkah keluar lift.
Asisten Rio tertegun di tempatnya, bahkan wanita itu masih memiskirkan soal panti asuhan di saat dirinya sendiri sedang dalam masalah.
"Pergilah nona, raihlah kebahagiaan Anda di kuar sana meski tak bersama tuan muda. gumam Asisten Rio. Harapan yang sama untuk tuan mudanya, semoga bahagian meski tak bersama Vada.
Tanpa terasa, ia meneteskan air matanya untuk wanita yang punggubgnya tetlihat rapuh namun tetap berusaha berdiri tegap tersebut.
__ADS_1