
Keesokan harinya...
Elvan baru saja membuka kedua matanya, semalam ia tidur nyenyak sekali. Baru kali ini ia bisa tidur senyenyak itu, bahkan ia sampai lupa berpindah posisi ke samping kiri Kyara. Namun, kini posisinya justru sedang memeluk putrinya tersebut. Kaki Kyara sudah berada di atas perut Elvan.
Elvan melirik tempat di samping Kyara yang masih luas. Dari situ bisa di simpulkan kalau anak itu yang mendekatinya. Mungkin setelah Vada bengun, Kyara merasa ada yang kurang dan dia mencari kehangatan pada dirinya, pikir Elvan. Ia tersenyum, hatinya begitu damai saat ini.
Dengan sangat hati-hati, Elvan menyingkirkan kaki Kyara dari perutnya. Ia ingin mencari keberadaan Vada. Entah sejak kapan wanita itu bangun.
Rupanya Vada sedang berada di dapur. Elvan langsung menghela naoas kega begitu melihat wanita itu di sana. Ia berjalan mendekat dan langsung memeluknya dari belakang, "Kenapa pergi?" tanyanya seraya menjatuhkan dagunya di bahu Vada.
Vada sedikit terkejut. Padahal ia sedang memwgang oisau, untung saja ia langsung bisa menguasai diri, kalau ia lupa jika ada suaminya di sana, bisa saja pisau itu melayang di perut Elvan.
"Aku nggaj kemana-mana, bang. Cuma ke dapur," ucao Vada lembut dengan tetap melakukan aktivitasnya. Ia membiarkan Elvan memeluknya.
"Kenapa nggak bangunin? Aku pikir kamu pergi lagi, aku takut,"
"Nggak akan, lagian mana mungkin aku pergi nggak bawa Kyara. Tadi aku nggak tega buat bangunin abang, nyenyak banget tidurnya. Kyara juga, baru aku tinggak sebentar udah beralih memeluk abang dia," sahut Vada.
"Bileh buatkan secangkir teh, sayang?" ucap Elvan di telinga Vada.
Wanita itu langsung menoleh, "Sarapan dulu, abang," ucapnya.
Elvan tampak cemberut, biasanya, setelah kepergian Vada, ia tak sarapan dan hanya minum teh atau kopi saja.
"Nggak boleh, ya?" tanyanya melas.
"Bukan nggak boleh, tapi abang harus lebih jaga kesehatan aja. Udah semakin tua, harus sehat-sehat biar bisa s urus Kyara sama aku," balas Vada lembut.
Elvan tersenyum dan mengangguk patuh. Iya benar, jika kemarin-kemarin ia mas bodoh dengan hidupnya, kini ia ingin sehat selalu supaya bisa menjaga anak dan istrinya.
.
.
.
Seharian Elvan berada di cafe milik Vada. Ia seperti seorag pengangguran yng tak memiliki pekerjaan karena terus mengekori Vada dan Kyara.
Saat waktu makan siang tiba, mereka makan bertiga di ruangan Vada sambil bercanda.
"Sepertinya, aku sudah tidak berguna lagi. Lihatlah putrimu, apa-apa daddy, bahkan biasnya di lebih mandiri, udah bisa makan sendiri kalau aku lagi sibuk," ucap Vada.
Elvan yang baru saja menuyapi Kyara hany tersenyum, "Jangan cemburu sama abang, usianya sudah tiga tahun, tapi baru kali ini dia ketemu daddinya, jadi wajar kalau dia minta perhatian lebih sama abang. Kamu tetap yang terbaik untukknya, takkan tergantikan," Elvan meraih kepla Vada lalu mencium keningnya.
Hal itu tak luput dari pandangan Kyara," Kya ndak di kiss, daddy? "protesnya.
" Baiklah, sini!ank daddy yang pintar akan dapat kiss banyak dari daddy," Elvan mencium seluruh Kyara yang mana membuat kyara terkekeh senang," Mama cuma syatu Kiss, Kya dapat banak-banak dong!" ucapnya bangga.
" Yaaah, Kya menang deh. Mama cuma dapat satu," Vada pura-pura lesu dan membuat Kyara justeu semakin terkekeh," Daddy!" panggilnya kemudian.
"Hem?" sahut Elvan.
"No hem, ndak sopan! Iya, gitu!"
"Baiklah, iya sayang, kenapa?" Elvan meralat ucapannya.
"Kiss mama banak-banak. Kasyihan mama syedih cuma dapat syatu balusan," ucap Kyara polos.
"Oh oke, baiklah," sahut Elvan.
__ADS_1
"Abang, jangan dengerin Kya," Vada menggelengkan kepalanya. Tentu saja i malu jika Elvan menciumnya berkali-kali di depan Kyara.
"Tapi Kya tutup mata, ya?" Elvan mengabaikan ucapan Vada.
"Kenapa? Kya mau liat!" Protes Kyara. Namun, Elvan langsung menutup mata Kyara dengan satu telapak tangannya, sedangkan tangan yanh lain menarik tengkuk Vada lalu mencium bibir wanita itu dan melepasnya setelah memberi sedikit gigitan lembut pada bibirnya.
"Udah!" ucap Elvan semabri melepas tangannya yang menutup mata Kyara.
"Abang ish, nggk lucu ah!" ucap Vada. Elvn hanya tersenyum.
"Ih, daddy! Kok mata Kya di tutup sih! Culang nih!" sungut Kyara.
Di tengah-tengah bercandaan mereka, pintu ruangan Vada di ketuk.
"Ya, masuk!" ucap Vada.
"Nona, ada tuan Andra di luar mencari Anda," ucap Cindy.
Vada memandang Elvan sejenak lalu, "Baiklah, aku akan keluar sebentar lagi," ucapnya.
Cindy pun mengangguk dan keluar. Tak lam setelah itu, Vada menyusul keluar bersama Elvan yang menggendong Kyara.
Di luar, terlihat Andra dan Rio sedang duduk berhadapan dengan tatapan yang sama-sama dingin.
" Yo! " panggil Elvan supaya Rio pergi dari duduknya sehingga Vada bisa duduk disana dan mengobrol dengan Andra berdua.
"Ompapa!" Kyara merosot dari gendongan Elvan lalu berlari kepada Andra. Andra tersenyum dan mengusap kepala Kyara penuh sayang.
"Kya mau celita, Kya puna daddy balu! Daddy syudah pulang dali kelja jauuuhhh. Bawa uang banak-banak!"
Andra melirik ke arah Elvan dan Vada sejenak lalu kembali memandang Kyara, "Oh, ya? Kya senang?" tanyanya dengan tetap tersenyum.
Andra ikut tersenyum, ia senng mel8hat kebahagiaan yang terpancar dari mata Kyara, namun entah kenapa hatinya begitu teriris.
" Kya, jangan lupain ompapa, ya? Ompapa sayang Kya," ucap Andra.
"Kya juga cayang om papa, banak-banak!" Kyara memeluk Andra.
"Sayang, Kya ke sana dulu ya? Main sama daddy, mama mau bicara sama om papa sebentar, bisa?" suara Vada yang baru saja mendekat membuat Kyara menoleh tanpa melepas pekukannya pada Andra. Ia lalu melihat ke arah Elvan, "Baik, mama!" ucapnya sembari melepas pelukannya pada Andra lalu berlari ke daddinya.
"Hap, daddy tangkap!" Elvan menyambut tubuh mungil itu lalu mengangkatnya tinggi. Kyara langsung tertawa lepas.
"Kya terlihat sangat senang, ya?" ucap Andra.
"Iya," sahut Vada singkat. Ia duduk di depan Andra.
"Sha, sebelumnya ku mau minta maaf atas sikap ibuku semalam,"
"Tidak perlu minta maaf, Ndra. Ibumu tidak salah, dia hanya ingin yang terbaik untuk kamu," sahut Vada.
"Tidak seharusnya ibuku bersikap seperti itu sama kalian. Aku benar-benar menyesal,"
"Sudahlah, Ndra, lupakan. Kau tak perlu menyesalinya. I'am fine!" tegas Vada tersenyum.
Andra mengangguk, ia kembaki menatap kedekatan Elvn dan kyara. Vada menoleh dan melihat mereka.
"Apa kau bahagia?" tanya Andra kemudian. Membuat Vada kembali melihat kearahnya.
"Entahlah, yang jelas aku merasa lega... Aku kira Rio sudah menjelaskan semuanya sam kamu. Soal Elvan?" timpal Vada.
__ADS_1
Andra mengangguk, "Iya, aku sudah tahu semuanya," timpal Andra.
"Lalu?" lanjut Andra meminta penjelasan lebih, terutama soal keputusan Vada.
"Aku ingin Kyara bahagia, Ndra. Selama ini karena keegoisanku, dia harus jauh dari ayah kandungnya,"
"Bagiamana denganmu?" tanya Andra.
Vada sedikit mendongak, menatap wajah Andra.
"Apa kamu juga bahagia?" Andra memperjelas maksud pertanyaannya. Sebenarnya ia tak perlu menanyakan hal itu, sudah jelas tadi bagaimana wajah Vada terlihat berbeda saat berjalan kekuar dari ruangannya bersama Elvan. Wajah tanpa beban dan ceria yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Suasana hening sesaat, Andra meraih gelas di depannya lalu minum, "Apa benar-benar tidak ada kesempatan untukku, Sha?" tanyanya kemudian.
Vada bergeming untuk sekedar memantabkan hatinya, karena ia tahu jawabannya akan menyakiti pria yang selama hampir empat tahun ini selalu ada untuknya dalam keadaan apapun. Bahkan di saat-saat sulitnya ia mengidam sampai melahirkan, Andralah yang selalu menemaninya.
Tidak adil memang, bahkan sebelum menjawabnya, Vada sudah merasa sangat bersalah. Tapi, itulah cinta. Ia tak bisa memaksa kepada siapa. Terkadang cinta memng harus egois untuk bahagia. Dalam cinta segitiga, harus tega untuk menyakiti hati yang lainnya.
"Maafkan aku, Ndra," hanya itu yang bisa Vada katakan. Selebihnya, hanya akan lebih menyakiti pria itu jika ia berkata terang-terangan kalau masih mencinti Elvan.
Andra tersenyum, namun matanya terpejam. Merasakan ribuan panah yang menghujam dadanya.
"Apa karena ibuku? Kamu memilih kembali padanya?" tanya Andra, seolah masih belum puas akan skit hatinya.
Vada menggeleng, "Bukan... Sama sekali bukan, Ndra. Kau tahu, kalau selama ini yang terjadi diantara kami hanya sebuah kesalah pahaman yang tak mampu membuat cinta kami surut. Hanya saja, kami pikir untuk bersama itu sesuatu yang tidak mungkin. Tapi, sekarang semuanya sudah jelas, dan aku akui kalau aku memang masih mengharapkannya," ucapnya.
"Baiklah, aku hanya ingin memastikan kalau pilihanmu tepat, Sha. Karena kebahagiaan kamu dan Kyara adalah kebahagiaanku juga,"
"Doakan kami, Ndra,"
"Pasti, aku selalu berdoa yang terbaik untuk kalian. Aku masih ada urusan setelah ini, jadi aku tidak bisa lama di sini," Andra merasa sudah tidak sanggup lagi menyembunyikan luka hatinya. Ia memilih untuk segera oergi dari sana.
"Apa aku boleh meminta sesuatu dari kamu?" tanya Andra sebelum ia pergi.
"Apa?" Vada balik bertanya.
"Boleh aku tetap menganggap Kyara sebagai anakku? Mungkin aku bisa menerima keputusanmu untuk kembali pada suamimu, tapi aku tidak bisa kehilangan Kyara sebagai anakku," ucap Andra. Ia begitu menyayangi Kyara.
Vada mengangguk dengan mata berkaca-kaca, "Terima kasih, Ndra. Karena sudah begitu mencintai Kyara tanpa syarat. Kyara akan tetap menjadi anak kamu. Kamu kamu memiliki tempat khusus di hatinya," ucapnya.
Lagi, Andra hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Ia berdiri, bersiap untuk pergi, "Aku pergi ya? Semoga kamu dan Kyara selalu bahagia. Kalau tidak, jangan sungkan untuk datang padaku. Aku tidak rela kamu menderita, lagi," ucapnya tulus.
"Aku minta maaf, Ndra. Aku udah jahat sama kamu, udah nyakitin perasaan kamu,"
Andra tersenyum lalu menggeleng, "Cinta memang selalu begini bukan? Bersanding dengan luka," ujarnya lalu menepuk bahu Vada sebelum ia benar-benar melangkah pergi meninggalkan Vada.
Saat melewati meja dimana Elvan berada, Andra menyempatkan berhenti sejenak, "Titip Shabrina dan Kya. Jangan pernah sakiti mereka lagi. Kalau sampai itu terjadi, aku akan mengambil mereka kembali," ucapnya.
"Kau bilang apa barusan? Ingin mengambil mereka kembali? kenapa seolah aku merebut mereka darimu? Mereka milikku!
tidak seharusnya mereka kembali padamu yang bukan siapa-siapa," ingin sekali Elvan berkata demikian, tapi ia tak tega.
Bagaimanapun ia berhutang terima kasih
pada Andra yang selama beberapa tahun ini sudah menggantikan tugasnya menjaga dan merawat anak dan istrinya. Ah, kenapa rasanya sangat tidak enak mengakui kalau Andra yang menggantikan tugasnya, Elvan hanya bisa menganggukkan kepalanya pada akhirnya, "Akan ku pastikan itu tidak akan terjadi, mereka akan bahagia bersamaku," ucapnya kemudian.
Andra tersenyum, "Aku harap sebaliknya," ucapnya santai. Yang mana membuat Elvan sedikit kesal, tapi mau marah, ada Kyara di pangkuannya. Membuatnya harus menjaga sikap karena putrinya itu adalah peniru yang baik.
"Ompapa pergi dulu, ya?" Andra mengusap pipi Kyara, sembari tersenyim mengejek pada Elvan sebelum ia melangkahkan kakinya, cuek dengan tatapan tajam Elvan yang masih kesal dengan ucapannya tadi. Padahal dia hanya bercanda. Ia ingin Vada dan Kyara selalu bahagia, meski tak ada jodoh diantara mereka.
__ADS_1