
Setelah melalui perdebatan yang cukup alot antara ayah dan anak tersebut, pada akhirnya Zora hanya bisa pasrah jika ia akan di bawa kembali ke Kanada oleh kedua orang tuanya daripada ia harus kehilangan calon bayinya.
"Ayo!" Elvan menggenggam tangan Vada saat keadaan sudah kondusif.
"Mau kemana?" tanya Vada mengernyit.
Elvan mendekatkan wajahnya di telinga Vada,"Istri abang belum makan siang, takut nanti lemes nggak ada tenaga buat...aw! Kok di cubit sih, sakit!" ucapnya.
"Ada om sama tante, abang nggak di filter ngomongnya, kan malu!" bisik Vada.
"Emang abang mau ngomong apa? Cuma mau bilang nggak ada tenaga buat jalan," sahut Elvan ngeles.
Vada hanya mencebik lalu pamit kepada Zora dan orang tuanya.
"Kasihan istri abang, pasti udah lapar ya. Maaf ya tadi makan siang abang aja berantakan, jadi nggak sempat buat pesan buat kamu juga," ucap Elvan setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Yaudah kita makan siang berdua aja kalau begitu," ucap Vada.
Elvan memasangkan seatbelt untuk Vada, "Bolehkan abang minta makanan pembuka dulu?" Elvan langsung mengecup bibir Vada. Merasa kurang, pria itu kembali memagut bibir istrinya sedikit lebih lama.
"Udah cukup, nanti kebablasan. Aku udah lapar ini," ucap Vada. Tangannya menutup mulutnya saat Elvan hendak menciumnya kembali.
Cup! Namun, Elvan tak kehabisan akal, tak dapat mencium bibir, ia mencium kening sang istri, "Tetap dapat!" ucapnya terkekeh.
"Ck, abang nih!" Vada mengusap keningnya dan Elvan langsung mengecup bibirnya kembali, "Dapat lagi," ucap Elvan tersenyum.
"Bekum Pernah melakukannya di mobil, mau coba?" tawar Elvan iseng.
"Ck, buat anak kok coba-coba!" cebik Vada.
Elvan kembali mencium bibir sang istri dan sedikit menggigitnya.
"Abaaaang! Sekali lagi cium, aku tabok nih!"
"Hehe, sorry sorry. Kita makan sekarang. Nyonya Adhitama mau makan apa?" tanya Elvan seraya melajukan mobilnya.
"Ayam geprek yang ayamnya jadi astronot!" jawab Vada.
Elvan mengernyit, "Rocket maksudnya," ucap Vada cepat.
"Nggak yang pelaut aja? Atau kakek tua?" tanya Elvan.
"Seketemunya aja mana duluan, aku udah keburu lapar soalnya," jawab Vada.
"Baik nyonya!" sahut Elvan.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua sampai di tempat makan. Vada langsung antre untuk memsan sementara Elvan memilih langsung mencari tempat duduk.
"Kamu nggak pengin makan di tempat yng mewah dan mahal?" tanya Elvan. Karena seringnya jika mereka makan di luar, wanitanya tersebut selalu mengajak ke tempat yang cukup sederhana menurutnya.
"Nggaklah, pakai kaos sama celana jens begini mau makan di bintang lima, yang ada nanti malu-maluin abang. Makan di tempat kayak gitu tuh mestinya pakai gaun bagus dan juga ada momen-momen penting saja. Boros kalau keseringan makan di sana mah,"
Elvan hanya bisa menghela napasnya, jiwa miskin sang istri sudah melekat kuat rupanya. Hingga berkali-kali wanita itu lupa jika suaminya bahkan bisa membeli tempat makan bintang lima tersebut.
Dari cara mereka makan saja sudah berbeda, Vada dengan santainya makan menggunakan tangan, sementara Elvan tetap menggunakan sendok dan garpu.
"Sayang, makannya pelan-pelan!" ucap Elvan. Ia sedikit berdiri lalu mengambil nasi yang menempel di sudut bibir Vada.
"Makasih, suminya Vada, sweet deh!" ucap Vada tersenyum.
Elvan ikut tersenyum, istrinya paling bisa membuatnya tersenyum memang.
" pelan saja, nanti tersedak!" pringat Elvan lagi.
"Nggak bisa pelan harus cepat, buru-buru soalnya," sahut Vada.
__ADS_1
Elvan lamhsung mengernyitkan Keningnya, "buru-buru mau apa?" tanyanya.
"Ke kantor polisi, mau ketemu Dimas," ucap Vada.
Tentu saja Elvan langsung kesal, "Nggak!" ucapnya tidak memberi ijin.
"Ayolah bang, mumpung lagi dekat ini sama kantor polisi. Dimas harus tahu kondisi Zora. Lusa Zora sudah mau balik ke Kanada,"
"Kamu kenapa peduli dengan mereka, sudah jelas om Fabian tidak ingin Dimas menjadi menantunya, dia tidak perlu pertanggung jawabannya,"
"Tidak boleh jadi menantu, tapi boleh menyadari kesalahannya, kan?"
"Sayang...." Elvan sangat malas jika harus ke kantor polisi mememui mantan sahabatnya tersebut.
"Anterin, kalau abang nggak mau bicara sama Dimas, biar aku saja. Abang antar sampai depan kantor polisis saja!"
Elvan mengembuskan napasnya kasar, "Maksa!"
"Emang!" Vada tersenyum.
"Habiskan dulu makannya , nggak usah buru-buru!" susah memang kalau ibu negara sudah mode ngeyel.
"Baik," lagi, Vada tersenyum manis.
ššš
"Lima menit!" ucap Elvan begitu sampai di kantor polisi.
"Ck, biasa pak polisi kasih sepuluh menit,"
"Nurut abang atau polisi?"
"Ish, iya iya. Pelit!"
Tak sabar Elvan langsung menarik tangan Vada masuk ke dalam.
"Lalu, abang harus menunggu istri abang menemui pria lain di luar begitu?" mode posesif keluar.
"Kamu pikir abang sopir?"
"Ish, iya iya, aku butuh satpam hati di dalam," ucap Vada terkekeh.
Setelah menunggu beberapa saat Dimas keluar.
"Sepuluh menit," ucap polisi yang membawa Dimas.
"Lima menit saja!" timpal Elvan yang memilih berdiri di depan pintu.
Vada tak peduli mau berapa menit, yang penting rasa mengganjal di hatinya bisa plong setelah ini.
"Apa kabar kamu hari ini?"
"Tidak usah basa basi, cepat katakan mau apa?" sahut Dimas.
"Apa kau tahu, kemarin Zora mencoba mengakhiri hidupnya?" ucap Vada to the poin.
Dimas langsung terbelalak tak percaya mendengarnya.
Vada mengeluarkan ponselnya, "Kamu dengarkan ini!" ucapnya lalu memutar rekaman percakapannya dengan Zora kemarin di rumah sakit. Rupanya Vada sengaja merekamnya untuk di tunjukkan kepada Dimas.
Elvan memperhatikan dari tempatnya berdiri. Ia tak menyangka isteinya berpikir sejauh ini sampai keoikiran untuk merekam segala.
Setelah mendengarnya, Dimas hanya bisa tertunduk lesu. Entah apa yang pria itu pikirkan saat ini, namun Vada bisa melihat jika pria di depannya tersebut menitikkan air matanya.
"Aku tahu ini bukanlah menjadi urusanku, tapi aku tidak bisa tinggal diam jika nyawa janin yang tak bersalah menjadi korban. Sekarang terserah padamu mau bagimana. Mau mengakui itu darah dagingmu atau tidak, itu hak kamu. Setidaknya rasa bersalahku karena melihat Zora begitu terpuruk dan nyawa janinnya hampir melayang sedikit berkurang sekarang. Tolong pikirkan baik-baik, apa kau benar-benar tak menginginkan bayi itu? Pikirkanlah sebelum semuanya terlambat. Lusa om Fabian akan membawa Zora kembali ke Kanada. Dan mungkin kamu tidak akan punya kesempatan untuk menemuinya lagi,"
__ADS_1
"Mungkin memang lebih baik sepeti itu," ucap Dimas lirih. Bukannya tak ingin bertanggung jawab, tapi keadaannya sekarang membuatnya tak memiliki keberanian.
"Masih tak ingin mengakui kalau itu anakmu? Ya sudah kalau begitu, sepertinya sia-sia aku datang ke sini," Vada bangkit dari duduknya dan memasukkna ponselnya ke dalam tas.
"Aku ingin bertemu Zora, tolong buat jaminan untukku suaya bisa kekiar sebentar untuk menemui Zora!" ucap Dimas.
Mendengarnya Vada kembali duduk.
"Kamu yakin?" tanya Vada.
Dimas mengangguk. Vada langsung melihat suaminya.
"Apa? Kenapa melihatku?" tanya Elvan.
"Abang pasti sudah dengar kan yang Dimas katakan? Please!" Vada memohon.
"Nggak!" tolak Elvan tegas.
Vada berdecak, sepertinya butuh di suap itu suaminya supaya mau menjadi jaminan. Ia berdiri lalu mendekati elvan.
"Ayolah abaang, nanti malam aku kasih full service!" bisiknya sensual di telinga Elvan.
Elvan menoleh, menatap wajah sang isteri tak percaya.
"Ya ya ya, abang Elvan suaminya Vada Laras Sabrina," rayu Vada.
"Full service?" tanya Elvan memastikan.
"Full service," sahut Vada meyakinkan.
"Ehem! Baiklah, abang kabulkan permintaanmu. Ingat permintaan kamu, bukan dia!" Elvan menunjuk dimas dengan matanya.
"Hem, makasih abang!" ucap Vada senang.
"Sayangnya mana?"
"Makasih abang sayang," ujar Vada.
Elvan tersenyum tipis mendengarnya, ia senang meski harus di suruh dulu baru Vada mengatakannya.
"Sekarang kita pulang!" ajak Elvan.
"Terima kasih," ucap Dimas.
" Aku melakukannya untuk istriku, bukan untukmu,"
"Aku tahu," sahut Dimas.
ššš
Malam hari.....
Vada tengah menyisir rambutnya di depan cermin seraya menunggu Elvan yang masih sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerja bersama dengan asisten Rio. Karena malam ini ia harus menepati janjinya kepada sang suami siang tadi untuk memberikan full service di ranjang.
Vada tengah bersiap memakai lingerie seksi berwarna merah dengan aksen renda.
Vada terus kepikiran ucapan Zora yang menyinggung perihal kehamilan yang belum juga Vada alami.
"Bagaimana aku akan hamil jika abang tidak menginginkannya," gumam Vada.
Tapi jika ingat bagaimana Dimas terlihat berubah karena adanya calon anak. Bahkan pria itu terlihat menyesal karena telah berbuat jahat sehingga ia harus membayarnya kejahatannya dengan mendekam di penjara, dan membuatnya kemungkinan besar akan sulit bertemu dengan sang buh hati kelak.
"Dimas saja bisa berubah, apa abang juga bisa berubah pikiran kalau aku tiba-tiba hamil? Apa dia akan menerima kehamilanku nantinya? Atau justru ia akan marah?" batinnya mengingat terkahir kali ia bertanya, suaminya tersebut masih menyuruhnya minum.
Vada membuka tasnya. Ia mengmbil pil kontra sepsi yang selalu ia bawa di dalam tasnya tersebut.
__ADS_1
Vada menggenggam erat pil-pil tersebut. Ia menghela napasnya dalam lalu dengan ragu membuang pil tersebut ke tempat sampah.
"Semoga ini keputusan yang tepat," ucapnya dalam hati.