
Habis dari toko, seperti bisa Vada langsung menuju ke cafe. Sesampainya di cafe, Roni langsung mengintrogasinya soal Elvan. Ia sangat terkejut saat Asisten Rio mengatakan kalau Vada adalah istri dari bosnya, Elvan.
Siapa yang tidak tahu sosok Elvan, hampir seluruh penghuni negeri ini tahu, kecuali Vada memang. Dia tidak pernah sempat kepo dengan kehidupan orang lain karena sibuk bekerja dari satu tempat ke tempat lain. Yang u tahu hanya kerja dan kerja, mengumpulkan uang semaksimal mungkin selama tubuhnya mampu.
Koran-koran yang dulu sering ia antar juga kerap kali memuat berita soal Elvan, namun ia tidak tahu. Tak ada waktu untuk membaca koran yang pasti. Ia hanya bertugas mengantar koran ke para pelanggan, bukan untuk membacanya.
Vada tak menyangkal jika memang dia istri dari CEO Adhitama group tersebut saat Roni mengkonfirmasi.
"Bentar-bentar! Ini bagaimana ceritanya, kamu nikah sama bos kaya itu, pacarmu kan Mirza. Kamu udah putus sama si Mirza?" selidik Roni.
Vada menggelengkan kepalanya.
"Astaga, Vada! Kamu nikah sama Elvan tapi pacaran sama Mirza? Ya ampun, benar-benar nggak ada celah buat aku sepertinya," ucap Roni bercanda.
"Ya gitu deh Bang, ceritanya panjang sepanjang jalan kenangan pokoknya, intinya aku terpaksa nikah sama Elvan," ucap Vada.
"Terus, bagaimana dengan Mirza, dia tahu kamu udah married?"
"Belum bang, mas Mirza lagi sibuk sekarang ini, kamu belum ada waktu ketemu. Tolong abang rahasiakan ini dulu ya bang, terutama dari mas Mirza. Biar nanti aku yang bilang sendiri sama mas Mirza," ucap Vada sendu.
"Kamu masih cinta sama Mirza?" tanya Roni.
Vada mengangguk, "Masih, bang,"
Roni mengusap wajahnya kasar, "Yasaalam, bagaimana bisa, kamu nikah sama siapa tapi cintanya sama siapa? Kamu harus tahu, suami kamu bukan orang sembarangan Vada," Ucap Roni khawatir, bagiamana pun ia sudah menganggap Vada seperti adiknya sendiri.
"Iya bang, aku tahu. Aku hanya perlu waktu untuk bilang sama Mas Mirza," jawab Vada. Apa yang diucapkan Roni memang benar, Elvan bukan orang sembarangan. Dan sekarang nasib kekasihnya itu benar-benar ada di tangannya.
"Ya memang sebaiknya kamu beritahu dia, dan juga kamu harus sabar, semua pasti ada jalannya," pungkas Roni. Sebagai sahabat, ia tak bisa berbuat banyak mengingat suami Vada bukanlah orang sembarangan. Karena kejadian Waktu itu saja, sudah untung sekali cafenya masih bisa tetap berjalan hingga sekarang.
š¤š¤š¤
Vada hanya menyanyikan sebuah lagu saja di cafe. Ia ingin segera kembali ke mansion karena ingin membuat kue ulang tahun untuk suaminya.
Vada ingin memberikan kejutan sederhana untuk suaminya. Perkara nanti di terima atau tidak, ia tak peduli. Baginya, ulang tahun setiap orang wajib di syukuri, karena hari itu adalah awal kehidupan mereka di dunia ini, terlepas dari apapun alasan mereka lahir. Atas dasar cinta atau mungkin kelahiran yang tak diingkan oleh orang tuanya. Namun, semua itu tetap erku mereka syukuri.
"Kamu yakin., cah ayu mau buat kejutan buat tuan muda? Apa tidak sebaiknya di pikirkan lagi?" tanya mbok Darmi menghampiri Vada yang sedang sibuk dengan adonan kue di tangannya.
__ADS_1
"Yakin, mbok. Mbok nggak usah khawatir ya?" ucap Vada tersenyum.
Mbok Darmi hanya bisa mengembuskan napasnya panjang, wanita ini sebenarnya sama keras kepalanya dengan Elvan. Ia suka sekali membuat hal-hal yang memancing kemarahan tuan mudanya.Tapi anehnya, Elvan seperti mati kutu jika menghadapi kelakuan Vada yang selalu memantik amarahnya.
Malam tiba...
Dengan senyum mengembang, Vada cukup puas dengan hasil karyanya. Kue sederhana yang ia buat tengah selesai ia hias dengan cantik dan elegan. Ia lalu bersiap untuk memasak makan malam spesial untuk suaminya. Berharap, semoga saat Elvan pulang nanti, semuanya sudah selesai ia kerjakan.
Di bantu mbok Darmi dan dua pelayan, Vada mulai mengeksekusi bahan untuk di masak.
Sementara itu di kantor...
Diam-diam, Elvan meras gelisah. Ini sudah malam, sudah waktunya dia pulang. Ia ingin segera pulang dan membuat perhitungan dengan sang istri.
Tapi, entah kenapa, ia ingat akan pesan dari Vada yang menyuruh asisten Rio mengulur waktunya untuk pulang. Ia merasa aneh dan curiga, aakah isteinya akn melakukan hal yang membuatnya mara lagi, atau jangan-jangan Vada mau bertemu dengan kekasihnya terlebih dahulu? Perasaan Elvan benar-benar penuh rasa curiga, namun nuraninya mengatakan jika ia tidak boleh pulang sekarang. Elvan benar-benar kesal dan bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa nuraninya begitu bertolak belakang dengan egonya.
"Tuan muda, sudah waktunya kita pulang," ucap asisten Rio yang melihat Elvan melamun sambil memainkan bolpoinnya.
Elvan menatap asisten Rio, namun ia tak bicara. Ia justru kembali memainkan bolpoinnya.
"Apa dia lagi ada masalah sama istrinya. Makanya malas untuk pulang?" Rio terus menatap Elvan dengan raut penuh tanya dan curiga.
"Brak!"
Elvan yang menyadari jika asistennya sejak tadi terus melihatnya. Ia menaruh bolpoinnya ke atas meja dengan kasar. Tangannya menggebrak meja tersebut sehingga asisten Rio berjengit.
"Kalau kau mau pulang, pulang sana! Nggak sabaran banget!" ucap Elvan jutek.
Rio hanya bisa menghela napas," Umur udah berapa tapi kelakuan kayak abg labil yang lagi jatuh cinta," batinnya tak mengerti.
Sekitar lima belas menit kemudian, Elvan menyambar jasnya dan tanpa bicara langsung beranjak meninggalkan ruangannya. Asisten Rio yang hampir ketiduran karena lelah menunggu, gelagapan dan langsung menyusul tuan mudanya.
" Tuan muda, apa kita akan pulang sekarang?" tanya asisten Rio saat ia berhasil menyusul Elvan masuk ke dalam lift sebelum pintu kembali tertutup.
"Menurutmu?" Elvan malah balik bertanya.
Asisten Rio hanya diam, tak bisa menjawab.
__ADS_1
Elvan kembali melihat ponselnya, ia membaca kembali pesan dari Vada yang menyuruh mereka untuk pulang sekarang. Membuatnya semakin penasaran dan curiga.
Tiga puluh menit kemudian, Elvan dan Rio sampai di halaman mansion. Elvan sudah tak sabar ingin menemui Vada dan melampiaskan kekesalannya. Masih perkara chat dari sang istri tentunya. Ia belum bisa tenang jika tidak memberi pelajaran wanita yang senang sekali membuat huru hara di hatinya tersebut.
Dengan langkah cepat dan tegas, Elvan melangkah menuju ke ruang tamu. Namun, tepat saat kakinya baru masuk satu langkah, ia langsung tercengang dan menghentikan langkahnya ketika melihat Vada berdiri di depannya dengan membawa kue lengkap dengan lilin yang menyala.
Bahkan asisten Rio yang buru-buru menyusul Elvan, hampir saja menubruk punggung bosnya jika rem tubuhnya tidak cakram.
Di belakang Vada, ada mbok Darmi dan beberapa pelayan yang menunduk, mereka tak berani menatao majikannya. Jika bukan karena Vad yang meminta merek menyambut kedatangan Elvan, tentu saja mereka tidak ada yang berani ikut memberi kejutan.
Vada menyanyikan lagu happy birth day dengan terus mengulum senyum tulus di bibirnya.
Elvan yang sejak masuk tadi sudah mengepalkan tangannya karena sang istri ternyata tak mendengarkannya saat di kantor dia bilang tak menyukai ulang tahunnya. Ini malah dengan sengaja membuatnya semakin kesal dengan memberikan kejutan.
Laki-laki itu hanya diam, mematung di depan Vada dengan wajah garangnya. Vada yang menyadari air Muka sang suami, menghentikan nyanyiannya. Ia maju satu langkah lebih dekat.
"Selamat ulang tahun, Tuan suami. Maaf terlambat mengucapkannya, tapi doa terbaik untuk, tuan. Semoga panjang umur, sehat selalu, selalu di lancarkn rejekinya, dan selalu berada dalam lindunganNYA, pokoknya selalu di penuhi keberkahan hidupnya, wish you all the best. ucap Vada tulus dengan mengulum senyum manisnya.
Mendengar doa tulus dari Vada , raut wajah Elvan sedikit menghangat. Namun, ia masih diam. Tak berniat untuk meniup lilin di atas kue yang masih menyala.
Vada langsung menunduk, ia tahu ini tak akan membuat suaminya senang.
"Maaf, aku lancang. Mungkin tuan akan marah setelah ini, tapi apapun alasan kita lahir di dunia ini, tetap harus kita syukuri. Beruntung, tuan tahu kapan hari ulang tahun tuan, tidak sepertiku yang tidak tahu. Jadi tidak bisa merayakan ulang tahunku sendiri. Aku senang setiap ada orang yang berulang tahun. Sekali lagi maaf atas kelancanganku, tuan," ucap Vada. Mbok Darmi dan beberapa pelayan semakin menunduk. Mereka tahu bagaiman antusiasnya Vada menyiapkan kejutan sederhana tersebut. Diam-diam mereka menitipkan air mata, mendengar kalimat Vada barusan merasa kasihan.
Elvan tetap bergeming. Ia justru berjalan melewati Vada yang masih berdiri di tempatnya. Vada tampak kecewa, ia hanya bis memejamkan matanya seraya menghela napasnya dalam. Matanya terasa hangat, namun ia tahan untuk tidak menangis.
Elvan menghentikan langkahnya, tanpa. Menoleh, ia bicara, "Aku tidak mau meniup lilinnya sendiri!" ucapnya.
Vada mendongak, lalu menoleh, menatap punggung suaminya.
"Bukankah kau juga tidak pernah merayakan ulang tahunmu? Lalu kenapa aku harus merayakannya sendiri. Apa kau tidak mau merayakannya?"
"Ya?" Vada masih tak mengerti dengan ucapan Elvan.
"Tiuplah lilinnya bersamaku, Nevada," ucap Elvan datar, kali ini ia menoleh, menatap wajah Vada yang langsung berbinar tak percaya.
š¤š¤š¤
__ADS_1