
Setelah makan dan minum obat, Vada langsung tidur. Sementara Elvan menunggu asisten Rio yang akan mengantarkan dokumen-dokumen penting yang harus pria itu tand tangani.
"Tuan muda," sapa asisten Rio yang baru saja masuk. Ia langsung menyerahkan beberapa dokumen di tangannya kepada Elvan.
"Bagaimana Dimas?" tanya Elvan sambil mulai membuka lembar demi lembar berkas dan menandatanganinya.
"Di pastikan dia akan membususk di penjara, tuan muda. Pengacara kita akan mengurus ya dengan baik, tuan muda tidak perlu khawatir," Jelas asisten Rio.
Elvan diam tak menanggapinya. Namun. Dalam hati ia ingin Dimas mendaat hukuman yang sangat berat karena beraniemgusik kehidupannya. Bahkan jauh sebelum ini pria itu sudah melakukannya.
Asisten Rio menoleh ke ranjang dimana Vada terlelap, "Bagaimana keadaan nona?" tanyanya kepada Elvan.
"Sudah lebih baik," jawab Elvan.
"Saya harap kejadian kemarin tidak menimbulkan trauma buat nona," ucap asisten Rio. Elvan langsung menoleh ke Vada. Benar yang di katakan Rio, sedikit atau banyak pasti kejadian kemarin memengaruhi mental Vada meski wanita itu selalu terlihat baik-baik saja. Tapi, Elvan tetap harus memperhatikannya.
"Emm, itu tuan...Soal hubungan terlarang nona Zoya dan tuan Dimas di masa lalu. Apa perlu di selidiki lebih jauh?" tanya Asisten Rio takut-takut.
Elvan menghentikan menggerakkan bolpoinnya, "Tidak perlu"! Ucapnya tegas. Tak perlu ada lagi yang harus di selidiki, semuanya sudah sangat jelas. Elvan tak ingin luka di hatinya karena dua orang itu semakin dalam jika tahu lebih banyak lagi luka yang diam-diam mereka berikan.
Elvan menutup dokumen di depannya lalu kembali menyerahkan kepada Asisten Rio. Asisten Rio langsung pamit untuk kembali ke kantor.
ššš
Setelah di rawat tiga hari di rumah sakit, akhirnya kini Vada sudah di perolehan pulang. Awalnya Elvan ingin mengajaknya pulang ke mansion karena di sana akan ada banyak pelayan yang melayaninya selama masa pemulihan, namun Vada menolak. Ia lebih memilih kembali ke apartemen.
"Aku udah nggak kenapa-kenapa, nggak perlu di jaga orang banyak, aku malah enggak nyaman, abang," tolak Vada saat keluar dari rumah sakit.
"Baiklah, kalau mau mu, nyonya," ucap Elvan setengah bercanda.
Saat memasuki mobil, kedua mata Vada membuat dan berbinar karena tepat di kursi yang akan ia duduk ada buket bunga mawar pink dan juga boneka beruang yang kemarin di dapat di mall.
__ADS_1
Vada menoleh, menatap suaminya yang hanya di tanggap senyuman dan anggukan oleh sang suami.
Vada mengambil bunga dan boneka tersebut lalu duduk. Di susul Elvan yang langsung masuk ke belakang kemudi mobil setelah menutup pintu mobil untuk Vada.
"Makasih," ucap Vada tersenyum. Elvan tak menyahut, ia justru mendekatkan pipinya ke depan wajah Vada.
"You know, tidak ada yang gratis di dunia ini, sayang," ucap Elvan tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipinya.
Vada bukannya mencium pipinya malah menusuk lesung pipi suaminya tersebut menggunakan jari telunjuknya lalu terkekeh.
"Kamu ya, nakal!" Elvan menangkap jari telunjuk Vada yang masih menyentuh lesung pipinya.
"Habisnya kalau abang tersenyum dan lesung pipinya terlihat gini jadi ada manis-manisnya," seloroh Vada tersenyum.
"Tapi ada yabg lebih manis," Ucap Elvan.
"Apa?" tanya Vada penasaran.
"Ini," Elvan sudah mendaratkan bibirnya di bibir Vada. Me lumatnya Dengan perlahan namun semakin lama semakin menuntut hingga tanpa sadar tangannya pun ikut bergerak menuju dada Vada.
Elvan melepas pagutannya, ia menatap wajah Vada yang sedikit meringis.
"Abang terlalu bersemangat, aku jadi agak ketekan bekas lukanya," ucap Vada.
"Maaf, sakit banget ya?" Elvan langsung mundur, wajahnya langsung berubah menyesal.
Melihat suaminya terlihat sendu karena merasa bersalah, Vada langsung tersenyum, "Tapi bo'ong!" ucap Vada, ia langsung menarik kerah sang suami dan mencium bibirnya.
Beberapa saat mereka berciuman, namun Elvan langsung menghentikan ciumannya tersebut, ia takut tak bisa menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh jika terus berciuman. Karena jika sudah on fire, bisa di pastikan si belut impor tidak bisa di ajak kompromi dengan baik.
"Kita pulang sekarang!" ucap Elvan mengingat mereka masih berada di parkiran rumah sakit.
__ADS_1
ššš
Sampai di apartemen, Elvan langsung menyuruh Vada untuk beristirahat di kamar.
"Abang nggak ke kantor? Aku nggak apa-apa abang tinggal. Aku udah sembuh kan?" ucap Vada.
"Enggak, masih bis di handle dari rumah," sahut Elvan. Ia masih belum tega meninggalkan Vada sendirian.
"Tapi abang udah nggak ke kantor beberapa hari. Nanti abang di pecat,," ucap Vada dengan polosnya. Sepertinya ia lupa suaminya.
"Ck, kamu ini. Apa luka di punggungmu ini membuatmu jadi amnesia juga? Kau lupa siapa Suamimu ini? Siapa yang berani mecat abang?"
"Oh iya ya," Vada terkekeh.
"Istirahatlah, abang ke ruang kerja sebentar!" pamit Elvan,
"Hem," Vada mengangguk.
Elvan menaikkan selimut untuk menutupi kaki Vada lalu mencium kening istrinya tersebut sebelum meninggalkannya.
Di ruang kerjanya, Elvan tampak merenung. Wajahnya yang tadi tersenyum, kini tampak sendu. Ia memijit pangkal hidungnya dengan mata terpejam. Pikirannya kembali ke masa lalu, Dimas dan Zoya.
Beberapa hari ini konsentrasinya memang hanya fokus pada kesehatan Vada, tapi bukan berarti ia lua akan masalahnya tersebut. Bagaimana pun juga perbuatan mereka menorehkan luka besar di hatinya.
Elvan membuka laci meja kerjanya dan mengambil photo Zoya yang ia simpan di sana. Di tatapnya photo tersebut dalam diam.
Entah berapa lama Elvan merenung di dalam ruang kerjanya seorang diri, hingga saat melihat jam di tangannya, ia langsung beranjak dari ruang kerjanya karena sudah waktunya Vada makan siang dan minum obat.
Elvan menuju ke dapur, ia akanmembuatkan akan siang untuk istrinya. Namun ia bingung, harus membuat apa. Biasanya orang sakit makan bubur, pikirnya. Dan ia pun langsung mencari resep membuat bubur dari ponselnya. Karena jujur, ia tak pandai memasak seperti para CEO di novel lain. Selama ini hidupnya selalu di layani, tinggal sedikit menggerakkan bibirnya maka semua akan segera tersaji di depannya.
"Ya ampun. Apa harus diaduk terus begini, ribet!" gumamnya. Sungguh, hanya memasak bubur saja rasanya sudah menjungkir balikan dunia Elvan, jika harus memilih ia lebih memilih bertaruh milyaran rupiah untuk memenangkan sebuah proyek dari pada harus berkutat di dapur seperti ini. Tapi ini demi Nevadanya hingga ia rela terjun bebas ke dapur.
__ADS_1
Setelah melalui proses yang cukup membuatnya berkeringat dan juga sukses membuat dapurnya berubah menjadi kaal pecah dalam sekejap akhirnya Elvan berhasil membuat semangkuk bubur ayam untuk sang istri.
Elvan tersenyum puas dan lega melihat semangkuk bubur sudah tersaji di atas nampan. Dari penampilannya sih kurang meyakinkan, apakah bubur tersebut bisa di makan tapi soal rasa, entahlah kita tunggu Vada memakannya terlebih dahulu.