Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 102


__ADS_3

Malam hari, Elvan yang masih berduka atas kepergian mbok Darmi dan juga kepikirn dengan ucapan Vada sore tadi tak bisa tidur. Tentu saja perkataan Vada itu membuat Elvan jadi berpikir, jika suatu saat nanti kedua orang tuanya telah tiada akankah dia juga merasa kehilangan? Akankah rasa marahnya selama ini berubah menjadi rasa kehilangan seperti sebuah lagu yang pernah tak sengaja ia dengar di nyanyikan oleh Vada di dapur sambil memasak, Kalau sudah tiada baru terasa... Bahwa kehadirannya sunghuh terasa...


Elvan menatap wajah Vada yang sudah terlelap sejak habis maghrib tadi. Ia menyibakkan rambut yang menghalangi pemandangan indah di depannya lalu mencium kening Vada.


"Katanya mau honeymoon, tapi udah tepar duluan," gumam Elvan seraya membelai pipi Vada.


Karena bingung mau ngapain sendirian sementara istrinya sudah tidur, Elvan memutuskankan untuk jalan-jalan keluar, menikmati udara malam di sekitar hotel tempatnya menginap. Ternyata suasana di luar masih cukup ramai karena memang baru pukul sepuluh.


Vada yang sudah terlelap terbangun dan meraba-raba tempat di sampingnya. Karena tak mendapati sang suami di sana, iapun membuka matanya, "Abang kemana?" gumamnya.


Vada bangun untuk mencari keberadaan suaminya namun tak ada.


"Abang dimana?" akhirnya ia menelepon Elvan dan menanyakan keberadaan pria itu.


"Abang lagi jalan-jalan aja di sekitar, nggak bisa tidur soalnya. Kenapa bangun, sayang?"


"Ish, klau aku nggak bangun nggak tahu abang tinggalin! Jalan-jalan kok nggak ngajak sih, aku kan juga pengin tahu suasana malam di sini. Yang pengin lam di sini kan aku, kok abang yang jalan-jalan sih!" gerutu Vada. Elvan tersenyum membayangkan pasti saat ini istrinya itu sedang manyun, menggemaskan pikirnya.


"Kan kamu udah tidur nggak tega Abang banguninnya, lagian cuma buat usir jenuh aja karena melek sendiri, nggak ada yang di kerjain, mau garap sawah, kamunya malah tidur. Yaudah cari angin aja,"


"Ck, bilang aja mau tebar-tebar pesona sendiri sama gadis desa yang ayu-ayu kan? Aku juga mau kali tebar pesona sama bule tau!" celoteh Vada mengingat memang banyak bule berwisata di desa mbok Darmi tersebut.


"Heh!" Elvan langsung melotot tajam mendengar ucapan sang istri. Berani-beraninya terang-terangan bilang mau tebar pesona dengan pria lain, pikirnya.


"Hah heh! Tungguin, aku mau nyusul!" ucap Vada.


"Biar aku jemp..." belum juga Elvan selesai bicara Vada sudah mematikan ponselnya ia mengambil jaketnya lalu pergi.


Elvan mengernyit, "Mau nyusul? Emang tahu aku dimana?" gumamnya.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•

__ADS_1


"Abang dimana sih, katanya tadi cuma dekat, tapi ini kok nggak ketemu," monolog Vada sambil terus berjalan. Ia merogoh ponselnya dan sialnya ponselnya tertinggal di hotel saat ia mengambil jaket, ia meletakakan ponselnya dan lupa mengambilnya lagi.


"Haish, malah lupa lagi ponselnya," gerutunya.


Suasana memang masih ramai karena malam minggu, tapi Vada justru merasa agak takut karena sejak tadi di lihatin beberapa pemuda yang lagi nongkrong.


.


.


Sementara Elvan masih setia menunggu di tempat tadi tapi istrinya itu tak kunjung datang. Ia mencoba menelepon hp Vada namun tak diangkat.


"Malah nggak diangkat, apa nyasar ya, kan tadi di sana ada jalan bercabang," ucapnya dalam hati khawatir.


.


.


"Pulang ke hotel aja kali ya, mau jalan terus takutnya nggak ketemu abang malah ketemu bule, kan bahaya kalau aku kecantol bule, hihi," gumam Vada geli sendiri dengan ucapnnya.


Dan tingkah menggemaskannya tersebut, ternyata menarik perhatian pria bule yang mungkin jomblo tersebut, "Are you okey, gilr? I see you laugh alone here. Is there something funny?" bule itu menyapanya sambil celingak- celinguk mencari apa yang menbut gadis cantik di depannya itu terkekeh.


"Eh?" Vada terkejut karena pria asing itu mendekatinya.


"You are dropdead gorgeous (Kmu cantiknya kebangetan). May i know your Name?"


Vada tampak ragu memperkenalkan dirinya.


"Emm, my name is Nicholas, waht's your name?" tanya pria asing itu lagi seraya mengulurkan tangannya.


"Her name is mrs. Adhitama. She is my Vada, my wife!" bukan Vada yang membalas uluran tangan bule bernama Nicholas tersebut, melainkan Elvan. Pria itu langsung memasang wajah dinginnya.

__ADS_1


Nicholas menatap Vada, wanita itu mengangguk dan mengangkat tangannya demi memperlihatkan cincin pernikahan di jari manisnya. Lalu ia menatap Elvan yang menunjukkn wajah dinginnya. Bahkan pria itu kini masih mengenakan jasnya sehingga sangat kontras dengan penampilan bule itu yang hanya memakai kaos dan celana chinos pendek.


"Oh, i'm sorry. I think she is free," ucap Nicholas yang langsung pergi dan memghampiri kedua temannya yang melihatnya dari jarak beberapa meter. Entah apa yang Nicholas katakan kepada mereka yang jelas dua temannya itu langsung tertawa mengejeknya sambil melihat ke arah Vada.


Elvan merangkul pundak sang istri sambil menayap datar ketiga bule itu pergi. Setelah mereka pergi, Elvan langsung melirik tajam Vada yang sudah nyengir kuda karena ketahuan tadi hampir membalas ulirn tangan bule itu.


"Beneran mau tebar pesona sama bule ya, nyonya?" sindir Elvan dengan wajah masam. Padahal suaminya saja bule, pikirnya.


Melihat wajah suaminya yang di tekuk, Vada langsung menelusupkan kedua tangannya di pinggang Elvan lalu mendongak demi menatap wajah sang suami, "Canda doang tadi , abang," ucapnya sambil tersenyum semanis mungkin.


"Tapi apa yang aku lihat tidak menunjukkan jika ucapanmu tadi bercanda, sepertinya kau sudah bosan denganku," ucap Elvan merajuk.


"Hadeh, kalau udah cemburu susah ya, bang,"


"Entahlah, kenapa yang punya rasa cemburu sepertinya hanya aku, sedangkan kamu tidak,"


"Karena memang tidak ada yang membuatku cemburu. Aku tidak memiliki alasan untuk hal itu," sahut Vada dengan santainya, karena memang selama ini tak ada yang membuatnya merasa terbakar cemburu dan sebenarnya ia sangay penasaran dengan perasaannya tersebut, apakah ia akan cemburu jika Elvan di dekati wanita lain, atau masih biasa saja. Entahlah.


Namun tidak dengan Elvan yang menanggapinya serius, ia pikir Vada belum sepenuhnya move on, sehingga tidak memiliki rasa cemburu, dan ia tak terlalu peduli dengan itu asal Vada tetap berada di sisinya.


"Malah diem, udah ah nggak usah di bahas. Yang penting aku nggak serius ya mau tebar pesonanya tadi. Kan suami aku kan juga Indo, banyak turunan bulenya malah. Itunya juga besar. Eh tapi, besar mana ya sama bule tadi...," Vada tampak berpikir serius memikirkan ukiran si belut impor suaminya dan bule tadi.


Elvan yang mengetahui pikiran ngeres sangbistri lanhsung menempelengbkeolamua dengan pelan, sangat pelan," Ck, dasar otak isinya itu mulu. Ayo! Kita buktikan kalau pedangku lebih besar dan panjang, masih lebih dari mampu buat kamu merem melek!" Elvan menarik tangan Vada.


"Eh, abang mau ngajak bule tadi juga? Jangan dong, aku malu. Nggak mau juga, jijiklah! Masa bertiga sih, emang aku cewek apaan!" ucap Vada bergidik ngeri sambil mereka berjalan untuk kembali ke hotel.


"Hadeh, siapa juga yang rela bagi-bagi, Nevada sayang," ucap Elvan seraya menahan napas karena gemas, sumpah demi, istrinya malah berimajinasinliar seperti itu. Ia menarik kepala Vada lalu megecup kepalanya itu berkali-kali karena gemas.


"Turus apa bang maksudnya?" tanya Vada.


"Ya cuma mau kasih bukti aja sama kamu kalau punya abang juga masih oke buat kamu kualahan di kasur,"

__ADS_1


"Yah, nggak jadi jalan-jalan dong," keluh wanita itu.


"Nggak, yang ada kamu tepe tepe lagi, mending traveling di kamar aja, katanya mau honeymoon," sahut Elvan santai. Sementara Vada hanya bisa mengembuskan napasnya pasrah.


__ADS_2