Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 134


__ADS_3

Namun, memang inilah tujuan Vada datang ke sana. Untuk memastikan semuanya agar lebih jelas. Supaya tak ada penyesalan natinya dalam keputusn yang akan ia ambil.


"Dengan atau tanpa restu mommy, tidak akan menggoyahkan apalagi merubah niatku untuk meminang Vada!," Andra bicara lantang.


"Astaga, kamu benar-benar buat mommy malu di depan Elvan, Ndra. Kamu mau jadi anak durhaka?"


Ayah Andra berusaha keras untuk menenangkan pasangan anak dan ibu itu untuk tidak melanjutkan perdebatan namun sia-sia. Ia memang bekum setuju sepenuhnya atas keputusan Andra, namun tak juga membenarkan sikap istrinya yang begitu arogan dan angkuh kepada Vada.


"Mas jangan ikut campur, anak ini akan besar kepala kalau mas bela terus! Aku cuma ingin yang terbaik buat dia! Tidak sepadan pun setidaknya yang masih gadis. Bukan janda beranak seperti ini!"


Vada yang sudah tahu jawaban atas keraguannya dan sudah tak tahan lagi dengan hinaan demi hinaan yang ia dan Kyara terima, memilih pergi dari sana.


"Cukup nyonya!" ucap Vada sembari berdiri. Ia sempat menatap wajah penuh amarah dari Elvan. Pastilah pria itu tak terima jika anaknya di hina seperti itu. Tak ingin banyak bicara lagi, ia memilih menggendong Kyara dan mengajaknya pergi daris sana.


Andra langsung menyusul Vada dan mengabaikan teriakan ibunya yang terus memanggil dan memintanya kembali.


Detik itu juga, Elvan juga berdiri dari duduknya, diikuti oleh Rio.


"Maafkan atas kekacauan ini, Van. Tidak seharusnya kamu melihat semua ini. Tolong duduk kembali, dan abaikan apa yang baru saja terjadi," ucap ayah Andra. Ia berharap apa yang terjadi barusn tidak mempengaruhi kerjasama mereka.


Tentu saja Elvan tak sudi lagi untuk melanjutkan makan malam ini. Ia justru menatap tajam ibu Andra. Bahkan snhking tajamnya sampai terlihat ingin menelan wanita itu hidup-hidup.


"Wanita yang kau katai murahan dan janda itu adalah istriku. Dan anak, yang kau hina itu adalah anakku. Akan aku ingat penghinaan ini sampai kapanpun! Dan juga saya pastikan jika istriku tidak akan pernah menikahi putramu!" kata Elvan sangat tegas sebelum ia melangkah pergi meninggalkan ayah dan ibunya Andra yang tentu saja shock seketika.


.


.


.

__ADS_1


Elvan langsung menuju ke apartemen Vada. Ia sangat mengkhawatirkan istri dan anaknya tersebut.


Di apartemen, Andra tak berhasil membujuk Vada untuk membuka pintu hingga ia merasa frsutasi saat meninggalkan apartemen Vada. Vada bilang ia butuh menenangkan diri terlebih dahulu.


Di parkiran apartemen, Andra bertemu dengan Elvan yang baru saja tiba. Keduanya berjalan mendekat satu sama lain hingga bertemu pada satu titik.


"Ini urusanku dengan Vada, kau tak perlu bersusah payah ikut kesini, Van," ucap Andra.


Bugh!


Elvan yang sejak tadi menahan amarahnya kini langsung melayangkan sebuah tinju di wajah tampan Andra, "Apapun yang berhubungan dengan istri dan anakku adalah urusanku! Seharusnya kau tidak mengajaknya ke rumahmu jika hanya untuk menyakiti mereka! Breng sek!" umpat Elvan. Ia hendak memukul Andra lagi, namun segera di cegah oleh Rio.


Andra terkejut mendengarnya, "Istri? Anak? Apa maksudmu?" tanyanya meminta penjelasan tanpa bermaksud membalas tinjuan Elvan.


Elvan merasa tak perlu menjelaskan apapun kepada Andra, Vada dan Kyara lebih penting sekarang. Ia memilih meninggalkan pria itu dengan rasa penasarannya.


"Biar saya yang menjelaskan semuanya, mari tuan! Luka di bibir anda juga harus di obati," ucap Rio sopan. Andra menyentuh sudut bibirnya yang perih karena sedikit robek dan berdarah. Ia memilih mengikuti ucapan Rio.


.


.


.


Elvan tergesa-gesa menuju lantai tujuh. Sampai di depan apartemen Vada. Ia terus memencet bel. Namun wanita itu tak kunjung membukanya. Hingga ia mengancam jika Vada tak membuka pintu, ia akan merusak pintu itu dengan membukanya dengan paksa. Dan berhasil, Vada membuka pintu setelah memastikan Kyara yang tadi tertidur di taksi aman di dalam kamar.


Vada merasa malu, tadi di permalukan oleh ibunya Andra sedemikian rupa di depan Elvan. Menjelaskan jika selama ini ia tak benar-benar tenang dan bahagia seperti yang ia katakan.


Elvan terus menatapnya sembari berjalan mendekat.

__ADS_1


"Apa itu pilihanmu?" tanya Elvan dan tak di jawab oleh Vada.


"Apakah kau ingin memberikan Kyara keluarga yang seperti itu? Yang sama sekali tidak menghargaimu apalagi Kyara. Mereka sama sekali tak menerima kehadiran putriku, pikirkan tentang psikis Kyara ke depannya, Vada," ujar Elvan penuh sesal kenapa ia harus mendengar yang seperti itu tadi yang mana menghidupkan jiwa penuh dendamnya.


"Mereka memang belum bisa menerima Kyara, tapi Andra. Dia yang selalu ada untuk kami selama ini. Kalau tidak ada Andra, aku dan Kya...pasti tidak akan baik-baik saja... Aku hanya...,"


"Baiklah, aku sudah tahu jawabannya. Kau tak perlu meneruskannya lagi. Jika memang kebagiaanmu dan Kyara dengannya, aku akan mundur. Kau jangan khawatir, nanti akan aku jelaskan jika kamu adalah putri sahabat mereka dan tentu saja mereka pasti akan menerimamu dan Kyara. Aku sadar, kesalahanku terlalu besar hingga tak ada lagi kesempatan. Aku ke sini hanya ingin memastikan pilihan dan kebahagiaanmu dan Kyara," Ucap Elvan memotong kalimat Vada.


Elvan menelisik wajah Vada, lalu ia memilih pergi dari sana. Membuat Vada mebelalakkan matanya.


Vada yang menyadari kemungkinan ia akan kehilangan Elvan lagi langsung mnyeka air matanya dan berlari menyusul Elvan.


" Abang tunggu!" teriak Vada. Elvan menghentikan langkahnya namun tak menoleh. Biar Vada yang berinisiatif kali ini. Dan wanita langsung memeluknya dari belakang, "Jangan pergi! Aku mohon! Aku dan Kyara butuh abang. Aku mau urus Kyara berdua sama abang," ucap Vada dengan nada bergetar. Ia benar-benar takut jika akan kembali berpisah dengan Elvan.


Elvan tersenyum tipis. Ia sebenarnya tak benar-benar akan pergi meninggalkan Vada dan Kyara. Jika saja keluarga Andra menerima Vada dan Kyara dengan baik seperti Andra menerima mereka, Elvan akan mempertimbangkan untuk merelakan Vada jika Vada lebih memilih Andra. Namun, melihat kenyataan tadi, tentu saja ia tak butuh pertimbangan apapun. Tak akan pernah rela jika Vada harus menderita lagi dengan memiliki mertua yang sama sekali tak menghargainya.


"Aku tadi hanya ingin memastikan keputusanku untuk tetap di sisi abang adalah benar. Dan aku udah tahu jawabannya. Jangan pergi, bang," ucap Vada yang masih memeluk Elvan dari belakang.


Elvan melepas tangan Vada yang melingkar di perutnya lalu memutar badannya. Ia memegang tangan Vada," Abang juga nggak rela kalau kamu berpaling. Kalaupun abang pergi, pasti abang bawa kamu dan Kyara. Abang cinta sama kamu. Selalu, sejak dulu," ucap Elvan.


Vada mengangguk, "Aku tahu, aku juga cinta sama abang makanya aku menginginkn adanya Kyara diantara kita, diam-diam dan berhasil," balas Vada tersenyum penuh kelegaan.


Elvan mengangguk, "Terima kasih karena udah bertahan sejauh ini, demi anak kita,"


Tanpa menunggu lama lagi, Elvan langsung mencium bibir Vada dan melu matnya penuh cinta. Vada pun membalasnya. Kali ini mereka melakukannya lebih lama.


Tanpa melepas pagutannya, Vada berusaha membuka pintu apartemennya supaya mereka bisa masuk. Dan ciuman itu terus berlanjut hingga punggung Vada terpentok di dinding. Mereka sama sekali tak berniat menjeda kegiatan tersebut. Justru Elvan semakin memperdalam pagutannya dan Vada pun membalasnya tak mau kalah.


Kali ini mereka benar-benar melakukannya tanpa beban. Menyalurkan segala rasa. Resah dan rindu yang selama ini terpendam.

__ADS_1


__ADS_2